Puisi, Sejarah, Santet Sebentuk “Surat Kreatif”

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
:Kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi

oleh Mashuri


Sejarah adalah mimpi buruk. 
James Joyce

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat,
Kita memang belum pernah bersua, tetapi dalam kesempatan ini, aku berikhtiar berjumpa denganmu lewat karyamu, khususnya puisi-puisimu yang terkumpul dalam buku puisi Rajegwesi yang diterbitkan Pusat Studi Budaya Blambangan pada 2009. Siapa tahu aku dan dirimu akan bertemu atau berpapasan lewat teks-teks puisimu, dan pertemuan itu bisa aku untai menjadi buah pikiranku yang akan aku rajut dalam sebuah surat kreatif berikut ini. Jika aku tak mampu menemuimu di sana secara utuh, aku akan merangkum kealpaan itu dalam sebuah tafsir dan reproduksi tekstual yang menggunakan perspektif perayaan tafsir dan kenikmatan pembacaan (plessure the text), serta praduga kreatif yang bertumpu pada latar sosio-kultur yang melahirkan teks-teks puisimu, juga sosiokultur yang mematri nilai-nilai dan kearifan ke jiwamu.

Oleh karena itu, aku akan bertumpu pada ingatan-ingatan kolektif, kearifan, dan kenaifan tradisi, juga mungkin sebentuk hasrat yang tergurat di bait-bait puisimu, yang kadang lancar, kadang patah-patah. Dan, seringkali membuat aku harus menakik alur pikir dan perasaanku untuk membalik teks-teks puisimu, agar aku bisa mengintip rahasia dan misteri yang tersimpan di sana, yang seakan berlabirin dan gelap. Mengingat topografi dan historiografi tradisi dan budaya Blambangan/Banyuwangi yang telah mengalami marjinalisasi selama ini, aku melihat beberapa puisi patah-patahmu adalah niscaya. Aku teringat saat pengarang Rusia, A. Solzeynistin, mengakui tulisannya tentang pulau penjara pada masa-masa rezim komunis berkuasa di Rusia, yaitu Gulag Archipelago, yang tak senada, alurnya berlompatan, bahkan sering patah-patah, karena kondisi dia saat menulis karya yang menggambarkan kekejaman itu sambil berlari dan itu adalah keniscayaan dari kesusastraannya. Mungkin aku terlalu gegabah ketika menghakimi karyamu seperti itu, meski tentu kau sangat berbeda dengannya, tetapi ini adalah salah satu caraku sebagai langkah awal untuk bersua denganmu.

Ah, lupakan soal itu. Yang jelas, kau masih bersikukuh menempuh jalan puisi. Kau masih meyakini bahwa apapun alasannya, puisi tetaplah suara yang paling murni yang harus tetap disuarakan, meski lewat bawah tanah, apalagi untuk zaman kini, ketika suara-suara begitu hingar dan banyak yang mendesak ingin menguasai ruang kita dan menuntut untuk didengar. Itulah yang aku tangkap dari spiritmu: adanya keyakinan bahwa puisi begitu penting. Kau seakan tak peduli kata sebagian orang ihwal akhir romantik peran penyair pada era kontemporer. Aku menangkap begitu banyak kesungguhan dalam puisimu yang menegaskan bahwa puisi itu juga masih sangat penting dalam lingkar sengkarut realitas yang demikian hiperreal, apalagi kondisi kekinian kita yang rapuh.
Mungkin kondisi tersebut adalah problem akut kita bersama yang masih meraba-raba arah gerak dunia dan tetap setia menjadi pengekor yang teguh. Kita yang belum selesai pada masa lalu dan masih “buta” dengan perkembangan ke depan. Aku menangkap puisimu bermain dalam wilayah itu. Spirit puisimu ingin “mendamaikan” masa lalu dan masa kini. Apalagi realitas sejarah “lokal”-mu, Banyuwangi, begitu luka. Jika dilihat dari konteks sosio-kulturmu, laku yang kau tempuh adalah sebagai cara terapi dalam merakit trauma-trauma sejarah karena kita memang tak cerdas merampungkan ihwal itu dan selalu mengulang hal-hal yang sama, meski di masa lalu fenomena dan realitas itu sering berperistiwa.

Sebagaimana yang dianggit penyair Meksiko, Octavio Paz, bahwa puisi adalah penyembuh bagi sebuah “luka sejarah”. Hal itu karena sejarah Brang Wetan/Blambangan-Banyuwangi kini, selalu saja menempati wilayah periferi dalam sejarah mapan Jawa. Pada masa Majapahit, ia berada di ruang-ruang subordinat, terutama dalam kisah perseteruan Damarwulan-Menakjinggo yang telah menghuni ruang-ruang ingatan kolektif masyarakat Jawa. Pada lanskap kultur Jawa, Damarwulan adalah pahlawan, tetapi aku yakin dalam kultur Brang Wetan/Blambangan, terdapat anggapan yang berbeda, dan yang disebut hero itu tak lain adalah Menak Jinggo. Bahkan, lagu “Genjer-Genjer” yang netral itu tibatiba begitu subversif pada masa Orde Baru dan disangkutpautkan dengan Gerakan 30 September, dan dianggap sebagai lagu wajib Gerwani dalam berpesta. Kondisi “muram” itu berlangsung hingga era mutakhir, ketika isu dukun santet merebak pada awal masa reformasi, ketika Orde Baru di ujung bangkrut. Padahal, selama ini, telah terjadi pemaknaan yang salah kaprah terhadap dunia santet, yang berlaku di kulturmu. Santet bagi orang Osing berbeda dengan santet bagi masyarakat awam, dan yang dipahami khalayak riuh.

Dengan sedikit latar sosiokultur dan geopolitik itu, tak heran dari baris-baris puisimu, aku melihat begitu banyak warisan dari kulturmu yang berusaha kau baca dalam kekinian, tanpa segan kau berkata dengan sepenuh kesadaran: sejarah adalah luka, sebagaimana yang dikatakan James Joyce, bahwa sejarah adalah mimpi buruk yang termaktub di awal tulisan ini. Namun, itu bukan berarti kau abai pada sejarah dan menganggapnya tidak penting. Aku masih meyakini bahwa kau sebagaimana Ortega Y. Gaset, yang tetap “gamang” melihat masa depan, dan menganggap bahwa sejarah itu adalah “harta” yang berharga. Dengan tegas Gaset mengatakan bahwa manusia tak punya kodrat dan yang dipunyai hanya sejarah. Aku melihat kau berada di persimpangan antara kodrat dan sejarah.

Sejarahmu demikian luka dan kau masih bimbang dalam kekinian. Meski demikian, aku menangkap adanya keyakinan begitu besar dalam kekinianmu yang masih carut-marut itu. Aku bersua gelisah dan optimismu itu ketika membuka bukumu Rajegwesi. Dalam puisi “Elegi Perjalanan Hidup”, yang kautulis pada 1991, aku melihat adanya kegamangan dan kepastian itu, sebagaimana kebanyakan manusia modern Indonesia, yang masih terombang-ambing antara tradisi lokal dengan tradisi dari Barat yang sering disebut modern. Memang, sering kali kita mendengar jangan tangisi kematian tradisi, tetapi mengingat zaman kini, sepertinya kita masih begitu butuh pada tradisi. Tentu yang patut ditimba dan dipasu adalah spirit tradisi sebagai progres kreatif dan sesuai dengan semangat zaman kini, karena sungguh, seringkali kita asing dengan tradisi kita sendiri. Aku merasa “aku” lirik dalam puisimu “Rajegwesi” (hal. 50) yang kautulis pada 2007, bukan kata ganti orang pertama tunggal tetapi pronomina persona jamak, yakni “kita”.

…di saat gending itu menggerakkan angin maka di sanalah aku tahu bagaimana wajahmu sekian lama menempati peta asing
Keterasingan itu tidak hanya dalam puisi “Rajegwesi” saja. Bahkan, dari sajak-sajak yang kautulis pada tahun 1991, sebanyak 13, aku melihat adanya rasa gelisah dan asing pada ingatan, kenangan, dan kekinian. Sungguh, aku merasa kondisi kejiwaan inilah roh yang hidup dan menghidupi sajakmu. Sebagaimana dalam sajakmu “Laut” (hal. 22), kesadaran sejarahmu demikian tinggi, tetapi sebuah sejarah luka, juga berbagai pendiskreditan pada arketipe budaya sekaligus “salah baca” dalam perjalanan waktu. Berikut ini kutipannya.

Laut yang terhampar di hadapanku
Senantiasa menyentuh luka yang tiada pernah sembuh
Telah terkubur berabad
Abad, sehingga aku tak tahu di mana
Akan kubuang masa laluku. Laut telah
Sesak oleh sejarah

Kau terus “membaca, mengaji lautan sejarah” (dalam “Manusia Sehari”, hal. 18). Kau seakan-akan menunjuk ada sesuatu yang tidak “alami” terjadi di lingkungan budayamu, dan merasa “Di sini waktu berhenti. Jam-jam kehilangan jarum” (dalam “Cerita”, hal. 19). Kau begitu menolak kebekuan waktu. Kesadaran yang menguasaimu adalah kesadaran modern dengan progres. Tetapi realitas-kekinian seakan membekukan dan waktu seakan berhenti seperti yang kau lontarkan dengan bait: “Sehari waktu telah berhenti mengenal manusia. Melebur diri. Hanyut oleh kesementaraan waktu yang berhenti” (dalam “Cerita”, hal. 19). Bahkan, waktu itu terus berjalan dan tidak memedulikanmu: “O ini abad sudah enggan disapa” (dalam “Untuk Jari-jari”, hal. 20).

Ingatan, kenangan, sejarah dan panggilan dari “Ibu” menjadi roh hidup dalam puisi-puisimu yang lainnya. “Ibu” tersebut bisa dimaknai sebagai ‘tanah air’ budaya, ibu pertiwi peradaban, yang telah mengukir nilai-nilai ke jiwamu. Seperti dalam puisi “Perimbangan” (hal. 17). Berikut ini kutipannya: //Telah kulihat ibu/ Memanggil namaku/Agar segera berangkat/Melupakan catatan harian/ Yang hanya menyimpan sunyi/ Telah melukai tubuh sendiri/ Tiap hari//. Begitu pula dalam puisi “Jalan Alam” (hal. 59) yang kau tulis pada 2008, kenangan juga seakan begitu pahit: //Aku meletakkan telapak tanganku di dadamu/ Juga perlahanlahan seperti ingin menghapus kenangan//. Dalam puisi “Kerinduan” (hal. 66), yang kau tulis pada 2009, kau pun dirundung rindu dan berbicara tentang rumah yang ditinggalkan. Rumah budaya yang dalam masa-masa sebelumnya memang seakan berhenti sebagai artefak: //Aku berupaya menemuimu,/ Karena begitu lama aku mengembara/Di labirin kesia-siaan./ Engkau adalah rumah yang lama kutinggalkan//.

Dalam sajak-sajak lain yang ditulis pada 2009, juga menyangkut ihwal kenangan dan usia. Dalam “Dahan Kelapa dalam Dadamu” (hal. 70): //Ingin segera sampai ke rumahmu./ Meletakkan gerimis./Atas nama pikiran kosong./Juga ingatan yang terkotak hijau//. Dalam “Dan Waktu” (hal. 78): //usia empat puluh tujuh,/… sejarah puisi yang terlupakan//. Dan, dalam “Sampiran Setan” (hal. 80) mengerucut pada hal-hal sublim sekaligus kontradiktif, yaitu tentang sebuah perjalanan telah sampai, sekaligus mempertanyakan tentang sesuatu yang dianggap terberi.

Memang, meski secara umum, bait-bait puisimu tak menyimpan bentuk metrum “Sabuk Mangir”, “Jaran Goyang”, tradisi “Warung Bathokan”, dan metrum puisi lisan lainnya yang identik dengan atribut identitas kulturmu, tetapi aku menangkap adanya sinyal yang tak bisa dilepaskan dari itu. Bahkan, ada usaha untuk mengembalikan makna santet yang telah salah kaprah selama ini pada makna santet sesungguhnya yang berakar dari tradisi Osing, yaitu sebagai sebentuk usaha meraih mahabbah/ cinta dan demi cinta dengan jalur irfani. Dalam ikhtiar itu kau merajutnya dengan sajak-sajak cinta yang ciamik, sajak persembahan yang mantap, juga sajak-sajak yang kau sebut “puisi-puisi tak terduga” lain yang mengunggah spirit mahabbah.

Sungguh berpuluh sajakmu berbinar ihwal cinta. Tentu cinta di sini bukan cinta sejoli, birahi dan berkumpar pada erotisme, tetapi cinta yang menguniversal dalam kemanusiaamu. Sajaksajak cintamu demikian banyak dalam kumpulan Rajegwesi. Aku terpaku pada sajak cintamu yang berjudul “Yashinta Nur Safitri” (hal. 82), yang kautulis pada 2009. Aku lalu teringat bahwa kumpulan sajak ini juga kau persembahkan pada nama itu. Aku menduga ia adalah buah hatimu. Aku menangkap sebuah ekspresi cinta yang begitu jernih dari seorang bapak pada putrinya. Selain itu, ada juga sajak-sajak cinta yang muram. Meski demikian, optimisme masih kau pegang meski kau alirkan lewat suara sajakmu yang ironi. //Dan kini secupang cinta telah menodai tujuan yang/Telah kubangun lewat keping waktu// ( dalam “Ia Mendengar Suaraku”, hal. 15).
Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.

Aku termasuk orang yang kagum pada sub-kultur Osing, yang tradisi lisan dan tulisannya terus terpelihara. Sastranya terus tumbuh secara mandiri dan kompleks. Bisa jadi karena begitu banyak “agen kebudayaan” di sana, yang membacanya dalam kekinian, sebagaimana kau membacanya. Mungkin banyak orang yang merasa gelisah ketika sebuah laju budaya berhenti pada ornamen, arketif pasif, dan kebudayaan menjadi kata benda yang kehilangan makna hidup dan dinamikanya. Aku menangkap beberapa puisimu merujuk ke situ. Kau ingin membaca warisan bukan dalam kapasitas masa lalu, tetapi dalam kekiniannya. Sehingga terkesan ada nada miris ketika kau bicara warisan masa lalu. Kau merasa ada yang keliru menafsirkan masa lalu dari warisan budayamu, yang sering berhenti sebagai tontonan atau objek mata semata, dan tidak lagi mengindahkan aspek tuntunan sebagai makanan jiwa bagi generasi kiwari.

Perasaan tersebut kau tegaskan dalam sajak “Kelahiran” (hal. 31). Berikut ini kutipan beberapa bait.

Mataku terpejam diam-diam mengusung
Kemiren dalam tubuhku menjadi fosil
Serupa penari Gandrung yang tengah bermimpi 
Tentang bulan dan suara using ditalu-talu
Tapi, di kota aku sempat mengelus patung-patung itu
Jejak masa lalu yang semakin mengabur
Hanya kukenali kembali rintihan-rintihan lembut
Yang nyaris tak terdengar dalam dadaku

O Tradisi pesisir: perahumu dihimpit gunung

Hal itu juga juga tampak pada dua sajak lain yang kau tulis pada tahun 2006, berjudul “Banyuwangi” (hal. 27) dan “Sebentuk Kisah” (hal. 32). Dalam “Banyuwangi”, jarak, rindu dan carutmarut itu terasa kental: //Terasa merdu suaramu di telingaku/ Lantaran jauh aku meninggalkanmu/Banyuwangi,/Kesempitan melapangkan jalanku ke duna/Lantaran dialek Using yang begitu-begitu saja./Kini sayup-sayup kudengar lagi suaramu/

Mengusung carut-marut penampakanmu//. Adapun dalam “Sebentuk Kisah”, kau merasa demikian sia-sia dalam menyikapi warisan, karena aku lirik dalam puisimu itu hanya bersua dengan “sebutir pasir” dalam “kamar” pertaruhan realitasnya, dan selalu dijejali dengan adanya “tv yang selalu menyala”. Memang, dunia sekeliling kita tidak pernah berhenti dan kita tak bisa terus berdiam di kamar.

Dari dua sajak tersebut, terdapat nada masygul menghadapi “yang begitu-begitu saja” dan “carut marut”, dan dirimu berkehendak untuk memberi nilai lebih dari yang sudah ada. Jika penyair kelahiran desa Kassabin Syria, Adonis alias Ali Ahmad Said meminjam “ruh” puitik Mutanabbi untuk mendobrak kebuntuan kreativitas bangsa Arab pascakalah perang dengan Israil, aku melihat ada hasrat demikian besar dalam puisi-puisimu sebagaimana yang dilakukan Adonis. Kau begitu luka memahami masa lalumu, dan dengan puisi kau menyurat sebuah kesaksian, bahwa mesti ada yang tetap dan berubah dari laju sebuah budaya. Tentu saja warisan masa lalu yang kau citrakan dalam puisipuisimu adalah dinamika Osing, desa wisata Kemiren, juga Banyuwangi dengan tradisi dan kultur yang begitu kaya dan mandiri. Dan, kau ingin warisan itu tidak hanya “begitu-begitu saja”, tetapi “hidup”. Kau menegaskannya dalam “Elegi Perjalanan Hidup” (hal. 14), puisi pertama dalam kumpulan Rajegwesi.

Ah hidup!
Masih mengais-ngais juga di bumi
Segala hulu yang mengalirkan sejarah
Kini meretas di jari-jariku

Pada 2007, cukup banyak sajakmu yang berbicara tentang Kemiren. Di antaranya “Hantu di Kemiren” (hal. 41), “Dosa Kemiren” (hal. 43), “Magma Kemiren” (hal. 44), dan “Geriap Kemiren” (hal. 45). Nada dan suasana yang terbangun “muram”, sebuah introspeksi pada ruang dan waktu yang tak tepat, menyoal perspektif umum/mapan yang riil, tapi ganjil. Ihwal ragam kulturmu juga membukit di “Sebukit Rinjani”, yang kau tulis 2009 (hal. 75), meski nadanya berbeda dengan sajak tahun 2007.

Dalam sajak tahun 2007 “Desa-desa di Kemiren” (hal. 47), kau menegaskan gejolak itu dalam di antara dua tanda kutip.

“Di sini tak ada apa-apa, saudara
Pergilah di kota-kota telah tersimpan riwayatku yang basi”

Dalam “Sebukit Rinjani”, kau tulis tahun 2009, yang bentuknya mirip prosa, sepertinya ada usaha untuk berdamai dengan realitas, sejarah, dan trauma kesadaran kolektif yang ada. “Sudahlah, hanya secangkir kopi. Engkau hanya mencari orang yang terkesima. Menggenggam peninggalan Majapahit erat-erat. Yang dekat dari sini hanya Gunung Ijen.” Suasana itu berbeda dari tahun sebelumnya juga kau tabalkan dengan mengambil ikon Gandrung dalam sajak yang kautulis pada 2008, dengan judul “Belerang di Tubuhmu” (hal. 77)

Tak ada bau bangkai di sini.
Hanya jejak-jejak Gandrung yang menempel
di beranda rumahmu
Selendang merah yang kusam
Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.

Meski suasananya berbeda, aku melihat kau tetap memandang “jejak-jejak” itu sebagai hal yang “kusam”. Artinya, kau tetap istikamah dalam memandang masa lalu dan warisan tradisi itu sebagai hal yang harus ditafsir ulang dan diberi notasi dalam kekiniannya yang tidak terjebak pada masa lalu atau sesuai dengan spirit of age. Spirit itulah yang mendasari sajak-sajakmu yang lain, yang menyebut beberapa tempat, tokoh, mitos, alih kode, campur kode, dan lainnya terkait dengan Osing dan Banyuwangi. Kau juga merambah wilayah spiritualisme Islam, dengan mengunggah puisi yang sunyi dan mengungkai kaidahkaidah sufisme. Sayangnya, aku kurang mampu lebih dalam berhibuk ke lubuk puisimu ini, karena itu berada di luar bingkai perspektifku.

Demikianlah, pada akhirnya beribu maaf aku gelar di sini karena harus menyudahi pembicaraan yang mungkin terlalu melenceng jauh dari perkiraan dan bertele-tele. Namun, bagiku ini adalah sebentuk “kenikmatan” dan “rekreasi” yang menyenangkan. Aku sudah berikhtiar “membaca” 70 puisimu, yang ditulis pada 1991—2009, dengan jumlah dan jeda yang berbeda. Tak ada sajak dari tahun 1992—1995 dan 2000—2005. Rincian sajak-sajakmu dalam Rajegwesi adalah: tahun 1991 (13 sajak), 1996 (6 sajak), 1997 (1 sajak), 1998 (2 sajak), 1999 (1 sajak), 2006 (1 sajak), 2007 (14 sajak), 2008 (8 sajak), dan 2009 (25 sajak). Paparan singkat ini adalah hasil perjumpaanku dengan beberapa puisimu.

Aku memang hanya fokus pada hal ihwal yang berbau sejarah, tradisi dan ingatan-ingatan kolektif saja karena sajak-sajakmu mendedah banyak hal, yang tentu saja tidak kuasa kubaca semua. Bahkan, bisa jadi, banyak hal dari sajak-sajakmu yang luput dan itu karena keterbatasanku yang tak mungkin bisa mendedah seluruhnya dan sempurna. Demikianlah, semoga surat kreatif ini bisa menjadi silaturahmi sastra yang penuh marwah dan inspiratif, serta mampu memperpanjang nafas kebudayaan kita semakin lebih hanif.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »