Tafsir Tun Teja dan Hang Jebat dalam Bayang-Bayang Mitos Globalisasi

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Agus Sri Danardana

Globalisasi ternyata tidak hanya membuat masyarakat menjadi semakin homogen, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat Indonesia terhadap dunia (terhadap identitas, citra diri, dan nilai-nilai hidup) berubah. Sekarang ini ukuran ideal menurut nilai-nilai lokal atas segala hal di hampir semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara telah terpinggirkan oleh pencitraan yang dilakukan secara masif oleh negara-negara maju, pengusung arus globalisasi itu. Sebagai akibatnya, meskipun mungkin tidak menyadari, masyarakat telah digiring pada ukuran ideal yang dicitrakannya: citra Indo-Eropa atau Amerika. Globalisasi, dengan demikian, telah menggusur kebudayaan lokal dan menggantinya dengan bentuk-bentuk peradaban modern yang pada akhirnya mereduksi dan menafikan fakta-fakta partikular sehingga kebudayaan tidak lagi bersifat plural dan multikultural, tetapi singular dan monokultural.[1] Semua nilai, pola pikir, dan gaya hidup distandarkan: diseragamkan, dihomogenisasi, dan disingularisasikan ke dalam satu bentuk nilai dan budaya. Bahkan, diam-diam politik budaya masyarakat pun bergeser mengarah ke kapitalisme dan feodalisme global, menjauhi gerakan demokratisasi yang semula diperjuangkan.

Pola semacam itu akhirnya menggilas dan menenggelamkan budaya-budaya lokal yang justru merupakan basis eksistensi bangsa Indonesia. Ketika masyarakat dipaksa keluar dari tatanan budayanya yang lokal dan khas tersebut, konsekuensinya adalah terjadinya keterasingan. Atas dasar itu, belakang ini ramai dibicarakan munculnya kesadaran baru: kembali kepada lokalitas. Kembali kepada lokalitas, secara fungsional, dimaknai sebagai upaya untuk melakukan resistensi dan menghentikan proses dominasi penyeragaman dan homogenisasi yang menjadi proyek peradaban global tersebut.[2] Kesadaran lokalitas ini diwujudkan dengan cara merevitalisasi budaya-budaya lokal yang sebelumnya telah terkubur dan bahkan hilang musnah ditelan oleh monster globalisasi.

Revitalisasi budaya lokal, menurut Pilliang (2004), adalah pembaruan dan/atau penyesuaian prinsip atau sistem-sistem lokal dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat masa kini. Artinya, sistem-sistem lokal harus diberi nafas baru. Dengan pemahaman semacam ini, merevitalisasi budaya lokal, bukan sekedar mereproduksi bentuk-bentuk budaya secara apa adanya, tetapi harus tetap diberi makna dan ruh baru sehingga bisa tampil lebih segar dan up to date untuk kondisi sekarang.

Meskipun demikian, kebangkitan kesadaran baru akan lokalitas itu, disadari atau tidak, telah pula menimbulkan kegamangan sebagian sastrawan. Di Riau, misalnya, Marhalim Zaini dan Rida K. Liamsi mengungkapkan hal itu melalui (salah satu) karyanya: Marhalim melalui cerpen “Amuk Tun Teja”, sedangkan Rida melalui sajak “Jebat”.

1. Tafsir Atas Tun Teja dan Hang Jebat
Bagi orang Melayu (masyarakat Riau khususnya), Tun Teja dan Hang Jebat (seharusnya) bukanlah nama tokoh yang asing. Baik dalam sejarah Melayu maupun dalam Hikayat Hang Tuah, Tun Teja disebut-sebut terlibat dalam pemberontakan Hang Jebat: peristiwa besar yang mengakibatkan dua karip (Hang Tuah dan Hang Jebat) bermusuhan. Konon, kata sahibul hikayat, puteri Bendahara Pahang yang cantik jelita itu merasa sakit hati: bukan semata-mata karena telah dijadikan “alat” bagi Hang Tuah untuk menunjukkan baktinya kepada Sultan Malaka, melainkan juga karena telah diguna-guna oleh Hang Tuah.

Sementara itu, dalam Hikayat Hang Tuah, dikisahkan bahwa Hang Jebat mati di tangan Hang Tuah (sahabat karibnya sendiri) dalam sebuah pertempuran sengit. Konon, pertempuran antarsohib itu terjadi sebagai akibat adanya intrik di istana Melaka. Hang Tuah, karena difitnah oleh Karma Wijaya dkk. (dituduh telah berzina dengan inang istana), dijatuhi hukuman mati oleh Sultan Melaka. Namun, oleh Datuk Bendahara (orang yang dipercaya raja untuk mengeksekusi), Hang Tuah justru diberi perlindungan. Secara diam-diam, Hang Tuah disembunyikan di suatu tempat.

Mendengar kabar bahwa Hang Tuah telah dihukum mati, Hang Jebat murka. Ia (karena tidak mengetahui bahwa Hang Tuah masih hidup di suatu tempat) memberontak, mengacau kerajaan. Ia dendam dan menuntut balas atas kematian sohibnya itu. Untuk mengatasi keadaan yang semakin kacau itu, Datuk Bendahara memanggil kembali Hang Tuah. Oleh Sultan Melaka, setelah diampuni dan dibebaskan tanpa syarat, Hang Tuah diminta menumpas pemberontakan Hang Jebat.

Di kalangan masyarakat (Melayu), etos kepahlawan dua tokoh (Hang Tuah dan Hang Jebat) itu mendapat tanggapan beragam. Sebagian menganggap bahwa Hang Tuahlah yang pantas disebut pahlawan karena berhasil mengembalikan ketenteraman kerajaan. Sebagian lainnya menganggap bahwa Hang Jebatlah yang pantas disebut pahlawan karena gigih membela kebenaran. Kedua tokoh itu, bahkan, telah pula dianggap sebagai cerminan dari sengkarut pertikaian politik dalam istana: Hang Tuah sebagai cerminan pembela marwah penguasa (Sultan Melaka), sedangkan Hang Jebat sebagai cerminan pembela kebenaran dan keadilan yang mewakili perasaan rakyat, sesuai dengan pepatah Melayu: raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah. Seiring dengan berjalannya waktu, tafsir atas Hang Tuah dan Hang Jebat itu pun terus berkembang. Tafsir penentuan siapa pahlawan dan siapa pecundang, misalnya, masih menjadi perdebatan menarik hingga saat ini.

Cerita seperti itulah kira-kira yang mengilhami Marhalim Zaini dalam menulis cerpen “Amuk Tun Teja” (dalam Amuk Tun Teja, 2007:93—99) dan Rida K. Liamsi dalam menulis sajak “Jebat” (Tempuling, 2002:93—94). Pertanyaan penting yang pantas dilontarkan adalah mengapa dan bagaimana cerita itu ditulis? 

Jawaban atas dua pertanyaan itu akan dipaparkan berikut ini.

2. Mengapa Tun Teja dan Hang Jebat dipilih?

Dalam karang-mengarang (baik fiksi maupun ilmiah), pemilihan topik menjadi syarat mutlak yang harus dilakukan pengarang. Secara teoritis, pemilihan topik dapat dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan, seperti kemenarikan, kespesifikan, dan ketidakasingan (dikuasai betul oleh pengarang). Jika ketiga aspek itu diterapkan pada Tun Teja dan Hang Jebat, aspek kemenarikanlah yang pantas diperbincangkan. Mengapa? Karena kemenarikan selalu bersifat debatable: personal dan relatif.

Jawaban paling pas atas pertanyaan mengapa Tun Teja dan Hang Jebat menarik, dalam konteks ini, tentu ada pada Marhalim dan Rida. Meskipun demikian, secara tentatif, di sini dapat dikemukakan beberapa kemungkinan alasan kemenarikan dipilihnya Tun Teja dan Hang Jebat sebagai topik. Pertama, Tun Teja dan Hang Jebat adalah tokoh penting dalam Hikayat Hang Tuah. Kedua, Tun Teja dan Hang Jebat ternyata juga selalu disebut dalam Sejarah Melayu. Ketiga, Tun Teja dan Hang Jebat mendapat tanggapan/tafsir beragam dari masyarakat. Keempat, dengan demikian, Tun Teja dan Hang Jebat dapat dikatakan sebagai tokoh dalam mitologi Melayu.

C.A. van Peursen (1988) menyatakan bahwa mitologi berguna untuk (1) menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib di luar dirinya, (2) memberi jaminan bagi kehidupan masa kini, dan (3) memberi pengetahuan tentang dunia, tentang kehidupan manusia purba. Atas dasar itu, pilihan Marhalim terhadap Tun Teja dan Rida terhadap Hang Jebat dapat diduga memiliki dua kemungkinan tujuan: pengukuhan mitologi atau pengingkaran mitologi. Tujuan pertama adalah pengukuhan adanya ideologi, moral, kekuasaan, politik, dan nilai budaya Melayu masa lampau (melalui Tun Teja dan Hang Jebat) terhadap manusia masa kini, sedangkan tujuan kedua adalah pengingkaran terhadap mitos Tun Teja dan Hang Jebat. Dalam pengingkaran mitologi terjadi penyimpangan mitos yang menggugat kebenaran mitologi asal. Artinya, Tun Teja dan Hang Jebat direintepretasi dan/atau didemitefikasi sehingga menghasilkan efek alienasi bagi pembaca. Di dalam pengaruh efek alienasi itulah pembaca dirangsang untuk kembali mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini diyakinkan sebagai yang benar adanya.

3. Bagaimana Tun Teja dan Hang Jebat Disajikan?
Mutu sebuah karya sastra, konon, ditentukan oleh isi dan/ atau bentuknya. Isi berkaitan dengan “apa yang dikatakan”, sedangkan bentuk berkaitan dengan “bagaimana mengatakannya”. Tentang “bagaimana mengatakannya” secara khusus dipelajari dalam stilistika (stylistics), yakni ilmu tentang gaya bahasa (style), ilmu yang memusatkan perhatian pada variasi penggunaan bahasa, terutama bahasa dalam karya sastra. Menurut Lecch & Short (1981:13), stilistika tidak hanya mengkaji cara sastrawan dalam menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta efek yang ditimbulkannya, tetapi juga mengkaji kekhasan penggunaan bahasa dalam karya sastra sehingga dapat diketahui fungsi artistik atau estetiknya (bandingkan juga, misalnya, dengan pendapat Junus, 1989:xvii; Panuti, 1993; dan Ratna, 2009). Adakah kekhasan penggunaan bahasa dalam “Amuk Tun Teja” dan “Jebat”?

Berikut ini adalah pembicaraannya.

4. Cerpen “Amuk Tun Teja”
Berbeda dengan kebanyakan cerpen lainnya, “Amuk Tun Teja” dibangun dalam dua bentuk penuturan: (menyerupai) monolog dan narasi. Monolog (dilakukan oleh tokoh perempuan renta) disajikan dengan cakapan langsung, sedang narasi (tentang tokoh aku) disajikan dengan cakapan tidak langsung.[3] Anehnya, dua bentuk tuturan itu hadir secara bergantian sehingga seolaholah membentuk sebuah kisah percakapan (dialog) yang tidak hanya terkesan tidak monoton, tetapi juga terasa variatif dan segar. Padahal, dialog (percakapan) antartokoh itu tidak pernah terjadi. Perhatikan kutipan berikut.

Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam, seorang perempuan renta berkebaya lusuh masuk ke kantorku, dan langsung duduk di kursi tepat di depanku. Dari tatapan matanya yang sempit dan hampir terjepit oleh kulit kelopak-keriputnya, ia tampak sedang memendam sesuatu yang teramat dalam. Dan dari mulutnya yang masih tersisa warna merah sirih, melompatlah peluru kata-kata.

“Air dalam bertambah dalam/hujan di hulu belum lagi teduh/hati dendam bertambah dendam/dendam dahulu belum lagi sembuh! Sampai hati kau, Tuah! Kau renjis-kan minyak wangi guna-guna itu ke ranjangku. Pengecut itu namanya!”

Alahmak, orang tua gila mana pula ini? Pagi-pagi berpantunpantun menuduh orang sembarangan. Mulutnya bau gambir pula. Kok bisa-bisanya sampai tersesat masuk ke kantorku?

“Begitukah cara seorang pahlawan besar yang diagungagungkan menaklukkan hati seorang perempuan? Tak adakah cara yang lebih jantan? Aku ini perempuan, Tuah! Perempuan yang sama dengan perempuan lain di dunia ini. Sama-sama punya hati dan perasaan yang kapan saja bisa luluhuntuk menerima cinta dari seorang laki-laki. ....” (hlm. 93—94)

Begitulah, cerpen “Amuk Tun Teja” dimulai. Setelah membaca bagian awal cerpen itu, seolah-olah kita (pembaca) dibiarkan secara langsung melihat dan mendengar sendiri kata-kata tokoh, dialog antartokoh, bagaimana wujud kata-katanya, dan apa isi dialognya. Artinya, dialog kemasan Marhalim itu telah membuat kisah dalam cerpen ini menjadi konkret, dapat ditangkap secara inderawi, sehingga dapat memunculkan kesan bahwa kisah itu nyata dan benar-benar terjadi. Karena konkret (dapat ditangkap secara inderawi: dapat dilihat dan didengar), citraan (imagery) pun telah terbangun dalam cerpen ini. Padahal, dua tokoh (aku dan perempuan renta/Tun Teja) dalam cerpen ini tidak sedang saling berinteraksi. Di samping tidak saling kenal (perempuan renta mengira tokoh aku sebagai Tuah, tokoh aku tidak mengenali perempuan renta sebagai Tun Teja), keduanya asyik dengan topiknya sendiri. Tokoh aku asyik mengomentari ulah dan ucapan tokoh perempuan renta yang tiba-tiba duduk di kursi tepat di depannya, sedangkan tokoh perempuan renta asyik berceloteh tentang kekecewaannya atas perlakuan (Hang) Tuah terhadap dirinya. Hal seperti itu terus berlangsung hingga cerita berakhir. Kutipan bagian akhir cerita berikut memperjelas hal itu.

Bangsat, orang tua ini, ayo mendekatlah kalau berani. Peduli apa aku dengan Jebat, dengan Tuah, atau dengan siapapun. Yang jelas, kalau kau berani menusukkan keris itu, aku takkan tinggal diam.

“Tuah, betul-betul tak mau kaumakan sirih itu? Tak mau, Tuah! Berarti kau memang tak pernah mencintai aku ‘kan? Atau kau lebih baik mati daripada berkhianat dan membenci raja, begitu? Lebih baik mengkhianati hatimu sendiri, Tuah! Kau mendurhaka, Tuah! Kau mendurhakai dirimu sendiri. Dan jika itu memang pilihanmu, baiklah, aku akan memilihnjalan ini! Kalau menunggu gelombang tidur, sampai kiamat takkan ke laut! Hiyaaaap!!!” menusukkan keris ke perutnya sendiri.

Ya, Tuhan. Apa pula ini! Hei, Nenek! Ya ampun, kenapa pula kau harus bunuh diri! Aduh, bagaimana ini? Hei, tolong

......tolong.......tolong......*** (hlm. 99)

Hal lain yang penting dan menarik dari cerpen ini adalah judulnya, “Amuk Tun Teja”. Dikatakan penting karena tanpa judul itu, pembaca dapat dipastikan tidak akan pernah tahu (mengalami kesulitan) bahwa tokoh yang berceloteh secara langsung dan terus-menerus di sepanjang cerita itu adalah Tun Teja. Mengapa? Karena, di samping tidak disebut sama sekali dalam cerita, tokoh itu juga digambarkan sebagai perempuan renta, lusuh, keriput, bau gambir, dsb. sehingga bertentangan dengan pengetahuan umum tentang Tun Teja, yang cantik jelita dan putri bangsawan. Sementara itu, dikatakan menarik karena melalui judul itu pula pembaca terbimbing pada satu tafsir: Tun Teja mengamuk.

Atas tidak disebutkannya Tun Teja dalam cerita mungkin sebuah kesengajaan (Marhalim). Sebagai sebuah mitos (mitologi), Tun Teja memang tidak perlu diterang-jelaskan lagi. Ia sudah selayaknya hidup di hati sanubari masyarakat (Melayu) sesuai dengan interpretasi masing-masing. Jika dalam cerpen ini Tun Teja tampak sedang menebar kemarahan atas perlakuan (Hang) Tuah terhadap dirinya, mudah-mudahan hal itu benar-benar merupakan interpretasi Marhalim. Akan tetapi, mengapa tokoh aku (dalam cerpen ini) tidak mengenali tokoh perempuan renta itu sebagai Tun Teja? Jangan-jangan Marhalim berkehendak lain, ingin melontarkan isyarat bahwa sekarang ini banyak di antara kita (masyarakat Melayu) yang sudah tidak lagi mengenal Tun Teja.

Betulkah demikian? Wallahualam bissawab. Yang pasti, dalam cerpen Marhalim Zaini itu, Tun Teja telah diberi karakter baru. Tun Teja tidak digambarkan lagi sebagai perempuan lemah dan pasrah, tetapi sebagai perempuan pemberontak. Sejalan dengan pendapat Junus (1985:87), dapat dikatakan bahwa dalam teks “Amuk Tun Teja” telah terjadi demitefikasi terhadap teks atau bagian teks lain (dalan hal ini Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah), yakni berupa penentangan secara radikal terhadap tokoh Tun Teja: dari perempuan lemah ke perempuan pemberontak. Hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa melalui “Amuk Tun Teja” Marhalim Zaini telah mencoba meruntuhkan (merevitalisasi) mitos dan legenda Tun Teja yang selama ini berkembang dan dipahami masyarakat Melayu.

5. Sajak “Jebat”

Tafsir lain atas Jebat yang perlu mendapat apresiasi terdapat dalam sajak Rida K. Liamsi, “Jebat”. Melalui sajaknya itu, Rida mencoba memberi makna baru (merevitalisasi) atas “tregedi” Jebat. Sebagai orang Melayu (yang paham betul tentang Jebat), ia tidak lagi terjebak pada perdebatan apakah Jebat itu pahlawan atau pecundang. Ia justru memanfaatkan peristiwa tragis yang dialami Jebat itu sebagai wahana penyampai ide/gagasan. Bahkan, atas perbuatan Jebat (yang dilukiskan pada tiga baris bait pertama): 

telah kau hunus keris 
telah kau tusuk dendam 
telah kau bunuh dengki 

Pun Rida tetap tidak mau berpretensi. Baginya, persoalan dalam peristiwa itu tidak lagi terletak pada benar/pahlawan atau salah/pecundangnya, tetapi terletak pada hakikatnya. Entah benar, entah salah, yang pasti Jebat kalah. Nah, atas kekalahan Jebat itulah ia bertanya: tetapi, siapakah yang telah mengalahkan mu.

Bukankah yang mengalahkan Jebat adalah Tuah? Betul, sebagaimana disebut dalam hikayat, Hang Tuah mengalahkan Hang Jebat. Lalu, mengapa Rida masih bertanya tentang itu? Di sinilah letak salah satu kekuatan sajaknya itu: keambiguannya terjaga. Tafsir lain tentang pengalah (yang mengalahkan) Jebat, dengan demikian, dapat diberikan.

Bagi Rida dan masyarakat (Melayu), pemberontakan yang dilakukan Jebat merupakan perbuatan yang sia-sia, tidak mendatangkan manfaat, kecuali: 

Kami hanya menyaksikan luluh rasa murka mu 
celup cuka cemburu mu 
kubur rasa cinta mu 
di bayang-bayang harimu

Kami hanya menyaksikan waktu menghapus jejak darah mu 
angin menerbangkan setanggi mimpimu 
ombak menelan jejak nisan mu 
di balik cadar mimpi-mimpi mu.

Bahkan, setelah
Kami semua telah mengasah keris 
telah menusuk dendam 
membunuh dengki meruntuhkan tirani

sekalipun. Oleh karena itu, dalam ketidaktahuannya, 
masyarakat pun bertanya
Tapi siapa yang telah mengalahkan kami

menumbuhkan khianat 
melumatkan sesahabat 
mempusarakan sesaudara.

Akhirnya, setelah membuat pernyataan bahwa
Kami hanya menyaksikan waktu yang berhenti bertanya 
sejarah yang berhenti ditulis

Rida pun berkesimpulan bahwa kita hanya membangun sebuah arca. Ya, sebuah arca: benda yang selalu dirawat, dijaga, dan bahkan disembah, tetapi tidak dapat menyelamatkan kehidupan manusia. Hal itulah, mungkin, yang dikhawatirkan Rida.

6. Penutup
Demikianlah, senyatanya Marhalim Zaini telah berkisah tentang Tun Teja mengamuk. Kisah itu dikemasnya dengan sangat apik dan menarik dalam sebuah cerpen, “Amuk Tun Teja”. Secara eksplisit, Tun Teja mengamuk karena sakit hati atas perlakuan Hang Tuah pada dirinya (lihat pada monolog Tun Teja). Secara implisit, Tun Teja mengamuk, bisa jadi, karena (sebagai tokoh yang sudah melegenda) merasa kecewa dirinya tidak dikenal (mulai dilupakan) oleh masyarakatnya, masyarakat Melayu Riau. Bayangkan, tokoh setenar (Yong) Dolah—pencerita ulung dari Bengkalis itu—saja tidak mengenal Tun Teja. Apalagi orang awam, kemungkinan besar mereka juga tidak mengenalnya. Hal itu sekaligus memperlihatkan bahwa pada kenyataannya masalah lokalitas masih menyisakan persoalan di era globalisasi seperti sekarang ini. Sementara itu, melalui sajaknya, “Jebat”, Rida K. Liamsi mencoba memberi makna baru (merevitalisasi) atas “tregedi” Jebat. Sebagai orang Melayu (yang paham betul tentang Jebat), ia tidak lagi terjebak pada perdebatan apakah Jebat itu pahlawan atau pecundang. Ia justru memanfaatkan peristiwa tragis yang dialami Jebat itu sebagai wahana penyampai ide/gagasan.

Apa pun tafsirnya, sebagai karya yang peduli lokalitas, “Amuk Tun Teja” dan “Jebat” sepertinya dapat dijadikan sebagai bagian dari strategi budaya yang mencoba untuk sedikit memberikan suara lain dari kecenderungan monokultur akibat gemuruh arus globalisasi yang banjir bandang. Kesadaran semacam itu perlu dikobarkan kembali agar hantaman globalisasi budaya yang mengancam keberagaman dapat dicegah. Semoga.***

Endnote:
[1] Dalam hal ini, Budianta (2007) membuat batasan standar tentang lokalitas: bahwa yang lokal bersifat partular (“yang tertentu”), berkebalikan dengan global/universal yang bersifat “umum” dan menyeluruh.

[2] John Naisbitt melalui bukunya, Global Paradox, menggambarkan betapa ketika dunia sedang teropsesi gerakan pengaburan batas-batas negara dan berupaya menjadi “satu”, ketika itu pula tengah terjadi gerakan pembentukan “negara baru”. Terbentuknya Uni Eropa, misalnya, ditengarai Naisbitt sebagai indikator gerakan yang kemudian melahirkan konsep globalisasi itu.

[3] Penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk tuturan: monolog, dialog, dan narasi dapat dibaca pada Teori Pengkajian Fiksi (Nurgiyantoro, 1998).

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »