Timbang-Timbangan Pantun yang Elok Dilantun

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Rendra Setyadiharja

Bukan bermaksud mengata terhadap berbagai madah yang selalu dilantun oleh pejabat pemerintah, pembawa acara pada perhelatan tertentu, penceramah atau khalayak ramai yang selalu memadahkan pantun sebagai penyeri dalam kalam-kalam mereka, terlebih lagi Provinsi Kepulauan Riau adalah Bumi Melayu yang sangat kental dengan tradisi pantun berpantun, khususnya lagi jika di Kota Tanjungpinang yang sudah dikenal sebagai Negeri Pantun, maka pantun akan sering dimadahkan oleh berbagai orang dalam berbagai perhelatan apapun jua di Negeri Pantun tersebut.
Namun, di bawah asuhan Tusiran Suseno (alm.), ayahanda Tamrin Dahlan, Datuk Alipon, dan banyak lagi guru yang telah mengajarkan berpantun, saya mengusulkan pada pejabat pemerintah, pembawa acara, penceramah, atau siapapun yang memadahkan pantun pada berbagai acara di negeri ini, agar membuat pantun yang baik, sehingga pantun yang dimadah justru tidak merusak nilai filosofis dan estetika pantun itu sendiri.

Pertama, kesalahan yang selalu terjadi pada pantun yang sering diucapkan oleh khalayak ramai adalah pantun yang bersajak a-a-a-a, seperti pantun berikut contohnya:

Potong batang, batang jerami
Sayang jerami dipotong di pagi hari
Selamat datang di negeri kami
Tanjungpinang negeri bestari aman lestari

Ini adalah salah satu bunyi pantun yang sebenarnya tidak elok untuk dilantun, karena pantun yang baik adalah bersajak a-b-a-b. Hal ini untuk memperkuat pantun dan membedakannya dengan syair dari sisi persajakannya. Simak saja pantun pusaka berikut ini.

Jikalau ada jarum yang patah
Jangan disimpan di dalam peti
Jikalau ada kata yang salah
Jangan di simpan di dalam hati

Lihatlah pantun pusaka tersebut, persajakannya adalah ab-a-b yang menunjukkan sajak yang berbeda antara baris dengan barisnya. Baris pertama sama sajaknya dengan baris ketiga, kemudian baris kedua sama sajaknya dengan baris keempat, kemudian tidak hanya sama pada kata patah (akhir baris pertama) yang sama dengan salah (akhir baris ketiga), dan kata peti (akhir baris kedua), dan hati (akhir baris keempat), tetapi persajakan tengah pantun ini yaitu kata ada pada baris pertama dan ada pada baris ketiga, kemudian kata simpan yang ada pada baris kedua dan keempat. Inilah salah satu bentuk pantun yang elok dilantun dan sangat bernas, atau pantun dengan kualitas yang sangat baik dan elok.

Kedua, kesalahan yang terjadi adalah penggunaan jumlah kata dan suku kata yang berlebihan, padahal pantun yang elok hanya terdiri atas empat sampai lima kata pada tiap barisnya, dan terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata pada tiaptiap barisnya. Sementara, banyak khayalak yang masih juga melantunkan pantun yang menyalahi ketentuan tersebut, sebagai contoh pantun yang tidak elok dilantunkan.

Ikan gurami jual di pekan
Ikan bilis belinya hari ini
Selamat datang kami ucap kepada hadirin sekalian
Pada acara majelis perkawinan anak kami ini

Simak pantun yang tidak elok tersebut. Ini realita yang sering terjadi di tengah masyarakat. Mungkin maksudnya baik, tetapi malah membuat pantun itu menjadi rusak dan menghilangkan nilai filosofis dan estetikanya. Lihatlah pantun di atas, jumlah isi atau kiasan maksud yang disusun, pada baris ketiga terdiri atas tujuh kata dan baris keempat juga terdiri atas tujuh kata. Dari sisi persajakan memang telah baik, menggunakan persajakan a-b-a-b, tetapi dari jumlah kata, ini hanya membuat pantun tersebut justru tidak indah, karena jumlah kata yang digunakan melebihi dari empat atau lima kata yang ditentukan agar elok bunyi yang dilantunkan. Selain itu, lihatlah sampiran pada pantun tersebut, sangat jauh dari nilai estetika dan filosofis. Terkadang masyarakat tidak mengetahui, bahwa sampiran memiliki kiasan kata yang sangat filosofis dan estetika yang kemudian mampu mendeskripsikan kearifan lokal masyarakat Melayu atau masyarakat tertentu. Namun, karena sampiran atau kiasan kata disusun dengan tidak memenuhi ketentuan, pantun pun kehilangan nilai filosofis dan estetikanya.

Kesalahan ketiga yang tidak elok dalam menyusun pantun yaitu dalam membuat sampiran atau kiasan kata. Sesungguhnya, sampiran merupakan kiasan kata yang mengantarkan maksud dari sebuah pantun. Sampiran seharusnya mampu mendeskripsikan kearifan lokal masyarakat Melayu atau masyarakat yang membuat pantun sehingga dari sampiran pantun tersebut dapat diketahui bagaimana peristiwa, sejarah, budaya, tradisi, atau adat yang sesungguhnya dimiliki oleh masyarakat Melayu atau masyarakat tempat pantun itu berasal pertama kali. Sampiran semestinya merupakan diksi yang sifatnya konotatif atau kiasan yang mengantarkan maksud pantun dan bukanlah diksi yang bersifat kata sebenarnya atau makna dari sebuah pantun, sehingga sesuai jika sampiran disebut dengan kiasan kata, bukan kiasan maksud. Kiasan maksud adalah isi dari pantun yang menunjukkan maksud dari pantun yang dilantunkan atau disusun, tetapi sampiran adalah kata kias yang mengantarkan isi pantun tersebut. Sampiran yang elok dalam sebuah pantun adalah yang memiliki hubungan antara sampiran pertama (baris pertama) dan sampiran kedua (baris kedua). Namun, kedua baris tersebut bukan langsung menunjukkan maksud pantun, melainkan kiasan yang mengantarkan isi pantun. Maksud pantun baru dapat dinukilkan dalam isi pantun yang sifatnya denotatif, jelas, lugas, tetapi juga harus menjaga estetika pantun secara kaidah. Selain itu, sampiran yang elok juga harus memiliki rasionalitas kata, bukan kata-kata atau padanan kata yang tidak masuk berlogika. Perhatikan pantun yang sampirannya tidak elok berikut.

Makan bakwan di atas unta
Makan berdua di tengah pasar
Jikalau tuan jatuh cinta
Eloklah tuan datang melamar

Kesalahan pada pantun di atas terletak pada sampirannya. Banyak orang hanya membuat sampiran pantun di luar kaidah yang sudah dijelaskan di atas. Ketidakelokan pantun di atas, pertama, sampirannya yang kurang rasional. Jika mendengar pantun ini, secara filosofis dilihat dari sampirannya pasti kita meyakini pantun ini berasal dari Arab, karena ada kata unta pada baris pertama. Namun pertanyaannya, jika memang pantun ini dari Arab, apakah di Arab ada makanan bakwan? Pertanyaan lainnya, mengapa harus makan bakwan di atas unta? Jika pantun ini bukan dari Arab atau bukan orang Arab yang menyusunnya, tentunya akan bias diksi kias yang digunakan. Kemudian, sampiran baris kedua, makan berdua di tengah pasar, dapatkah dibayangkan bagaimana menyantap bakwan di atas unta, kemudian menikmati makanan tersebut di tengah keramaian pasar. Pantun ini memiliki kekurangan secara estetik, logis, rasional, dan filosofis. Sampiran pantun ini terkesan “asal” dan justru malah merusak pantun tersebut. Coba kita bandingkan dua pantun di bawah ini. Pantun pertama adalah pantun pusaka dan pantun kedua adalah pantun yang dibuat dalam konteks kekinian, atau pantun baru.

(1) Kalau roboh kota Melaka P
apan di Jawa hamba dirikan
Kalau sungguh bagai di kata
Nyawa dan badan hamba serahkan

(2) Berlayar tuan ke Senapelan 
Singgahlah tuan ke Pulau Mepar
Jikalau tuan sudah berkenan
Sudilah tuan datang melamar

Lihat pantun pusaka pertama di atas. Sampiran atau kiasan maksud yang disusun sangat estetik dan filosofis, sehingga indah dalam mengantarkan maksud dari isi pantun. Simak baris kalau roboh kota Melaka/papan di Jawa hamba dirikan. Mengapa diksi ini muncul pada sampiran pantun tersebut? Berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Melayu Melaka pernah menjalin kerja sama dengan teknik nikahussiasah. Peristiwanya adalah pernikahan Sultan Mansur Syah dengan Raden Galuh yang merupakan anak Betara Majapahit di Jawa. Itu artinya dengan adanya politik pernikahan tersebut, jikz Kota Melaka hancur, ada Tanah Jawa tempat berteduh, karena Majapahit pada zaman itu telah menjalin kerja sama denga Kerajaan Melayu Melaka. Sampiran atau kiasan kata yang dipakai sungguh mencerminkan sebuah peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Bukan sebuah sampiran yang tidak memiliki dasar atau hanya dibuat sembarangan.

Kemudian, perhatikan pantun kedua pada sampiran berlayar tuan ke Senapelan/Singgahlah tuan ke Pulau Mepar. Sampiran ini menunjukkan bahwa masyarakat zaman dahulu suka berlayar. Senapelan merupakan sebuah negeri yang sekarang ada di Pekanbaru, Riau, yang berdekatan dengan Sungai Siak. Ini menunjukkan sebuah tradisi, budaya dan kearifan lokal. Masyarakat Melayu zaman dahulu suka membangun rumah di pesisir dan kerap berpindah-pindah. Akan tetapi, mereka tetap mencari wilayah pesisir. Kemudian, Singgahlah tuan ke Pulau Mepar, yaitu sebuah pulau yang berada lebih utara dari Senapelan, tepatnya di Kabupaten Lingga saat ini. Ini mengisyaratkan bahwa orang yang berlayar bergerak dari arah utara menuju ke selatan. Sampiran ini juga mengisyaratkan bahwa bangsa Melayu zaman dahulu suka berpindah, baik karena pergolakan, perang, atau memindahkan kerajaan. Sebagaimana sejarah telah mengungkap bahwa beberapa pemimpin Kerajaan Melayu seperti Raja Kecil yang kemudian berpindah ke Siak dan Sultan Mahmud Syah I yang pindah dari Melaka pada kurun waktu 1511 setelah digempur Portugis ke Pekantua Kampar. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa Kerajaan Melayu telah beberapa kali berpindah, dari Bukit Siguntang, Bentan, Tumasik, Melaka, Johor dan Riau. Sampiran pantun ini setidaknya merepsentasikan kearifan lokal, tradisi, dan peristiwa yang senantiasa terjadi pada masyarakat zaman dahulu.

Dari penjabaran di atas, ternyata pantun bukanlah hanya sekadar tradisi lisan yang tanpa nilai filosofis dan estetika. Pantun adalah puisi lama yang bertujuan menunjukkan kesopanan dan kesantunan dalam bertutur ucap dengan segala makna yang indah-indah tentunya. Jangan sampai niat kita melantunkan pantun ingin melestarikan pantun, tetapi justru malah merusak nilai-nilai estetika dan filosofis pantun tersebut. Dengan kalam ini, saya berharap masyarakat yang gemar melantunkan pantun banyak belajar terlebih dahulu sebelum melantunkan pantun.
Allahu’alam.***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »