Revisibilitas Bahasa, Pandangan Dunia, dan Batas Nalar

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
oleh Ganjar Hwia

Alu-aluan
Meskipun sering diragukan, setakat ini masih banyak orang percaya bahwa bahasa mencerminkan pandangan dunia, budaya, atau bahkan kepercayaan seseorang. Jauh di awal abad ke-19, Wilhelm von Humboldt (1836), misalnya, percaya bahwa dalam bahasa ada tersirat semangat dan watak kebangsaan penutur bahasa itu. Di abad ke-20, pandangan itu masih juga banyak diikuti oleh ahli bahasa, seperti Edwar Safir (1929) dan Alfred Korzybski (1933, yang sampai sekarang pengaruhnya masih sangat kuat). Sebagai contoh saja, Korzybski (1994) mengatakan bahwa
“... bahasa, sembarang bahasa, pada dasarnya, mempunyai metafisik tententu yang menetapkan, secara sadar ataupun tidak, sesuatu struktur bagi dunia ini. Mitos-mitos lama kita memberikan struktur antropomorfis kepada dunia ini, dan oleh sebab terpengaruh dengan khayalan ini, orang primitif pun mencipta bahasa untuk menggambarkan dunia seperti ini dan memberikannya bentuk subjek-predikat (hlm 89) ... pendidikan jenis Aristotelian (melalui bahasa dan bentuk representasi subjek-predikatnya) menghasilkan jenis-jenis orientasi yang membahayakan manusia, kasar, makroskopis, kejam, dan kebinatangan ... Orientasi-orientasi inilah yang membiakkan berbagai-bagai fuhrer, seperti Hitler, Mussolini, Stalin, dan lainlain, dalam semua bidang yang dengan angkuh menganggap mereka wakil ‘segala’ dunia manusia (hlm. xxxi).

Jika benar pandangan Korzybski bahwa sistem bahasa memberi gambaran tentang budaya, masyarakat, dan pandangan kita terhadap dunia, seharusnya kita boleh mengatakan bahwa terdapat perbedaan dan persamaan dalam masalah agama, politik, atau struktur sosial yang menyebabkan semua ini: yaitu bahasa.

Lihatlah, misalnya, keadaan negara Amerika Serikat yang berbahasa sama, yaitu bahasa Inggris, tetapi dari segi ideologi, agama, dan politik berbeda-beda. Oleh karena itu, jika benar bahasa mempengaruhi atau menentukan pandangan dunia/budaya seseorang, seharusnyalah di Amerika terdapat keseragaman yang lebih tinggi karena hanya ada satu sistem bahasa yang terlibat.
Pendapat yang menyebutkan bahwa apabila bahasa sama, pandangan budayanya sama, perlu mendasarkan pada penelitian yang komprehensif. Lagi pula, bila ada faktor selain sistem bahasa yang dapat menjelaskan perubahan dan perbedaan budaya, saya kira tidak perlu pendapat ini diberikan kepada sistem bahasa. Bayangkan saja keadaan sebuah negara yang penduduknya terdiri atas macam-macam bahasa, tetapi mempunyai pandangan yang sama dalam hal politik, sosial, agama, dan ideologi.

Jika pun benar sistem bahasa mempengaruhi atau menentukan pandangan dunia/budaya, kita boleh saja mengatakan bahwa penutur bahasa atau rumpun bahasa yang berlainan akan berpegang pada pandangan dunia/budaya yang berlainan. Akan tetapi, keadaan semacam ini tidak mungkin, bukan? Kita dapat melihat, misalnya, doktrin Islam, Katolik, Protestan, Budha, komunis, kapitalis, autoritarian, demokratis, radikalis, atau bahkan “doktrin” vegetarian dimiliki oleh penutur bahasa yang bermacammacam.

Kita juga dapat memperhatikan bahwa pandangan dunia/ budaya masyarakat senantiasa berubah, tetapi bahasanya tetap sama. Misalnya, dalam waktu yang kurang dari seratus tahun, negara Cina telah berubah dari menganut sistem Feudalisme (di bawah pemerintahan Mancu), ke sistem Kapitalisme (di bawah perintah Chiang), lalu ke sistem Komunisme (di bawah perintah Mao), tetapi bahasanya tidak banyak berubah dari segi sintaksisnya atau asas tata bahasanya. Contoh yang sama mungkin terdapat di negara-negara lain.

Boleh jadi Anda termasuk salah satu yang berpendapat bahwa perubahan pandangan dunia/budaya dapat terjadi tanpa perubahan bahasa. Akan tetapi, adakah penjelasan tentang ciri pandangan dunia/budaya suatu bahasa pada masa tertentu? Mereka yang menyokong pendapat seperti ini haruslah menyatakan pandangan dunia/budaya apa yang tersirat dalam fiturfitur bahasa itu. Selanjutnya, jika perubahan pandangan dunia/ budaya dapat terjadi oleh hal di luar sistem bahasa, yang harus dibuktikan adalah bahwa bahasalah juga yang menyebabkan perubahan dalam pandangan dunia/budaya.

Apabila suatu sistem bahasa dikatakan mengandung pandangan dunia/budaya tertentu dan akan mengarahkan pikiran penuturnya agar sejajar dengan pandangan dunia/budayanya itu, suatu bahasa pasti akan sukar atau tidak mungkin menyatakan pandangan dunia/budaya yang berbeda. Lihatlah Manifesto Komunis, misalnya, ide-ide dasarnya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia ini. Saya yakin, pendapat yang mengungkapkan hubungan bahasa seperti itu tidak mampu menjelaskan fenomena ini.

***

Dunia Makna
Von Humboldt, Sapir, Whorf, dan Korzybski membuat kesimpulan tentang bahasa berdasarkan apa yang disebut ahli linguistik sekarang sebagai “analisis struktur permukaan”. Pendapat mereka itu ialah perkataan dan struktur kalimat dapat menggambarkan semua unsur makna atau unsur pikiran kalimat. Contohnya, Whorf berkata bahwa bahasa orang Hopi (salah satu dari pribumi Amerika atau Indian-Amerika) menunjukkan bahwa dengan tata bahasa yang ada dapat membuat kalimat yang tidak boleh dipenggalpenggal menjadi subjek-predikat dan tidak merujuk “waktu” secara jelas ataupun tidak jelas. Pernyataan yang demikian sekarang telah disangkal oleh para ahli linguistik karena anggapan itu dibuat khusus untuk menggambarkan struktur permukaan sebuah kalimat. Oleh karena itu pula, tidak banyak ciri kesemestaan bahasa telah dikemukakan oleh mereka (Steinberg, 1982:158).

Sehubungan dengan itu, saya sedikit akan menyinggung masalah makna itu. Selain sekumpulan kecil perkataan onomatope, pertalian antara kata dengan makna bersifat konvensi. Oleh karenanya, apabila pertama kali kita mendengar suatu kata, misalnya, kata “unduh”, maknanya (jika tidak terbentuk dari morfem yang diketahui) tidak akan diketahui. Makna yang dikaitkan dengan urutan bunyi tertentu harus diperoleh. Tidak mungkin kita dapat mengetahui dari urutan bunyi saja bahwa “unduh” bermakna ‘mengambil atau memanen’.

Makna suatu kata, menurut Steinberg (1982:160), dapat diperoleh melalui empat cara, yaitu (1) suatu bentuk bunyi dikaitkan dengan sesuatu benda, keadaan, atau peristiwa dalam dunia, misalnya, urutan bunyi [sapu] dikaitkan dengan benda “sapu” sebagai alat untuk menyapu; (2) suatu bentuk bunyi dikaitkan dengan ide atau pengalaman dalam akal budi (the mind), misalnya, urutan bunyi [sedih] dikaitkan dengan keadaan sedih; (3) suatu penyimpulan tentang makna perkataan dapat dibuat dalam konteks linguistik, misalnya ketika kita membaca sebuah kalimat dan kita menemukan kata/istilah yang belum jelas maknanya, tetapi kata-kata lain sudah diketahui makna, kita dapat memahami makna kata itu melalui penyimpulan; (4) suatu analisis terhadap morfem pembentuk kata dari makna suatu bentuk bunyi yang sudah diketahui sebelumnya, misalnya, makna awapusat (desentralisasi) boleh diartikan dari makna awa dan pusat. (Bentuk awa- dalam peristilahan digunakan sebagai pengganti awalan bahasa Inggris de- [atau dis-] yang memiliki makna ‘menghilangkan’).

Tentang empat cara memperoleh makna, kita dapat mengatakan bahwa dua cara yang pertama melibatkan sumber bukan linguistik. Adapun (3) dan (4) memberi makna yang melibatkan aspek linguistik. Namun, harus diingat bahwa makna bahasa digunakan sebagai dasar untuk menentukan makna kata yang bukan linguistik itu asalnya seperti dalam (1) atau (2).

Oleh karena itu, semua makna yang berdasarkan pengalaman dunia atau akal budi bukan linguistik. Kesalahan Whorf, kalau boleh dikatakan demikian, adalah mengandaikan bahwa ketika kita mendengar bentuk bunyi sebuah kata (bentuk yang tidak diketahui), kita dianggap sudah dapat membayangkan makna kata itu. Bentuk bunyi bahasa dengan sendirinya tidak dapat menentukan makna.

***

Penggunaan Bahasa dan Pengaruhnya
Tentang hubungan bahasa dengan cara berpikir, tingkah laku, dan pandangan dunia/budaya, yang ternyata tidak secara langsung menentukan semuanya, saya ingin mengemukakan tiga masalah yang berhubungan dengan bahasa dan kemungkinannya untuk mempengaruhi isi dan arah pikiran seseorang. Sungguh pun, ketika kita mengetahui suatu bahasa tidak akan mempengaruhi sifat alamiah pikiran, pola-polanya, dan pengendaliannya terhadap tingkah laku dan pandangan dunia/budayanya, ada beberapa keadaan khusus yang dapat menghubungkannya. Keadaan khusus itu ialah (1) bahasa digunakan untuk mendapatkan ide baru, (2) bahasa digunakan untuk mengubah kepercayaan dan nilai-nilai, dan (3) bahasa digunakan untuk membantu daya ingat.

a. Bahasa digunakan untuk memunculkan ide baru 
Andaikanlah saya berkata, “Setiap pagi, Obama minum wedang jahe dan mendengarkan lagu Bengawan Solo”. Besar kemungkinan kalimat itu dan ide-ide yang dinyatakannya, mungkin baru untuk Anda. Jika benar, ide baru yang terbentuk dalam pikiran Anda itu semestinya didapat setelah mendengar saya mengatakan kalimat itu.

Berkenaan dengan ide atau makna baru yang terkandung dalam kalimat, yang dapat kita catat ialah yang baru itu bukan setiap ide dan pertalian yang ada pada kalimat, tetapi oleh urutannya (ide dan hubungan) yang unik. Kata-kata dan struktur kalimat itu semuanya Anda tahu. Kecuali mungkin Anda yang belum tahu frasa wedang jahe sebagai minuman khas Jawa yang terbuat dari sari jahe dan ternyata Obama mendengarkan lagu Bengawan Solo. Dan, jika pun ada kata-kata baru digunakan, maknanya dapat dijelaskan melalui konteks kalimat.

Contoh lainnya ialah banyak doktrin baru dikemukakan, tetapi tidak baru dari segi bahasa. Perhatikan doktrin psikoanalisis Freud, tidak ada sintaksis baru dan hanya beberapa istilah baru yang muncul. Namun, doktrin itu pengaruhnya besar sekali terhadap pembacanya. Dari sini kita dapat saja mengatakan bahwa mengetahui suatu bahasa mungkin tidak akan mempengaruhi pikiran, tetapi menggunakan bahasa tertentu mungkin akan mempengaruhi isi dan arah pikiran tertentu.

b. Mengubah kepercayaan dan nilai melalui bahasa
Kita kembali mengambil contoh Manifesto Komunis, yang ide-ide dasarnya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Akibat membaca Manifesto Komunis ini ialah nilai, kepercayaan, atau pandangan dunia/budaya seseorang mungkin mengalami perubahan radikal. Orang yang telah berubah pandangan agama, politik, dsb. secara radikal, kerap dikatakan sebagai orang yang cara “berpikirnya” telah berubah.

Namun, sebenarnya yang berubah ialah nilai kebenaran dan nilai kesimpulan yang dikaitkan dengan proposisi yang mereka gunakan. Mungkin, karena tingkah laku seseorang itu telah berubah secara radikal, pemerhati yang kurang bijaksana menyalahartikan bahwa perubahan radikal itu sejajar dengan perubahan besar pada cara dan pengendalian pikiran orang itu. Penjelasan yang lebih munasabah untuk masalah ini ialah dengan berkata bahwa perubahan dalam nilai kebenaran, cita-cita, dan tujuan telah menyebabkan perubahan dalam tingkah laku. Dari sinilah kita dapat melihat kekuatan persuasi melalui bahasa. Isi dan maksud pikiran seseorang dapat dipengaruhi cara berbahasa yang digunakan oleh orang lain.

c. Bahasa digunakan untuk membantu daya ingat
Dengan adanya bahasa dan kita menulis dalam bahasa, kita dapat mengawetkan ide dan membina ide baru dari apa yang kita dengar dan baca. Kita tahu bahwa bahasa sebagai bagian dari kebudayaan dianggap sangat penting, bahkan mutlak diperlukan, dalam kehidupan manusia. Bahasalah yang dianggap milik khas manusia yang paling umum dan paling mampu untuk digunakan sebagai alat pengembangan akal budi dan pemelihara kerja sama antarmanusia yang dapat diamati. Tanpa bahasa, tidak ada sekelompok manusia mana pun yang dapat mengembangkan budaya apa pun. Bahasalah yang memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri modern.

Namun, seperti yang telah dikemukan sebelumnya tentang kata warna, kita tahu bahwa suatu kata dapat membantu daya ingat, tetapi kata itu tidak akan mempengaruhi penanggapan dan arah pikiran kita karena telah mengetahui perkataan itu.

***

Batas Nalar
Menurut Calne (2005), nalar, bahasa, dan matematika samasama berakar pada asal-usul yang begitu dinamis dan praktis. Akan tetapi, dengan terbentuknya basis data (database) budaya, dari generasi ke generasi, ketiganya mampu mencapai puncak abstrak yang tak terkira tingginya. Nalar, seperti halnya matematika dan bahasa, lebih merupakan fasilitator daripada inisiator. Kita menggunaan nalar untuk mendapatkan yang kita mau bukan untuk menentukan yang kita mau. Nalar sudah dinaikkan ke tingkat logika simbolik, bahasa ke tingkat puisi metafisik, dan matematika ke tingkat teori probabilitas. Nalar merajut argumen, tata bahasa merajut kalimat, sedangkan kosa-kata adalah simbol dari konsep-konsep.

Kita masih bertanya, mengapa bahasa Inggris yang banyak menjadi sumber kata/istilah itu, lebih “canggih” merajut makna, ide, maupun konsep? Kelebihan ini bisa jadi karena jumlah kosakata bahasa Inggris delapan kali lipat jumlahnya daripada kosakata bahasa Indonesia. Artinya, secara leksikal, konsep ihwal dunia para penutur bahasa Inggris jauh lebih banyak daripada konsep serupa yang dimiliki penutur bahasa Indonesia (?). Sebagai bahan perbandingan, penutur dewasa bahasa Inggris ratarata memiliki perbendaharaan kata sekitar 50.000 kata, tetapi jumlah yang sebenarnya jauh lebih beragam. Pendidikan tinggi memberi perbendaharaan sekitar 80.000 kata (Calne 2005: 66).

Di samping itu, budaya literer para penutur bahasa Inggris, misalnya di Amerika Serikat menjadikan mereka, khususnya kaum terdidik, terbiasa menulis. Para ahli setuju bahwa menulis telah terbukti sebagai kegiatan berbahasa yang paling mendukung terbentuknya keterampilan bernalar, yaitu kegiatan memecahkan masalah melalui proses linguistik dan kognitif yang kompleks.

Calne (2005:417) antara lain menyatakan bahwa kemajuan manusia (human progress) adalah hasil optimisme yang bertegastegas tetapi tak realistis—bahwa cara—hidup kita yang mutakhir lebih tinggi mutunya dari semua cara hidup sebelumnya. Kita harus percaya diri bahwa kosakata bahasa nasional kita keadaannya memang lumayan dahsyat sehingga alih bahasa sejumlah kata/istilah ilmiah dengan kosakata yang ada, atau yang baru, sanggup membuat kita sadar betapa bahasa Indonesia memang sudah punya potensi yang sama dengan bahasa Yunani: samasama bahasa asing, yang hasratnya untuk diintimi menuntut kerja keras nalar. Bahasa Yunani merupakan bahasa yang tegak kukuh sebagai sebuah bahasa yang mengusung wacana besar. Demikian pula dengan bahasa Latin yang menjadi bahasa perantara dari bahasa Yunani via bahasa Arab ke pusat kebudayaan Eropa. Namun, kedua bahasa itu perlahan-lahan mulai sempoyongan karena tidak banyak lagi orang yang berpikir dan membangun wacana dalam bahasa bersangkutan. Nalar memiliki batas yang tak tertembus sehingga nalar bukan saja tak bisa dimintai tanggung jawab, tetapi juga mematok kognitif manusia.

Oleh karena itu pula, kemampuan kognitif itu dapat dibangun. Kemampuan kognitif kita, apalagi yang sudah dewasa, dapat dibangun untuk menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mempunyai daya ungkap untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang diperlukan adalah bernalar dan berpikir kritis, yang mungkin lebih tepat diartikan sebagai kemauan untuk mengutamakan bahasa Indonesia di lingkungannya. Mengapa? Karena, proses berpikir berkaitan erat dengan nalar. Kekuatan otak tidak berubah sejak Homo Sapiens, umat manusia pertama kali muncul 200.000 tahun yang lalu, yang berevolusi adalah nalar (Calne 2005:25), yakni tata bahasanya argumen. Nalar dan bahasa berkembang sama-sama sejak usia dini dan saling bergantung. Buktinya, antara lain, argumen-argumen dinyatakan lewat proposisi, yakni kalimat-kalimat. Artinya, bernalar seperti halnya berbahasa harus dikembangkan lewat pembelajaran, baik formal maupun informal. Selama ini, cara berbahasa kita dalam pertuturan sebagai proses berkomunikasi dengan kadar nalar yang rendah. Ini terbukti dengan amburadulnya bahasa Indonesia di sekitar kita.

Berbagai masalah yang kini melanda Indonesia jelas lebih disebabkan oleh batas-batas nalar yang disungkupkan oleh kecemasan manusia sendiri. Volume otak orang-orang Indonesia jelas sama dengan otak orang Amerika atau orang mana pun di bumi ini. Bahwa dengan otak yang persis sama itu, hasilnya adalah buah yang berbeda, menunjukkan bahwa tentu ada yang keliru dengan cara kita menggunakan dan memperlakukan otak. Tampaknya kita memang tak cukup membantu otak kita agar bisa tumbuh dan berkembang sesubur-suburnya. Kita tak menopangnya dengan pasokan informasi yang memadai, dengan pengikisan produk kognitif yang kadaluwarsa: pengertian tentang diri, identitas, dan pandangan dunia yang sungguh sempit dan dangkal. Untuk membeli gengsi, misalnya, kira rela merusak bahasa. Oleh karena itu pula, “Kalau masih mau jadi dangkal (nalarnya): Berbahasa asing jangan lupa. Campurkan justru saat Anda berbicara bahasa Indonesia dengan orang Indonesia!”***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »