Sumur Tanpa Dasar - Arifin C. Noer (Bagian Pertama)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019

Naskah drama ini disalin dari buku Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C. Noer, Penerbit PT. Pustaka Utama Grafiti, Jakrta, 1980 dengan catatan:
Publikasi naskah ini dimaksudkan sebagai upaya penyediaan naskah drama dan sebagai bahan referensi pembelajaran bagi individu atau kelompok-kelompok teater yang membutuhkannya. Disarankan bagi siapa saja yang memiliki cukup akses, agar membeli buku terkait. Itupun dalam upaya membantu pengarang dan keluarganya. Kekayaan hak intelektual naskah ini tetap ada pada pengarangnya. Dan dimohon bagi pengunduh naskah ini untuk tidak menghapus catatan ini, sebagai bukti pertanggung jawaban saya sebagai pihak yang mengetik ulang. Terima kasih.
Lee Birkin
PENGANTAR

LAKON INI DITULIS, DISUTRADARI DAN DIPENTASKAN PERTAMA KALI OLEH ARIFIN C NOER, DI BAWAH BENDERA TEATER MUSLIM. PADA TAHUN 1971, LAKON INI KEMBALI DISUTRADARAI DAN DIPENTASKAN ARIFIN C. NOER, DI TIM JAKARTA, DI BAWAH BENDERA TEATER KETJIL.


KEBERHASILAN PEMENTASAN LAKON INI, DISUSUL OLEH SEJUMLAH PEMENTASAN LAKON LAINNYA, BAIK KARYANYA SENDIRI MAUPUN KARYA-KARYA TERJEMAHAN, MISALNYA KAPAI-KAPAI, ZORRO, ORKES MADUN, ATAU MACBETH (EUGENE IONESCO) FAUST (GOETHE) DAN FLIES (SARTRE), MENGUNDANG REAKSI PARA PENGAMAT TEATER. REAKSI ITU KEMUDIAN MENEMPATKAN SOSOK ARIFIN C. NOER SEBAGAI SALAH SEORANG PENULIS LAKON TERKEMUKA NEGERI INI, SEKALIGUS SEBAGAI PENYAIR, SUTRADARA DAN KEMUDIAN PENULIS SCENARIO FILM TERNAMA.

SEBAGAI LAKON YANG EKSPERIMENTALISTIK “SUMUR TANPA DASAR” UNIKNYA SAMA SEKALI TIDAK BERCIRI ABSURDITAS MURNI – HAL YANG MENGGEJALA DALAM KARYA-KARYA SASTRA MODERN INDONESIA ERA 70’AN – TETAPI JUSTRU MEMPERLIHATKAN UPAYA PERSENYAWAAN KREATIF ANTARA TRADISI TEATER MODERN BARAT PASCA REALISME DENGAN TEATER TRADISIONAL KITA; TEATER RAKYAT, KHUSUSNYA LENONG BETAWI DAN TARLING CIREBON. HASIL PERSENYAWAAN INI, MELALUI PERALATAN SIMBOLISME, DIEKSPRESIKAN ARIFIN C. NOER KE DALAM LAKONNYA INI, SEHINGGA KITA AKAN BEROLEH PERISTIWA YANG BERSUASANA KONTEMPLATIF TENTANG KONFLIK KEJIWAAN  TOKOH UTAMANYA, JUMENA WARTAWANGSA – KONFLIK MENGENAI PERSOALAN IMAN DAN EKSISTENSI DIRI HIDUP JUMENA IBARAT SUMUR TANPA DASAR; GELAP DAN TAK BERUJUNG, MENGGAPAI-GAPAI

Jakarta, Agustus 1989



DRAMATIC PERSONAE

JUMENA WARTAWANGSA: Lelaki Tua
EUIS: Istrinya
PEREMPUAN TUA: Pembantunya
MARJUKI KARTADILAGA: Adik angkatnya
SABARUDDIN NATAPRAWIRA; Guru Agama
WARYA: Pegawainya
EMOD: Pegawainya
KAMIL: Si Sinting
LELAKI: Pelukis Sinting
MARKABA: Tokoh Jahat
LODOD: Tokoh Idiot
PEMBURU Alias SANGKAKALA
KABUT-KABUT, ORANG-ORANG
Dan LAIN-LAIN
WAKTU: Kapan Saja
TEMPAT: Di rumah, dalam pikiran Jumena Martawangsa atau di mana saja


BAGIAN PERTAMA


1

SANDIWARA INI KITA MULAI DENGAN SUARA DETAK-DETIK LONCENG YANG MENGGEMA MEMENUHI  RUANG. SUARA DETAK-DETIK INI BERJATUHAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MENIMBULKAN BERMACAM-MACAM ASOSIASI. SESEKALI DI SELA-SELA SUARA INI MENYAYUP PANJANG LOLONG ANJING ATAU SRIGALA YANG SEDANG ‘MERAIH’ BULAN.

2

LONCENG ITU ANTIC, TUA, AGUNG DAN KUKUH PENUH RAHASIA. DARI RONGGA LONCENG MUNCUL KABUT-KABUT ATAU PARA PEMAIN YANG MELUKISKAN KABUT-KABUT. MEREKA MELANGKAH MENGENDAP-ENDAP UNTUK SELANJUTNYA SECARA PENUH RAHASIA MENYEBAR KE SEGENAP ARAH DAN SEGERA GAIB SIRNA.

3

PIGURA ITU TANPA GAMBAR TANPA POTO, KOSONG, TERGANTUNG SUNYI DAN PENUH RAHASIA

4

DI ATAS KURSI GOYANG JUMENA MARTAWANGSA BERGOYANG-GOYANG SUNYI. TAMPAK SESAK PERNAFASANNYA. SEKALI PUN BEGITU, KEDUA MATANYA MASIH MENYOROTKAN PANDANGAN YANG TAJAM. AMAT TAJAM. DAN DALAM KEADAAN SEPER JUMENA KELIHATAN SEPERTI SEDANG MENGHITUNG DETAK-DETIK LONCENG.
SEJAK TADI, SEONGGOK KABUT BERDIRI DI SAMPINGNYA MEMEAINKAN SEHELAI TALI YANG SIAP UNTUK MENGGANTUNG LEHER. AGAK BEBERAPA SAAT JUMENA MENIMBANG-NIMBANG TALI ITU. KEMUDIAN KABUT ITU MENDEKATKAN TALI GANTUNGAN ITU DAN JUMENA MENCOBA MEMASANG PADA LEHERNYA. DIA TERTAWA.

JUMENA

Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada

Sambil tertawa ia memberikan isyarat agar kabut pembawa tali pergi. Dan pada saat itu detak-detik lonceng semakin lantang. Dari rongga lonceng muncul Sang Kala alias Pemburu yang siap dengan senapannya. Ketika senapan itu meletus, terkumpullah seluruh amarah dan kekagetan Jumena


JUMENA

Bangsat!

TATKALA SANG KALA GAIB BERDENTANGANLAH LONCENG ITU. KEMUDIAN BERDENTANG JUGALAH BERJUTA LONCENG-LONCENG  DAN WEKER. SEDEMIKIAN RUPA SUARA ITU MENEROR SEHINGGA MENYEBABKAN JUMENA BANGKIT. DAN PADA SAAT JUMENA BERDIRI, HENING MENGGANTIKAN SUASANA. LALU JUMENA DUDUK KEMBALI.


PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DI KAKI KURSI GOYANG DENGAN TEMPOLONG YANG LAIN.


P. TUA (Sambil pergi)

Terlalu bernafsu. Pucat sekali wajahnya

5


ENTAH DARI SEBELAH MANA EUIS MUNCUL


JUMENA

Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang. Tapi juga kalau saya tenang, tak akan pernah ada sandiwara ini

EUIS

Akang

JUMENA

Euis 

EUIS

Apa yang akang lihat?

JUMENA

Kau 

EUIS

Kenapa?

JUMENA

Ingin tahu apa kau betul-betul cantik

EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI JUMENA, TELINGA JUMENA DAN LAIN-LAIN SEHINGGA MEMBUAT JUMENA KEGELIAN. KEDUANYA TERTAWA-TAWA. SEKONYONG-KONYONG JUMENA MEMATUNG, MURUNG


EUIS

Kenapa, Akang?
(Jumena Memainkan Bulu Matanya Sendiri)
Kenapa tiba-tiba muram, Akang?

JUMENA (Manja-tua)

Umur Euis berapa?

EUIS

Dua enam

JUMENA

Itulah sebabnya!

EUIS

Percayalah akang. Euis akan tetap mencintai akang sekalipun umur akang delapan puluh tiga tahun

JUMENA

Betul?

EUIS

sumpah

JUMENA

Kalau delapan lima?

EUIS

Cinta 

JUMENA

Seratus tahun?

EUIS

Euis akan tetap menciumi leher akang

KEMBALI EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI LEHER JUMENA DAN LAIN-LAIN. KEDUA-DUANYA TERTAWA


JUMENA

Kalau saja saya tahu kau betul-betul mencintai saya

EUIS

Euis sangat cinta pada akang

JUMENA

Menyenangkan sekali kalau itu benar

EUIS

Betul Euis mencintai akang

JUMENA

Mungkin, saying akang tidak tahu persis

EUIS

Tidak perlu

JUMENA

Perlu. Bahkan akang juga ingin tahu apa betul akang bahagia
(Terus mereka berciuman dan tertawa-tawa)
Sesekali enak juga berhibur seperti ini

TERUS MEREKA BERCIUMAN DAN TERTAWA


6


ENTAH DARI MANA MARJUKI KARTADILAGA MUNCUL. IA TERSENYUM SAMBIL MENYEDOT PIPA ROKOKNYA


JUMENA (Kesal-sedih)

Kenapa kau rusak sendiri? Kenapa kau berubah? Lenyapkan itu

(Begitu melihat Marjuki, perhatian Euis beralih dan langsung merangkulnya)


Bangsat. Kau rusak sendiri. Semuanya kau rusak sendiri


(Dalam sunyi Jumena menimbang-nimbang sendiri apa yang baru diucapkannya)


Siapa bilang aneh? Semua ini mungkin saja terjadi. Tuhan, kenapa justru saya merasakan sesuatu semacam kenikmatan dengan segala pikiran-pikiran ini? Kau jebak saya, Tuhan. Kau jebak saya. Tega. Kau! (lalu mulai dengan pikirannya) saya kira mula-mula istri saya…. (Agak lama) Ya, mula-mula istri saya akan berlaku seperti bidadari


(Euis menutup wajahnya seperti seorang gadis kecil)


Mungkin saja….


EUIS (Gemetar)

Tidak mungkin Juki

JUKI

Mungkin saja

EUIS (Gemetar)

Tidak mungkin. Saya tidak bisa meninggalkan dia

JUKI

Segalanya mungkin. Tidak ada tidak mungkin

EUIS

Hati saya mulai bersuara lagi

JUKI

Kalau begitu kau sedang membunuh dirimu sendiri. Apa kamu merasa sedang dihukum? Apa ayahmu sedang melecutmu?

EUIS

Dada saya bergetar sangat kencangnya

JUMENA

Kalimat-kalimat ini berasal dari syahwat

Lolong anjing di kejauhan


EUIS

Kau dengar anjing yang melolong itu?

JUKI

Bukankah suara itu suara kita sendiri? Anjing yang melolong dan menggonggong? Bulan yang kuning

JUMENA

….suara-suara kesepian yang baka dan purba…

JUKI

Euis 

EUIS (Sangat takut)

Juki, dia suami saya

JUKI

Dan saya?

EUIS (Bertubi-tubi menciumi Jumena)

Saya mencintai suami saya seperti saya mencintai ayah saya sendiri

JUMENA

Setiap kali dia berlebihan menciumi saya, terasa ciuman itu sebagai niat pembunuhan

JUKI (Melangkah akan pergi)

Baiklah!

JUMENA

Apa yang akan ia lakukan?

EUIS (Mengejar)

Marjuki!

JUMENA

Saya kira begitu

JUKI

Euis, musuh kita selama ini adalah perasaan. Kita harus memusnahkannya. Membunuhnya sama sekali. Kedua orang tua saya mati karena perasaan mereka sendiri. Mereka bangkrut karena mereka terlalu mencintai paman saya. Dan akhirnya mereka mati sebelum mati. karena saya tahu betul kejadian itu, tentu saja saya tidak mau bernasib sama seperti mereka. Saya harus menang terhadap  perasaan saya dank au pun harus menang terhadap perasaanmu

EUIS

Tapi bagaimana pun dia suami saya

JUKI

Dan saya?

EUIS MENGGIGIT IBU JARINYA SENDIRI YANG KIRI


JUMENA

Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?

EUIS

Seorang suami yang mencintainya…

JUMENA

Saya sangsi…

JUKI

Dan sekalipun dia seorang perempuan atau banci? Tidak, sayang. Seorang perempuan selamanya hanyalah mengharapkan seorang laki-laki. Kalau tidak, pasti bukan perempuan. (Mendekat) lihatlah saya. Seorang laki-laki. Seluruhnya seratus persen

JUMENA

Kenapa membersit pikiran-pikiran seperti ini? Enyah! Enyah!

JUKI

Saya yakin ketika kau sendirian dalam kamar, kau sering duduk-duduk di muka cermin, dan kau tentu sangat suka berbicara pada dirimu dalam cermin

EUIS (Dalam cermin)

Saya seorang perempuan. Saya kesepian. Saya harus menerima apa adanya. Dia suara saya. Bagaimanapun!

JUKI

Kau tahu siapa yang membantah itu?

JUMENA (Melanjutkan)

Itulah musuhmu selama ini

JUKI

Perasaanmu!

EUIS

Tapi kalau itu kita kerjakan berbahaya. Lagi, kenapa kita harus…

JUKI

Bahaya harus berani kita tempuh kalau kita sungguh-sungguh menghendaki kepuasan dalam hidup kita

EUIS

Saya kira saya sudah cukup puas. Saya kira cukup itu…

JUKI

Euis, kau bisa gila karena kelemahanmu. Kau jangan cepat puas. Apa yang kita kecap dalam beberapa hari ini hanya sebagian kecil saja dari sukses. Kita belum mendapatkan semuanya. Jangan takut pada diri sendiri. Persetan itu hati nurani. Diri sendiri adalah milik kita sendiri. Kita harus bebas. Bebas seperti malam-malam dahulu ketika suamimu pergi  ke Tasikmalaya. Malam-malam ketika alam yang murni mempertontonkan dirinya, di mana kita menjadi putra-puteri alam sejati, terbuka dan merdeka

Suara kecapi di kejauhan, sayup dibawa angina sesekali. Jumena memejamkan mata


JUKI (makin rapat merangkul Euis)

Masih ingat pada Abu nawas?

Euis menggaguk kecil. Manja


JUKI

Di tepi sebuah parit, raja berjongkok akan melaksanakan hajat besarnya. Tapi baru saja berjongkok, baginda marah-marah dengan dahsyat, sebab baginda melihat seonggok najis kampul-kampul lewat di bawah anusnya

JUMENA

Apa dia juga berdongeng seperti saya?

JUKI

Maka tatkala dilaporkan bahwa najis yang terombang-ambing itu adalah najis Abunawas, dipanggilnya Abunawas, “Abunawas!”

JUMENA

“Hamba, Tuanku”

JUKI

“Bukankah kau bersalah?”

JUMENA

Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI

“Ha?” Mata raja melotot

JUMENA

“Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI

“Hamba ingin menang sebagai pemuja nomor wahid paduka” Kata Abu Nawas “Saksikanlah kini, tuanku raja, sekarang terbuktilah bahwa Abunawas si warga Baghdad yang paling takjim hormatnya. Tidak saja orangnya suka mengiring ke mana gbaginda pergi, bahkan najisnya pun mengiring najis rajanya”

(Jumena cemberut, sedangkan Euis terpingkal-pingkal)


Sekalian pengawalnya tersenyum seraya manggut-manggut “Abunawas, kaulah permadani terbaik di kota Baghdad”


(Euis Semakin Terpingkal-Pingkal Sambil Menahan Perutnya)


Lucu?


EUIS

Sangat amat lucu

JUKI

Tidakkah Abunawas seorang yang cerdik?

EUIS

Cerdik sekali. Raja kecerdikan

JUKI

Ya, dan kecerdikan bukan berasal dari perasaan, tetapi dihasilkan oleh kepala dan pikiran. Kau mengerti?

JUMENA

Kejadian seperti ini adalah mungkin dan tidak mungkin. Bagaimana saya harus menaruh kepercayaan kepada orang? Ah, lebih baik duduk-duduk di teras

EUIS

Saya mengerti

JUKI

Kau ahrus betul-betul berani. Berani seperti malam-malam itu

EUIS

Saya betul-betul berani sekarang. Saya kira Abunawas adalah guru kita

JUKI

Masih kau merasa bersalah?

EUIS

Tidak. Saya yakin suami sayalah yang bersalah

JUMENA

Kalau saja dia berani nyerocos seperti itu

JUKI

Kenapa kau bilang begitu?

EUIS

Dia perakus. Mata duitan

(Jumena mengambil sesuatu dan melemparkannya ke pintu)


Pagi-pagi ia sudah pergi mengurus dagangannya, mengurusio pabrik-pabriknya. Pulang-pulang jam dua, jam tiga, lalu selama beberapa jam menghitung-hitung hartanya dan memandangi lemari hitamnya. Setelah maghrib ia menulis atau membaca, lalu pergi. Pulang-pulang jam sembilan, sebentar duduk-duduk minum the atau kopi lalu akhirnya kembali menghitung-hitung harta dan memandangi lemari hitamnya. Itulah semuanya yang dikerjakannya secara rutin seperti mesin, selama hampir lima tahun saya jadi istrinya.


JUMENA

Lalu apa yang diharapkan dari saya? Duduk-duduk menghabiskan waktu di bawah bulan seperti dalam film-film itu? Saya sudah Bosan!. Apa dia piker semuanya akan bisa diselesaikan  hanya dengan senyum-senyum dan tiduran berbaring-baring di atas ranjang?
Sekiranya saja dia dapat membuktikan bahwa dengan cara seperti itu dapat digapai kebahagiaan hidup. Tidak! Saya sudah kecap semuanya, saya sudah jalani semuanya! Kosong. Dan cara mengisi hidup seperti itu terlalu mahal ongkosnya dan tidak produktif, apalagi kreatif. Selain bergurau di atas ranjang lama-lama menjemukan juga. Capek, linu-linu apalagi pada pinggang – ah, lebih baik duduk-duduk di teras - 

EUIS

Tidak,. Kalau saya serong dengan lelaki lain, bukan salah saya

JUMENA

Mungkin. Tapi pasti bukan juga salah saya

EUIS

Benar, bukan?

JUKI

Bagi saya tak ada yang benar dan yang salah. Dan kenapa mesti ada yang salah dan benar?

JUMENA

Saya kira begitu. Bajingan

JUKI

Keduanya sama tidak penting

EUIS

Jadi?

JUKI

Tidak perlu kita mempertimbangkan keduanya. Kita hanya harus cepat mempergunakan  setiap kesempatan kalau kita ingin berhasil dalam hidup. Dan saya selalu begitu

(Euis memandangi lelaki itu demikian lama dan tampak bergetaran bulu-bulu matanya. Kemudian Jumena pura-pura batuk. Dan duduk. Terkejut mendengar suara batuk)


Suamimu?


EUIS (Panik)

Aku masuk?

JUKI

Saya akan masuk ke WC

KEDUANNYA KELUAR


7


PEREMPUAN TUA MUNCUL MEMBAWA MAKANAN


P. TUA

Lebih baik makan malam dulu, gan

JUMENA (Masih melayang pikirannya)

Saya kira….

P. TUA

Di sini atau di ruang makan, gan? Di sana banyak angina, lebih baik di sini saja

JUMENA

Saya kira….

P. TUA

Tadi pak Warya ke sini

JUMENA (Segera)

Ada apa?

P. TUA

Sengaja menengok agan

JUMENA

Sekarang di mana dia?

P. TUA

Sudah pulang satu jam yang lalu

JUMENA

Kenapa dia tidak di suruh masuk? Ikut mogok seperti yang lain?

P. TUA

Saya kira tidak begitu. Pak Warya hanya tidak mau mengganggu agan tidur. Nyai bilang sejak sore, agan tidur nyenyak setelah hampir tiga hari sukar tidur. Nyai juga bilang agan mulai lega napasnya. Setelah tidur banyak harus makan banyak, gan, biar lekas sembuh

DETAK-DETIK LONCENG LANTANG MENGGEMA MEMENUHI RUANGAN, KEDUA MATA JUMENA MELOTOT DAN LEHER JUMENA KAKU, SEMENTARA PEREMPUAN TUA ITU TERUS BERBICARA TANPA SUARA


8


MUNCUL WARYA DAN EMOD. KEDUANYA MENGUTARAKAN SESUATU YANG SANGAT MENDESAK KEPADA JUMENA DENGAN KERAS TANPA SUARA. SETELAH BEBERAPA LAMA, PEREMPUAN TUA ITU MENINGGALKAN RUANGAN ITU. TETAPI IA KEMBALI MENDEKATI JUMENA , KETIKA JUMENA TIBA-TIBA BERBICARA KERAS SEKALI DAN MARAH. PEREMPUAN TUA DENGAN RASA KEIBUANNYA MEMIJAT-MIJAT BAHU JUMENA


JUMENA

Mau diapakan lagi? Saya tidak akan merobah keputusan saya. Saya tidak mau. Saya tetap tidak akan memberikan biar segopeng pun. Berapa kali sudah saya bilang sejak kalian jadi pengawas kedua bahwa standar gaji yang ada sekarang cukup baik, adil untuk semua pihak. Prinsip saya cukup realistis karena berdasarkan kebutuhan riil tiap-tiap keluarga. Lagipula saya sudah menghitung dengan cermat berapa setiap keluarga menghabiskan biaya setiap bulan dan berapa sisa yang bisa ditabung

EMOD

Maaf gan, tapi saya kira kebisaaan orang lain. Juga sifat orang. Maksud saya mungkin saja gaji yang diterima seseorang cukup besar tapi bukan tidak mungkin ada saja orang yang menganggapnya masih kurang.

JUMENA

Itu karena umumnya semua orang boros. Saya yakin itu. Cobalah kamu Tanya istri saya berapa ongkos rumah ini. Barangkali kamu tidak percaya kalau saya bilang ongkos bulanan rumah ini kurang dari gaji yang kamu terima setiap bulan

EMOD

Tapi ini keadaan istimewa, gan. Maksud saya tidak setiap kali orang mengadakan pesta perkawinan

JUMENA

Dengarkan. Kalau orang mau hemat dan rajin menabung, niscaya tidak akan mengalami kekurangan biar segobang pun. Bisa kalian buktikan bahwa standard an peraturan-peraturan yang saya buat merugikan? Kamu lupa gaji rata-rata di sini setengah kali lebih besar disbanding tempat-tempat lain? Coba kalian mampir ke pabrik tenun Mustopa atau pabrik minyak kacang Haji Bakri dan Tanya berapa orang-orang di sana terima gaji? Sekali lagi War, Mod. Kalau orang mau hemat, insaAllah tidak akan menemui kesulitan  apa-apa. Dengan gaji yang mereka terima, mereka akan dapat membiayai ongkos pengobatan dan apa saja. Dan lagi, tidak masuk akal kalau saya pun harus menanggung biaya pemborosan kalian. Coba saja, kalian boros dan saya harus menanggung keborosan kalian, sinting namanya. Apalagi untuk pesta kawin, lebih sinting lagi.

SEMENTARA JUMENA BERBICARA, SEPANJANG ITU SEORANG DEMI SEORANG PARA PEKERJA. PADA WAJAH MEREKA HANYA TAMPAK TUNTUTAN-TUNTUTAN MEREKA. MAKA BEGITU SELESAI JUMENA BICARA SERENTAK MEREKA SEMUA BICARA, SANGAT KERAS DAN SANGAT KERAS. BAHKAN KETIKA MEREKA SUDAH MENINGGALKAN RUANG ITU MASIH TERDENGAR HIRUK PIKUK ITU.

DI TENGAH SUARA GADUH ITU JUMENA BERTERIAK “Pemboros semua! Pemalas! Kerbau! Kambing!” SAMBIL MENGHALAU MEREKA DAN MEREKA KELUAR

9


LAMPU PENTAS MENYUSUT DAN BURABH WARNA. MUNCUL SANG PEMBURU DARI RONGGA TUA ITU. TOKOH AGUNG INI SEMAKIN MEMBESAR DAN MEMBESAR, SEMENTARA ITU JUMENA TERKAPAR DI LANTAI. WAJAHNYA MENDONGAK TEGAK KE LANGIT-LANGIT


JUMENA

Datang juga kau

PEMBURU

Kapan pun datang juga

JUMENA

Datang juga kau

PEMBURU

Kapan pun datang juga

JUMENA

Kenapa kau datang?

PEMBURU

Kenapa kau datang?

JUMENA

Kenapa kau datang?

PEMBURU

Kenapa kau datang?

JUMENA

Kau permainkan saya

PEMBURU

Kau permainkan saya

SETELAH AGAK LAMA


JUMENA

Saya kira saya akan mati dua puluh tahun yang lalu

PEMBURU

Kau telah mati sejak kau mengira kau akan mati

JUMENA

Kau permainkan saya

PEMBURU

Kau permainkan saya

JUMENA

Dari siapa kau tahu saya akan mati?

PEMBURU

Kau sendiri yang mengatakannya

SETELAH AGAK LAMA


JUMENA

Jadi bagaimana?

PEMBURU

Apa?

JUMENA

Kapan saya mati?

PEMBURU

Tempo hari kau bilang kapan?

JUMENA

Dalam waktu dekat ini

SETELAH AGAK LAMA


Dalam waktu dekat ini?


PEMBURU

Kapan kau bilang tadi?

JUMENA

Dalam waktu dekat ini

PEMBURU

Kau percaya?

JUMENA

Ada yang membisikannya pada saya

PEMBURU

Siapa?

JUMENA

Saya sendiri

PEMBURU

Kau permainkan kau

KEMUDIAN SEGEROMBOLAN KABUT MENYEKAP JUMENA. TENTU SAJA KEADAAN ITU MEMBUTA JUMENA SUKAR BERNAFAS. MEGAP-MEGAP.



10


SETELAH KABUT-KABUT PERGI, SEMUA LAMPU MENYALA KECUALI PADA LONCENG. EUIS MUNCUL DAN TERKEJUT MELIHAT SUAMINYA SEDANG BATUK-BATUK PARAH BERJONGKOK DEKAT JENDELA.


EUIS

Akang (Menghampiri suaminya)

JUMENA (Segera bangkit)

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa

EUIS

Sebaiknya akang makan. Euis tadi ngaji. Ini kan malam Jum’atan

(Jumena duduk dan tampak sesak sekali pernafasannya)


Euis suapi, akang?


JUMENA (Pada penonton)

Pasti ada apa-apa. Pasti ada apa-apa (Pada Euis) jangan berlebihan. Saya masih kuat mengangkat meja, apalagi sendok. Saya bisa menyuap sendiri (Mulai akan makan. Lama hanya melihat saja pada makanan) tak ada nafsu saya

EUIS

Dipaksa, akang

JUMENA

Siapa yang akan memaksa saya?

EUIS

Akang sendiri

JUMENA

Saya tidak mau. Saya juga tidak mau memaksa diri saya sendiri hanya agar saya makan. Sudah, berhenti kau bicara. Saya sedang kesesakan

EUIS

Euis gosok dengan….

JUMENA

Berhenti kau bermain sandiwara dan diam (Pergi duduk)

11


DETAK-DETIK LONCENG LANTANG. BERATUS LELAKI DAN PEREMPUAN MUNCUL DARIMANA-MANA. DI PENTAS TERJADI HIRUK PIKUK. DI ANTARA MEREKA KELIHATAN WARYA DAN EMOD DENGAN WAJAH BERANG DAN MENGHUNUS GOLOK BESAR. KEMUDIAN TIBA-TIBA DI SELA-SELA HIRUK-PIKUK TERDENGAR JERITAN SEORANG PEREMPUAN DAN BEBERAPA SUARA MENERIAKKAN “PEMBUNUHAN! PEMBUNUHAN!” KETIKA KUMPULAN ORANG ITU BUBAR, TERTINGGAL DUA LELAKI. KEDUANYA PENUH RAHASIA. MEREKA MARKABA DAN LODOD


JUMENA

Siapa mereka?

LODOD

Dia menanyakan kita (Tertawa)

MARKABA TERTAWA


JUMENA

Siapa? (Mengingat keras)

MARKABA

Saya Jumena

LODOD

Saya juga Jumena

12


SAMBIL TERTAWA-TAWA, KEDUANYA PERGI ENTAH KEMANA. KEMUDIAN JUMENA BERKELUH PANJANG SEKALI. SETELAH AGAK LAMA, DIA MULAI MERASA ENAKAN SEDIKIT. LEGA.


JUMENA

Omong-omong berapa belanja kita hari ini?

EUIS

Akang lagi sakit, kenapa mesti urus juga tetek bengek semacam itu?

JUMENA

Bukan tetek bengek, tapi uang. Dan saya tidak pernah sakit untuk urusan uang. Ini satu-satunya hiburan saya, gila kalau saya tidak memeliharanya. Sekarang katakan berpaa belanja kita hari ini?

EUIS

Sama seperti kemarin

JUMENA

Kalau begitu masih ada sisa buat besok

EUIS

Masih 

JUMENA

Sebetulnya masih bisa juga untuk belanja dua hari lagi, tapi kau belum tahu seninya. Tidak apa. Kelak kau pasti bisa. Tapi sekali lagi saya nasihatkan jangan sekali-kali kau suruh orang lain berbelanja. Juga jangan Nyai kau itu, belanjalah sendiri. Semua orang sama saja. Tukang catut! Jangan salah paham, ini bukan sikap kikir, tapi sikap cermat, dan kau tahu berkesenian dengan uang selain menghargai jerih payah

SUNYI


EUIS

Sepi sekali rasanya, padahal baru beberapa hari saja pekerja-pekerja mogok. Pabrik apalagi, sepi.

JUMENA

Persetan 

EUIS

Betapa kaget kalau Juki nanti datang

JUMENA

Kenapa dia tiba-tiba bicara tentang Juki? Pasti ada apa-apa. (Pada Euis) Juki akan sepaham dengan saya. Tapi kalau dia mau main solider-solideran, boleh saja. Saya bisa kerjakan semuanya sendiri, kalau saya mau. Saya kawal sendiri barang-barang saya ke Jakarta. Kalau saya mau

(Sunyi)


JUMENA

Hati-hati, Euis

EUIS

Hati-hati apa kang?

JUMENA

Juki

EUIS

Kenapa?

JUMENA

Dia tampan kan?

(Euis Cuma diam saja. Kesal sudah tentu, tetapi semuanya dia tahan saja dalam hati)


Dia tampan kan? Bilang terus terang


EUIS (dingin)

Bisaa 

JUMENA

Dia tampan, lebih tampan dari saya. Bahkan lebih muda

EUIS

Lalu?

JUMENA

Tidak apa-apa. Saya hanya bilang hati-hati. (Tiba-tiba gugup) jangan lupa, dulu dia hidup diantara pencoleng-pencoleng Senen, kau tahu Senen?

EUIS

Ya, lalu kenapa?

JUMENA

Nah, lebih dari soal-soal mesum adalah pisau permainan orang macam dia

EUIS

Saya pun tidak mengerti kenapa bahkan akang pun tidak mempercayai Juki yang boleh dibilang saudara akang sendiri

JUMENA

Saya tidak curiga,. Saya hanya bersikap hati-hati

EUIS

Barangkali akang terlalu hati-hati sehingga membuat akang sendiri tidak bisa tentram

JUMENA

Hanya orang bodoh yang bisa tentram. Lagipula kalau kau bilang saya terlalu hati-hati, sebaliknya kau kurang hati-hati. Terus terang saya katakan, saya tidak senang kalau kau keluar dari kamar mandi tanpa BH

EUIS

Tapi Euis selalu pakai baju

JUMENA

Ya, tapi tidak pakai BH. Itu kurang baik. Dan mata Juki bukan mata kelereng. Pokoknya saya tidak suka. Punt! Atau kau memang sengaja ingin menarik perhatiannya?

EUIS

Akang, sudah empat tahu sudah kita berumah tangga dengan….

JUMENA

Itu bukan jaminan. Pernah juga saya pergoki kau dan Juki sedang sayik omong-omong di dapur. Apa perlunya kau suruh dia menemani kau di dapur?

EUIS

Saya tidak pernah menyuruh dia. Dia datang sendiri

JUMENA

Dan kau ladeni?

EUIS

Lalu apa harus saya usir?

JUMENA

Itu terserah bagaimana cara kau, tapi pemandangan serupa itu tidak enak di mata, apalagi di hati

EUIS (Gembira)

Akang cemburu?

JUMENA

Cemburu! Minderwaardig! Buat apa? Saya hanya tidak suka milik saya diganggu orang

(keduanya diam. Masing-masing terpaku oleh pikiran dan perasaannya sendiri-sendiri)


Saya betu-betul tahu sekarang, saya sudah mulai tua. (Lirih hampir mendesah, seperti bercampur tangis tua) Tidak ada orang yang mencintai saya. Tidak siapapun dan apapun yang mencintai saya


EUIS

Akang yang tidak pernah mau mencintai saya. Selama empat tahun Euis mencoba meyakinkan akang betapa Euis mencintai akang, betapa…..

JUMENA

Berhenti kau bicara. Saya tidak mau kalau…. Ah, lupakan semuanya (Menuju makanan yang tersaji) Tak ada nafsu saya. Saya lapar, tapi tak ada nafsu

EUIS

Lebih baik akang tidur

JUMENA

Bawa lagi ke dapur

EUIS

Biar saja di meja ini. Siapa tahu akang ingin makan tengah malam nanti

JUMENA

Menantang dia! (Kasar) masuk ke dapur!

EUIS MEMBAWA MAKANAN MASUK KE DALAM


13


DETAK-DETIK LONCENG LANTANG, JUMENA KEMBALI DISIKSA PIKIRANNYA SENDIRI


JUMENA

Jangan terus-terusan kau siksa aku seperti ini, Tuhan. Selalu kau bilang sebaliknya. Tak henti-henti. Kau selalu bilang sebaliknya

LAMPU PENTAS BERUBAH. ANGIN DAN HUJAN DERAS SEKALI. KILAT PETI, HALILINTAR. MUNCUL PEMBURU DAN KABUT-KABUT, MEREKA, BEBERAPA SAAT HANYA MEMATUNG, LALU MELINTASI PEKERJA-PEKERJA PIMPINAN WARYA DAN EMOD


JUMENA

Pergi kalian!

LODOD

Dia mengusir kita

MARKABA TERTAWA, LODOD TERTAWA


JUMENA

Mau apa kalian!? Pergi! Pergi!

PEMBURU

Jangan hiraukan, tidurlah

JUMENA

Saya tidak mau tidur, mereka akan membunuhku!

PEMBURU

Bodoh, kalau sampai mereka bisa membunuh kau. Tidurlah. Buat apa kau pusingkan, toh kau akan mati juga sekalipun bukan mereka yang membunuh kau.

JUMENA

Saya ingin tentram

PEMBURU

Tidurlah 

JUMENA

Saya tidak bisa

LODOD

Dia ingin tentram tapi dia tidak mau tentram (Tertawa)

MARKABA TERTAWA


PEMBURU

Diam semua!

KECUALI LONCENG, SEMUA DIAM, JUGA HUJAN DAN LAIN-LAIN. MUNCUL EUIS DAN JUKI. MEREKA BERCUMBU


MARKABA

Jangan di sini

LODOD

Di bawah ranjang saja

MARKABA

Jangan. Nanti ketahuan. Di gudang saja

LODOD

Tapi di sana banyak tikus

SEMUA

Ssstt.

MARKABA

Di bawah ranjang saja

JUKI DAN EUIS MASUK KE BAWAH RANJANG DAN KEMUDIAN BERSETUBH DI SANA. SEMENTARA ITU, WARYA DAN EMOD MENGENDAP-ENDAP MEMBAWA SESUATU SEMACAM GONI PADAT BRISI; CUMA LEWAT. PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DI KAKI KURSI GOYANG. MARKABA DAN LODOD MENCABUT PIGURA KOSONG ITU DAN MEMBAWANYA KE JUMENA. SETELAH CUKUP LAMA JUMENA MEMANDANGI PIGURA ITU, KEDUA LELAKI ITU KEMBALI MEMASANG PIGURA SEPERTI SEMULA SAMBIL TERTAWA-TAWA. PADA SAAT ITU DOKTER LEWAT.


MARKABA DAN LODOD SECARA RAHASIA MEMPERCAKAPKAN SESUATU. TIDAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL JUKI MENEMANI MEREKA. LALU MERUNDINGKAN SESUATU. DENGAN HATI-HATI MEREKA MASUK KE DALAM KAMAR, DAN BERGANTI-GANTI MENYETUBUHI EUIS. PADA SAAAT ITU MUNCUL SABARUDDIN DAN BERBICARA PADA JUMENA TANPA SUARA. LELAKI INI BEBERAPA TAHUN LEBIH MUDA DARIPADA JUMENA.


DOKTER DAN EUIS MUNCUL DARI DALAM


DOKTER

Ada baiknya bapak di bawa ke rumah sakit

EUIS

Bapak keras kepala

DOKTER

Itulah sebabnya

EUIS

Tapi bapak tidak mau

SAMBIL MELANJUTKAN PEMBICARAAN, KEDUANYA KELUAR



14


SABARUDDIN

Jum, kau sebenarnya hanya capek, terlalu capek. Rupanya kau tidak pernah istirahat. Rupanya selama ini kau hanya bekerja dan bekerja, berpikir dan berpikir. Dua puluh tahun lalu ketika pertama kali saya kenal kau.ketika untuk pertama kalinya kau membuka sawah dan lading di sini, bahkan sampai saat kau mulai usaha di bidang pertenunan, saya selalu melihat kau sebagai lelaki yang paling bersemangat dan paling bergembira di kota ini. Waktu itu, bahkan kau sendiri mengatakan bahwa hidup di sini cocok untuk kau sebab kota ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Sejak dulu saya cemburu melihat bagaimana kau seolah menjadi satu dengan usaha-usaha kau. Terus terang waktu itu saya membayangkan betapa bahagianya kau. Tapi hanya satu yang saya sangsikan, yaitu sempatkah kau mengecap hidup ini?

JUMENA

Tidak. Tidak pernah dapat. Banyak kesempatan untuk itu, tapi memang hidup saya tidak dapat mengecap hidup ini

SABARUDDIN

Masuk akal, sebab seluruh waktu hanya kau isi dengan kerja dan berpikir, maksud saya memecahkan persoalan perusahaan-perusahaan kau. Kau memiliki sawah tapi tidak pernah menikmati sawah, kau hanya menikmati uangnya. Bahkan saya sangsi kau bisa menikmati uang. Saya kira kau hanya sempat menghitung-hitung uang seperti juru hitung. Beberapa tahun terakhir malah saya, berani memastikan kau tidak bahagia

JUMENA

Saya kira bukan maksud kau membicarakan hal-hal semacam itu maka saya harapkan kedatangan kau. Memang saya memerlukan teman berbicara, tapi saya kira ada persoalan yang mungkin lebih penting daripada itu

SABARUDDIN

Tapi tak ada salahnya kau mendengarkan nasihat saya. Sebelumnya saya perlu katakan bahwa apa yang saya ingin lakukan untuk kau tak lebih hanya atas nama persahabatan. Saya tetap sebagai sahabat dan bukan sebagai seseorang yang ingin mengislamkan kau. Saya berbicara di sini karena saya selalu merasa berteman. Jum, percayalah saya. Kau perlu istirahat.

JUMENA

Bagaimana?

SABARUDDIN

Ada baiknya kau melancong ke tempat lain

JUMENA (Tertawa)

Kalau kau tahu

SABARUDDIN

Kenapa kau tertawa? Ini sungguh-sungguh

JUMENA

Kalau kau tahu kenapa saya dua puluh tahun yang lalu memutuskan untuk tinggal di sini, barangkali kau tidak akan menyarankan seperti itu. Dua puluh tahun lalu saya pun menasehati diri saya sendiri agar saya melancong ke tempat lain, minggat dari Jakarta, minggat dari politik-politikan dan lain-lain pekerjaan yang memang bukan bidang saya.
Barangkali saya bisa sedikit lebih tenang kalau bisa jadi pengarang. Terlalu banyak yang saya bisa kandung, tapi saya tidak mampu melahirkannya. Tidak, saya tidak punya bakat untuk itu. (Tertawa) dua puluh tahun lalu saya benamkan seluruh diri saya dalam kegiatan perusahaan saya, dengan harapan bisa tentram. Saya tutup mata saya, telinga dan hati saya, bahkan seluruh mimpi saya.
Sekarang setelah dua puluh tahun, kau menyarankan agar saya melancong ke tempat lain untuk istirahat. Saya jadi merasa geli, apa mungkin hidup hanya bisa diatasi dengan pelancongan seperti itu!? Kau tahu benar apa sebenarnya yang sanagt merisaukan saya terutama akhir-akhir ini?

SABARUDDIN

Saya kira…

JUMENA

Kau tidak tahu! Terus terang saya takut mati

SABARUDDIN

Saya kira setiap orang…

JUMENA

Belum tentu. Selain itu sampai sekarang saya belum punya seorang anak. Empat kali saya beristri

SABARUDDIN

Banyak orang yang…

JUMENA

Lalu untuk apa semua yang selama berpuluh tahun saya kerjakan?

SABARUDDIN

Apa tidak lebih baik kau memungut anak angkat?

JUMENA

Kau simpan saja saran itu. Sudah terlalu sering orang menyampaikannya pada saya. Dan saya tidak memerlukan itu
(Pause)
sekarang saya sedang rencanakan sesuatu. Gagasan ini pasti kau sambut dengan gembira karena akan menyangkut pekerjaan kau (Tersenyum lebar) Saya akan membangun kembali masjid kota ini

(Sabaruddin cuma diam tidak yakin)


Kenapa? Kau tidak percaya?


SABARUDDIN MASIH DIAM


JUMENA

Kau kira saya bergurau?

SABARUDDIN

Saya gembira sekali. Alhamdulillah. Sepuluh tahun saya menunggu ada orang yang mengucapkan itu

JUMENA

Tapi jangan salah paham. Saya akan mengerjakan semua itu bukan dengan tujuan muluk, apalagi tujuan keagamaan. Saya tidak punya tujuan seperti itu. Saya hanya merencanakan hal itu lantaran saya rasa, mungkin saya bisa ikut bahagia bersama kau

SABARUDDIN

Kalau begitu, boleh saya bertanya, kenapa bukan gereja saja yang kau bangun?

JUMENA

Saya kenal seorang perempuan tua yang telah memelihara saya sampai saya agak besaran

(Sabaruddin tersenyum tidak percaya)


Perempuan tua itu bukan ibu saya. Tapi dia memelihara saya. Setiap kali ia menidurkan saya, perempuan tua itu selalu bersenandung. Kemudian saya tahu apa yang disenandungkan, persis seperti lagu-lagu pujian yang bisaa dinyanyikan anak-anak di mesjid

Saya kira inilah satu-satunya kenangan masa kanak-kanak saya.

SABARUDDIN (Setelah agak lama)

Bsiklsh. Kspsn ksu sksn mulsi rencana itu?

JUMENA

Selekasnya. Setelah kau menyusun suatu panitia

SABARUDDIN

Itu tidak terlalu sukar

JUMENA

Selain itu, saya akan membangun rumah gelandangan

SABARUDDIN

Diam-diam, kau sedang mengakui bahwa ada cara lain selain cara yang pernah kau tempuh dalam mengisi hidup ini (Dengan gembira meluap-luap) sekarang Jum, jalanilah apa yang telah saya sarankan

JUMENA

Melancong?

SABARUDDIN

Bukan. Yang sebelumnya. Ah, mungkin tadi kau kurang memperhatikan. Begini. Kau pernah menyaksikan riwayat sekuntum bunga?

JUMENA

Belum 

SABARUDDIN

Sama sekali?

JUMENA

Saya tidak begitu tertarik lagi justru setelah saya tinggal di tempat ini

SABARUDDIN

Menyesal sekali. Jum, bangunlah pagi-pagi dan amati secara teliti betapa indahnya kehidupan yang berlangsung di pekarangan rumah kau. Ada baiknya juga kau memelihara ikan hias. Sekedar hanya sebagai hiburan saja. Saya kira di sana kau dapat juga merasa ikut bahagia bersama-sama bunga dan ikan-ikan dalam akuarium

JUMENA

Apa ku juga merasa begitu pasti seperti halnya dokter saya?

SABARUDDIN

Paling sedikit tekanan darahmu akan meluncur turun dalam tempo kurang dari sebulan

JUMENA

Saya harus coba lagi. Saya harap pelancongan saya kali ini yang terakhir dan saya bisa tentram

SABARUDDIN

Dengan semua itu, Jum, kau akan menikmati buahnya. Mesjid itu akan semakin semarak dan penuh cahaya. Jemaahnya yang berbahagia akan semakin semarak, anak-anak yang terlantar itu….

JUMENA (Melayang)

Ya, ya…

SABARUDDIN

Akan semakin besar dan besar, sehat dan berpendidikan, dan semakin tumbuh dan tumbuh seperti halnya kuntum-kuntum bunga dan ikan-ikan dalam akuarium, betapa indahnya hidup

JUMENA

Ya, ya…

PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DENGAN TEMPOLONG YANG LAIN


SABARUDDIN

Tidak lama lagi kau akan dapat menghisap udara pagi kau kembali. Tidak lama lagi kau akan kembali mengetahui berapa harga sinar surya kala pagi

JUMENA

Saya akan kembali merasakan betapa sejuknya air yang membasahi badan kalau saya sedang mandi

SABARUDDIN

Suatu pagi, jalan-jalanlah telanjang kaki, nanti kau akan dapat juga merasakan betapa nikmatnya kaki kita menginjak basah rerumputan dan batu-batu kerikil sementara angina tipis mengusap-usap lembut hidung dan telinga

PEMBURU MENEMBAKKAN SENAPANNYA. DAHSYAT LETUSANNYA


JUMENA

Suara apa itu?

SABARUDDIN

Seperti lumrahnya, sehelai daun gugur

JUMENA

Saya kira suatu bom

LAMPU TIBA-TIBA PADAM


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »