Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (2)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/27/2019

Kedua, jika dalam proses pembacaan itu, kita tidak dapat masuk-menyatu dalam dunia yang digambarkan teks sastra yang bersangkutan, itu berarti terjadi hingar (noise). Terjadi rumpang, miskomunikasi, tulalit antara pembaca dan teks. Langkah yang baik jika menghadapi situasi tersebut adalah menggantinya dengan karya sastra lain, teks lain. Jika hendak memaksakan diri pada teks tersebut, maka untuk mengatasi problem hingar tadi, simpan dahulu teks itu, dan esoknya baru dimulai lagi.

Terjadinya hingar dalam proses pembacaan, bukanlah hal yang luar biasa. Peristiwa itu merupakan hal yang lazim. Pembaca sering berhadapan dengan sebuah teks yang mungkin terlalu gelap, sukar dimengerti atau jumpalitan. Bagi puisi, problem itu menjadi sangat serius, lantaran puisi tak memberi ruang bagi penyair melakukan deskripsi panjang lebar. Substansi puisi yang mengandalkan citraan memaksanya melakukan eksplorasi makna kata dalam membangun diksi atau majas (metafora, analogi, personifikasi, dan seterusnya).

Puisi-puisi yang pesan atau metaforanya berada di dalam lemari besi dan hanya Tuhan yang tahu maknanya—karena boleh jadi penyairnya sendiri tak tahu maksud yang hendak disampaikannya—sering menghadapkan pembacanya dengan begitu banyak hingar. Itulah yang terjadi pada puisi-puisi gelap. Penyair terlalu asyik mengumbar imajinasinya, sehingga larik4arik puisinya laksana kotak besi.

Pembaca jadinya dihadapkan pada kegagalan ketika berjuang keras menemukan isinya. Apa yang kemudian terjadi ketika pembaca berhadapan dengan kotak besi? Jika pembaca itu tidak putus asa atau frustasi, ia akan segera menyimpan rapi puisi itu dalam deretan buku lain, tanpa perlu menyentuhnya lagi. Namun, jika pembaca itu berlaku kejam, ia akan mencampakkannya sesuka hati.

Hingar bisa juga terjadi pada puisi-puisi yang terang benderang. Jika pesannya terlalu gamblang, sehingga tidak diperlukan lagi penafsiran, pembaca bisa bertanya-tanya: apakah ini puisi, iklan sabun colek, atau papan pengumuman? Puisi-puisi propaganda lazimnya termasuk kategori yang terang-benderang itu. Pembaca tidak diajari untuk menafsir atau tidak diberi ruang untuk berpikir dan memanfaatkan imajinasinya guna menjelajahi konteksnya. Pengarang terlalu cemas pembacanya tidak memahami pesan yang terdapat dalam teks. Jika itu yang terjadi, pembaca biasanya kecewa, karena tidak ada apa pun yang dapat memperkaya jiwa-batinnya.

Problem puisi terletak pada permainan metafora, simbolisme, atau sarana puitik yang lain. Dalam puisi, penyair dituntut mengeksplorasi makna kata. Maka, dalam setiap larik puisi, sctiap kata yang membentuk frasa atau klausa menyimpan dan sekaligus memancarkan maknanya yang berbagai, yang multitafsir. Oleh karena itu, kepadatan, kelugasan,
dan kedalaman makna setiap kata menjadi target perjuangan penyair.

Berbeda dengan puisi, novel atau cerpen memberi kesempatan kepada pengarangnya untuk menghadirkan narasi. Lewat penceritaan itu, pembaca punya banyak peluang untuk berjuang memahami pesannya. Dimulai dari kata yang membentuk kalimat, deretan kalimat yang menghadirkan peristiwa, dan rangkaian peristiwa yang membangun wacana, ditambah dengan dialog-dialog yang berfungsi memperkuat segenap unsur intrinsik. Pembaca biasanya bersabar mengikuti setiap jalinan peristiwa agar mencapai pemahaman atas teks.

Novelis atau cerpenis besar biasanya juga secara piawai sengaja memerikan fisik dan psikis tokoh, atau peristiwa demi peristiwa tidak sekaligus. Tidak ditumpahkan semua, melainkan secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit Dengan begitu, proses penokohan berikut perubahan karakternya, berlangsung secara wajar dan meyakinkan. Demikian juga, rangkaian peristiwa yang dihadirkan lewat konflik memperlihatkan sebuah proses yang logis dan terterima. Begitulah, ketika kita berhadapan dengan novel-novel atau cerpen konvensional, kelogisan dan keterterimaan itu ditentukan oleh logika yang lazim berlaku dalam kehidupan ini. Artinya, parameter atau ukurannya ditentukan oleh cara berpikir berdasarkan prinsip logika formal.

Lalu, bagaimanakah kita menghadapi novel-novel atau cerpen yang menggambarkan peristiwa-peristiwa absurd, dunia jumpalitan, dan kisah di dunia entah-berantah yang terkesan tumpang-tindih, bertumpuk-tumpuk, dan simpangsiur seolah-olah peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain sama sekali tak ada hubungannya? Sebutlah novel-novel karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, atau Danarto? Tokohnya terbuat dari baja atau besi dan bisa mati berulang kali (Rafilus), rangkaian peristiwa bisa kelihatan berputar-putar, melingkar, dan tak terduga (Ziarah dan Kering), kisahan bolak-balik dalam permainan waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan (Stasiun), benda, binatang, bahkan Al-Fatihah pun bisa menjadi tokoh utama (“Lempengan-Lempengan Cahaya”).

Berhadapan dengan novel atau cerpen yang seperti itu, kesadaran kita tentang prinsip logika formal, hukum kausalitas, dan peristiwa faktual yang lazim, untuk sementara ditanggalkan. Diperlukan cara lain yang membenarkan prinsip logika formal tidak berlaku: hukum kausalitas terpaksa disisihkan: dan ketidaklaziman diperlakukan sebagai kelaziman.

Berangkat dari cara berpikir seperti itu, maka langkah utama yang perlu ditempuh adalah baca saja dulu kalimat demi kalimat, nikmati peristiwa demi peristiwa sebagai sebuah dongeng: masuk dan berintegrasi dengan kehidupan yang dikisahkan dalam teks. Jika kita berhasil
menyatu dan berpadu dengan teks, artinya kita sudah memasuki tahap sentuh estetik (aesthetic contact). Kita masuk ke dalam kehidupan yang digambarkan dalam teks: melakukan identifikasi tokoh dan peristiwa dalam teks berdasarkan pengalaman: menjadi bagian dari keseluruhan teks. Laksana manunggaling kawula gusti, imajinasi kita menjamahi setiap tokoh, setiap peristiwa.

Biasanya, setelah kita membaca karya sastra itu, muncul sejumlah pertanyaan yang mengganggu intelektulitas dan rasa kemanusiaan kita. Mengapa begitu, tidak begini, andaikan bla bla bla, maka bla bla bla. Begitulah sejumlah pertanyaan itu muncul lantaran karya itu menggoda kita untuk berpikir kritis. Itulah tahap yang disebut sentuh kritik (critical contac). Di sinilah dimulai peristiwa kritik sastra: mempertanyakan banyak hal yang ditawarkan teks sastra.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »