Acep Zamzam Noor

ADMIN SASTRAMEDIA 6/26/2019
Acep Zamzam Noor

ACEP ZAMZAM NOOR dilahirkan di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk belajar dan berkarya di Universita Italia per Stranieri, Perugia, Italia (1991-1993).  Mengikuti workshop seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996).


Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan Indonesia dan luar negeri, seperti Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam  Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007), Tulisan Pada Tembok (Komodo Books, 2011), Bagian dari Kegembiraan (2013), Berguru Kepada Rindu (Diva Press, 2017) serta Ziarah ke Dalam Diri (masih dalam proses). Kumpulan puisinya dalam bahasa Sunda adalah Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993), Paguneman (Nuansa Cendekia, 2011) dan Kiblat Kuring (masih dalam proses).


Sejumlah puisinya termuat dalam beberapa antologi penting seperti Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987), Dari Negeri Poci II (Tiara, 1994), Ketika Kata Ketika Warna (Yayasan Ananda, 1995), Takbir Para Penyair (Festival Istiqlal, 1995), Negeri Bayang-bayang (Festival Surabaya, 1996), Dari Negeri Poci III (Tiara, 1996), Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996), Utan Kayu: Tafsir Dalam Permaianan (Kalam, 1998),  Bakti Kemanusiaan (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2000), Angkatan 2000 (Gramedia, 2001), Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), Napas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004) dan lain-lain.


Sejumlah puisinya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan termuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995),  Aseano (Manila, 1995), In Words In Colours (Jakarta, 1995), A Bonsai’s Morning (Bali, 1996), Journal of Southeast Asia Literature Tenggara (Kuala Lumpur, 1996), diterjemahkan Harry Aveling untuk  Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), Poetry And Sincerity (Jakarta, 2006), Asia Literary Review (Hongkong, 2006) serta The S..E.A. Write Anthology of Asean Short Stories and Poems (Bangkok, 2008). Juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan termuat dalam  Toekomstdromen (Amsterdam, 2004), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan termuat dalam jurnal  Orientierungen (Bonn, 2008) serta antologi puisi modern Indonesia Sprachfeuer (Berlin, 2015), diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan termuat dalam Antologia de Poeticas (Jakarta, 2008). Belakangan diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang, Korea dan Arab. Tahun 2015 terbit Death Approaching and Other Poems, kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Inggris dan Jerman. Tahun 2017 terbit Ailleurs Des Mots, kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Perancis.


Puisi-puisi Sundanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001) dan ke dalam bahasa Perancis oleh Ajip Rosidi dan Henri Chambert-Loir untuk Poemes Soundanais: Anthologie Bilingue (Pustaka Jaya, 2001). Sebagian esai-esainya sudah dikumpulkan dalam Puisi dan Bulu Kuduk (Nuansa Cendekia, 2011), Menjadi Sisifus (dalam proses penerbitan) dan Islam tapi Mesra (dalam proses penerbitan).


Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk puisi Sunda terbaik. Kumpulan puisinya, Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Sedang kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu selain mendapat Penghargaan Penulisan  Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, juga mendapat South East Asian Write (SEA) Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI untuk opini budaya terbaik yang dimuat media massa. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Tahun 2012 mendapat Hadiah Rancage untuk kumpulan puisi Sunda Paguneman. Lalu kumpulan puisi Bagian dari Kegembiraan mendapat Anugerah Hari Puisi 2013. Namanya termuat dalam Ensiklopedi Sunda dan Apa Siapa Orang Sunda susunan Ajip Rosidi.


Tahun 1995 mengikuti Scond ASEAN Writes Conference di Manila, Filipina, mengikuti Festival Puisi Indonesia-Belanda dan Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Tahun 1997 mengikuti Festival Seni Ipoh II, di Ipoh, Malaysia. Tahun 2001 mengikuti Festival Puisi Internasional Winternachten Overzee di Jakarta, mengikuti Kuala Lumpur Southeast Asian Writers  Meet di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Makassar. Tahun 2004 mengikuti Winternachten Poetry International Festival di Den Haag, Belanda.  Tahun 2006 mengikuti Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang, mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2006 di Bali. Tahun 2007 mengikuti Utan Kayu International Literary Biennale di  Magelang, menjadi mentor pada Bengkel Puisi Majlis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Samarinda. Tahun 2008 mengikuti Temu Sastrawan Indonesia di Jambi, mengikuti Jakarta International Literary Festival di Jakarta, mengikuti Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tahun 2009 mengikuti Nusantara Poetry Gattering di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2011 memberikan kuliah dan seminar di Nanzan University, Nagoya, Jepang. Tahun 2014 membacakan puisi pada International Poetry Festival di Genoa, Italia. Tahun 2015 menjadi pembicara pada Forum Penyair Asean di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2017 membacakan puisi dan memberikan kuliah di Inalco, Paris, Perancis.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »