“Tidak”

ADMIN SASTRAMEDIA 5/30/2019
: Spirit dan Identitas To Kaili
oleh Nashir Umar

Tidak ada tetapi sudah ada,
Tidak berarti ada,
Tidak untuk menemukan iya.

“Tidak!” Jika membacanya, bentuk abstraksi yang muncul adalah sebuah penolakan terhadap kesepakatan, kesepemahaman, kompromi, atau bentuk-bentuk yang bersifat bertentangan dengan sebuah nilai maupun konsep yang telah ada. Tentu tidak salah jika letupan bila yang mungkin muncul selanjutnya adalah sebuah pertanyaan, “Mengapa tidak?” Kemungkinan dari pertanyaan tersebut akan berkesinambungan dengan pertanyaan dan pernyataan yang lain, sehingga bisakah ”tidak” menuju sebuah kata “iya” atau ia tetap bertahan dalam ke”tidak”-annya? Itulah sebuah gema. Gema kata ”tidak” yang dipantulkan. Menggaung di daerah tempat kami bernaung, baik itu di pedalaman, di lembah, maupun di pesisir wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Ledo, Rai, Tara, Unde, Da’a, Inde, Ende, Doi, Tado, Ado, Ija, Uma, Moma, Ndepu, dsb. adalah bagian subsuku dari Bangsa Kaili—suku bangsa yang masyarakatnya paling banyak mendiami wilayah Sulteng ini.

Ya, kami menyebut diri dengan kata “to” yang berarti orang, sehingga ”to Kaili” adalah panggilan yang melekat bagi kami, ”orang Kaili”. ”To Kaili”, sebuah identitas yang sangat kuat ketika kami harus hidup berdampingan dengan etnis yang lain (Bugis, Toraja, Mandar, Bali, Jawa, dll).
Dengan 19 subsuku yang kami miliki, banyak tersebar di wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi, dan Kabupaten Sigi. Ledo ‘tidak’, Tara ‘tidak’, Rai ‘tidak’, Da’a ‘tidak’, dan Unde
‘tidak’—nama-nama subsuku yang ada—semuanya diambil dari bahasanya masing-masing dalam tubuh kesubsukuan kami. Mereka lahir sebagai nama-nama dan di situlah (letak) pembeda yang sekaligus mengusung nilai identitas yang begitu kuat. Dari identitas nama-nama kesubsukuan kami yang berbeda tersebutlah yang menjadikan kami sama. Dengan demikian, kami yang terbagi atas nama subsuku itu (Ledo,Tara, Rai, dsb), secara konsep dalam bahasa Indonesia, seluruhnya memiliki arti kata ‘tidak’.

Jika budaya adalah bagian dari hasil cipta rasa dan karsa manusia (Koentjaraningrat), “tidak” adalah kata yang menempati bagian dari hal tersebut. Kata ”tidak” mampu menjelma wujud dan estetika, dari keduanya muncul dalam karsa. ”Tidak” adalah bahasa kami, sebuah kata dari sekian kata yang hadir. Namun, kata ”tidak” memiliki substansial tersendiri dari sekian kata lainnya. Dari kata ”tidak”-lah kami—orang Kaili, menanamkan cikal untuk menumbuhkan ekspresi ungkap dan perilaku yang lain, pengejawantahan bahasa yang adalah satu dari unsur dari budaya itu untuk berproses bersama kesatuan pada unsurunsur lain. Tentu saja sebagai bahasa,  kata “tidak” mampu lahir sebagai hakikat dari arti kata ”tidak” itu. Pun sebagai perannya, ia menempati ruang abstrak sebagai penanda atas fungsinya ketika tumbuh dan berkembang di kehidupan sehari-hari tempat mereka—Ledo, Rai, Da’a, dsb.—dilahirkan dan diwariskan, menjadi tonggak dasar bagi nilai dan pranata kami. Mungkin menjadi asing di pikiran masyarakat lain yang sulit untuk berkata ”tidak”, entah karena kesungkanan atau memang berat menanggung konsekuensi kata ”tidak” itu. Akan tetapi, bagi kami justru kata ”tidak”-lah yang lebih mudah untuk disampaikan karena justru ”iya” adalah sebuah tahap yang memerlukan perenungan agar kepala ini terusap, lalu pelan mengangguk.

“Tidak”, sebuah antonim dari ”iya”, dikenal dari tradisi tutur kami. Ia mengajak pada sebuah perjalanan mitos di tanah segenggam ‘tana sanggamu’, muasal dari penciptaan manusia yang juga termaknai sebagai sumber kekuatan dari muasal cipta, rasa, dan karsa itu. Ia melahirkan nilai, pranata, dan pola hidup sehari-hari, terangkum secara luas sebagai adat. Tana sanggamu sebagaimana dalam mitos tersebut, terentangkan ane rakabasaka ‘tertabur seluruh tanah’, maka terciptalah “dunia”. Salah satu tahapan ane rakabasaka ‘tanah yang terentang’ tersebut muncul wilayah (ruang) pombare bahasa ‘tanah tempat dibaginya’ seluruh bahasa ”tidak” tersebut. Ia terbagi menjadi nama-nama subsuku; Ledo, Rai, Tara, Da’a, dsb. Tana sanggamu diikuti ane rakabasaka dan dari yang tertabur menjadi dunia, satu di antaranya pombare bahasa ‘muasal’ tempat kata ”tidak” sekaligus menjelaskan makna eksistensi kata ”tidak”. Ia adalah bagian dari taburan tana sanggamu, pun fungsinya sebagai sinar penciptaan dunia. Sebagai pamong sekaligus pijakan bagi suku bangsa kami dalam menemukan tatanan nilai, ia mampu menjadi sinar untuk seluruh tata kehidupan.

“Tidak” terus pecah menjadi tawa sekaligus tangis, ekspresi dasar yang menempatkan ruang-ruang keterasingan manusia yang kami kenal sejalan dengan fungsi bahasa dalam tataran sosial, yakni berhubungan antara satu dengan yang lainnya serta berdialog sesama manusia dan alam. Namun, di antara dialog inilah, ”tidak” selalu memiliki wilayah fungsi spiritual ketika keterasingan akan kebutuhan menemukan “Zat Dari Segala” terus bergulir di setiap nafas dan detak jantung. ”Tidak” mampu menembus relung bahwa segalanya yang ada di bumi ini adalah ”tidak”— ”tidak” (bukan) kepunyaan dan kepemilikan— (sekaligus) ”iya”, jika sudah sampai pada nilai eksistensi tertinggi. Jadi ”tidak” adalah kami (manusia). “Iya” bukanlah kami, ia ada dalam tataran yang menghendaki kami atas seluruh kehendak atas penciptaan yang ada.

“Tidak” adalah anugerah yang terilhamkan kepada kami, memberi identitas diri tatkala segala bentuk ucap dan laku yang sejalan dengan berkembangnya budaya seharusnya berupaya meraih nilai-nilai berkesusaian. Di sinilah mata, mulut, telinga, seluruh pengindraan, dan alat gerak mesti berkata ”tidak”, kecuali ia menyatu pada ke-”iya”-an sebagai sumber pemilik tempat eksistensi “tidak” lebih dahulu hadir. Pakanoto mata mangantoaka (membaca keadaan dengan penglihatan mata kepala, mana yang baik dan tidak untuk perbaikan kehidupan masyarakat), pakanasa talinga mongepe (segala sesuatu didengar oleh telinga, harus dicermati jelas secara nyata agar tidak menimbulkan fitnah dan konflik), dan pakabelo sumba mojarita (jangan berkata yang menyinggung perasaan orang lain, menghina, menghujat, dan menfitnah)  dalam makalah “Keutamaan Tadulako” (Hapri Ika Poigi), diungkapkan bahwa jika ”tidak” untuk kebaikan yang berefek buruk berarti tidak. Akan tetapi, ketika ”tidak” sudah terlepas dari nilai genggaman tana sagamo, berarti batas ke-”tidak”-an manusia akan melampaui ke-”iya”-an. Di sinilah keniscayaan bahwa sinar yang menyebar ke seluruh dunia meredup dan kembali gelap.

“Tidak” adalah proses, ia berjalan dalam perenungan yang tidak bisa ditekan dari unsur manapun kecuali diri dan hakikat menemukan ke-”iya”-an, tetapi sejalan dengan arus globalisasi yang terus tumbuh, mau tidak mau, kata ”tidak” harus beradaptasi dengan zaman. Ketika dulu kemajemukan dan akulturasi budaya memiliki ruang tempat perpindahan manusia adalah batasan konsepnya—pergerakan manusia sama dengan pergerakan budaya, tentu akulturasi yang demikian tersebut menjadi lebih mudah terukur untuk memberi waktu dalam menentukan ”iya” atau tetap bertahan pada ke-”tidak”-an. Akan tetapi, saat ini gerak manusia (dalam globalisasi) bukan lagi menjadi patokan sebuah pergerakan (berpindahnya) suatu budaya. Hanya hitungan detik, menit, jam, maupun hari, meskipun tanpa pergerakan (perpindahan) manusia, perpindahan budaya tetap berjalan dan semuanya mampu masuk, terserap dengan cepat, dan saling mempengaruhi (menguasai). 

Belum berkesempatan kami beradaptasi dengan hal yang baru masuk, elemen-elemen yang lain dengan segala informasi dan hegemoninya sudah muncul membombadir seakan-akan iya adalah mereka. Gagap, ”tidak” untuk menemukan ”iya”, sejenak bias dan limbung menjadi simpang-siur. Belum lagi ketika ”tidak” tak terpahamkan, menjadikan ”tidak” itu seakanakan adalah kata yang mewakili sebuah bentuk ketidakkompromian yang mutlak. Padahal ”tidak” menurut kami adalah: (a) “tidak”, jika itu tidak seimbang, (b) “tidak”, kalau tidak bermanfaat untuk kemasylahatan, (c) “tidak”, jika itu merusak, (d) “tidak”, kalau tidak ingat, dan (e) “tidak”, kalau tidak ada nilai.

Ledo, Tara, Rai, Da’a, dsb., secara bahasa masih dan akan tetap berarti tidak, tetapi “tidak”-nya saat ini beralih menjadi jeritan. Jeritan itu, meski tetap menggema di pedalaman, di lembah, maupun di pesisir suku bangsa kami, tertatih beradaptasi ketika digunakan untuk mengekspresikan tradisi dan kearifan lokal yang berbenturan dengan segala bentuk tatanan, yang katanya, adalah otonom, tetapi lambat laun menggerus lahan kehidupan yang merusak alam kami, mengeringkan mata air kami, menghabiskan mata pencaharian kami, dan memberi peluang nyata pada mereka untuk memberi iming-iming pada anak cucu kami atas nama moderenitas sehingga kami kehilangan generasi yang lebih memilih ruang sepakat secara instan ketimbang menjadi penerus seperti kami yang selalu berupaya menyentuh ke-”tidak”an kami yang bukan apa-apa, kecuali ”iya” adalah milik-Nya.
“Tidaaaaaaaaaaak...!” Ledo, Rai, Da’a, Tara, dsb. akan terus memiliki arti secara bahasa yang adalah tidak. Kesemuanya merupakan kesinambungan unsur satu dengan yang lainnya mewujud dalam budaya yang akan terus bertumbuh. Berbudaya, merujuk pada berbahasa akan berkaitan dengan pemilihan jenis kata, dan ”tidak” sudah menjadi identitas jelas, memberi spirit, dan harus terus dipilih sebagaimana fungsinya berkomunikasi dengan sosial masyarakat yang lain sesuai dengan perjalanan waktu dan kondisi. Hal ini diperkuat dengan cara pengungkapan yang menggambarkan nilai-nilai. Di sinilah ”tidak” mesti kembali sebagai perannya untuk terus menjadi penyeimbang berlangsungnya dialog antara diri kami, alam, dan Tuhan. Akankah waktu dan elemen-elemen yang ada dalam kancah globalisasi mampu memberikan ruang untuk eksitensi dari ke-”tidak”-an tersebut? ”Tidak” untuk tidak, dan ”tidak” hanya kepada-Nyalah seluruh ke-”tidak”-an menjadi niscaya.***

Palu, 16 November 2015.

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »