Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/27/2019
oleh Maman S. Mahayana

Pertanyaan klasik yang acap dilontarkan beberapa mahasiswa, guru, dan teman-teman sastrawan atau mereka yang ingin menulis kritik sastra adalah: Bagaimana cara menulis kritik sastra? Apa yang mesti ditulis dan bagian mana saja yang perlu dijadikan sasaran kritik? Lalu, bagaimana pula cara melakukan penilaian atas sebuah karya, dan seterusnya, dan seterusnya .... Itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul di banyak tempat dari waktu ke waktu. Maka, saya menyebutnya sebagai pertanyaan klasik. Akan tetapi, mereka punya semangat yang sama, yaitu keinginan yang kencang, bagaimana menulis kritik sastra!

Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis kritik sastra, boleh jadi langkah-langkah berikut ini tidak terlalu penting benar. Namun, bagi mereka yang belum melakukannya atau sering gagal ketika coba mengulas karya sastra, pemerian ini tentu mustahak. Mungkin juga penting. Jadi,
silakan cermati, camkan, dan lakukan!

Berikut ini langkah-langkah menulis kritik sastra. Saya meringkaskan ke dalam sembilan langkah mangkus dengan satu jurus pamungkas. Mari kita mula!

Pertama, baca tuntas karya sastra yang hendak dikritik: apakah itu novel, antologi puisi, atau kumpulan cerpen (bisa juga hanya satu puisi atau satu cerpen yang nanti akan diteliti). Jangan pernah mengandalkan pemahaman atas karya sastra berdasarkan konon kabarnya sebelum kita menyimak sendiri karya itu secara langsung, tanpa perantara. Bahkan, jika kita belum membaca karya yang hendak dikritik, sebaiknya jangan coba-coba berani menulis kritik (sastra). Jika, tetap nekad mengandalkan konon kabarnya, maka selain tindakan itu sama halnya dengan mendustai diri sendiri, juga itu berarti telah melakukan pembohongan publik. Itulah kritik sastra yang ngawur. Suatu saat kelak ketahuan juga dan akan ada yang membongkar tipu daya itu. Bagaimana mungkin dapat melakukan kritik sastra tanpa membaca bahan yang hendak dikritiknya? Jadi, langkah pertama, tidak bisa tidak, kita mesti membaca tuntas karya yang hendak dijadikan bahan kritik.

Sebelum proses pembacaan dilakukan, dituntut pula kesadarannya, bahwa menulis kritik bukanlah caci-maki. Kritik sastra adalah apresiasi atas satu (atau beberapa) karya sastra. Uraiannya bisa berupa deskripsi, analisis, atau komparatif. Agar dapat melakukan analisis yang konstruktif, diperlukan pula interpretasi atas unsur intrinsik yang membangun karya tersebut. Jika merasa perlu ada penilaian, argumentasi adalah hal yang penting sebagai bentuk pertanggungjawaban, bahwa kritikannya berdasarkan alasan atau pandangan objektif.

Objektivitas! Itulah sikap dasar yang harus menjiwai keseluruhan tulisan kritik sastra, meskipun ketika melakukan penafsiran, pengalaman subjektif seseorang ikut menentukan kedalaman atau kedangkalan interpretasinya. Oleh karena itu, sebelum memulai proses pembacaan atas sebuah karya, kita berkewajiban menghilangkan sikap suka atau tidak suka, membuang jauh-jauh prasangka dan syakwasangka, dan menyimpan pandangan apriori, yaitu semacam usaha menyimpulkan sesuatu, sebelum melakukan penelitian atau kajian atas objeknya. Sebagaimana tadi disebutkan, jangan melakukan kritik berdasarkan konon kabarnya karena sering menggelincirkan pada pandangan apriori. Sementara sikap suka—tidak suka, prasangka dan syakwasangka akan menggelembungkan semangat besar subjektivitas. Akibatnya, dari awal hingga akhir, tulisan itu akan ditaburi dengan ulasan (dan celotehan) subjektif, meski di sana begitu banyak gincu istilah-istilah keren.

Memang tidak sedikit orang yang menulis kritik (sastra) berangkat dari sikap suka—tidak suka, prasangka, dan syakwasangka. Yang dipentingkan mereka dalam mengulas karya sastra adalah kesan subjektifnya sendiri. Impresinya atas karya yang dikritik sangat menonjol. Maka, jenis kritik ini disebut kritik impresionistis. Penilaian dalam kritik impresionistis bersifat relatif, sebab yang dipentingkan adalah kesan orang per orang. Jika ia suka dan punya kesan baik atas sebuah karya, pujiannya cenderung jatuh pada sanjung gombal: puja-puji berlebihan. Sebaliknya, jika ia tidak suka dan punya kesan buruk, kesimpulannya cenderung menjadi caci-maki. Perkara prasangka dan syakwasangka hendaknya tidak dipandang enteng. Tidak patut dipelihara, sebab kedua sikap itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan apa yang disebut berburuk sangka. Ketika kita berhadapan dengan novel Pramoedya Ananta Toer, misalnya, lantaran Pram diduga terlibat kegiatan partai komunis, maka karyanya dianggap mesti bermuatan ideologi komunis. Mengingat sudah ada prasangka dan syakwasangka seperti itu, lalu dikejarlah ideologi komunis dalam kaitannya dengan muatan yang terdapat dalam novelnya. Tentu saja anggapan dan cara pandang seperti itu tiada patut dan sungguh keliru.

Contoh lain lagi dapat saya sebut prasangka dan syakwasangka terhadap novel-novel populer karya Motinggo Busye. Pada awal tahun 1980-an, novel-novel Motinggo Busye dianggap sebagai novel porno. Sebuah SMA di Jakarta, bahkan pernah melarang murid-muridnya membaca novel-novel itu. Tidak sedikit orang yang berburuk sangka pada novel-novel karya sastrawan tersebut. Padahal, jika dicermati secara saksama, tidak ada unsur porno dalam karya-karya Busye itu. Sebuah skripsi yang ditulis Yuki Anggia Putri, berjudul “Erotismc dalam Novel Motinggo Busye” (Depok: FIB-UI, 2009) membuktikan, tidak adanya unsur porno dalam sejumlah novel Motinggo Busye. Nah, tugas kritik sastra mesti membongkar terjadinya banyak kesalahpahaman yang sumbernya tidak lain datang dari prasangka dan syakwasangka.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan sebelum kita membaca karya sastra yang hendak dijadikan bahan tulisan kritik adalah menjauhkan diri dari pemberhalaan pada teori-teori sastra. Pengetahuan dan pemahaman pada sejumlah teori sastra, tentu saja sangat penting. Namun, memberhalakan teori itu secara berlebihan dan menempatkan diri sendiri sebagai penganut teguh yang penuh dengan ketaklidan, sungguh tiada elok. Maka, simpan dahulu di dalam laci meja segala.

Meskipun demikian, tidak sedikit pula mahasiswa atau bahkan dosen yang menjadi penganut teguh teori. Misalnya, manakala memperoleh ilmu baru tentang pendekatan terhadap karya sastra—sebut misalnya soal pendekatan pascakolonialisme— semangat menggelegak tiba-tiba muncul, seolah-olah ia hendak pamer jurus-jurus mutakhir dalam pendekatan sastra. Bagai pendekar yang baru turun gunung setelah sekian lama memperdalam ilmunya di sebuah perguruan silat, di puncak tebing, ia ingin segera menjajal kemampuannya.

Begitulah ketika seseorang mengenal ilmu baru, kecenderungan pamer ilmu itu sering menjadi godaan yang tak tertahankan. Akibatnya, dengan kesadaran bahwa ia telah punya jurus baru dalam ilmu sastra, ia membaca karya sastra dengan pikiran yang sudah terbelenggu oleh ilmu
itu. Lebih jauh, jika karya itu tidak sesuai dengan pengetahuan teoretisnya, karya itu dipandang buruk. Sebaliknya, jika karya itu dianggap sesuai dengan teori yang dipahami, seketika itu pula karya tersebut diserbu dengan ilmu yang baru dikenalnya itu. Bahkan, jika pun karya itu tidak cocok ditelaah lewat pendekatan ilmu baru itu, carilah cara lain agar segalanya cocok. Dengan begitu, jadinya bukan lagi teori yang mengabdi pada karya, melainkan karya sastra yang mengabdi pada teori. Padahal, teori itu mengikuti karya, dan bukan karya mengikuti teori.

Semangat ilmiah, yang berlebihan lantaran taklid pada teori, menempatkan karya sastra menjadi tidak lebih penting. Seperti banyak kita dapati dalam skripsi-skripsi, pamer teori seolah-olah sebagai keharusan agar dianggap ilmiah dan keren. Maka, dalam banyak skripsi, teori-teori itu dijejerkan dalam satu bab tersendiri. Tetapi manakala kita memasuki bagian pembahasan atau analisis, tidak kelihatan bagaimana teori itu beroperasi. Teori dan analisis atau pembahasan laksana minyak dan air: gak nyatu!

Kritik sastra seperti itu cenderung melakukan penilaian secara mutlak, absolut, benar—salah atau baik—buruk. Lantaran terjadinya pemberhalaan pada teori tertentu dan teori tersebut dianggap sebagai senjata satu-satunya yang digunakan sebagai analisis, maka model kritik sastra yang seperti itu disebut sebagai kritik sastra dengan penilaian absolut. Itulah bahayanya jika seseorang begitu taklid pada teori. Oleh karena itu, ketika kita hendak memulai membaca karya sastra, pengetahuan teoretis yang sudah mendekam dalam tempurung kepala kita, sementara “singkirkan” dahulu. Biarkan proses pembacaan karya sastra berlangsung alamiah, mengalir wajar.

Selanjutnya:

Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (2)

Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (3)

Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (4)

Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (5)

Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (6)



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »