Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (6)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/27/2019

Kesembilan, guna memperkuat analisis dan penafsiran kita, tidak dapat lain, kutipan teks dapat digunakan sebagai alat bukti. Demikian juga argumentasi yang kita ungkapkan perlu juga menyertakan kutipan-kutipan, baik dari teks karya sastra, maupun dari sumber-sumber teori sastra, pendekatan yang digunakan, dan disiplin ilmu lain sebagai alat bantu mengungkapkan makna dan kekayaan teks.

Demikianlah, kesembilan langkah ini—semoga saja—dapat digunakan sebagai cara yang mangkus dalam menulis praktik kritik sastra. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan praktik kritik sastra adalah penelitian langsung terhadap karya sastra konkret. Jadi, siapa pun, dengan latar belakang pendidikan apa pun, dapat dengan bebas memasuki wilayah kritik sastra. Persoalannya tinggal, apakah ia hendak menulis kritik ilmiah yang lazim disebut kritik akademis atau kritik umum yang bersifat apresiatif.

Jika kesembilan langkah itu dapat dipraktikkan oleh banyak pihak dari berbagai kalangan dengan latar pendidikan yang beragam, maka kehidupan kritik sastra Indonesia niscaya akan tumbuh dan berkembang semarak. Jika kemudian tulisan kritik sastra kita dianggap kontroversi dan menimbulkan polemik, tentu saja itu merupakan hal positif. Jika demikian, sepatutnya kita memeriksa kembali tulisan itu. Mungkin tulisan itu memang menarik, tetapi mungkin juga terlalu naif dan menampilkan sejumlah data yang ngawur. Jadi, polemik itu mengajari kita untuk bertindak hati-hati dan cermat, tanpa perlu tergesa-gesa.

Begitulah sembilan langkah mangkus dalam usaha kita menulis praktik kritik sastra. Pertanyaannya kini: apa jurus pamungkas sebagaimana dinyatakan secara eksplisit pada judul tulisan ini?

Inilah jurus pamungkas itu:
“Selamat mencoba!”

____Sumber: Kitab Kritik Sastra, Maman S Mahayana (Yayasan Obor Indonesia, 2014)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »