Sumur Tanpa Dasar - Arifin C. Noer (Bagian Kedua)

ADMIN SASTRAMEDIA 5/28/2019
BAGIAN KEDUA

ADEGAN KEDUA DIMULAI KETIKA JUKI DAN KAMIL TERTAWA TERBAHAK-BAHAK. TENTU SAJA KARENA ULAH LELAKI TUA GILA YANG BISAA DIPANGGIL KAMIL, YANG SELALU BERPAKAIAN ALAM KAUM TERPELAJAR ANGKATAN ’08. TUBUHNYA SANGAT KURUS SEPERTI HABIS DIHISAP OLEH MIMPI-MIMPINYA SENDIRI. SEMENTARA ITU DENGAN GANAS MUNCUL PEREMPUAN TUA


P. TUA

Huss, jangan terlalu keras. Agan sedang tidur (Keluar)

KAMIL

Kenapa saya suka meramal? Sebab saya suka ilmu kebatinan, alias mistik dan ilmu kejiwaan? Sebab dunia sekarang sudah berat sebelah
Nah, sekarang inilah peradaban sekarang, kepala terus diisi sementara dada dibiarkan masuk angina, maka kepala terlampau berat  tak dapat lagi ditopang oleh dada. Seperti ondel-ondel terkena angina puyuh. Maka terhuyung-huyunglah manusia zaman sekarang seperti pemabuk! Padahal sumber kekuatan hidup sebenarnya ada di sini. Nih (Menunjuk ulu hati) bukan di kepala seperti kata Jumena. Karena dia sinting!

P. TUA (Di pintu belakang)

Sudah! Sudah! Berhenti pidato!

KAMIL

Naaah! Pidato! Saya ingat lagi sekarang.
Pidato. Zaman-zaman sebelum filsafat Sokrates, atau professor Raden Hidayat menyebutnya dengan istilah “Zaman Kata-kata Bunga Berduri”. Boleh, boleh saja disebut Zaman Retorika, tapi saya cenderung menyebutnya dengan istilah sendiri sesuai semangat kemandirian Professor Djojodiguno. Sumber kekuatan pada kata! Kata Mereka! Padahal sumber kekuatan hidup ada di sini! Di jantung!

JUKI

Bukan di kaki, den Kamil?

KAMIL

Kaki itu sebenarnya tidak perlu lagi kalau orang sudah tinggi ilmunya. Kau percaya bahwa saya setiap malam pergi ke Mekah? Sukar saya jelaskan. Kau masih kotor. Ini ilmu-ilmu zaman dulu. Mau bukti? Saya bisa membelah meja ini! (Siap dengan pukulan karate)

JUKI

Jangan den, saying mejanya

KAMIL

Memang tidak perlu. Sifat ilmu itu tidak merusak. Tapi kalau yang memiliki tidak kuat jiwanya, bisa jadi sinting. Hati-hati memilih kiayi

JUKI

Merokok dulu den Kamil

KAMIL

Tolong menolong itu sifat nabi Nuh!

JUKI

Kata orang, den Kamil dulu…

KAMIL

Orang kaya?

JUKI

Ya 

KAMIL

Tidak salah! Saya ini masih keturunan Sunan Gunung Jati tapi lebih cenderung kepada Syekh Lemah Abang. Kata sementara orang saya ini orang kaya, jadi saya orang kaya. Apa kata orang sebenranya tidak ada yang salah. Semuanya benar, sebab semuanya berasal dari jiwa. – Sukma! Sukma! Sukma! – tidak percaya saya ini orang kaya? Bapak saya dulu suka menggambar, jadi saya masih keturunan pujangga. Kau tahu bahwa saya punya pabrik minyak kacang? Sawah? Saya punya. Lading? Saya punya. Tambak ikan? Punya. Rumah saya berderet sepanjang jalan terbesar di kota Cirebon. Took? Tiga buah

JUKI

Istri, den Kamil?

KAMIL

Istri saya? Istri saya lebih cantik daripada Siti Zulaikha yang memperkosa Nabi Yusuf. Cobalah angkat gudang yang terbesar di pelabuhan Cirebon dan bawa kemari unutk menyimpan harta saya, tidak akan cukup. Saya ini sangat kaya. Jangan sembrono. Orang kaya itu galak. Dan empat puluh, saudara, empat puluh kamar dalam rumah saya

P. TUA

Husss… jangan terlalu bising

EUIS

Makan dulu, Mil. Di dapur

KAMIL (Melihat Euis allu melihat Juki lalu tertawa)

Jejak-jejaknya mulai tercium (Pada Juki) Nanti saya ramal telapak tangan saudara!

EUIS

Sudah, sudah! Masuk!

KAMIL (Sambil pergi)

Siapa bilang buah Khuldi itu apel?

2


P. TUA

Sudah waktu makan. Tidak perlu juragan dibangunkan?

EUIS

Jangan. Biarkan. Beberapa hari belakang ini akang mulai kelihatan sakit lagi

P. TUA

Nyai kira juga begitu (Keluar)

3


EUIS

Anda harus menasehati

JUKI

Saya kira memang begitu. Tapi kau juga jangan diam saja

EUIS

Sudah terlalu sering. Tidak pernah mau dengar. Hampir lima tahun saya jadi istri dan hampir selama itu pula ia tidak pernah mau dengar saya bicara. Saya selalu dituduh yang tidak-tidak, dikira bersandiwara. Terhadap anda tentu sikap akang lain, setidak-tidaknya dulu akang pernah tinggal di rumah anda. Saya kira akang merasa bersaudara dengan anda.

JUKI

Kalau saja begitu, tentunya tidak akan sejelk ini. Dia tidak pernah mau percaya sama orang lain. Itu susahnya. Semua diurusnya sendiri dan semua yang bekerja dia pukul rata sebagai kuli atau mandor. Dan saya tidak lebih dari mandornya seperti yang lain!
Memang saya boleh dibilang sebagai adiknya tapi saya kira dia lebih percaya kepada kau daripada kepada saya.

EUIS

Mestinya begitu (Diam) empat tahun sudah. Dia tidak pernah berubah. Dia tidak pernah percaya bahwa ada orang yang mencintainya sementara dia sendiri tidak pernah bisa mencintai

JUKI

Percaya kepada saya. Dia diam-diam mencintai kau, tapi dia tidak percaya kalau kau mencintainya. Dari kelima perempuan yang pernah dia kawini  Cuma dua orang yang sungguh-sungguh dia cintai. Kau dan istrinya yang pertama.
Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya kenapa dia menceraikan istrinya yang pertama, padahal sangat dia cintai lagi seorang perempuan yang berpendidikan tinggi. Beberapa kawan menduga mungkin karena mertuanya yang mata duitan.
Percayalah Euis, akangmu hanya sangat kesepian. Sampai setua ini keinginannya untuk punya anak belum terwujud. Saya kira gampang kita maklumi

EUIS

Tapi saya sekarang sedang mengandung, dan saya yakin….

JUKI

Betul, Euis? Kalau begitu selesailah masalahnya. Percayalah, semua akan selesai dengan sendirinya hanya karena anak dalam kandunganmu itu. Syukurlah Euis saya harap kau lebih hati-hati

EUIS

Tapi dia tetap tidak mau percaya

JUKI

Kau harus sabar. Tunggu sampai dia sendiri melihat bagaimana anak dalam kandungan itu semakin membesar dan membesar. Dan kalau dia tetap tidak percaya kau sedang mengandung, pandangan matanya yang salah atau dia memang tidak pernah percaya pada matanya sendiri.
Syukurlah Euis. Ah, sebentar nanti saya kira saya pun mulai membicarakan hal itu dengan dia.
Seperti dongeng saja. Justru setelah hampir seluruh rambutnya putih tiba-tiba akang Jumena akan punya (Tertawa) akang akan punya anak. Jangan lupa Euis kau harus, harus… lebih baik kau tanyakan kepada Nyai.

EUIS

Tapi saya pikir

JUKI

Kenapa kau begitu cemas tiba-tiba?

EUIS

Maksud saya…. Apakah…. Apakah…. Ada perlunya…. Apakah tidak lebih baik anda tidak usah menyinggung soal kandungan saya ini dalam pembicaraan kapan pun dengan akang!? Maksud saya sebelum saya berhasil meyakinkannya sendiri? Sebab…..

JUKI

Saya tidak mengerti maksud kau dan saya sangat heran kenapa…. Atau kau telah berbohong?

EUIS

Berbohong?

JUKI

Kau telah membohongi saya. Kau sebenarnya tidak mengandung?

EUIS

Saya yakin kalau saya sedang mengandung. Untuk apa saya berbohong?

JUKI

Kalau begitu tak ada yang perlu dicemaskan. Percayalah, Euis. Semuanya akan berubah seketika hanya karena berita gembira ini. Lihatlah nanti. Saya tahu bagaimana caranya menyampaikan berita ini ke telinga tebalnya itu.

EUIS

Hati-hati…. Jantungnya.

JUKI

Kau memang istrinya, tapi saya jauh lebih mengenalnya daripada kau

4


PADA SAAT BARIS-BARIS TERAKHIR DIUCAPKAN, JUMENA MARTAWANGSA SUDAH BERADA DALAM RUANGAN ITU. TENTU SAJA MEREKA KAGET


JUKI

Syukurlah, akang bisa tidur nyenyak

JUMENA DIAM SAJA


EUIS

Tidak lebih baik akang makan dulu?

JUKI

Ya, saya sudah mendahului

JUMENA DIAM SAJA. SETELAH BEBERAPA LAMA EUIS KELUAR


5


JUKI

Saya senang akang bisa tidur

JUMENA

Saya Cuma berguling-guling, merem-merem ayam. Sebegitu lama saya berpejam saya masih belum memastikan bagaimana rasanya mati. Saya hanya merasa bagian punggung dan dada saya menjadi panas, kemudian semutan. Sesaat saya merasa sedang terbang, merasa ringan seperti buih sabun. Kemudian segera saya buka kembali mata sapa apabila saya merasa akan betul-betul terbang atau menguap. Akhirnya saya merasa kesesakan karena jantung saya melipatkan kecepatannya. Tapi setelah saya merasa kembali tenang, saya ulangi lagi berjam-jam dan begitu seterusnya sampai saya jadi diam.

JUKI

Cukup sampai di situ aja akang menderita. Sebentar lagi akang melonjak seperti anak kecil setelah mendengar berita gembira dari saya. Akang tidak perlu lagi terus-terusan mati, tapi akang akan terus-terusan bersiul setelah akang mau mendengar betapa sebenarnya akang orang yang paling bahagia di dunia

JUMENA

Kau mau memberitakan kepada saya bahwa Euis sedang mengandung?

JUKI

Akang sudah tahu?

JUMENA

Setiap awal bulan saya bisa memastikan Euis akan mengatakan hal yang sama pada saya

JUKI

Dan akang tetap tidak percaya?

JUMENA

Tiga kali yang pertama saya percaya, tapi setelah itu saya bentak setiap kali dia mengatakan kemungkinan itu

JUKI

Sekarang pun akang masih tetap tidak mempercayainya?

JUMENA

Saya suaminya, Juki, saya lebih tahu. Bahkan saya lebih tahu kesehatan paru-parunya.

6


P. TUA (Muncul di pintu depan)

Pak Emod minta ketemu, gan. Beliau ada di serambi

JUMENA (gugup)

Beri saya rokok, Juki

JUKI

Saya kira tidak baik untuk….

JUMENA

Cuma dua hisap (Setelah menghisap rokok) tidak menolong (Dimatikannya) Saya kira sudah waktunya saya menghisap madat kalau saya sudah sembuh betul

P. TUA

Boleh pak Emod saya persilahkan kemari, gan?

JUMENA

Bilang saya sedang sibuk merencanakan penutupan pabrik

PEREMPUAN TUA KELUAR


7


JUKI

Kalau memang sama sekali tidak ada harapan, kenapa akang bersikeras tidak mau mengambil anak angkat? Saya kira yang akang perlukan adalah seorang anak yang diharapkan kelak akan melanjutkan usaha-usaha akang. Sudah banyak contoh yang kita saksikan, bagaimana bahagianya antara keluarga yang memungut anak angkat dan keluarga yang mempunyai anak kandung sendiri.

JUMENA

Berhenti bicara tentang itu Juki

JUKI

Maaf. Saya hanya….

JUMENA

Saya mengerti, saya laki-laki!

JUKI

Mengenai pabrik….

JUMENA

Kenapa?

JUKI

Kalau terus mereka dibiarkan mogok dan akang tetap diam saja, saya takut perusahaan akang lama-lama hancur

JUMENA

Saya tidak takut (Diam) saya bisa saja meluluskan permintaan mereka dengan memberikan tunjangan kesejahteraan kepada mereka. Kemudian, dalam tempo paling lama setengah tahun perusahaan saya pun segera bangkrut?

JUKI

Kenapa?

JUMENA

Kamu lupa gaji di perusahaan kita rata-rata setengah kali lebih besar disbanding dengan perusahaan lainnya?

JUKI

Saya kira tidak begitu

JUMENA

Orang-orang di sini rupanya hanya terdiri dari usus dan kantung sperma saja, sehingga tidak bisa berpikir. Sengaja saya kasih mereka gaji lebih besar, dengan harapan mereka punya kebisaaan menabung sendiri. Tapi yang terjadi mereka justru makin lapar. Dan lagi dengan system upah semacam itu saya kira bisa sedikit menyederhanakan administrasi kita

JUKI

Beri saja 10 atau 20 % dari gaji mereka sekarang

JUMENA

Lebih baik kamu berhitung lebih dulu, baru memberi saran. Kalkulasikan dulu semuanya yang betul. Ini bukan sekedar masalah emosional, ini masalah angka. Sebab itu secara dingin juga saya suruh mereka pilih; gaji tetap atau gaji diturunkan, kemudian baru saya beri mereka tunjangan. Dengan perbandingan sesuai dengan kebutuhan sekunder mereka

JUKI

Saya Cuma mengajukan jalan tengah. Saya hanya kuatir, lama-lama perusahaan akang ambruk

JUMENA

Lebih dulu mereka yang ambruk. Saya masih cukup uang simpanan sampai usia saya berlipat dua

8



EMOD, WARYA, MARKABA, LODOD DAN BEBERAPA LELAKI LAIN MUNCUL. SEMUANYA MEMBAWA GOLOK BESAR


JUMENA

Mereka sendiri yang akan lumpuh

ORANG-ORANG ITU BERSABAR MEMASUKI RUANG-RUANG DALAM RUMAH JUMENA. KELUAR



9


SUNYI


JUMENA

Juki 

(Juki melihat pada jumena)


Untuk apa kau hidup?


JUKI (Tersenyum)

Saya tidak pernah pikirkan itu. Buat apa?

JUMENA (Setelah agak lama)

Kenapa kau tidak kawin?

JUKI

Sekarang saya sedang pikir-pikir

JUMENA

Gila. Berapa umur kau? 

JUKI

Empat puluh….

JUMENA

Hampir lima puluh kau!

JUKI

Ya. Barangkali begitulah tepatnya

JUMENA

Kenapa tiba-tiba kau ingin kawin?

JUKI

Mulai capek badan saya. Saya ingin melihat ranjang saya penuh bertumpuk pakaian perempuan

JUMENA

Lalu?

JUKI

Saya kira memang sudah waktunya, setelah lama saya bertualang. Dan terus terang, saya begitu ingin berumah tangga, setelah ikut kerja pada akang. Akang tahu dulu saya sangat bergajul, lontang lantung tanpa tujuan apa-apa. Sekarang saya ingin bekerja keras, rajin dan cermat menabung. Saya ingin punya anak. Selain itu saya kira umur saya masih cukup panjang. Siapa tahu? Bukan tidak mungkin saya masih sempat melihat anak saya jadi arsitek

JUMENA

Sekarang umur saya sudah lewat jauh setengah abad, sementara tubuh saya merasa belum dilahirkan. Saya sungguh tidak tahu bagaimana seharusnya saya hidup. Saya tidak pernah merasa bahagia. Tapi kalau memang kebahagiaan hanya suatu keadaan senang yang sesaat mampir dalam hidup, terus terang saya pernah merasakannya. Adakalanya saya senang setiap kali melihat tumpukan uang saya, terutama belakangan ini. Seolah-olah saya menyaksikan harga saya dalam tumpukan uang itu. Tapi bagaimanapun saya tidak bisa menghindari bahwa saya akan mati juga. Kalau begitu rasanya segala apa yang telah saya kerjakan selama ini tidak lebih hanya mengisi kekosongan lain. Kau mengerti sekarang, kenapa tadi saya katakan bahwa sebenarnya bisa saja saya luluskan permintaan pekerja-pekerja itu, toh sama saja bagi saya.


JUKI

Kenapa tidak akang luluskan kalau bagi akang sama saja?

JUMENA

Ada sedikit bedanya, kalau permintaan mereka saya luluskan, mereka yang akan terhibur. Kalau tidak, saya yang terhibur. Saya pilih hiburan untuk saya. Cuma inilah yang saya dapat dari hidup. Kadang-kadang ingin saya baker saja semuanya,
(Tiba-tiba)
tidak begitu, saya akan kembangkan lagi usaha-usaha saya setelah saya benar-benar sehat dan mereka memahami keputusan saya. Sekedar mengisi waktu sebelum segalanya berakhir. Dan saya kira saya harus cari hiburan yang lain, karena hidup memang harus begitu kata semua orang, baik ulama maupun pemabok.
Tidak, saya tidak akan poya-poya seperti dulu, Juki. Bosan! Ah, nanti saya akan cari cara yang lain. Yang penting sekarang, saya harus menyelamatkan dan mempertahankan seluruh milik saya.


10


MUNCUL PEREMPUAN TUA


P. TUA

Pak guru, gan

SEGERA SAJA JUMENA MERASA SESAK LAGI. DANS EPERTI BISAA JUKI TIDAK TAHU MESTI BERBUAT APA KECUALI MEMAINKAN JARI TANGANNYA SENDIRI. LALU JUMENA MENDENGUS


JUMENA

Suruh saja masuk. Tapi Nyai tidak usah bikin minuman dulu! Lihat keadaan nanti.

PEREMPUAN TUA KELUAR


JUKI

Lebih baik saya….

JUMENA

Jangan pergi. Di sini saja. Tak ada yang penting. Tidak lama. Kalau perlu saya usir dia.

SETELAH ITU PEREMPUAN TUA MUNCUL LAGI. TIDAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL SABARUDDIN NATA PRAWIRA DENGAN UCAPAN ASSALAMU’ALAIKUM. YANG MENJAWAB HANYA JUKI


SABARUDDIN

Saya harap kedatangan saya tidak mengganggu.

JUMENA

Tidak. Saya agak sehat sekarang, setelah beberapa hari kemarin saya mulai pusing-pusing seperti bisaanya

SABARUDDIN

Boleh saya langsung ke persoalan?

JUMENA

Saya kira kalau kau sudah membaca surat saya tak perlu ada pembicaraan ini lagi

SABARUDDIN

Tapi ini bukan sekedar permasalah kau, Jum. Masalah hampir seluruh pemuka-pemuka kota ini. Saya telah menyusun panitia dan mendatangi beberapa orang penting seperti yang kita rencanakan. Sungguh tidak bijaksana kau batalkan begitu saja.

JUMENA

Saya bilang, sejak awal bahwa semua rencana itu saya kira mungkin akan menyenangkan saya, tapi kemudian setelah saya mengeluarkan uang untuk ini dan itu, saya tersadar dan segera saya pastikan bahwa semua itu tidak menyenangkan saya.

Saya lihat kau memang bahagia, tapi saya tidak dapat hidup bahagia bersama kau. Dengan demikian tentu saja tidak ada gunanya sedikit pun buat saya


SABARUDDIN

Lalu saya akan letakkan di mana muka saya?

JUMENA

Saya kira kau bisa minta tolong atau menghubungi orang-orang macam haji Bakri

SABARUDDIN

Hasilnya akan sama saja

JUMENA

Memang begitu saya kira, sebab mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sehingga mereka tidak perlu hiburan lain. Saya tidak.
(Setelah diam)
selain itu, ternyata di balik rencana-rencana itu ada pikiran-pikiran dasar yang keliru. Coba paparkan lagi rencana-rencana itu dan mari kita diskusikan

SABARUDDIN

Rencana-rencana itu mulia sekali, Jum. Kita akan membangung rumah penampungan social dan kita akan mengadakan pembaharuan mesjid. Maksud kita, kita akan memperluasnya, mencat pintu dan jendela-jendelanya, mengganti lantai semen dengan ubin-ubin dan juga kalau mungkin kita berhajat ingin memasang beberapa batang lampu neon di sana.

JUMENA

Dua buah rencana hebat luar bisaa. Ckk. Ck. Ck….. dari siapa rencana rumah penampungan itu mula-mula?

SABARUDDIN

Saya sendiri

JUMENA

Jelas, jelas suatu pikiran yang keliru. Sangat. Rumah penampungan? Indah sekali! Terbayang dalam kepala setiap orang yang mendengarnya sebagai suatu surga impian, dimana orang boleh makan-tidur Cuma-Cuma, dan kemudian orang percaya bahwa yang bernama manusia hanyalah mahluk yang terdiri dari mulut dan perut semata.

Pikiran keliru, sangat keliru. Saya tahu maksudmu baik tapi keliru, dan karena itu sangat berbahaya. Sabar, karena begitu besar cintamu pada sesame manusia barangkali, secara diam-diam dan mungkin tanpa kau sadari kau sedang merencanakan suatu tindakan yang akan mencelakakan manusia-manusia itu sendiri, terutama generasi yang akan datang.


Kau diam-diam akan mengajar mereka bermanja-manja dan malas! Tidak! Tidak! Kita harus mengajar mereka berdiri sendiri dengan kedua kaki mereka sendiri umtuk mengembangkan budi daya mereka sebagai mahluk termulia di bumi Tuhan ini. Juki, ada baiknya kau berdiskusi di sini.


JUKI TERSENYUM TIDAK ENAK


JUMENA

Perkenalkan dulu, ini Marzuki Kartadilaga, anggap saja adik saya sendiri, pedagang dari Jakarta (Kepada Juki) dan perkenalkan ini Sabaruddin Nata Prawira, kepala sekolah agama di sini.

KEDUANYA BERSALAMAN


SABARUDDIN

Enak di Jakarta?

JUKI

Di mana-mana sama saja, asal ada uang (Tersenyum)

SABARUDDIN (Tersenyum)

Dagang hasil bumi juga?

JUKI

Macam-macam

JUMENA

Nah, sabar, sekarang kau boleh bertanya pada Juki bagaimana saya dulu hidup. Barangkali kau tidak percaya dulu saya juga anak gelandangan alias pengemis

(Sabaruddin dan Juki tersenyum)


Saya sudah duga itu, kau tentu akan tersenyum tidak percaya. Tapi apalagi yang harus saya bilang: Saya, Jumena Martawangsa yang dilahirkan tanpa tahu bapak ibunya, sebab bapak saya meninggal sebelum saya lahir dan ibu saya meninggal untuk melahirkan saya. Kira-kira begitulah cerita orang. Apakah mereka ada atau tidak ada, saya tidak dapat memastikan. Satu-satunya yang pasti, saya dilahirkan dan pasti oleh seorang perempuan.


Pikirkanlah, saya dilahirkan di dunia yang kaya raya ini betul-betul telanjang bulat, tanpa popok dan gurita, nol dalam arti yang sejati.


(Diantara sunyi terdengar lolong seekor anjing. Perempuan Tua muncul membawa tempolong ludah dan mengganti tempolong di kaki kursi goyang)


Tidak masuk akal.


SABARUDDIN

Seperti dongeng saja

JUMENA

Ya, karena sekarang, saya kaya raya, tapi coba kalau saya tetap pengemis, tidak akan seperti dongeng, tapi seperti pemandangan buruk atau bahkan mimpi buruk.
Suatu malam di teras sebuah took di kota Cirebon, tempat bisaa saya tidur, seorang kawan bercerita bagaimana cina pemilik restoran yang gedungnya besar di seberang jalan, setindak demi setindak menjadi kaya. Ia bercerita bagaimana cina itu pada mulanya hidup miskin.

Sebelum punya warung, cina itu bekerja sebagai kacung, katanya di sebuah restoran. Dan sejak itu dia sangat rajin dan cermat menabung, sehingga pada suatu saat uang tabungannya cukup untuk modal berjualan rokok. Semakin lama semakin cermat ia, sampai pada suatu hari ia membeli sebuah warung kecil. Seterusnya ia membuka warung nasi Lengko sambil tetap berjualan rokok.


Dan jadilah ia taukeh restoran terbesar di kota itu. Kalian tahu apa yang saya pikirkan malam itu?


LAGI LOLONG ANJING


JUMENA

Di balik sarung kumal, malam itu, saya memutuskan saya harus keras bekerja dan harus cermat dan rajin. Harus! Dan seperti kau tahu, Juki. Saya kemudian tinggal di rumahmu sebagai kacung. Mujur untuk saya karena ayah Juki seorang guru yang baik, saya disekolahkan (diam)
Tapi setahun setelah saya menginjak lantai sekolah guru, Ayah Juki meninggal dan peristiwa itu memaksa saya harus magang di kantor sekolah saya sendiri, jelasnya membantu-bantu.

JUKI

Beberapa tahun kemudian ibu pun meninggal, juga karena sakit paru-paru.

JUMENA

Ya, saya dengar juga hal itu. Setelah itu kau ke Jakarta

JUKI

Lontang-lantung

JUMENA

Saya heran kau bisa jadi pedagang

JUKI

Lalu jadi apa?

JUMENA

Tapi ya kau mungkin meniru kebisaaan ibu

SABARUDDIN

Umumnya perempuan berbakat dagang

JUKI

Mungkin 

JUMENA

Paling tidak sifat itu tidak berasal dari ayah

JUKI

Ya 

SABARUDDIN

Kembali ke soal tadi

JUMENA

Nah, jelas barangkali dulu saya membayangkan manusia itu hanya mahluk yang terdiri dari mulut dan perut belaka. Tapi sejak memahami cina tadi, kemudian saya menyadari hal itu tidak benar. Dan sekarang saya yakin manusia adalah mahluk paling hebat! Di samping punya mulut dan perut dan mata, juga punya kepala dengan otaknya, punya tangan dan kaki

Kalau kau juga mau percaya, saya pernah juga berjualan balon keliling kota. Pendek kata hidup saya penuh dengan kerja dan kerja. Berpikir dan berpikir, dan sampai sekarang, begitu kekayaan telah dapat saya kumpulkan, toh saya masih cinta pada kerja. insyaAllah sebelum saya masuk liang lahat tak hendak saya berhenti bekerja dan berpikir. Lihatlah ke dalam, ke kamar kerja saya dengan rak-rak bukunya; bahkan saya pun tak hendak berhenti belajar. Ini hanya satu missal saja  dan coba apa jadinya kalau….


SABARUDDIN

Justru itu maksud saya, Jum. Kita akan memberi penerangan dan pendidikan pada gelandangan-gelandangan agar mereka cinta pada kerja

JUMENA

Gampang sekali itu. Undang dan kumpulkan saja mereka di mesjid dan berikan mereka penerangan dan pendidikan. Kalau perlu saya yang bicara di mimbar

SABARUDDIN

Satu hal Anda lupakan; bukankah anak-anak kecil belum mampu dan belum kuasa menggerakan daya upayanya?

JUMENA

Di bawah enam tahun, ya. Selebihnya adalah kemalasan. Dan kemalasan adalah kesalahan mereka sendiri. Kenapa mereka malas? Guratlah tangan saya dan tangan mereka, niscaya kau akan melihat darah yang warnanya sama; merah!
Sabar, bagi anak di bawah usia enam tahun rumah penampungan itu mungkin ada gunanya tapi merupakan racun mujarab belaka bagi anak-anak selebihnya. Bahkan merupakan tali gantungan bagi mereka yang sudah akil baligh. Sabar, untuk hari depan mereka , mereka harus hidup sebagaimana yang telah saya alami.
Dengarkanlah musik yang paling merdu dalam hidup ini; bekerja dan berpikir. Irama lagu kerja dan pikiran manusia akan mampu membelah gunung Ciremai menjadi tujuh bukit kecil.
Sabar, kita harus tega terhadap ujian-ujian yang sedang mereka hadapi. Jelas sekarang? Ini betul-betul masalah prinsip yang harus betul-betul dikaji. Jangan gegabah. Sabar. Niat membantu itu memang kelihatan gampang , tapi pelaksanaannya? Sepuluh dua puluh ribu memang apalah artinya  bagi saya? Tapi karena prinsip kita bertentangan, tidak mungkin saya ikut menyokong pembangunan itu. Saya tidak mau terlibat dalam kekhilafan yang besar ini. Demi Tuhan, tidak. (Pause) 
Bukti bahwa cinta itu sukar dimaknakan. (Senyum)

SEBENTAR SUNYI


Tentang mesjid sekarang. Biarkan saya bertanya dulu. Yang dimaksud dengan pembaharuan apakah pembongkaran dan pembangunan kembali?


SABARUDDIN

Ya, dalam arti yang luas kita akan memperluas mesjid itu dan memperindahnya….

JUMENA

Ha? Memperindah? Materialistis! Materialistis! (Menghisap nafas berat) ya Allah, ampunilah hamba (Menggeleng-geleng) saya yakin, biarkan saya bertanya lagi. Rencana siapa itu?

SABARUDDIN (Menahan diri)

Sebagian besar kaum ulama. Juga umumnya para penduduk di sini

JUMENA

Kalau begitu gampang saja; sebagian besar penduduk di sini sinting dan rusak iman! Ya Allah, ampunilah hamba. Sebagian ulama, sebagian besar? Allahu Akbar! Saya yakin, saya yakin. Sabar. Kau sedang terbawa arus megah-megahan dank au tidak sadar. Kau sedang menghadapi godaaan besar. Sabar. Dan saya yakin sebenarnya kau mengerti sebab kau telah khatam AlQuran berkali-kali.

Allah tidak mengharapkan pintu-pintu dan jendela-jendela yang bercat meriah; Allah tidak mengharap lantai dari ubin; Allah tidak mengharap permadani dari Turki; Allah tidak mengharap lampu neon  yang berbatang-batang. Tidak! Allah tidak menghendaki semua itu. Allah terutama menghendaki hati dan pikiran manusia yang jernih bersemangat lagu kerja. Ya Allah, ampunilah hamba.

Sabaruddin (Sesak) Materialistis!

Dengarkan; Materialistis! Janganlah mendahulukan badan daripada hati dan pikiran. Sejelek-jelek wajah rupa orang yang penting hatinya juga. Seburuk-buruk langgar atau mesjid yang penting umatnya juga


SABARUDDIN

Tapi bukankah lebih baik hati baik, badan pun baik?

JUMENA

subhanaAllah! Kesempurnaan tidak terletak di sana. Kau mengerti (Berpaling ke Juki) Juki? (Kembali ke Sabaruddin) tidak! Tidak. Kesempurnaan terletak pada apa yang ada di dalam. Di dalam! Atau kualitas!!

SEMENTARA ITU MUNCUL EUIS MENGHIDANGKAN TIGA CANGKIR KOPI PANAS


JUMENA

Saya yakin kau tidak bisa membantah pikiran saya. Sebab pikiran yang saya anut juga terdapat dalam kepala orang-orang yang baik di seluruh dunia. Termasuk seorang guru yang bernama Sabaruddin Nataprawira (Menghela napas sambil duduk)
Nah, marilah kita minum

EUIS

Mangga di leueut (Keluar)

JUMENA

Silakan (pada Juki) Kopi, Juki (setelah Juki mengangkat cangkirnya) Kopi di sini tidak kalah dengan kopi Ambarawa atau bahkan dengan kopi Arabica – kau merokok, Sabar?

SABARUDDIN

Merokok. kretek

JUMENA (Tersenyum)

Kau juga merokok, Juki?

JUKI

Commodore

JUMENA

Sama saja. Oleh karena itu kopi dan rokok sanagt jodoh sekali dengan kita. Kafein bisa memperlemah nikotin, kata orang. Saya kira benar. Kita sama-sama tahu dari surat kabar, bahwa rokok bisa mengakibatkan kanker, sementara kopi pantangan untuk si penyakit jantung.

Tapi kalau keduanya bertemu akan menyebabkan keadaan netral (Tersenyum) Saya sangat terhibur oleh keganjilan-keganjilan ini.


JUKI DAN SABAR CUMA TERSENYUM


SABARUDDIN

Sedemikian lebar mang Jumena berbicara, sebenarnya hanya untuk mengatakan tidak akan menyokong pembangunan itu. Saya heran mengapa mang Jumena tidak berterus terang saja bahwa mang Jumena berkeberatan atas perluasan mesjid, karena akan menyangkut tanah hak mang Jumena.

JUMENA (Geram)

Saya juga heran kenapa Anda tidak segera menjelaskan bahwa rencana pembangunan mesjid akan menyangkut saya punya tanah

SABARUDDIN

Say kira Anda sudah mengerti sendiri tentang hal itu

JUMENA

Kalau Anda beranggapan begitu, sebaliknya saya menganggap perlu menjelaskan panjang lebar kenapa saya menolak rencana-rencana itu

SABARUDDIN

Tapi, bagaimanapun, sekarang mang Jumena tahu , saya bukan orang yang cepat putus asa untuk meyakinkan seseorang. Memang sejak lama saya mendengar orang mengatakan bahwa mang Jumena adalah seorang a-sosial, sementara semua orang tahu di daerah ini hanya Bapak Jumenalah yang paling kaya

JUMENA

Dan bagaimanapun sekarang,  kau betul-betul tahu bahwa saya bukan seperti apa yang dibayangkan orang. Saya punya prinsip

SABARUDDIN

Tapi setidaknya mang Jumena bisa lebih berperasaan  tentang segala rencan yang mulia itu. Sama sekali saya tidak menduga  bahwa mang Jumena sampai hati mencerca sedemikian rupa semua rencana itu.

JUMENA (Meluap)

Apakah orang akan mengharap….

JUKI (Kikuk)

Saya kira sebaliknya…..

JUMENA

Tidak, Juki. Saya perlu saksi. Saya minta kau mendengarkan semua ini dengan obyektif.

(Juki duduk lagi. jumena tegang menahan amarah)


saya percaya sauadara Sabar pun mengerti bahwa berbicara atau menuduh tanpa fakta adalah sangat berbahaya. Saya a-sosial? Saya sungguh tidak tahu cara kau berpikir. Dengarlah, apa kekurangan saya sebagai seorang muslin? Atau seseorang yang hidup di suatu masyarakat? Setiap Jumat saya memberi sedekah kepada orang-orang miskin yang berbondong-bondong datang kemari. Dan setiap hari raya Idul Fitri saya tidak lupa mengirimkan zakat fitrah. Begitu pun saya tidak pernah lalai menunaikan zakat dank urban pada setiap ahri raya Idul Adha. Saya buka sawah, perkebunan, pabrik untuk menggerakan masyarakat, agar suka berkerja dan meningkatkan daya piker mereka.

Saya melepaskan mereka dari dongeng-dongeng tetek bengek. Dan saya kira, dalam ukuran saya, juga merupakan suatu kebanggaan bahwa saya rela menunjang seseorang yang tidak waras dalam rumah ini yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya; hanya akrena dulu dia pemilik rumah ini yang tidak punya lagi keluarga
Apalagi yang Anda harapkan dari saya? Dan lagi sudah saya bilang persoalannya tidak terletak di sana. Persoalannya terletak pada prinsip. Terus terang saya katakan saya tidak melihat manfaat dari semua rencana itu kecuali mudoratnya karena hasilnya akan sia-sia

SABARUDDIN

Maaf, mang Jumena bisa membuktikan semua itu?

JUMENA

Apa harus saya ulangi lagi bahwa saya dilahirkan di dunia yang kaya raya ini hanya dengan bekal nol? Bangun dan berdiri dengan kaki sendiri? Sesudah enam tahun usia saya, tak satu tangan pun yang menunjang hidup saya kecuali tangan Jumena Martawangsa sendiri. Maka saya yakin apa yang telah dapat saya kerjakan dapat juga dikerjakan oleh siapa saja

SABARUDDIN

Saya kira hal itu kebetulan….

JUMENA

Kebetulan? subhanaAllah! Kita orang beragama tidak mengenal istilah kebetulan! Semua, apa saja, hanyalah karena asma Allah.

Dan apakah saya dibedakan Allah dari yang lain? Tidak! Apakah saya Nabi!? Bukan! Saya Jumena Martawangsa, tak kurang dan tak lebih manusia normal, sama dan sebangun dengan Miska si tukang air yang bisaa mengisi kolam air mandimu.


Barangkali juga kau ingin tahu kenapa saya katakan rencana itu hanya akan menghasilkan kesia-siaan? Jelas, rencana yang kau anggap mulia itu hanya mulia dalam pikiranmu. Dapatkah kau menjelaskan secara terperinci rencana-rencana itu? Kau hanya punya rencan global. Coba jawab, darimana akau kau dapat secara kontinyu dana untuk kelangsungan penampungan itu? Sudah kau pikirkan itu? Saya yakin belum. Nah, apa artinya? Yang jelas rumah penampungan itu dalam masa dua tahu akan berubah menjadi rumah hantu yang penuh sawang debu. Dan sekarang akui saja bahwa Anda termasuk orang yang hanya ingin menang dalam sejarah, yang hanya ingin mengatakan bahwa manusia mesti mencintai sesamanya.


Tapi saya ingin membuktikan bahwa yang dibutuhkan orang-orang di sini, bangsa kamu adalah semangat kerja dan berpikir dan bukan rasa kasihan. Maaf, kalau saya terlalu kasar, tapi saya selalu tidak bisa menahan diri setiap kali membayangkan bangsa kamu.


SEJENAK SEPI. TIBA-TIBA MUNCUL DARI PINTU LUAR KAMIL. DIA MENYALAMI SEORANG DEMI SEORANG SAMBIL TERTAWA. LALU KELUAR


KAMIL

Jee, ada tamu

SABARUDDIN

Saya kira sudah waktunya untuk mohon diri. Saya minta maaf karena saya bertemu sampai larut malam 

JUMENA

Tidak apa. saya suka berdiskusi. Sekali lagi Anda harus pikirkan seratus kali lagi semuanya. dan camkan bahwa pikiran….

SABARUDDIN

Ya,ya, ya.

SETELAH PAMIT, SABARUDDIN KELUAR


11


JUMENA

Jelas bukan? ini persoalan prinsip. Kau tahu, Juki Begitu sampai di rumah ia akan ia akan ikut mengusilkan bahwa Si Jumena makin medit, si kikir yang pelit, akik, bakhil, cetil…..
Boleh! boleh saja semua orang  di sini meneriakkan dengan lantang semua sebutan dan sindiran itu. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi orang-orang bodoh dan malas itu?
Bangsat semua. apa yang mau diandalkan mereka? Gotong Royong? Saya tidak pernah membayangkan apa-apa tentang orang-orang di sini. Kecuali seperti abrisan perempuan-perempuan yang bergotong royong mencari kutu. Katakan….

(Tiba-tiba kejang. Segera juki menolong)


Tidak apa-apa…. tidak….


12


KETUKAN PADA PINTU


JUMENA (Dalam kesakitannya)

Masuk!

JUKI

Masuk!

TIDAK ADA SAHUTAN. TIDAK ADA YANG MUNCUL. LALU KETUKAN LAGI


JUMENA & JUKI (Hampir bersamaan)

Masuk!

JUGA TAK ADA SAHUTAN. JUGA TAK ADA YANG MUNCUL. LAGI KETUKAN ITU SEHINGGA MENYEBABKAN JUMENA KETAKUTAN. SEGERA JUKI PERGI KELUAR. KELIHATAN JUMENA SEMAKIN KETAKUTAN DI RUANG TENGAH YANG LENGANG ITU. JUKI JUGA TAK HABIS PIKIR KETIKA KEMBALI MASUK


JUMENA

Siapa?

JUKI

Tidak ada siapa-siapa

JUMENA (Bangkit gemetar)

Barangkali kau lihat seorang lelaki yang….Tidak, maksudku apa kau melihat seseorang yang….

JUKI

Saya yakin tidak ada siapa-siapa. Mungkin….

LAGI KETUKAN PADA PINTU . DENGAN KETAKUTANNYA, JUMENA KEMBALI DUDUK


P. TUA

Siapa sih? (Dari dalam)

(Muncul perempuan tua dengan membawa sebuah pisau dapur)


Siapa?


JUKI

Tidak ada siapa-siapa

P. TUA (Sambil menuju ke serambi)

Aneh

TAPI BARU SEPARUH PERJALANAN TIBA-TIBA KEDENGARAN SUARA ORANG TERTAWA LALU MUNCUL SI EDAN KAMIL


KAMIL

Saya yang ngetok dari belakang. Eksperimen

(Jumena menggeram kesal sementara juki cuma tersenyum. tapi Nyai mengumpat)


Bisaa. orang kaya selalu sembarangan!


P. TUA

Maen-maen!

SAMBIL TERUS NGEDUMEL, NYAI MASUK KE DALAM. KELUAR


KAMIL

Ada kabar penting untuk agan Jumena Martawangsa

(Sementara juki bergerak ke suatu sudut sambil tersenyum dan kemudian menyalakan rokoknya. Kamil dengan langkah sangat hati-hati ‘slow motion’ mendekati Jumena yang berusaha menahan diri. Kamil dengan gaya berbisik tapi cukup keras)


Istrimu serong!


JUMENA

Hah? Kurang ajar!

KAMIL

ORang kaya selalu kurang ajar!

(Juki tidak tersenyum lagi tentu)


Apa agan tidak percaya? Percayahlah pada fakta. Dan berita ini dari sumber yang layak dipercaya. apa agan juga memerlukan sumber berita itu?


(lalu Kamil mendekati pintu kamar dan teriak di sana)


Euis, Euis! keluar, Euis! Suamimu tidak percaya bahwa kau seorang istri yang suka serong!


MUNCUL EUIS, BERANG DAN JUKI MAKIN TIDAK ENAK HATI BERADA DI SANA. JUMENA BELUM TAHU HARUS MELAKUKAN APA. NAPASNYA NAIK TURUN PENDEK-PENDEK


EUIS

Kurang ajar! Jangan bicara sembarangan ya! Sinting!

KAMIL

Bicara sembarangan? hak orang kaya, bukan! Bicara sembarangan! serong! Dikutuk Nabi Hidir kamu!

EUIS

Setan, tutup mulut kamu!

KAMIL

sayabmenutup mulut? saya membungkam kebenaran? Kalau saya menutup mulut, maka berarti kejujuran telah tamat riwayatnya. Atau kau mau menyuap? Kau lupa Tuhan tidak bisa disuap?

EUIS

Jangan diam saja, akang. lakukan sesuatu!

LALU PEREMPUAN ITU MENGAMBIL ASBAK


JUKI

Kamil, keluar!

EUIS

Kalau tidak segera pergi, saya pukul kepalamu yang tidak waras itu!

KAMIL

Hampir saja kau berbuat keliru, Euis. Yang mesti kamu pukul bukan kepala yang briliyan ini tapi kepala yang itu (Menunjuk Juki)

EUIS

Biadab!

KAMIL

Biadab! apa itu nama orang kaya?

JUMENA (Bangkit, berang, besar)

Kamiiil! pergi kamu! Aku potong leher kamu!

KAMIL

Filsuf tidak memerlukan kepala

EUIS TAK TAHAN LAGI, DILEMPARNYA KAMIL DENGAN ASBAK, DAN KAMIL TERUS LARI SAMBIL MENGOCEH. DAN SETELAH PENTAS JADI KACAU KARENA KAMIL TERUS BERPUTAR-PUTAR DIKEJAR EUIS, LALU TERJADI KEKAUAN ANTARA JUKI DAN JUMENA


JUMENA

Persis dugaan saya. tapi kenapa bangsat itu melapor justru saat kedua ekor binatang ini ada di sini

MUNCUL EUIS YANG MARAH. LALU SAMBIL MENANGIS, IA MASUK KAMAR


JUKI

Saya keluar sebentar, akang

LALU JUKI MENINGGALKAN JUMENA SENDIRIAN. KEMUDIAN JUMENA MEMUKUL KEPALANYA SENDIRI. MUNCUL PEREMPUAN TUA MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH


JUMENA (Sendiri)

Tapi kalau memang mereka bersungguh-sungguh, kalau laporan si gila itu benar, kenapa Euis dan Juki tidak minggat saja dari rumah ini? (Diam) Semuanya menyembunyikan kuku sementara bibir mereka mengulum senyum

SETELAH TADI MENYAPU KERINGAT PADA WAJAH DAN LEHER JUMENA LALU PEREMPUAN TUA MENINGGALKAN LELAKI TUA ITU


13


EUIS MUNCUL. LAMA TIDAK ADA PERCAKAPAN


EUIS

Akang

JUMENA

Hmmm?

EUIS

Akang percaya?

JUMENA

Kenapa mesti dipusingkan?

EUIS

Euis takut

EUIS TERUS BERBICARA TANPA SUARA SEMENTARA JUMENA MULAI MENDAPATKAN KETEGANGAN


14


DETAK-DETIK LONCENG KERAS SEKALI. KADANG MENJELMA SUARA TITIK AIR


JUMENA (Terpejam)

Bangsat!

SUARA DUA EKOR ANJING. MUNCUL JUKI, LANGSUNG MERANGKUL EUIS DAN MENCIUM RAMBUT EUIS TEPAT DI UBUN-UBUN.


EUIS

besok dia akan menceraikan saya

JUKI

Kenapa?
EUIS
Dia seperti berada di ujung beribu-ribu pisau dan berusaha untuk menghindarinya. dia takut harta-hartanya akan jatuh  ke tangan saya apabila ia mati dan ia tidak rela hartanya jatuh ke tangan orang lain

JUMENA

Kejadian seperti ini mungkin dan tidak mungkin

JUKI

kalau begitu sekarang kau yakin pada apa yang telah saya katakan, bukan? rasakanlah baik-baik dendammu itu. saya tahu sekali kau sedang berdendam. dari dendam kau bisa tarik bayangan hari depanmu yang amat menakjubkan

EUIS

saya belum pernah merasakan seperti ini. juga saya tak pernah bisa dendam sebegini hebatnya. tapi saya tak bisa melenyapkan kebimbangan ini

JUKI

Sangat berbahaya membiarkan kebimbangan pada saat-saat begini. euis kau harus mampu melepaskan kelemahanmu. kau ahrus kuat dan berani.
Dalam mewujudkan cita-cita dari keinginan, kita hanya punya waktu sempit sekali. Kita hanya punya waktu satu detik., untuk memilih, memutuskan dan melakukan. Hitam, hitam. Putih, putih. Kita terima seluruhnya atau kita tolak seluruhnya. Dengan sikap banci kita hanya akan jadi kapas yang gampang dihempaskan angina kemana-mana. Hampa dan akan menjadikan kita gila.


EUIS

keluarga saya keluarga baik-baik

JUKI

Apalagi keinginanmu? Semuanya akan berlangsung dengan lancer hanya dalam waktu beberapa menit. Aku tahu benar apa kehendakmu. Aku hanya membantumu agar kau lebih berani

(Semangat euis bangkit. euis mengambil pistol)


Ingatlah Euis, besok kau akan dicerai. Apakah kau masih tega ikut menghabiskan lagi makanan yang yang sangat sedikit di rumah orang tua mu itu? Ambilah racun itu!


EUIS

Kenapa dengan racun?

JUMENA

Tembak saja! Tembak saja, bangsat!

(Euis Menembakkan Pistol Itu Beberapa Kali Lalu Lari Bersama Juki)


Ayo tembak, bajingan!


15


PEREMPUAN TUA MUNCUL MEMBAWA ALAT KOMPRES. LONCENG BERDENTANG. JUMENA MENJADI TENANG DENGAN KOMPRES ITU



P. TUA

Kalau saja agan mau berdoa

JUMENA

Saya sangat capek

P. TUA

Agan terlalu keras bekerja, agan tidak pernah istirahat

(Suara kecapi. Sayup-sayup. Juga suara kodok)


Saya hampir tidak percaya ada orang yang tidak pernah berbahagia, apalagi orang yang seperti agan. Saya juga sebatang kara. Suami saya sudah lama mati dan anaks aya satu-satunya pergi tidak pernah berkabar lebih dari sepuluh tahu. Memang saya merasa sepi dan sedih, tapi setiap kali saya masih bisa merasa bahagia kalau saya sedang melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya bahagia melihat orang lain bahagia . dan saya tidak habis mengerti kenapa ada orang yang tidak bahagia


JUMENA

Saya sangat sepi. Saya tidak pernah punya anak. Saya selalu bertanya untuk apa segala hasil keringat saya selama puluhan tahun ini?

P. TUA

Kenapa agan tidak percaya Euis sedang mengandung?

JUMENA

Sudah empat puluh tujuh kali ia bilang begitu, dan ini yang ke empat puluh delapan

P. TUA

Tapi bukan tidak mungkin kali ini benar

JUMENA

Mungkin dan tidak mungkin. Saya betul-betul sendiri di dunia ini

P. TUA

Maaf, gan. Apa tidak sebaiknya agan mengambil anak angkat?

JUMENA

Tidak! Saya pun tidak tahu kenapa. Tapi saya tidak mau

(Sejenak tidak ada percakapan)


P. TUA

Agan kelihatan mulai mengantuk

JUMENA

Rasanya begitu

P. TUA

Bagaimana kalau agan mencoba tidur di dalam?

JUMENA

Saya coba

(Jumena bangkit melangkah tapi ragu)


P. TUA

Ada apa, gan?

16


TIDAK MENJAWAB JUMENA LALU MELANJUTKAN MELANGKAH, KELUAR, DIIKUTI PEREMPUAN TUA, SEPI SEJENAK. LALU SUASANA RUANG KULIAH DAN MUNCUL KAMIL YANG MEMBAWA JUMENA DENGAN MENJAMBAK RAMBUTNYA.


KAMIL

Nah, sekarang kuliah kita lanjutkan. Ini adalah manusia. Ini kepalanya, ini kakinya. Ini adalah manusia yang jelek proporsinya. Kepalanya lebih besar daripada dadanya. Dan perutnya jauh lebih besar lagi.
Jenis ini adalah jenis yang paling dekat dengan kera. Kalau ia terus berbiak dan beberapa tingkat lagi niscaya ia akan menajdi kera. Nah sekarang jelas kekeliruan radikal teori Darwin. Bukan manusia berasal dari kera. Tapi kera berasal dari manusia

(Tiba-tiba semua lampu padam. Kamil senang sekali)


Kiamat. Ternyata kiamat lebih cepat daripada perkiraan ahli meteorology. Saya datang, Tuhan. Halo sahabatku (Keluar)


JUMENA

Lampu! Lampu!

(Sambil terkekeh kamil keluar dan mengulangi kuliahnya)


Lampu! Saya tidak mau kecurian! Lampu!


MUNCUL PEREMPUAN TUA MEMBAWA LILIN, SEGERA JUMENA MENDEKATINYA


P. TUA

Lampu seluruh kota mati gan

JUMENA

Kurang terang! Kurang terang! Bawa dua atau tiga lilin dan letakkan di sini! Jendela buka! Semua! Nyalakan petromak!

(Ketika jumena mengacungkan pistolnya, lalu euis muncul membawa dua lilin. dan muncul lagi perempuan tua membawa yang lain. di suatu sudut jumena mengawasi sekitar.)


Saya tidak mau kecurian. Saya tidak mau mati dalam keadaan gelap seperti ini. Selain itu saya tidak bisa membedakan apakah saya masih hidup atau tidak dalam kegelapan yang keparat ini.

Saya hampir tidak bisa bernapas. Kegelapan seperti menyumbat hidung dan mulut saya dengan kain lakan hitam yang bau. Oh, kalau saja kegelapan ini berdaging akan saya tembak dahinya

(Tiba-tiba semua lampu menyala dan jumena menutup matanya. Silau)


Bangsat! Cahaya! Sama menyiksanya


PEREMPUAN TUA KELUAR



17



JUMENA DAN EUIS. BEBERAPA SAAT KEDUANYA MEMBISU


EUIS

Akang

(Jumena Cuma memandang)


Akang susah


JUMENA

Puncak dari susah kalau orang sedang memikirkan kematian padahal orang itu belum bersedia mati

EUIS

Selalu pikiran tentang itu. Pikiran yang sangat ngeri (Menggigit bibirnya)

JUMENA

Tapi memang begitu. Lebih lima-enam puluh umur akang barangkali. Hampir lima tahun lalu kita bersanding jadi pengantin. Ngeri sekali di rumah ini, pada malam-malam seperti ini, tiba-tiba berpikir tentang mati. Padahal baru saja akang kembali meyakini bahwa yang penting dalam mengisi hidup adalah kerja, berpikir dan kerja. Tiba-tiba akang berpikir tentang mati….
Akang sedang berpikir seandainya akang mati ketika sedang duduk di kursi itu, padahal seorang anakpun belum punya. Enam tahun berumah tangga

EUIS

Hampir lima tahun akang

JUMENA

Semakin tua, terasa roda waktu seperti roda raksasa, berputar dan bergemuruh dalam senyap dan gaib, tanpa kita bisa melihat sebab begitu cepat bagaikan kilat. Kalau saja ada satu atau dua anak kita, tak akan lembab rumah ini

EUIS (Ragu-ragu)

Akang 

(Jumena Cuma memandang)


Mungkin…..


JUMENA

Mungkin dan tidak mungkin

EUIS

Mungkin….

JUMENA

Sudah lebih dari cukup kau mengatakan ini. Kau akan mengatakan kau sudah berisi dan minggu depan kau diam-diam haid

EUIS

Sejak gadis dulu, Euis memang bisaa telat, akang. Tapi kali ini Euis merasa yakin. Sudah hampir dua bulan Euis tidak haid. Nyai juga berani memastikan. Dan kalau akang mau besok kita sama-sama pergi ke dokter

JUMENA

Lebih baik kau diam. Kalau benar kau hamil, lahirkan saja.

(Hening)


Tiba-tiba badan saya berkeringat seperti ada yang meremas-remas di dalam. Aneh sekali perasaan saya belakangan ini


EUIS

Kenapa, akang?

JUMENA

Saya tidak punya anak (Memejamkan matanya) tidak satupun suara anak-anak dalam rumah ini. Badanku akan terkantuk-kantuk di situ dengan pernafasan yang sesak, tua dan tanpa seorang anak.

EUIS

Akang selalu menyesali rumah ini, Euis jadi sedih

JUMENA

Saya hanya bertanya kenapa semua ini terjadi?

(Tiba-tiba jumena memegang kedua pelipisnya dengan kedua ujung telunjuknya)


Sebentar, sebentar. Saya ingat sesuatu sekarang


18


MUNCUL SABARUDDIN NATAPRAWIRA


JUMENA

Sabar….

SABARUDDIN

insyaAllah saya akan menimbang penuh dengan pikiran saya, meskipun saya yakin sukar sekali hidup hanya dengan pikiran dalam hidup yang begini banyak dengan hal-hal yang tak terpikirkan!

JUMENA

Tidak begitu. Sabar. Kau kira saya tidak mengerti kenapa saya tidak atau belum punya anak?

SABARUDDIN

Berapa kali kau beristri?

JUMENA

Tiga kali

EUIS

Empat kali, akang

JUMENA

Ya, empat kali

SABARUDDIN

Semua subur?

JUMENA

Semua perawan. Subur seperti hutan

SABARUDDIN

Nah….

JUMENA (Marah tiba-tiba)

Kamu kira saya orang bodoh!? Persoalan ini gampang sekali dicernakan. Ini masalah hormone saja atau masalah medis lainnya dan jelas bukan masalah pelik di luar akal

SABARUDDIN

Kalau kau ma terus mengusut persoalan itu dan mau jujur, kau akan mendengar firman itu. Setiap detik Tuhan berfirman pada mahluknya

JUMENA

Jangan bawa-bawa firman. Ini bukan apa-apa. Ini hanya masalah nasib sial

SABARUDDIN

Tapi toh mang Jumena selalu mengeluh….

JUMENA

“Terkantuk-kantuk, tua dan sepi”

SABARUDDIN

Kalau saja kau mau berdoa

JUMENA

“Hampir tanpa siapa-siapa”

SABARUDDIN

Selalu kau hanya bertanya dan bertanya dan bertanya…..

JUMENA

“Untuk apa, untuk siapa semua ini?”

SABARUDDIN

Akan terus bertanya dan bertanya sementara berjuta-juta pertanyaan berbaris di belakangnya

JUMENA

Cukup. Saya tidak memerlukan kamu lagi

SABARUDDIN

Saya akan pergi tapi saya akan selalu datang lagi karena sebenarnya kau memerlukan saya

KALI INI PANJANG SEKALI. LOLONGAN ANJING DI KEJAUHAN


JUMENA

Kadang saya geram mendengar lolongan anjing seperti itu

EUIS

Akang 

(Jumena Cuma memandang)


Akang, bukankah akang saying pada Euis?


JUMENA

Kenapa?

EUIS

Kalau memang akang saying pada Euis. Tak usahlah akang memikirkan yang tidak-tidak. Bukankah akang tidak sendirian di rumah ini?

JUMENA (Tersenyum)

Ya, memang. Kaulah satu-satunya orang yang mengisi ruangan ini

EUIS

Euis sangat saying pada akang. Sanagt amat sayang

JUMENA

Tentu saja kau sangat saying sama akang. Kalau tidak, masa kau mau tinggal di sini selama hampir lima tahun

EUIS

Betul, akang. Kalau tidak ada akang di dunia ini entah bagaimana rasanya hidup ini

JUMENA

Betul?

EUIS

Tentu saja betul. Kalau tidak, masa Euis mau tinggal sama akang selama hampir lima tahun

JUMENA TIBA-TIBA MERASA LEGA SEKALI SEPERTI BARU SAJA MEMECAHKAN PERSOALANNYA YANG AMAT BESAR


JUMENA

Keliru saya. Sebenarnya saya ini bahagia tapi saya tidak tahu

EUIS

Akang 

JUMENA

Hm?

EUIS

Tidak usah merisaukan kematian lagi

JUMENA (Tiba-tiba lunglai)

Terkantuk-kantuk, tua dan sepi dan tanpa anak

EUIS

Apa akang menganggap Euis tidak ada?

JUMENA (Tersadar)

Maksudmu?

EUIS

Bukankah apa saja yang akang perbuat untuk Euis?

JUMENA

Kenapa kau bertanya begitu?

EUIS (Heran)

Kenapa?

JUMENA (melotot, nanar, marah, kacau. Ngambang)

Ya Allah, untuk apa, untuk siapa?

EUIS (Takut)

Akang 

(Jumena diam saja)


Kenapa akang?


JUMENA (tajam)

Sudah lama kau pikirkan itu?

EUIS (Menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti)

Akang 

JUMENA

Aku melihat mata ketiga istriku yang dulu dalam pandangamu. Jelas. Tidak! Jangan kau berpikir semacam itu. Kenapa kau bertanya begitu? Kenapa? Jawab singkat!

EUIS

Euis tidak mengerti akang

JUMENA

Ingatlah, geulis! Kau kukawini bukan untuk memindah hak hartaku. Sekarang kau bertanya persis seperti yang telah ditanyakan oleh ketiga istriku yang dulu. Tidak! Tidak! Kau kira dengan kedudukanmu sebagai istriku kau bisa merebut hartaku? Hartaku yang telah kukumpulkan dengan seluruh keringatku yang sekarang sudah hampir kering ini? Semua perempuan mata duitan!

EUIS (Puncak tangis bercampur amarah yang kuat tertahan)

Akang, apa kesalahan Euis? Apa? Euis pernah minta apa? Selama hampir lima tahun Euis jadi sitri akang, pernahkah Euis minta apa-apa? Apa akang lihat orang tua Euis tiba-tiba menjadi kayak arena Euis menjadi istri akang? Selama Euis di rumah ini, Euis hanya dilimbur ketakutan padahal Euis Cuma mengharap cinta akang

JUMENA (Semakin gila)

Tidak! Tidak seorang pun kubiarkan mengangkat lemari itu. Bahkan tidak seorang bidadaripun kubiarkan merayuku agar aku menyerahkan hartaku. Hartaku adalah keringatku, milikku satu-satunya yang kuharap menjadi pelipurku yang terakhir. Sekarang kau mau merebutnya

EUIS

Siapa mau merebutnya, akang? Euis tidak mengharapkan semua itu sama sekali. Euis hanya mengharapkan cinta akang. Tidak percayakah ada orang yang hanya membutuhkan cinta?

JUMENA

Aku pun membutuhkan cinta selama hidup, tapi yang kudapat hanya orang-orang semacam kau yang berniat merebut hartaku

EUIS

Percayalah, akang tidak akan pernah bisa dicintai selama akang tidak pernah mau dicintai. Jangan lanjutkan pertengkaran ini, akang. Euis tidak ingin akang tinggalkan. Dan biar akang lega, tulislah sekarang surat wasiat akang dan jangan sebut-sebut nama Euis, juga jangan anak dalam kandungan ini (Menangis keras)

(Beberapa saat tidak ada percakapan. Di ujung tangisnya yang mereda)


Selalu saja salah. Selalu saja berburuk sangka


(Euis menghapus bersih air matanya. Mencoba menghapus seluruh kesedihannya)


Akang, lebih baik kita berbicara yang lain. Euis minta maaf kalau memang Euis salah tadi.


JUMENA (Setelah lama)

Saya piker juga begitu. Memang buat apa sepasang suami istri membicarakan hal-hal seperti itu

EUIS

Iya akang. Pijit akang? (Euis memijit Jumena)

JUMENA

Seorang istri memang seharusnya bersikap begini. Saya lebih senang mendengar pertanyaan soal-soal dapur daripada soal-soal harta (Tersenyum tiba-tiba) piker-pikir, kita ini sebenarnya sangat bahagia

EUIS

Bahagia, akang. Seumpama merpati terbang berduaan diangkasa luas dan mampir ke pohon-pohon berbunga

JUMENA

Nanti dulu! Aku selalu curiga setiap nasib baik yang jatuh tiba-tiba. Aku merasakan sesuatu kebahagiaan yang ganjil malam ini. Rasanya dilebih-lebihkan seperti dalam lakon-lakon film

EUIS

Ada apa lagi akang?

JUMENA

Tidak!

EUIS

Akang?

JUMENA

Untuk apa, untuk siapa?

EUIS

Apakah kita akan bertengkar lagi, akang?

JUMENA

Malam ini mungkin, tapi besok dan seterusnya kita tidak akan pernah lagi. Coba jawab; bagaimana seandainya aku tiba-tiba mati malam ini?

EUIS

Gustiku, bagaimana aku mesti berkata. Tentu saja Euis akan sangat berduka dan bukan tidak mungkin Euis akan pingsan

JUMENA

Dan kemudian kau akan siuman lagi dan segera kau akan menghitung-hitung harta peninggalanku

EUIS (Kaget bukan kepalang)

Akang!

JUMENA

Tidak. Aku mengerti sekarang mengapa kau tiba-tiba merubah sikap dengan sikap gembira yang dibuat-buat. Jelas. Aku sebatang kara di dunia ini. Kalau aku mati, maka warisan seluruhnya jatuh ke tangan mu yang lentik itu.

EUIS

Akang, bunuhlah saya, kalau saya berpikiran seburuk itu

JUMENA

Tidak. Tidak. Siapapun tidak berhak atas hartaku kecuali Jumena Martawangsa yang telah memeras keringat selama lebih empat puluh tahun. Aku harus merasa aman, hartaku mesti aman. Kalau begitu kita harus cerai!

EUIS

Akang!

19


TIBA-TIBA WARYA DAN BEBERAPA LELAKI MASUK


WARYA

Gan, pabrik terbakar, gan!

JUMENA

Ha?

WARYA

Terbakar!

LELAKI

Pabrik tenun, gan!

EUIS

Gusti 

JUMENA

Ini pasti setan bajingan

JUMENA MASUK MENGAMBIL PISTOL DAN KEMUDIAN BERSAMA-SAMA KE PABRIK TENUN YANG TERBAKAR



20


PEREMPUAN TUA MUNCUL MEMBAWA TEMPOLONG LUDAH MENGGANTI TEMPOLONG DI BAWAH KURSI GOYANG


P. TUA

Hanya dengan tidur….

LAYAR


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »