Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (5)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/27/2019

Ketujuh, jika pilihan jatuh pada kritik sastra umum atau kritik apresiatif, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuat semacam resume, sinopsis atau ikhtisar karya sastra (novel, antologi cerpen, atau kumpulan puisi) yang sudah kita baca. Jika novel yang hendak dijadikan bahan kritik, buatlah ikhtisarnya sekitar dua atau tiga paragraf pendek: jika antologi cerpen, deskripsikan ada berapa cerpen yang dihimpun di sana dan buatlah gambaran umum tentang tema-temanya, demikian juga jika yang dipilih antologi puisi. Oleh karena itu, hindari pengungkapan tema (novel, cerpen, puisi) yang berkepanjangan.

Deskripsi tersebut dimaksudkan agar pembaca memperoleh gambaran serba-sedikit tentang karya sastra tersebut berikut isinya. Boleh juga di sana disertakan berbagai hal yang menarik, khas, dan menonjol sebagai isyarat tentang kelebihan karya tersebut. Setelah langkah itu dilakukan, tinggal kita melakukan analisis yang bahannya berdasarkan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sebelumnya sudah disiapkan. Jadi, jawaban atas pertanyaan itu pada dasarnya sebagai pintu masuk analisis.

Kedelapan, idealnya, praktik kritik sastra berisi empat hal berikut, yaitu deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi. Pada tahap deskripsi, kita baru coba memperkenalkan karya itu sebagaimana adanya. Misalnya, tentang data publikasi, posisi pengarang, muatan isi, dan gambaran umum tentang karya tersebut. Pada tahap ini, kita belum melakukan analisis atau penafsiran. Tujuannya seperti pengantar untuk memasuki tahap analisis dan penafsiran. Analisis puisi biasanya didahului oleh semacam parafrase yang berfungsi sebagai pengantar. Maka, porsi uraian bagian ini cukuplah kira-kira 10-15 persen dari keseluruhan tulisan kritik sastra itu.

Berikutnya adalah analisis. Tidak jarang, pada tahap ini, analisis disertai juga penafsiran. Kadangkala juga penafsiran mendahului analisis. Mengingat bahasa dalam karya sastra bermain dalam tataran makna konotatif, maka penafsiran tidak dapat diabaikan. Jadi, meskipun urutannya analisis dan kemudian penafsiran, dalam praktiknya keduanya bisa saling mendahului, karena sifatnya saling melengkapi, komplementer. Boleh dikatakan, analisis dan penafsiran merupakan bagian penting dalam praktik kritik sastra. Oleh karena itu, bagian analisis dan penafsiran mendapat porsi lebih banyak dibandingkan deskripsi dan penilaian.

Wawasan pengetahuan dan pengalaman seorang kritikus sebenarnya dapat dilihat dari caranya melakukan analisis dan penafsiran. Kedalaman dan kedangkalan analisis dan penafsiran seorang kritikus merepresentasikan Iuas-ceteknya wawasan pengetahuan dan pengalamannya. Adapun evaluasi atau penilaian biasanya bergantung pada semangat kritikus yang bersangkutan dalam memperlakukan teks. Karya-karya agung, tanpa penilaian sekalipun, akan tetap tampak keagungannya berdasarkan analisis dan penafsiran kritikusnya. Oleh karena itu, ada sebagian kritikus yang beranggapan, bahwa penilaian tidak diperlukan dalam praktik kritik sastra, sebab dari kedalaman analisis dan penafsiran itu saja sudah akan tampak keunggulan atau kelebihan karya tersebut.

Namun, ada juga sebagian kritikus yang memandang bahwa hakikat kritik sastra tidak lain adalah penilaian. Oleh karena itu, praktik kritik sastra mesti memuat secara eksplisit perkara penilaian. Pandangan itu juga didasarkan pada anggapan bahwa praktik kritik sastra dimulai dan diakhiri dengan penilaian. Jadi, apa gunanya praktik kritik sastra jika tidak ada penilaian? Begitulah, kritikus yang yang berpegang pada anggapan tersebut menempatkan penilaian sebagai hal yang penting dalam praktik kritik sastra.

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »