Wahai “Pendekar”, Berkacalah pada Gurindam 12!

ADMIN SASTRAMEDIA 5/29/2019
oleh Medri Oesnoe

Ternyata, dalam era Reformasi ini, rakyat Indonesia sudah semakin terbiasa dengan yang namanya pesta rakyat untuk memilih wakilnya yang duduk di parlemen. Seiring dengan itu, rakyat Indonesia juga memilih pemimpinnya mulai dari tingkat daerah sampai tingkat nasional. Hasilnya pun sudah kita ketahui bersama—reaksi rakyat pun beragam; ada yang harap-harap cemas sebab terlalu berharap akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik, ada yang tidak peduli, dan bahkan tidak sedikit pula yang apatis. “Siapapun pemimpinnya tidak akan membawa perubahan, sama saja hidup kita tetap akan seperti ini!”

Sekadar mengingat kembali sejak menggelindingnya “hantu” yang bernama reformasi itu, kesemarakan pesta tersebut tidak kalah menegangkan dari film “kiamat” berjudul “2012” atau film Hollywood lainnya yang paling menegangkan. Berbagai hal muncul: saling tuding, menyalahkan, caci-maki, dan saling melemparkan tanggung jawab yang dibungkus lalu bertambal-sulam dengan manis dalam derai air mata bagi yang kalah; dan tawa kebanggaan bagi yang menang.

Seperti musik simfoni yang mengalunkan notasi-notasi kenangan sepanjang masa, para “pendekar” pun mengeluarkan “jurus abadi”-nya, “Kamilah pembela hak-hak rakyat! Kami berjuang demi kepentingan rakyat!” Sementara itu, rakyat berteriak, “Tidak perlu banyak berbicara, buktikanlah dengan kinerja nyata. Orang yang banyak berbicara biasanya banyak kebohongan sebagaimana yang telah ditulis oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, //apabila banyak berkata-kata/di situlah jalan masuk dusta //lidah yang suka membenarkan dirinya/daripada yang lain dapat kesalahannya//orang itu jangan engkau percaya/lidah yang suka membenarkan dirinya.”

Dengan berbagai cara dan intrik para “pendekar” yang turun dari “pertapaan” untuk bertarung akan melancarkan jurusnya supaya mulus dan tepat sasaran. Tidak peduli pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan akan merasakan akibatnya. Kalau kita bisa mendengar, akan terdengar hiruk-pikuk dan jerit tangis kesakitan pohon-pohon tersebut, sebab hampir setiap jengkal tubuhnya ditancapkan paku untuk menggantung gambar para “pendekar” sambil memperagakan berbagai gaya dan jurus. Kasihan nasibmu pohon, tapi yang kasihan rakyat atau pohon, ya? Suasana diperpanas lagi oleh media massa dengan mengemas “pertarungan” sehingga menjadi lebih apik.

Serangan-serangan “maut” dilancarkan guna “mematikan” serangan lawan secepat mungkin: saling menelanjangi kebobrokan di depan umum, menebarkan isu-isu negatif, dan bila perlu memfitnah; tidak peduli dengan etika, yang penting dapat menggiring simpati rakyat bahwa dialah yang paling benar dan berjasa serta paling pantas menjadi pemimpin.

Inikah identitas bangsa kita yang terkenal dengan budaya Timur yang santun? Atau inikah kesimpulan dari demokrasireformasi? Memang, bangsa ini sedang belajar berdemokrasi. Akan tetapi, pada kenyataannya sekarang justru menjadi “kebablasan”. Pesta yang seharusnya menjadi milik rakyat untuk dapat menyalurkan aspirasi berubah konteks menjadi pesta “pertarungan antarpendekar”. Hal ini disebabkan oleh terlalu banyak “pendekar mabuk” yang kalah mengeluarkan jurus-jurusnya. Sementara, untuk ikut bertarung sudah banyak harta benda yang digadaikan—asalkan jangan harga diri saja yang digadaikan— atau memang sudah terlanjur digadaikan keduanya?

Pada hakikatnya, rakyat tidak berharap pertarungan yang kebablasan tersebut. Rakyat hanya mendambakan agar “para pendekar” yang telah terpilih sebagai wakilnya di parlemen atau pun di pemerintahan benar-benar menepati janjinya: membela kepentingan rakyat banyak. Oleh sebab itu, seharusnya mereka jangan diam dan tidur ketika membahas masalah penderitaan rakyat dan bersemangat ketika membahas anggaran proyek dan kenaikan tunjangan gaji. Lakukanlah perubahan ke arah yang lebih baik dengan membuat piranti hukum yang dapat melindungi dan memayungi seluruh anak negeri tanpa diskriminasi supaya rakyat bisa hidup damai dan tenang dalam mencari nafkah.

Untuk mencapai hal tersebut seharusnya para “pendekar” sadar diri dengan menjauhi jurus “hantu” sindrom euforia reformasi, sebab jurus ini sering membuat “mabuk”, suka terbang terlalu tinggi, lupa untuk kembali berpijak ke bumi, dan lupa untuk berkaca pada sejarah. Ingatlah: hukum adil atas rakyat, tanda raja beroleh inayat. Jurus yang telah dilancarkan berupa janji yang telah diucapkan adalah utang yang akan dipertanggungjawabkan, tidak saja kepada rakyat, tetapi juga kepada Tuhan: ingat dirinya mati, itulah asal berbuat bakti/akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.

Mencermati fenomena di atas, ada apa dengan etika bangsa kita? Harus kita akui bahwa moral kita sedang “sakit” sebab telah digerogoti “hantu” sindrom euforia reformasi demokrasi yang ditunggangi oleh kapitalisme. Kita suka latah dalam mencontoh sistem berdemokrasi Amerika dan negara-negara Barat. Ibarat buah, kita hanya mampu mengambil kulitnya saja. Sementara itu, kita meninggalkan kearifan lokal yang luhur, yang sesuai dengan pola budaya bangsa ketimuran kita. Akibatnya, tatanan kehidupan masyarakat kita pun berubah dari pola masyarakat berbudaya santun menjadi masyarakat materialistis. Artinya, masyarakat menilai segala sesuatu berdasarkan materi yang mengakibatkan tumbuhnya sifat egois dengan mengesampingkan aspek sosial kemasyarakatan.
Supaya penyakit tidak semakin kronis, kita harus cepat-cepat berobat dengan mengadopsi kembali kearifan-kearifan lokal yang bernilai luhur. Sekadar melihat sejarah ke belakang, jauh sebelum negeri ini bermufakat bersatu menjadi Indonesia, kerajaan Johor-Riau telah mempunyai kitab berisi nasihat yang dijadikan payung hukum pemerintahan. Kitab ini telah sukses membimbing, tidak saja masyarakat dan raja di Kerajaan JohorRiau tetapi juga masyarakat dan raja-raja di Nusantara. Kitab itu adalah Gurindam 12 yang ditulis oleh seorang ahli pikir, pujangga, dan ulama besar Riau, Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji menulis kitab ini berlandaskan Alquran dan hadis sehingga bersifat universal sesuai dengan fitrah Islam, rahmat bagi semesta alam. Dengan pikiran jernih dipadu dengan ilmu pengetahuan yang luas, Raja Ali Haji membuat nasihat sebagai payung hukum untuk membimbing manusia agar dapat menemukan jalan hidup yang berbudi luhur, amanah, dan tampil dengan akhlak mulia sehingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara bisa berjalan dengan baik dan harmonis. Secara hakikat, hukum yang datang dari Allah merupakan hukum yang adil dan bersifat abadi. Sementara itu, hukum yang dibuat oleh manusia dapat diubah dan sesuai kehendak kepentingan penguasa dan hawa nafsu. Sebagai rakyat, sekali lagi, kita berharap agar para “pendekar” yang terpilih sebagai pemegang amanah dengan memakan dana yang tidak sedikit agar kembali belajar pada kearifan lokal yang bijak!

Gurindam 12 diawali dengan mukadimah yang berisi definisi gurindam dan manfaatnya, inilah arti gurindam yang di bawah satar ini: persimpangan yang indah-indah/yaitu ilmu yang memberi faedah, lalu disusul oleh 12 pasal. Mari kita lihat sekilas substansi pokok pasal per pasalnya.

Pertama, membahas masalah hakikat agama yang bermuara pada makrifat dalam mengenal diri supaya dapat mengenal Allah.

Kedua, membahas masalah syariat agama berupa mudarat meninggalkan salat, zakat, dan berhaji.
Ketiga, anjuran untuk memelihara panca indera supaya bermanfaat yaitu mata, kuping, lidah,tangan, perut, anggota tengah, dan kaki.

Keempat, membahas masalah manfaat serta mudarat sifat-
sifat manusia: zalim, dengki, mengumpat dan memuji, marah, bohong, aib diri, bakhil, kasar, perkataan kotor, dan salah diri.

Kelima, mengenal karakter sesuai sifatnya, orang berbangsa, orang bahagia, orang mulia, orang berilmu, orang berakal, dan baik perangai.

Keenam, anjuran untuk mencari yang dapat memperoleh manfaat, sahabat, guru, isteri, kawan, dan abdi.

Ketujuh, membahas sifat dan perbuatan manusia serta azas manfaat dan mudaratnya: banyak berkata-kata, berlebih-lebihan, kurang siasat, anak tidak dilatih, mencela orang, banyak tidur, mendengar kabar, mendengar aduan, perkataan lemah-lembut, perkataan amat kasar, dan pekerjaan benar.

Kedelapan, membahas mudarat dari sifat-sifat negatif yang ada pada manusia: khianat, aniaya, membenarkan diri, memuji diri, menampakkan jasa, kejahatan yang disembunyikan, dan membuka aib orang.

Kesembilan, membahas perbuatan manusia yang ditunggangi setan, mengerjakan perbuatan yang tidak baik, kejahatan perempuan tua, hamba-hamba raja, orang muda, perkumpulan laki-laki dan perempuan, orang tua hemat, dan orang muda kuat berguru.

Kesepuluh, mengemukakan manfaat berbuat baik, terutama pada orang yang dekat dengan kita: bapak, ibu, anak, istri, dan kawan.

Kesebelas, anjuran berupa rambu-rambu jika hendak melakukan dan menjadi sesuatu: berjasa, kepala, memegang amanat, marah, dimulai, dan ramai.

Keduabelas, membahas masalah pemerintahan, perbuatan, hakikat diri, dan akhirat.

Gurindam 12 ditutup dengan “tamatlah gurindam yang dua belas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga, kepada tiga likur hari bulan Rajab, hari selasa, jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.”

Dengan melihat kandungan isi Gurindam 12 di atas yang membahas seluruh aspek kehidupan, baik beragama, bermasyarakat, dan pemerintah, tidak salah kalau kita terutama para “pendekar” sebagai pengemban amanah untuk berkaca pada kearifan lokal yang luhur ini. Atau, paling tidak, menjadikannya sebagai bahan literatur ketika membuat piranti hukum!
Wallahu A’lam!***

Sumber: KerlingAntologi Kritik/Esai Bahasa dan Sastra, Penyunting: Dessy Wahyuni, Medri Oesnoe, Agus Sri Danardana, dan  Tirto Suwondo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »