Semua untuk Hindia

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh M. Iksaka Banu


OM Swastyastu. 
Tuan de Wit yang baik, telah saya terima tiga pucuk surat Tuan. Beribu maaf tak lekas membalas. Saat ini sulit ke luar Puri. Terlebih bagi remaja putri seperti saya. Bujang yang biasa mengantar surat ke kantor pos juga tak ada lagi. Ia telah mendaftar menjadi pasukan cadangan. Akan saya cari cara agar surat ini tiba selamat ke tangan Tuan, walau mungkin makan waktu lama. 

Tuan de Wit yang baik, sejak kapal-kapal Belanda ada di pantai kami, hari berputar lambat. Kaki ibarat berpijak di atas tungku. Dan lidah para lelaki tak lagi manis. Ujung pembicaraan mereka selalu ”perang”, seolah segalanya akan selesai dengan perang.

Kemarin Raja minta akhir minggu ini anak-anak dan wanita mengungsi. Bagi kami, ini adalah penegasan bahwa titik temu antara Raja dan Belanda semakin jauh. Tapi perlukah senapan bicara? 

Tuan de Wit yang baik, saya tak takut kehilangan jiwa. Memiliki atau kehilangan jiwa kuasa Hyang Widhi semata. Saya hanya sulit membayangkan keadaan seusai perang, terlebih bila kami di pihak yang kalah. Adakah kehidupan bila kemerdekaan terampas?

Jika Tuan berniat datang lagi ke Puri, seperti yang Tuan kabarkan dalam surat terakhir, bantulah doakan agar perang ini dibatalkan sehingga kita bisa berbincang lagi tentang Nyama Bajang dan Kandapat. Atau mendengarkan ibuku mendongeng petualangan Hanuman si kera sakti. 

Om Santi, Santi, Santi, Om. Tabik. Adik kecilmu. Anak Agung Istri Suandani.

KUMASUKKAN surat itu ke tempat semula: sejengkal bambu kecil yang diserut halus. Kubayangkan, pastilah berliku perjalanan benda ini sebelum akhirnya mendarat di atas nampan sarapanku, di penginapan Toendjoengan di Surabaya bulan lalu.

Pengantar nampan, seorang pemuda Bali, mengaku tak tahu asal-usul bambu tersebut, dan segera mengunci mulut. Dia tolak pula lima sen yang kujejalkan ke dalam genggaman tangan. 
Anak Agung Istri Suandani, adik kecilku. Sebetulnya tak ada rahasia di dalam surat itu, bukan? Hanya dirimu, yang hadir dalam bentuk tulisan, serta lapis demi lapis kenangan yang kembali terbuka seiring tuntasnya setiap patah kata yang kubaca. Tapi barangkali memang bisa membawa bencana apabila jatuh ke tangan orang Bali atau Belanda yang curiga terhadap kemungkinan pengkhianatan dari kedua belah pihak, sebab surat itu dikirim dari Puri Kesiman, namun ditulis dalam bahasa Belanda yang nyaris sempurna oleh seorang putri keraton. Olehmu.

Adik kecilku. Lima belas tahun usiamu saat kutemui bersama ibu dan kakakmu, jauh sebelum peristiwa terdamparnya kapal ‘Sri Koemala’ di Pantai Sanur yang memicu ketegangan besar ini. Kujadikan keluargamu narasumber tulisanku tentang tradisi Mesatiya, yang memperbolehkan para janda Raja melemparkan diri ke dalam kobaran api saat upacara pembakaran jenazah suami mereka sebagai tanda setia.

Tradisi kuno ini, ditambah tuduhan bahwa Raja Badung menolak denda serta melindungi pelaku perampokan kapal lantas dibesar-besarkan menjadi isu pembangkangan terhadap Pemerintah Hindia yang harus dijinakkan dengan aksi militer. Entah bagaimana sikap dunia. Semoga mereka yang cerdas segera melihat ketidakberesan besar ini.

”Dari mana belajar bahasa Belanda begini baik?” kulontarkan pertanyaan itu kepadamu suatu sore. 
”Dari Tuan Lange, dan dari koranmu. De Locomotief,” engkau tersenyum manis. ”Mijn beste nieuwsblaad.”

Aku tertawa. Tuan Lange adalah pedagang Belanda yang kerap ke Puri. Fasih berbahasa Bali. Aku belum penah bertemu, namun mendengar betapa takzim orang Bali menyebut namanya, kusimpulkan ia berada satu biduk denganku: biduk para penentang arus yang berusaha mengembalikan harta dan martabat bumiputera yang telah kami hisap tanpa malu selama tiga ratus tahun.

Adik kecil. Dua bulan di Puri membuatku jatuh cinta pada semua hidangan yang kaumasak. Dan melihatmu berlatih menari, menyatukan diri dengan alam, adalah anugerah yang tak putus kusyukuri hingga kini. Membuatku kembali tersudut dalam tanda tanya besar: Benarkah kehadiran kami di sini, atas nama pembawa peradaban modern, diperlukan?

Lamunanku terpotong dengking peluit tanda ganti jaga malam. Kulayangkan pandangan ke sekeliling Puri Kesiman, tempat kami membuat bivak petang ini. Tak ada lagi kobaran api maupun letusan bedil. Sore tadi, setelah tiga jam bentrok dengan laskar Badung di sekitar Tukad Ayung, istana ini berhasil kami duduki.

Adik Kecil, aku teringat Pedanda Wayan, ayahmu, yang sabar menjelaskan bahwa Kerajaan Badung mungkin satu-satunya kerajaan di dunia yang diperintah oleh tiga raja yang tinggal di tiga puri terpisah, Puri Pamecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman, rumahmu yang ramah. Sedemikian ramah, membuatku nyaris tak percaya mendengar kabar bahwa Gusti Ngurah Kesiman kemarin malam dibunuh seorang bangsawan yang tak setuju sikapnya menentang Belanda. Kukira engkau benar. Tak ada hal baik dari perang. Perang merusak segalanya. Termasuk kesetiaan dan kasih sayang.

Engkau memintaku berdoa agar perang dibatalkan? Wahai Adik Kecil, telah berabad kami terjangkit penyakit gila kebesaran. Kurasa Tuhan pun enggan mendengar doa kami. Sudah lama pula kami tak bisa menghormati kedaulatan orang lain. Saat menerobos puri bersama pasukan siang tadi, anggota tubuhku seolah ikut berguguran setiap kali para prajurit menemukan sasaran perusakan: payung-payung taman, tempat kita pernah duduk berbincang, penyekat ruang, guci-guci suci. Percuma berteriak melarang. Penjarahan dilakukan bukan oleh tentara pribumi saja, para perwira Eropa pun terlibat.

YA, tadi siang aku ikut mendobrak puri. Bukan dengan kegembiraan seorang penakluk, melainkan kecemasan seorang sahabat. Harus kupastikan, tak ada prajurit yang berani meletakkan jari di atas tubuhmu. Entah, bagaimana sebenarnya suasana hatiku sewaktu mengetahui bahwa puri telah kosong. Kecewa karena tak melihatmu, ataukah gembira, karena memberiku harapan bahwa di suatu tempat di luar sana, engkau berkumpul bersama keluargamu dalam keadaan selamat? 
Ah, mengapa militer selalu kuanggap tak bermoral? Mereka hal terbaik yang dimiliki Hindia Belanda. Beberapa di antara mereka bahkan baru saja menunaikan tugas di Tapanuli atau Bone. Belum sempat bertemu anak-istri. Jangan pertanyakan kesetiaan mereka. Pertanyakan yang memberi perintah gila ini.

Kucermati lagi catatan wawancara dengan Mayor Jenderal Rost van Tonningen, Panglima Komando Ekspedisi, sehari sebelum berangkat ke Bali: Seluruh armada tempur terdiri atas 92 perwira dan bintara, 2312 prajurit gabungan Eropa-Bumiputera, 741 tenaga nonmiliter, enam kapal perang besar dari eskader Angkatan Laut Hindia Belanda, enam kapal angkut, satu kapal logistik, satu detasemen marinir, empat meriam kaliber 3,7 cm, empat howitzer kaliber 12 cm. Belum lagi kuda-kuda Arab untuk para perwira, puluhan tenaga kesehatan, radio, serta beberapa oditur militer. 
”Tentu kau sedang berpikir takjub, buat apa kekuatan sebesar itu didatangkan ke sini, bukan?” terdengar suara serak, mengiringi semak yang tersibak.

Aku menoleh. Seorang pria berjenggot lebat dengan kamera Kodak tua di leher berdiri melempar senyum. Wajahnya lepas, tanpa tekanan, seolah ia lahir dan besar di atas tanah yang dipijak itu. Di dada tersemat tanda pengenal wartawan, sementara sebuah ransel raksasa berisi plat emulsi dalam jumlah besar tergantung di punggung, membuat tubuh doyong ke depan. Kedua tangan repot mengangkat tas kulit berisi tripod dan kain terpal, tapi diulurkan juga yang kanan kepadaku. 
”Baart Rommeltje. Dokumentasi Negara,” ia tak berusaha sedikit pun mengubah air muka agar tampak lebih berwibawa.

Pastilah ia seorang pegawai pemerintah yang bandel. 
”Engkau punya tenda sendiri,” sambungnya. ”Boleh menumpang tidur? Para prajurit main kartu dekat tenda logistik. Gaduh! 

Padahal aku punya jatah ruangan luas di situ.” 
”Tidurlah di sini. Aku Bastiaan de Wit. De Locomotief,” kusentuh kamera di dadanya.”Cartridge No. 4? Belum mau lepas dari fosil ini?” 
”Lalu beralih ke Brownies bersama para amatir?” sergahnya. 

”Pasti kauluput membaca namaku di daftar penerima penghargaan nasional tahun lalu,” ia menyeringai. ”Aku butuh satu lagi yang seperti ini lagi. Cadangan. Untuk ketajaman gambar, plat emulsi masih unggul dibandingkan film gulungan. Sayang, dana pemerintah terkuras melulu untuk perang. Aceh, Tapanuli, Bone. Sekarang Bali.” 

”Semua Gubernur Jenderal Hindia gila perang,” kubantu Baart menurunkan ransel. ”Terutama Van Heutz. Kemenangan di Aceh mendorongnya menjadi fasis tulen.” 
”Bicaramu sudah seperti Pieter Brooshooft,” Baart tergelak sambil mengamati prajurit jaga malam. ”Kurasa Raja Denpasar takkan menyerang malam ini. Ia bukan petarung.” 
”Memang,” aku mengangguk. ”Ia negarawan dengan harga diri yang kelewat tinggi, sehingga mudah dipancing dengan halhal berbau kehormatan tradisi, seperti pelarangan Mesatiya atau ganti rugi kapal ini.” 

”Hola, mendadak kita terseret memperbincangkan isu terpanas bulan ini,” Baart terbatuk. ”Jadi kau juga tak percaya kapal itu dijarah?” 

”Ini kelicikan kecil yang ditunggangi Pemerintah untuk meloloskan sebuah rencana raksasa,” kusorongkan secangkir kopi. 

Baart menggeleng. 
”Apa yang baru? Semua orang liberal akan berpikir demikian, sementara yang propemerintah berpikir sebaliknya,” gumamnya. 

”Begini,” aku menghela napas. ”Kwee Tek Tjiang, si pemilik kapal, melapor kepada Residen bahwa peti berisi uang sebesar 7500 gulden di dalam kapal dirampok penduduk, sementara muatan lain, yaitu terasi dan minyak tanah berhasil diamankan ke tepi pantai,” kusulut rokok kedua. ”Andai kau punya harta sebesar itu dalam sebuah kapal yang beranjak karam, bukankah sebaiknya kauselamatkan lebih dahulu uang itu sebelum berpikir mengenai terasi atau minyak yang harganya tak seberapa? Aku yakin cita-cita pemilik kapal pada awalnya pastilah sederhana saja: Memperoleh ganti rugi besar dari Raja.” 

”Di mana persinggungan kejadian ini dengan Pemerintah Hindia?” potong Baart. 
”Pax Neerlandica,” dengusku. ”Semua untuk Hindia Raya. Mimpi er*tis Van Heutz. Bajingan itu sadar, perjanjian antara Hindia dengan para raja Bali tahun 1849, membuat pulau ini menjadi satu-satunya wilayah di Hindia yang masih memiliki beberapa kerajaan berdaulat, tidak tunduk pada administrasi Hindia. Kurasa jauh sebelum menjadi Gubernur Jenderal, Van Heutz telah merencanakan untuk mencari gara-gara dengan Bali. Maka ia menyambut gembira peristiwa kapal karam ini karena memiliki peluang lebih besar dalam memancing kemarahan penguasa Bali dibandingkan rekayasa politik ciptaannya terdahulu, yaitu pelarangan upacara Mesatiya.” 

”Pemberitaan sepihak membuat ekspedisi ini mendapat restu dunia. Sebaliknya, penolakan Raja membayar denda kepada pemilik kapal, yang kebetulan warga Hindia, dianggap pembangkangan terhadap Gubermen yang telah bertekad menyelesaikan lewat jalur hukum.” Baart mengangguk. 
”Sebuah peradaban tinggi akan musnah,” kuceritakan kepada Baart betapa aku sangat mengkhawatirkan Bali. Mengkhawatirkan sahabat kecilku. Kami bicara sampai kantuk menyergap. Begitu masuk tenda, Baart langsung pulas, sementara di mataku hadir sosok Anak Agung Istri Suandani. Lengkap dengan senyum manisnya. Gigi putih yang dikikir rapi. Sepasang bola mata yang bergerak cepat mengikuti kalimat-kalimat cerdas dari bibirnya. 

Pernah ia menari, khusus untukku. Ah, tak ingat nama tariannya. Hampir seluruh anggota badan tampil mewakili suatu suasana hati. Jongkok, berdiri, menelengkan kepala, berputar. Rambut panjangnya, kali itu tak diikat, sehingga terbawa putaran tubuhnya. Berputar. Berputar. Masuk dalam sebuah pusaran hitam! Tidak, jangan ke sana! Pusaran itu menelan semua benda di jagat raya. Kuulurkan tanganku. Terlambat. Hanya jeritannya yang kudengar. 
Tuan de Wit, tolong! 

AKU melonjak. Tubuhku menggigil. Kulirik arloji. Pukul lima. Melalui pintu tenda yang terkuak, kulihat Baart melambaikan tangan di depan api unggun. Tercium wangi daging panggang dan kopi. Membuat usus perutku merintih. 

”Teriakanmu tadi tak mungkin berasal dari mimpi indah, bukan?” ia mengangsurkan segelas kopi panas. ”Berkemaslah. Pasukan berangkat pukul tujuh.” 
”Kau antek pemerintah, dekat dengan intel,” kutarik sebatang rokok. ”Batalyon mana yang akan bertemu balatentara Raja hari ini?” 

”Antek pemerintah?” Baart terpingkal. ”Tolol, keterangan macam itu mudah sekali kau peroleh dari Komandan Batalyon. Tapi baiklah. Seperti kemarin, Batalyon 11 menjadi sayap kanan. Batalyon 18 sayap kiri. Batalyon 20 di tengah, bersama artileri dan zeni. Raja tidak akan menyerang. Mereka menunggu. Diperkirakan pasukan akan berhadapan dengan balatentara Raja di sekitar Tangguntiti atau satu desa sesudahnya. Kalau mau bertemu gadismu, sebaiknya ikut Batalyon 18 lewat Desa Kayumas. Sebuah sumber mengatakan rombongan pengungsi berkumpul di sekitar desa itu. ” 
Aku mengangguk. Pukul tujuh aku telah membaur di antara pasukan, menyusuri jalan setapak dan lorong-lorong desa. Pada saat yang sama, meriam di kapal-kapal perang maupun di markas besar kami di Pabean Sanur kembali memuntahkan pelurunya ke arah Puri Denpasar dan Pamecutan. Lebih dari lima puluh kali desingan keras melintas di atas kepala kami. Kuperkirakan, sepertiga dari peluru itu pastilah mengenai sasaran. Semoga keluarga keraton benar-benar mematuhi perintah Raja untuk pergi jauh dari neraka ini.

Kami terus maju. Sekelompok laskar Badung yang melulu berbekal keberanian mencoba menghadang di tepi barat desa Sumerta. Syukurlah mereka bisa dihalau tanpa banyak korban jiwa. Jam delapan, persis seperti keterangan Baart, pasukan kami dipecah tiga. Aku ikut Batalyon 18 belok ke kiri menuju Desa Kayumas, sementara Baart dan beberapa wartawan lain ikut Batalyon 11 ke kanan, menuju batas Timur Denpasar. 

Dua jam kemudian, kami tiba di sebuah dataran yang membebaskan pandangan sejauh 400 meter ke arah kanan. Dapat kami saksikan samar-samar di ujung kanan Batalyon 11 dengan seragam biru mereka berbaris mengular.

Sekonyong-konyong dari arah berlawanan muncul iringan panjang. Tampaknya bukan tentara, melainkan rombongan pawai atau sejenis itu. Seluruhnya berpakaian putih dengan aneka hiasan berkilauan. Tak ada usaha memperlambat langkah, bahkan ketika jarak sudah demikian dekat, mereka berlari seolah ingin memeluk setiap anggota Batalyon 11 dengan hangat. Segera terdengar letupan senapan, silih berganti dengan abaaba dan teriak kesakitan.

”Awas, tunggu tanda!” Komandan Batalyonku mengamati dengan teropongnya. Jantungku bertalu kencang. Tiba-tiba beredarlah kabar mengejutkan dari mata-mata kami: Rombongan itu adalah seluruh isi Puri Denpasar. Mulai dari Raja, Pedanda, Punggawa, serta bangsawan-bangsawan lain, beserta anak istri mereka.

Seisi puri? Bagaimana dengan pengungsi? Kucari mata-mata tadi. Menurutnya, tak ada desa pengungsi di sepanjang jalur yang akan kami lalui. Otot perutku langsung mengencang. Anak Agung Istri Suandani, gadis kecilku. Ia pasti ada dalam barisan itu! 
Aku melompat ke punggung kuda milik seorang perwira yang 

sedang dituntun pawangnya. Binatang itu meradang, namun berhasil kupacu ke medan perang. Sempat kudengar teriakan Komandan Batalyon, disusul satu-dua tembakan ke arahku. Tapi serangan itu tak berlanjut. Justru kini kulihat seluruh Batalyon 18 perlahan-lahan bergerak ke kanan mengikutiku.

Setiba di sisi Batalyon 11, kutahan tali kekang. Nyaris aku terkulai menyaksikan pemandangan ngeri di mukaku: puluhan pria, wanita, anak-anak, bahkan bayi dalam gendongan ibunya, dengan pakaian termewah yang pernah kulihat, terus merangsek ke arah Batalyon 11 yang dengan gugup menembakkan Mauser mereka sesuai aba-aba Komandan Batalyon.

Rombongan indah ini tampaknya memang menghendaki kematian. Setiap kali satu deret manusia tumbang tersapu peluru, segera terbentuk lapisan lain di belakang mereka, meneruskan maju menyambut maut. Seorang lelaki tua, mungkin seorang pendeta, merapal doa sambil melompat ke kiri-kanan menusukkan keris ke tubuh rekan-rekan yang sekarat, memastikan agar nyawa mereka benar-benar lepas dari raga. Setelah itu ia membenamkan keris ke tubuh sendiri. Kurasa ini malapetaka terburuk dalam hidup semua orang yang ada di sini.

Setengah jam kemudian, semua sunyi. Kabut mesiu menipis. Aku kembali teringat satu nama, lalu seperti kesetanan lari ke arah tumpukan mayat. Memilah-milah, mencocokkan puluhan daging dengan sebentuk paras yang tersangkut dalam ingatanku. Tak satu pun kukenali. Semua remuk. 
Di ujung putus asa, aku tersentak. Di sana, dari tumpukan sebelah kanan, perlahan-lahan muncul suatu sosok. Seorang wanita muda. Merah kental darah dari kepala sampai perut. Buah dadanya yang rusak tersembul dari sisa pakaian di tubuh. Ia menatap sebentar dengan bola mata yang tak lagi utuh, lalu melempar sesuatu ke arahku. Tepat ketika tangan kananku bergerak menangkap, terdengar letusan keras. Seperti air mancur, darah menyembur dari sisa kepala wanita itu. Aku menoleh. Seorang tentara pribumi menurunkan bedilnya. Kutatap benda yang tersangkut di antara jemariku, dan mendadak aku jadi kehilangan kendali. Kuhantam tentara tadi sampai jatuh, kutindih dadanya dengan lutut, lalu kulepaskan tinju ke wajahnya berkali-kali.

”Uang kepeng! Ia melemparku dengan uang kepeng, dan kau tembak kepalanya! Pembunuh!” 
”Cukup!” Sesuatu menghantam tengkukku. Aku terkapar.

”Beginilah kalau wartawan ikut perang,” samar-samar kulihat Jenderal Rost van Tonningen menyarungkan pistol seraya memandang sekeliling sebelum kembali menatapku. ”Berhentilah menulis hal buruk tentang kami, Nak. Aku dan tentaraku tahu persis apa yang sedang kami lakukan. Semua untuk Hindia. Hanya untuk Hindia. Bagaimana denganmu? Apa panggilan jiwamu?” 

Aku tidak menjawab. Tak sudi menjawab. (*)

Jakarta, 1 Juli 2008

Catatan 
Pieter Brooshooft (1845-1921) adalah wartawan, pemimpin redaksi harian De Locomotief. Tokoh Politik Etis bersama Conrad Theodor van Deventer. Pada peristiwa Puputan 20 September 1906, sejumlah besar wanita sengaja melempar uang kepeng atau perhiasan sebagai tanda pembayaran bagi serdadu Belanda yang bersedia mencabut nyawa mereka.

Sumber: Koran Tempo, 27 Juli 2008


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »