Sajak-Sajak Irawan Sandhya Wiraatmaja

ADMIN SASTRAMEDIA 5/01/2019
Irawan Sandhya Wiraatmaja, lahir di Jakarta, 21 Juni. Bagi pembaca usia muda, nama Irawan akan terdengar sebagai nama baru dalam perpuisian Indonesia. Namun bagi pembaca sastra tahun 1970-an, Irawan bukanlah nama yang asing. Kapan puisi Irawan pertama kali dimuat media? Tahun 1976 di Merdeka Minggu. Selanjutnya di Horison dengan judul “Sajak Seekor Semut” sebagaimana catatan Ernst Ulrich Krazt dalam Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi. Catatan yang dilakukan Krazt menegaskan, bahwa kiprah Irawan dalam kepenyairan kita seangkatan dengan Korrie Layun Rampan, Fakhrunnas MA Jabbar, kakak-beradik M Massardi, Gus tf, Kurniawan Junaedhie, Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma), Sutan Iwan Soekri Munaf, Heryus Saputro, dan deretan nama lain generasi 1980-an. 
Selepas itu, sejumlah puisi Irawan tersebar di majalah Zaman, Basis, Pandji Masjarakat, dan sejumlah koran ibu kota, seperti Kompas, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, dan beberapa surat kabar yang sudah almarhum. Dia menulis puisi sejak duduk di bangku SMA. Pamusuk Eneste (1990, 2001), Korrie Layun Rampan (2000), dan Ahmadun Y. Herfanda, dkk (2003) memasukkan namanya dalam leksikon sastra mereka. Bahkan, Korrie Layun Rampan memasukkan namanya sebagai sastrawan Angkatan 2000. Nama Irawan juga tercatat dalam Apa & Siapa Penyair Indonesia (YHP, 2017).

RESTORAN ALBERT CAMUS TIPASA


Ikan yang kau lihat di tepi pantai 

Sekarang ada di atas meja dalam sebuah piring 
Di antara pisau dan garpu 
Yang termangu-mangu menunggu waktu 

Tercium uap panggang, serasa harum 

Dari sebuah siang yang dibawa oleh musim 
Dan geliat angin di ujung napas yang ingin 
Ketika lidahmu seperti terjulur merasakan kecemasan

Biarkan saja ikan itu diam, terbuka tubuhnya 

Di antara bumbu dan panasnya api 
Yang membakar kulit dan dagingnya menjadi 
Sebuah santapan yang tak pernah hilang dari kenikmatan 

Ia tak akan pernah merasakan nyeri atau luka 

Tapi hanya tak bisa kembali berenang di kedalaman laut
Berlarian di antara kerang dan rerumputan 
Kita seperti merasakan matanya berbinar memandang

Wajah lapar kita dengan pisau dan garpu yang telanjang

Membelah tubuhnya menjadi irisan-irisan 
Kelezatan sebuah kehidupan yang bermuaul dari 
Keheningan laut yang diam, bergerak dan berombak 

: Kita tidak sedang menulis sajak tentang kehilangan 

Hanya menyantap ikan yang terpanggang sebuab kenangan. 

13 Mei 2016. 



AIR MATA KOPI


Air mata yang berbutir-butir keluar dari lubang retina terus 

mengalir membawa 
jejak-jejak kegelisahan, menetes di kedalaman sebuah
cangkir yang gemetar 

kau masukkan sesendok kopi dan gula yang bermuasal dari tubuh 

basah 
semacam keringat di antara udara yang kuyup 
dan berbilang-bilang senyap 

dengan jemari yang menggigit tungkai waktu, kau putar musim di 

kedalaman 
cangkir yang terus menerus meminta napas dari sebuah 
perjalanan 

di mana kau telah sampai memutar air, yang diam-diam terus 

bergelombang 
melihat ke atas langit, dan menahan terik yang berpancar di
ketinggian

mari kita minum, katamu. air itu berubah cokelat dan kehitaman. 

dari kejahuan
terdengar suara-suara yang samar: seperti sebuah tangis berjarak
seperti terisak-isak

22 Desember 2016



SECANGKIR KOPI BERSAMA KEKASIH 


secangkir kopi yang kita hirup kekasih, pagi-pagi ketika 

musim masih melipat selimut di sebalik tubuh waktu, pernah 
menjadi mimpi yang tumbuh sebagai sebuah pohon 
yang daun-daunnya pucat luruh dibawa angin masa silam 

kita berdekapan dalam cuaca, gerimis yang masih membawa 

uap basah di antara aroma kopi yang pekat berbagi percakapan 
di ruang yang pernah mempertemukan kita dalam gairah 
kenikmatan yang tak pernah berakhir: di ujung tetesan air yang sisa 

secangkir kopi hitam yang masih berdiam, kita minum pelahan 

lewat hari-hari yang memintal jejak-jejak kenangan yang 
menjadikan kita sebagai sebuah kamar dalam rumah yang bergairah 

aku mencium wajah-mu yang sumringah, lewat napas di antara 

aroma kopi yang sisa dengan debar jantung yang memburu 
kilat cahaya dalam kesenyapan waktu: hari-hari yang terus bergelinjang. 

Jakarta, 9 Oktober 2016. 



SEPOTONG PIZZA


Sepotong pizza di atas meja, sebilah pisau 

Yang risau, dan wajahmu yang pucat 
Semburat cahaya dari dalam mata yang terpukau 

Sisa potongan nikmat pizza, ditelan lapar 

Dari tubuh yang lirih menahan sakit dan nyeri 
Tak terdengar napas musim, kau masuk ke dalam tubuh 
waktu 

Jakarta, Maret 2016



KETIKA KERDIP MATAMU 


ketika kerdip matamu menapaskan waktu, bagaikan 

mawar merekah maka cinta itu membuka kelepak sayap-sayap 
burung yang terbang memintas musim 
di antara reranting pohon dan daun-daun yang basah 

seperti sebuah air mata: mengalir dari kerinduan yang muasal 

dari kesunyian yang menjadi kekal 
untuk kembali menjadi kenangan yang tak berbagi 
harl-hari dl antara jejak langkah yang panjang masa silam 

ketika kerdip matamu mencahayakan ruang di dalam 

hati yang gelisah, maka kesadaran itu menjadi sebuah gairah
yang tumbuh menjadi ilalang yang subur dalam pematang 

ketika kerdip matamu mengalirkan ombak berulang-ulang 

sepertl sebuah abad yang tak berjarak. dalam darah dan jantung
yang gemetar membilang-bilang nama-mu tak bertepi. Kekasih! 

Jakarta, Mei 2016



BUNGA DI TELAPAK TANGAN 


(1). 


Setelah kucium, jadilah kau bunga yang bermekaran 

Di telapak tangan, menyimpm semerbak harum 
Sebagai parfum 

Yang kau siram ke bagian tubuh 

Agar mewangi ke seluruh ruang, kamar dan udara 
Sebagai jalan 

Menuju kota: sebuah alamat kecil 

Pada rumah tanpa jendela dan tak berbapa 
Sebagai arah, yang dapat membaca kesenyapan. 

Maret 2016.



MEMBACA TUBUHMU 


Membaca tubuhmu adalah membaca langit yang muram 

Meneteskan gerimis berkabut sebagai air mata darah 
Tanah bumi yang hitam dan ladang yang kelam 

Membaca tubuhmu adalah membaca laut yang marah 

Kehilangan berjuta garis pantai dan napas nelayan 
Terumbu karang, lumut dan ganggang yang kehilangan 
rumah 

Membaca tubuhmu adalah membaca hutan yang terbakar 

Membawa kegelisahan menerbangkan gumpalan asap 
Membelah keluasan ruang udara dan kota-kota yang lelap 

Membaca tubuhmu adalah membaca jalan-jalan kelahiran 

Yang kehilangan kitab dan catatan peradaban 
Seperti sebuah jejak langkah yang lupa akan tanah basah 

Membaca tubuhmu adalah membaca luka nanah dan nyeri 

berbilang

27 Mei 2016

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »