Sembilan Langkah Mangkus dan Satu Jurus Pamungkas Menulis Kritik Sastra (4)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/27/2019

Kelima, memasuki tahap ini, persiapan menulis kritik boleh dikatakan sudah sampai waktunya. Menandai dan mencatat hal-hal yang penting: membuat daftar pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teks karya sastra yang bersangkutan: dan membaca ulang serta menambahkan beberapa hal yang mungkin luput. Berdasarkan segala persiapan tadi, kita sudah dapat memulai menulis (praktik) kritik sastra. Jadi, objek kajiannya bisa sebuah novel, antologi (atau satu) cerpen, atau kumpulan (atau satu) puisi, boleh juga naskah drama.

Meskipun demikian, satu hal lagi yang sering diabaikan dalam banyak tulisan kritik sastra adalah tidak coba menempatkan konteks karya yang bersangkutan. Jika hal tersebut dilakukan, kajian itu akan lebih luas. Misalnya, apakah secara tematis karya itu cenderung mengulang tema karya sebelumnya atau mengembangkan dan menampilkan persoalan yang lebih rumit dan kompleks. Jika kita coba menjawab pertanyaan itu, maka tidak bisa tidak, kita perlu membandingkan dengan karya-karya sebelumnya. Dengan begitu, konteks karya itu berada dalam posisi tertentu dalam deretan karya-karya dengan tema yang sejenis.

Dengan begitu, analisis yang kita lakukan, tidak hanya membincangkan satu karya itu saja, melainkan juga menempatkannya dalam konteks perjalanan sejarahnya. Pertanyaan berikutnya: apakah secara intrinsik karya itu menawarkan aspek baru atau kebaruan lainnya. Jawaban atas pertanyaan ini juga crat kaitannya dengan jawaban sebelumnya. Dengan demikian, secara tidak langsung kita membuat semacam pemetaan konteks karya tersebut dalam perjalanan sejarahnya.

Pertanyaan lain: apakah pendekatan-pendekatan yang tersedia dapat diaplikasikan pada karya tersebut atau diperlukan pendekatan lain dengan memanfaatkan disiplin di luar ilmu sastra? Perlu dicamkan: karya sastra yang baik cenderung melahirkan teori (baru): karya sastra yang baik, akan melahirkan kritikus (yang baik). Jadi, jika karya itu tidak cocok dianalisis atas dasar pendekatan yang ada, maka kita perlu punya keberanian untuk mencari pendekatan lain yang sesuai. Jika begitu, boleh jadi diperlukan disiplin ilmu lain sebagai alat bantu analisisnya.

Begitulah, karya-karya sastra yang disajikan dengan semangat eksperimen atau coba mengusung kebaruan sering mendorong kita mencari pendekatan yang sesuai. Di situlah, baik teori sastra, maupun pendekatannya, seyogianya tidak diperlakukan sebagai senjata satu-satunya. Dengan perkataan lain, hindarilah semangat menulis kritik sastra dengan menggunakan kacamata kuda. Segalanya perlu diberi ruang yang memungkinkan pengungkapan dan penerokaan kekayaan karya sastra dapat dilakukan. Itulah yang disebut kritik perspektif, yaitu mencari perspektif dan kemungkinan lain, ketika teori atau pendekatan tertentu tidak dapat atau tidak sesuai diterapkan pada sebuah karya. Dengan cara itu, teori sastra dapat terus berkembang.

Untuk selanjutnya, kita tinggal menentukan pilihan: apakah akan menulis kritik sastra ilmiah atau kritik sastra umum.

Keenam, jika kita hendak menulis kritik sastra ilmiah, maka setelah kita melewati tahapan-tahapan sebelumnya, tugas berikutnya tinggal mencari teori-teori, pendekatan, atau gagasan dari disiplin ilmu lain yang kita anggap cocok—sesuai untuk menjawab sejumlah pertanyaan
yang sebelumnya sudah kita siapkan (simak kembali tahap ketiga dan kelima). Jika kita sudah menemukan teori, pendekatan, atau gagasan dari disiplin ilmu lain itu, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu yang kelak bakal menjadi bahan analisis kita dalam mengungkapkan kekayaan teks yang diteliti.

Pada bagian ini, tidak terhindarkan, kita mesti mengutip bagian-bagian teks yang diteliti dan coba menjelaskannya berdasarkan teori, pendekatan, atau disiplin ilmu lain. Dengan demikian, fungsi segala macam teori atau pendekatan itu, tidak lain untuk mengungkapkan kekayaan teks, dan bukan urutan yang terpisah dari analisis terhadap teks yang bersangkutan. Teori atau pendekatan itu jadinya menyatu, menjadi alat urai dan analisis atas teks, tidak terpisah scperti minyak dan air.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »