Sajak-Sajak Ir. Soekarno

ADMIN SASTRAMEDIA 5/01/2019

 


Ir. Soekarno bukan hanya orator hebat dan Bapak Proklamator Indonesia, dia juga penyair. Lahir di Surabaya, 6 Juni 1901 dengan nama Koesnososro Soekarno dari pasangan Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Setamat SD Bumiputera di Mojokerto, Soekarno melanjutkan sekolah ke SD Belanda. Setelah dari HBS Surabaya, dia terus melanjutkan sekolah ke Technische Hoge School (Bandung) dengan gelar insinyur pada tahun 1925.Dia wafat pada hari Minggu, 21 Juni 1978, meninggalkan Indonesia merdeka.


Dimakan Api Unggun

Saya merasa

diri saya sebagai
sepotong kayu
dalam satu gundukan kayu api unggun

sepotong dari pada ratusan

atau ribuan kayu di dalam api unggun besar

saya menyumbangkan sedikit

kepada nyala api unggun itu

tetapi sebaliknya

saya dimakan oleh api unggun itu!
Dimakan apinya api unggun

(dari buku “Tragedi Bung Karno” Pustaka Simponi 1978)


Aku Melihat Indonesia


Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep

Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Jikalau aku melihat

sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung-gunung

Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengarkan

Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran

bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku

bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia

Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut

menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut
Aku mendengarkan Indonesia

Jikalau aku menghirup udara ini

Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jikalau aku melihat wajah anak-anak

di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

(dari buku “Bung Karno dan Pemuda”, hlm. 68-107)


Berpedomanlah pada Cita-cita


Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan

kehidupan manusia sekarang digerogoti
dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan

Ketakutan akan hari depan

ketakutan akan bom hidrogen
ketakutan akan ideologi-ideologi

Mungkin rasa takut itu

pada hakekatnya merupakan bahaya yang
lebih besar daripada bahaya itu sendiri

Sebab rasa takutlah yang

mendorong orang berbuat tolol
berbuat tanpa berpikir
berbuat hal yang membahayakan

Dalam permusyawaratan Tuan-tuan

saya minta, jangan kiranya Tuan-tuan
terpengaruh oleh ketakutan itu

Sebab ketakutan adalah zat asam

yang mencapkan perbuatan manusia
menjadi pola yang aneh-aneh

Berpedomanlah pada harapan

dan ketetapan hati
berpedomanlah pada cita-cita
berpedomanlah pada impian dan angan-angan

(dari pidato “Presiden Soekarno pada Pembukaan Konperensi Asia-Afrika” 18 April 1955)


Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah


Sekali lagi saya ulangi kalimat ini

membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau
hal itu tidak mungkin
sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini
adalah akumulasi dari pada hasil-hasil
perjuangan di masa yang lampau

Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata:

“One connot escape history”
orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah
Saya pun berkata demikian!
Tetapi saya tambah. Bukan saja
“One connot escape history”
tetapi saya tambah: “Never leave history”
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu yang sudah!
Hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan yang sudah,
engkau akan berdiri di atas vacuum
engkau akan berdiri di atas kekosongan
lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu
paling-paling hanya akan berupa amuk
amuk belaka
Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap!

(dari “Amanat Proklamasi, 17 Agustus 1963”, hlm. 210)

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »