Analisis Sajak "Madura" karya Abdul Hadi W.M. - Puji Santosa

ADMIN SASTRAMEDIA 6/11/2019
Analisis Sajak "Madura" karya Abdul Hadi W.M. sastramedia.com
WWW.SASTRAMEDIA.COMSajak “Madura” karya Abdul Hadi W.M. mendapat pujian dan penghargaan sebagai puisi terbaik yang dimuat di majalah Horison pada awal tahun penerbitan majalah sastra tersebut. Berikut sajak lengkapnya:


MADURA

Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil, ketika tiba, 
serta langit yang sayu pun termangu antara kapal-kapal 
dan sampan, antara lenggang pohon dan redup mata. 
Selamat pagi tanah kelahiran, aku pun tidak menghitung 
untuk yang ke berapa kali pulang dari suatu perjalanan. 
Saat pun hari menebal dan waktu-waktu saat pun manusia 
tahu yang paling berat adalah kerinduan. Saat pun segala 
sangsi melagukan hasrat yang paling nyaman dan adakah 
yang lebih nikmat, daripada bersahabat dengan alam,
dengan tanah kelahiran, dan dengan kerja serta dengan 
kehidupan? Aku pun akan mengatakan tapi tidak untuk 
yang penghabisan.

Ketenangan Selat Kamal
adalah ketenangan hatiku
membuang pikiran dangkal
yang mengganggu sajakku

kurangkul tubuh alam
seperti mula kelahiran Adam
sedang sesudah mengembara
baiklah kita rahasiakan

dari perjalanan ini
aku membawa timbun puisi
bahwa aku selalu asyik mencari
keteduhan mimpi

kebiruan Selat Kamal
adalah kebiruan sajakku
dan terasa hidup makin kekal
sesudah memusnah rindu

bertemu segala milik dan hak
dalam cinta dan sajak
noktah-noktah berdebu di bersihkan
di kedua tangan

kuberi pula salam sayup
kepada pantai yang berbatas pasir
dan langit yang mulai redup
pada waktu sajak lahir

Kedangkalan Sungai Sampang
adalah kedangkalan hatiku
menimbang hidup terlalu gamang
dan di situ ketergesaan mengganggu

dan terlalu tamak
dengan kesempurnaan
dengan sesuatu yang bukan hak
dengan kejemuan

tetapi sekali saat tiba juga
pada suatu tempat
tanpa petunjuk siapa-siapa
asal kita bersempat

mengerti juga kenapa kiambang
bertaut sepanjang sungai
dengan belukar dan kembang-kembang
sebelum kita sampai ke dasar dan muaranya

Diamnya Sungai Sampang
adalah diamnya sajakku
sekali waktu banjir datang
sekali waktu airnya biru

dan bertetap tujuan
ke suatu muara
yang berasal dari suatu daerah pegunungan
untuk sumber pertama

Kerendahan Bukit Payudan
adalah kerendahan hatiku
menerima nasib dalam kehidupan
di atas kedua bahu

sesekali pernah kita
tidak tahu tentang kelahiran
dan bertakut menjadi tua
karena ancaman kematian

Keramahan Bukit Payudan
adalah keramahan sajakku
untuk mengerti kepastian
yang lebih keras dari batu

sesekali pernah kita
tidak tahu ke mana mengembara
kemudian muncul kembali di tanah kesayangan
dengan kehampaan di tangan

tak seorang menyambut datang
tak seorang menanti pulang
tak seorang menerima lapang
atau membacakan tembang-tembang

dan kesia-siaan begini
akan selalu kualami
namun tak selalu kusesali
sebab kubenam sebelum jadi

Keterpencilan desa Pasongsongan
adalah keterpencilan hatiku
sebelum memulai perjalanan
ke jauh kota dan pulau

tapi keabadian lautnya kini
telah mengembalikan cintaku
tanah yang pernah tersia sebelum dimengerti
dan ditinggalkan rasa kebanggaanku

dan sebagai anak manusia
sekali aku minta istirah mengembara
berhenti membuat puisi yang mendera
dan berhenti memikat dara-dara

sebab di sinilah tumpahnya
darah kita pertama
dan terakhir berhentinya
mengaliri nadinya

- 1967 -

(Horison Nomor 8 Tahun III, Agustus 1968, halaman 242)

Keseluruhan sajak “Madura” karya Abdul Hadi W.M. tersebut terdiri atas lima bagian. Bagian pertama merupakan pengantar sajak yang ditulis dalam bentuk narasi atau lukisan alam. Bagian kedua merupakan pujaan pada Selat Kamal yang mengilhami penulisan sajak “Madura” tersebut. Bagian ketiga merupakan pujaan terhadap keindahan Sungai Sampang yang membangun sajaknya semakin indah. Bagian keempat juga merupakan pujaan terhadap kerendahan bukit Payudan yang membuat pula kerendahan hati sang penyair. Bagian yang kelima atau terakhir merupakan kecintaan penyair terhadap keterpencilan desa Pasongsongan yang merupakan tanah kelahiran dan kematiannya nanti.

Setiap bagian dalam sajak “Madura” tersebut tidak sama jumlah bait dan panjang-pendeknya larik. Bagian pertama yang ditulis dalam bentuk narasi itu sebenarnya hanya terdiri atas lima kalimat yang panjang-panjang. Kalimat pertama berisi lukisan keadaan pelabuhan kecil yang anginnya bertiup pelan-pelan, langitnya yang sayu termangu, ada kapal-kapal dan sampan, ada lenggang pohon dan redup mata yang memandang. Kalimat kedua berisi ucapan selamat pagi kepada tanah kelahiran yang telah berkali-kali, tak terhitung jumlahnya, berapa kali pulang dari suatu perjalanan. Kalimat ketiga merupakan pernyataan kerinduan terhadap tanah kelahirannya. Kalimat keempat merupakan pernyataan kenikmatan atas persahabatannya dengan alam, kerja, dan kehidupan. Kalimat kelima merupakan keinginan penyair untuk mengatakan “sesuatu”, tetapi bukan untuk yang terakhir kalinya.

Bagian kedua terdiri atas enam bait yang setiap baitnya terdiri atas empat larik. Mulai bagian kedua ini sajak ditulis dalam bentuk kuartrin atau sajak empat seuntai. Penyair sangat memperhatikan pilihan kata dan rima akhir, menyerupai syair atau pantun. Ketenangan Selat Kamal merupakan ilham bagi sajak yang ditulisnya. Penyair mengibaratkan seperti kehadiran Adam yang sedang/ sesudah mengembara. Di dalam pengembaraannya itu Aku lirik menemukan berbagai pengalaman hidup, antara lain, tentang hak milik, cinta, dan noktah-noktah kehidupan. Itu semuanya dipakai sebagai bekal untuk merasakan hidup semakin kekal setelah memusnahkan kerinduan terhadap kampung halamannya.

Bagian ketiga juga terdiri atas enam bait yang kesemuanya ditulis dalam bentuk sajak empat seuntai. Sungai Sampang merupakan sungai yang menjadi urat nadi desa kelahiran Aku-lirik. Sungai yang sekali waktu banjir dan sekali waktu pula warna airnya biru itu tetap pada tujuan akhirnya, yaitu bermuara menuju ke laut lepas. Sungai Sampang yang berasal dari sumber mata air pada suatu daerah pegunungan itu merupakan inspirasi ketenangan sajak yang dibuat oleh penyair.

Bagian keempat juga ditulis dalam bentuk sajak empat seuntai yang terdiri atas enam bait. Bukit Payudan merupakan objek estetis penyair dalam bagian keempat ini. Meskipun bukit itu rendah, tetapi cukup ramah menyambut kehadiran penyair setelah pulang dari pengembaraannya. Hanya tangan hampa dan kesia-siaan yang ia peroleh dari pengembaraan itu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya, tak ada seorang pun yang menanti kepulangannya, dan tak ada seorang pun yang membacakan tembang-tembang waktu ia tiba dari pengembaraan. Semua itu tidak pernah disesali karena rasa sesal dan kecewa itu sudah dibebankan ke dalam lubuk hatinya yang sedalam-dalamnya sebelum muncul rasa penyesalan dan kekecewaan.

Bagian kelima merupakan bagian penutup dari sajak “Madura”. Masih ditulis dalam bentuk sajak empat seuntai, bagian kelima ini hanya terdiri atas empat bait. Objek estetis sebagai kata penutup sajak ini adalah keterpencilan Desa Pasongsongan. Desa yang merupakan tempat Aku-lirik dilahirkan itu juga merupakan simbol dari keterpencilan hati Aku-lirik sebelum memulai perjalanan indah ke luar pulau. Di Desa Pasongsongan itulah ia dilahirkan dan kelak dikuburkan setelah berhenti aliran darah urat nadinya.

Keseluruhan rangkaian bait sajak “Madura” termasuk sajak lirik. Sajak yang berupa curahan perasaan dan pikiran penyair tentang alam ini terdiri atas 23 bait. Bait pertama ditulis dalam satu alinea yang menyerupai paragraf pengantar. Bait-bait selanjutnya ditulis dalam bentuk sajak empat seuntai yang menyerupai bentuk pantun atau syair. Pilihan kata dan rima akhir dalam sajak “Madura” ini dipelihara konsisten sehingga menimbulkan efeks estetis sajak yang merdu dan melodis. Kemerduan dan kemelodian sajak itu ditengarai dengan perulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat.

Tokoh yang dihadirkan dalam sajak “Madura” ini adalah tokoh Aku-lirik. Sang tokoh pengembara yang sangat mencintai kehidupan, pemuja alam, dan suka kerja keras. Identitas tokoh ini tidak begitu jelas karena tidak ada kata atau kalimat yang menerangkan tentang identitas tokoh tersebut. Tidak ada kekhasan fisik pada tubuh si tokoh karena tidak dilukiskan dalam sajak tersebut. Tokoh nonmanusia yang disapa oleh tokoh Aku-lirik adalah angin, langit, pohon, kapal, sampan, Selat Kamal, Sungai Sampang, Bukit Payudan, Desa Pasongsongan, dan sajak. Ada juga tokoh yang diambil sebagai tokoh mitologi, yaitu Adam, manusia pertama yang diciptakan Tuhan.

Peristiwa yang dinarasikan dalam sajak “Madura” Ini adalah peristiwa rekaan sebagai alusi dari peristiwa nyata. Peristiwa nyata itu ditandai oleh adanya nama latar tempat yang disebut-sebut dalam sajak secara jelas. Nama “Madura” disebut sebagai judul sajak itu terletak di timur Pulau Jawa, dan termasuk wilayah Provinsi Jawa Timur. Nama tempat yang sesuai dengan fakta geografi, seperti Selat Kamal, Sungai Sampang, Bukit Payudan, dan Desa Pasongsongan, semuanya itu berada di wilayah Pulau Madura— pulau yang terkenal dengan garamnya.

Citraan alam dalam sajak “Madura” ini sangat dominan. Wujud dari citraan alam itu adalah benda-benda alam yang meliputi: angin, langit, pohon, selat, sungai, gunung, air, pasir, batu, tanah, debu, pantai, laut, belukar, kembang-kembang, banjir, muara, pulau, dan pegunungan. Selain citraan alam, juga ada citraan manusia, yaitu Adam, Aku-lirik, dan nelayan. Citraan buatan manusia adalah kapal, sampan, sajak (puisi), dan tembang.
Wujud citraan dalam sajak “Madura” tersebut dapat ditangkap oleh pancaindera menjadi citraan lihatan, citraan dengaran, dan citraan rabaan. Citraan lihatan menunjukkan kepada pembaca secara jelas yang seolah-olah melihat dengan mata kepala sendiri adanya:

(1) kapal-kapal dan sampan di pelabuhan kecil, 
(2) Selat Kamal yang tenang gelombang air lautnya, 
(3) Aku-lirik yang sedang asyik mencari sesuatu, 
(4) warna kebiruan Selat Kamal, 
(5) Aku-lirik yang membersihkan kotoran debu di tangan, 
(6) pandangan yang mulai redup, 
(7) warna air sungai Sampang yang biru, 
(8) kerendahan Bukit Payudan, 
(9) kemunculan Aku-lirik di tanah kesayangan, dan 
(10) seseorang yang menyambut kedatangan

Aku-lirik. Sejumlah citraan lihatan itu mampu membangkitkan pesona sajak agar pembaca ikut menyaksikan sendiri kehadiran tokoh Aku-lirik yang pulang dari pengembaraannya.

Munculnya citraan dengaran juga menerangkan kepada pembaca sesuatu hal yang didengar secara langsung oleh pembaca. Hal-hal yang didengarkan oleh pembaca dalam sajak itu adalah: lagu, tembang, suara ombak, dan deru angin pelabuhan. Citraan rabaan membuat seolah-olah pembaca meraba atau merasakan adanya benda-benda yang menyentuh kulit, misalnya rangkulan alam, terasa hidup makin kekal, dan noktah-noktah berdebu dibersihkan. Kehadiran citraan-citraan dalam sajak tersebut dapat menimbulkan suasana sajak terasa menjadi hidup dan tidak monoton.

Latar waktu dalam sajak “Madura” ditunjukkan secarta langsung dalam larik awal sajak tersebut. Kalimat “Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil ketika tiba serta langit yang sayu pun termangu” secara implisit menunjukkan waktu pada sore hari atau senja. Latar tempat dalam sajak itu cukup banyak, yaitu (1) di pelabuhan kecil, (2) Selat Kamal, (3) Sungai Sampang, (4) Bukit Payudan, dan (5) Desa Pasongsongan. Kelima tempat yang ditunjuk dalam sajak “Madura” itu semuanya berada di wilayah Pulau Madura dan alam bebas.

Piranti puitis yang digunakan dalam sajak “Madura” karya Abdul Hadi W.M. itu adalah metafora, simile, personifikasi, kontras, dan perulangan. Bentuk metafora dalam sajak tersebut adalah sebagai berikut.

(1) Ketenangan Selat Kamal adalah ketenangan hatiku.
(2) Kebiruan Selat Kamal adalah kebiruan sajakku.
(3) Kedangkalan Sungai Sampang adalah kedangkalan hatiku.
(4) Diamnya Sungai Sampang adalah diamnya sajakku.
(5) Kerendahan Bukit Payudan adalah kerendahan hatiku.
(6) Keramahan Bukit Payudan adalah keramahan sajakku.
(7) Keterpencilan Desa Pasongsongan adalah keterpencilan hatiku dahulu sebelum memulai suatu perjalanan.

Bentuk simile atau perbandingan tidak langsung secara jelas terlihat dalam kalimat: “Kurangkul tubuh alam seperti mula kehadiran Adam”. Gaya personifikasi terlihat dalam kalimat: “Langit yang sayu pun termangu”, “Lenggang pohon”, dan “Langit yang mulai pun redup pada waktu penyair hadir.”

Kehadiran bentuk kontras dalam sajak “Madura” ini ditandai oleh kata “tapi” dan “namun”. Ada tiga kalimat yang menggunakan kata “tapi” dan satu kalimat yang menggunakan kata “namun”.

Keempat kalimat bentuk kontras itu adalah sebagai berikut.
(1) Aku pun akan mengatakan tapi tidak untuk yang penghabisan.
(2) Tapi sekali saat tiba juga pada suatu tempat.
(3) Tapi keabadian lautnya kini telah mengembalikan cintaku. (4) Namun tidak selalu kusesali karena kubenam sebelum jadi.

Piranti-piranti puitis tersebut diperkuat dengan adanya perulangan. Perulangan dalam sajak “Madura” ini cukup banyak, ada perulangan bunyi, perulangan kata atau frasa, dan perulangan kalimat. Perulangan bunyi dalam sajak ini dimanfaatkan untuk kepentingan rima (persajakan) akhir. Unsur bunyi yang menyerupai bentuk pantun dengan pola bunyi a b a b (rima bersilang) sebanyak 13 bait, dan unsur bunyi yang menyerupai syair dengan pola bunyi a a a a (rima rata) sebanyak lima bait. Bentuk perulangan kata terlihat secara jelas dalam bentuk metafora (lihat 7 kalimat contoh metafora di atas). Perulangan kalimat sajak ini diwujudkan dalam bentuk perulangan larik sajak. Bentuk yang dipakai banyak yang menggunakan anafora, yaitu perulangan kata atau frasa larik yang ada di depan. Perhatikan contoh-contoh berikut.

Saat pun hari menebal dan waktu-waktu.
Saat pun manusia tahu yang paling berat adalah kerinduan.
Saat pun segala sangsi melagukan hasrat yang paling nyaman.

dan terlalu tamak 
dengan kesempurnaan 
dengan sesuatu yang bukan hak 
dengan kejemuan

tak seorang menyambut datang 
tak seorang menanti pulang 
tak seorang menerima lapang 
atau membacakan tembang-tembang

Kehadiran perulangan dalam sajak “Madura” di atas mampu membuat sajak menjadi hidup, terasa ritmis, dan penuh dinamika.

Sajak “Madura” berbicara tentang kehidupan yang penuh dengan romantisisme. Keromantisan kehidupan yang terlukis dalam sajak itu ditunjukkan keramahan bersahabat dengan alam. Hanya bersahabat dengan alam, tanah kelahiran, kerja dan kehidupanlah manusia dapat merasa nikmat. Hal itu secara nyata diungkapkan dalam kalimat yang terdapat dalam bagian pertama. “Dan adakah yang lebih nikmat daripada bersahabat dengan alam, dengan tanah kelahiran, dan dengan kerja sama dengan kehidupan?” Ungkapan penyair ini memberi tuntunan kepada kita untuk bersikap arif terhadap alam dan lingkungan yang menjadi tempat hidup kita.

Kecintaan terhadap alam, tanah kelahiran, juga ditunjukkan dengan pemujaannya terhadap keindahan Selat Kamal, Bukit Payudan, Sungai Sampang, dan Desa Pasongsongan. Hal itu secara nyata ditunjukkan pada bagian 2, 3, 4, dan 5. Keindahan alam tersebut mengilhami sajak yang dibuat oleh penyair. Dengan bahasa metafora penyair berusaha membandingkan keindahan alam dengan sajak yang diciptakannya. Alam memberikan nuansa keindahan tersendiri yang tiada bandingnya. Alam mampu mengembalikan tenaga kecintaannya yang abadi, seperti yang terungkap dalam bait 21 berikut.

“tapi keabadian lautnya kini 
telah mengembalikan cintaku 
tanah yang pernah tersia sebelum dimengerti 
dan ditinggalkan rasa kebangsaanku”

Mengapa penyair begitu cintanya terhadap tanah kelahirannya? “Sebab, di sinilah tumpahnya/ darah kita pertama/ dan terakhir berhentinya/ mengaliri nadinya”. Tanah kelahiran merupakan tempat penyair dilahirkan dan kelak tempat “darahnya” tumpah, serta tempat kuburannya kelak apabila telah mati. Dengan demikian, tanah kelahiran merupakan segala-galanya bagi penyair. Tanah kelahiran merupakan inspirasi, tempat hidup, dan mati baginya. Oleh karena itu, tanah kelahiran menjadi tumpuan harapan dan sumber kehidupan yang perlu dijaga kelestariannya.

Suasana sajak yang romantis dan alami ini mendapatkan hadiah sastra dari majalah Horison sebagai sajak pujian (1968). Sajak “Madura” menyuguhkan nilai-nilai keromantisan bagi penyair yang rindu terhadap tanah airnya. Hanya tanah airnya yang mampu memberi ilham dan gairah hidup bagi penyair yang senang dengan mengembara. “Madura” memberi ilham dan gairah hidup bagi Abdul Hadi W.M. untuk mengembara di sepanjang masa.

Biografi singkat yang paling lengkap Abdul Hadi W.M, bisa klik: Abdul Hadi W.M.

____
Sumber: Peran Horison sebagai Majalah Sastra, Puji Santosa dan Djamari, Editor: Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum, Elmatera Publishing, Yogyakarta, 2013

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »