Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (3)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/27/2019

Ketiga, dalam proses pembacaan tadi, tandailah dan catat bagian-bagian apa pun dari segenap unsur intrinsik yang kita anggap penting dan mengganggu pikiran. Jadi, jangan abaikan segala ungkapan, kalimat, atau peristiwa yang menarik perhatian yang terdapat dalam teks. Dengan perkataan lain, perhatikan dengan benar apa pun yang menonjol, khas, penting, meragukan, dan yang diduga sebagai sinyal-sinyal yang tampaknya digunakan pengarang atau penyair untuk membangun tema atau estetika teks yang bersangkutan. Jadi, dalam tahap ini, kita dituntut menjadi pembaca kritis (critical reader).

Dalam teori sastra, ada dua jenis pembaca yang dapat dibedakan berdasarkan peranannya, yaitu pembaca biasa atau pembaca pasif (saya lebih suka menyebutnya pembaca diam—silent reader) dan pembaca konkret. Para pembaca yang tak bersuara adalah mereka yang membaca hanya untuk kesenangan atau mencari informasi untuk dirinya sendiri. Jenis pembaca ini cenderung menyimpan hasil bacaannya itu untuk diri sendiri, dan tidak untuk disebarkan kepada pihak lain. Meskipun begitu, hasil bacaannya itu mungkin juga disampaikan lagi -secara lisan—kepada sahabat, kekasih, murid, atau entah siapa. Jadi, sekadar berbagi informasi secara lisan sebagai celoteh kepada orang-orang tertentu. Ia tak mengungkapkan hasil bacaannya secara tertulis. Itulah yang dimaksud pembaca diam. Sebagian besar pembaca termasuk kategori ini.

Adapun yang dimaksud pembaca konkret adalah mereka yang mengungkapkan hasil bacaannya dalam bentuk tertulis yang lalu dipublikasikan kepada khalayak. Guru atau dosen pada hakikatnya termasuk pembaca konkret, sebab mereka punya ruang untuk menyebarkan hasil bacaannya, meski dalam lingkup yang terbatas, yaitu di dalam kelas atau ruang kuliah. Namun, lantaran ia tidak mengungkapkannya secara tertulis, saya menyebutnya sebagai pembaca konkret yang diam.

Dalam kaitannya dengan langkah menuju praktik kritik sastra, kita sebaiknya menempatkan diri mula-mula sebagai pembaca kritis (critical reader), sebab tujuan kita hendak menulis kritik sastra. Oleh karena itu, selain menandai bagian-bagian yang penting yang terdapat dalam teks, juga menyusun semacam daftar pertanyaan tentang teks itu yang kelak kita jawab sendiri. Pertanyaan dan jawaban itulah yang akan menjadi alat analisis kita dalam menulis kritik sastra. Dengan begitu, posisi sebagai pembaca kritis tidak berhenti hanya sebatas membuat catatan atau menandai bagian-bagian yang penting, melainkan juga menuliskan hasil bacaan itu. Jadi, posisinya tidak lagi sebagai pembaca kritis, tetapi meningkat sebagai pembaca konkret yang mengungkapkan catatan kritisnya secara tertulis.

Keempat, untuk menulis kritik sastra, idealnya kita memahami secara lengkap karya yang bersangkutan. Lengkap, artinya tidak hanya mengetahui kelebihan dan kekurangan karya yang hendak dikritik, melainkan juga memahami, di mana dan dalam hal apa kelebihan karya
tersebut. Kelebihan itulah yang perlu diungkapkan lebih luas—dan mendalam—dibandingkan mengungkapkan kekurangannya. Oleh karena itu, penulis kritik sastra yang baik, seyogianya membaca karya tersebut sedikitnya dua kali.

Dalam proses pembacaan yang kedua kalinya itu, biasanya akan muncul makna Jain atau makna baru yang luput dari pengamatan saat pembacaan pertama. Pada pembacaan yang kedua kalinya ini, tentu saja bagian-bagian yang sudah menempel dalam ingatan kita, bisa dilewatkan saja. Fokus pada pembacaan kedua adalah memberi keyakinan, bahwa pemaknaan atas karya tersebut yang diperoleh dalam pembacaan pertama dapat dipertanggungjawabkan. Jika kemudian ternyata pada pembacaan kedua ini diperoleh makna baru atau makna lain yang lebih terterima, bisa saja pemaknaan baru itulah yang menjadi sorotan analisisnya.

Begitulah pentingnya kita melakukan pembacaan ulang. Bahkan, dalam proses analisis puisi, pembacaan itu bisa dilakukan berulang kali, tidak cukup dua atau tiga kali. Tujuan pembacaan ulang itu, terutama, guna menemukan hal lain—makna baru atau aspek lain— yang mungkin
luput dalam proses pembacaan pertama. Di samping itu, tindakan melakukan pembacaan ulang sesungguhnya juga melatih berlaku telaten, cermat, dan tidak tergesa-gesa manakala kita seolah-olah menemukan hal baru. Jadi, banyak hal positif yang dapat kita petik jika kita terbiasa membaca cermat dan telaten.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »