BIcara tentang Sejarah Kritik Sastra

ADMIN SASTRAMEDIA 6/13/2019
oleh Subagio Sastrowardoyo

[Esai ini aslinya ditulis dalam ejaan lama bahasa Indonesia, kemudian diubah ke ejaan baru oleh tim redaksi Sastramedia]

BIcara tentang Sejarah Kritik Sastra - sastramedia.com

WWW.SASTRAMEDIA.COM - Keluhan yang sering terdengar ialah bahwa kita kurang punya kritik sastra. Jumlah yang terbanyak yang diterima redaksi majalah sastra adalah sajak dan cerita, sedang buah pendapat tentang sastra berupa kritik atau bahasan jarang terdapat. Akibatnya terlihat pada produksi sastra yang dengan ramainya mengisi halaman majalah dan menghiasi rak-rak toko buku, tapi yang tampak terkulai saja karena tidak mendapat penggarapan pikiran kritik.

Kekecewaan menyaksikan kesepian kritik sastra itu diperdalam oleh keinsafan bahwa telah dapat disusun sejarah kesusastraan yang menempatkan pengarang dengan karangan-karangannya dengan jelas dalam urutan zamannya, tetapi bahwa belum juga terlihat kemungkiran disusun sejarah kritik sastra. Sejarah demikian akan memberi perspektif kepada tinjauan umum tentang sastra.

Barangkali justru kesadaran tidak adanya sejarah kritik itu menghambat timbulnya kegiatan kritik. Orang tidak punya pegangan pada aparat-aparat kritik, dan keseganan melancarkan kritik pada sastra sebagian datang dari kurangnya pengetahuan tentang asas dan cara mengkritik. Kemantapan dan kesibukan kritik sastra bisa bangkit dari pengetahuan sejarahnya.

Sejarah kritik sastra di negeri manapun menggambarkan corak kritik yang berbeda-beda. Setiap bentuk kritik punya hak untuk berlaku sebagai kritik dan wajib dicatat peran kesejarahannya. Justru asas dan cara kritik yang berbeda dan sering berlawanan itu membuktikan adanya sejarah dalam dunia kritik.

Dalam mengharapkan kegiatan kita cenderung mengikatkan diri pada pengertian-pengertian kritik yang terlalu tegang. Kita menuntut penelitian yang menganut metode yang tegas dengan uraian pikiran yang dingin. Tetapi kritik sastra tak selamanya demikian dan jarang adanya demikian. Kritik sastra kebanyakan mengikuti sifat objek penyelidikannya. Bayangan imajinasinya tidak tahan dikungkung dalam bagan-bagan sistematik yang padat. Selalu ada yang menerobos jaringan pikiran. Karena itu kritik sastra banyak yang bersifat impresionistik, berupa kesan-kesan sesaat yang sempat ditangkap. Tidak jarang kritik demikian hilang kepadatan gagasannya karena digerogoti arus emosi. Ada pula yang menyorot karangan dari lapangan dan kepentingan lain dari sastra. Orang hendak memeriksa dan menilai sastra dari jurusan sesuatu mazhab filsafat. Dalam hal ini ukuran-ukuran dari luar dikenakan kepada sastra yang dituntut mematuhinya. Kritik demikian dengan sendirinya membawa serta prasangka-prasangka kekhasan perhatian. Prasangka datang pula dari jurusan psichoanalisa, dari sosiologi, dari politik, dari agama dan moral. Semua ragam kritik ilu pada gilirannya dan menurut kepentingannya memiliki hak berlakunya sebagai kritik sastra.

Kritik sastra bisa bertarap ilmiah dengan dilandasi prinsip-prinsip dan metodologi yang terperinci rumusannya, tetapi adalah kritik sastra juga yang bersifat jurnalistik yang dilakukan secara insidentil melalui majalah dan koran Juga tanggapan populer tentang sastra adalah satu corak dan tingkat kritik.

Tugas kritik sastra mengorganisir dunia seni menjadi dunia pikiran. Seni yang tak memperjelas diri membutuhkan tanggapan pengertian. Kritikus merumuskan pengertian itu dalam dalil-dalil bahasa yang konvensionil. Ia memecahkan kekhasan dunia seni dan menyusunnya kembali dalam keumuman dunia pikiran. Kritikus adalah dia yang menyorot dan menganalisa buah sastra dalam perspektif kesejarahan dan kefilsafatan, tetapi juga dia yang sekadar memberi timbangan dan komentar. Soal tepatnya orang diberi julukan kritikus, pembahas atau hanya komentator saja adalah soal penentuan nilai dan gelar dan tidak bersangkutan dengan pengertian pokok.

Sejarah kritik sastra di luar maupun di dalam negeri sendiri menyadarkan kita akan berbagai kemungkinan bentuk kritik. Pelbagai asas penglihatan sastra telah menentukan perkembangan kritik sastra kita sejak semula. Dari anggapan populer bahwa sastra sekadar penghibur di waktu senggang saja, kepercayaan magik bahwa fungsi sastra mengundang tenaga-tenaga dari alam gaib, sampai kepada tuntutan bersifat borjuis bahwa sastra harus mematuhi norma-norma susila: dari syarat penerimaan naskah di Balai Pustaka, kepada cita-cita kebudayaan Poejangga Baroe, sampai kepada surat kepercayaan Angkatan 4S: dari pernilaian kolektif hasil sastra oleh almarhum Lekra, kepada pengistilahan dan kualifiikasi individuil terhadap sastra modern oleh H. B. Jassin, sampai kepada persaksian pengalaman mengarang yang bersifat subjektif oleh sastrawan-sastrawan, merupakan berbagai asas yang melandasi dan sekaligus juga mengandung kritik sastra.

Sejarah kritik sastra yang mencatat perkembangan kritik itu akan menyadarkan kita akan pelbagai kemungkinan ragam kritik dan akan memberikan kemantapan kepada penulisan kritik.***

Sumber: Majalah Sastra Horison, Nomor VI, Desember, 1966

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »