Cerita-Cerita Bertanding Menyusun Dunia: Fiksi Peter Carey (I) - Hasif Amini

ADMIN SASTRAMEDIA 6/03/2019
oleh Hasif Amini


I
Sepanjang kira-kira dua abad, kesusastraan (tulis, berbahasa Inggris) Australia bergerak antara pusaran realisme dan romantisisme, lebih-kurang. Pada mulanya adalah ketakjuban: orang-orang kulit putih yang turun dari geladak dan menduduki pesisir timur negerı benua itu, pada 1788, Menjumpai sejenis firdaus yang aneh. Pantai dan sungai yang tampak perawan; fauna dan flora ajaib tapi betapa nyata; orang-orang dari zaman batu tua setengah telanjang, menggenggam terompet tanduk atau bumerang; semak belukar dan gurun yang menghampar luas ke cakrawala. Maka dimulailah penelusuran, pencatatan, pemerian, juga barangkali pencurahan perasaan. Laporan-laporan tersebut dikirim balik ke Inggris Raya, Khalayak pembaca di sana terkesima.

Sejak jauh sebelumnya tentu sudah ada kesustraan lisan penduduk pribumi (yang kemudian dinamakan Aborigin) — konon tiba pertama kali di daratan itu sekitar 40.000 (salah satu pengujian arkeologis bahkan memperkirakan 10.000) tahun silam. Sebuah khazanah tua yang rumit dan kaya berisi pelbagai kisah dan nyanyian tentang para leluhur, atau tempat-tempat yang mereka cipta dan hidupkan nun di "Kala Mimpi” (Dreaming/Dreamtime), atau pertarungan antarleluhur memperebutkan kuasa dan pengetahuan. Repertoar yang diulang-ulang dalam kerumun upacara, acap disertai degup musik dan tarian, itu seakan hendak mengekalkan keajaiban momen penciptaan.

Namun warisan ini tersisihkan oleh semangat yang tengah mencuat dan menguat di penghujung abad ke-18 itu: semangat keilmuan dan penjelajahan (dan penaklukan) dari Zaman Pencerahan. Berhadapan dengan sebentang "dunia baru,” para penjelajah itu dibakar nafsu dan pesona merekam dan melekatkan nama-nama pada segala yang terindera. Tak heran bahwa yang mengemuka kemudian adalah jenis tulisan dokumentasi deskriptif, yang mengutamakan akurasi dan detail. Bersama ini bangkitlah di sana realisme, terang saja, wacana yang senantiasa berminat menyalin dunia "sebagaimana aslinya" dengan ketelitian dan ketaatan "ilmiah”. Itulah realisme yang masih saja bekerja, dalam pelbagai variannya, dengan segala hikmah dan ilusinya, hingga hari ini.

Novel-novel Australia yang pertama, yang terbit di dekat pertengahan abad ke-19, banyak mengangkat kehidupan keras di padang belukar koloni baru itu: petualangan para pionir dan pesakitan, perhadapan dengan orang Aborigin, kemujuran dan kesialan hidup di alam liar. Demikianlah, Quintns Servinton (1831) karya Henry Savery, lalu Ralph Rashleigh; or The Life of and Exile (1944) James Tucker, dan The Recollections of Geoffry Hamlyn (1859) Henry Kingsley adalah beberapa novel awal Australia yang sempat menjangkau khalayak luas. His Natural Life (1874) Marcus Clarke, yang banyak dijunjung sebagai satu karya klasik Australia, mengandalkan terutama sumber-sumber dokumenter sebagai bahan cerita. Sementara Robbery Under Arms (1888) Thomas Alexander Browne (dengan nama samaran Rolf Boldrewood) merintis penulisan dalam vernakular (gaya wicara khas) Australia.

Di sekitar peralihan abad dan sesudahnya berlangsung sejumlah perkembangan penting. Melewati seratus tahun pertama pendudukan, tumbuhlah — wah! — rasa kebangsaan yang memanggil kebutuhan tampilnya citra sebuah Australia yang percaya diri, gagah, gigih, namun juga ramah dan bahu-membahu: sebuah "politik identitas nasional" lahir. Timbul dorongan nostalgia romantik ke masa lampau yang lebih permai, tenang dan bersahaja. (Tetapi kurun peralihan ini sebenarnya menghasilkan pula beberapa karya yang tersentuh pengaruh modernisme, terutama dalam puisi, seperti tampak pada syair-syair Kenneth Slessor dan Robert FitzGerald.) Lalu, pada dasawarsa 1940•an, bangkit gerakan yang mengedepankan budaya Aborigin dan keunikan kehidupan Australia, semacam hasrat pemurnian dari unsur-unsur "asing" yang menyosok misalnya dengan nama Gerakan Jindyworobak dalam dunia kesenian. Joseph Furphy, Such is Life (1903); Ethel Florence Lindesay Robertson (nama samaran: Henry Handel Richardson), Maurice Guest (1908); Katharine Susannah Prichard, Coonardoo (1929); hingga Xavier Herbert, Capricornia (1938), adalah wakil-wakil terkemuka dari kurun tersebut.

Akan tetapi, sumbangan yang luar biasa dan menentukan bagi perjalanan kesusastraan Australia baru datang kemudian sehabis Perang Dunia Il. Di masa itu tumbuh subur pelbagai penerbitan berkala sastra, dan perhatian serta minat publik sastra dunia terhadap karya literer dari koloni besar di selatan tersebut pun mulai melonjak pesat. Corak penulisan deskriptif-faktual masih menonjol, memang, namun sejumlah penulis telah bergerak lebih jauh mengeksplorasi dunia imajinasi dengan beragam kemungkinan spekulatifnya.

Adalah, terutama, Patrick White — peraih Hadiah Nobel Sastra 1973 — yang secara gemilang membuka lahan baru penjelajahan tematik dan kebahasaan melalui karya-karyanya yang bernuansa epik psikologis (namun sesungguhnya sejenis hibrida dari pelbagai warisan kesusastraan antik maupun kontemporer). Metafora pokok dalam narasi White adalah perialanan spiritual, pencarian kemungkinan keselamatan manusia melampaui urusan kalah/menang maupun segala macam standar pencapaian yang umum dikena!, Karakter-karakter fiksi White, dalam ungkapan kritikus Peter Wolfe, adalah "para santa kegagalan" (saints offailure): figur-figur yang di tengah ketidakmampuan mereka melakukan atau menjadi sesuatu yang mereka kehendaki justru terus saja melangkah dan menjernihkan panggiian asali jiwa mereka sendiri, yang akhirnya membawa mereka ke suatu tingkat (atau jenis) pengalaman di mana keberhasilan atau kegagalan yang mengitari mereka tak lagi punya arti. "Misteri kehidupan tidaklah cdipecahkan oleh keberhasilan, yang meniadi akhir bagi dirinya sendiri, melainkan dalam kegagalan, dalam pergelutan abadi, dalam perjalanan menjadi," ujar Le Mesurier, salah satu tokoh dalam novel Voss (1957).

Lebih lagi, "disiplin kegagalan" itu dibawakan dengan kecanggihan teknik yang melintasi pelbagai kategori dan tradisi. Dalam novel-novel yang kerap dianggap puncak pencapaiannya, yakni The Tree of Man (1955), Vass (1957), Riders in the Chariot (1961) dan The Vivisector (1970), White meriwayatkan pencarian rohani di tengah pergelutan sehari-hari yang keras dan sukar. Pencarian itu berpuncak pada momen visioner yang melontarkan kesadaran para tokohnya — yang terus berbenturan, bergesekan dengan gebalau hidup dan akhirnya mengakui kedaifan bahkan ketakberdayaan mereka sendiri  -ke suatu wilayah tak tertentu, yang menggentarkan, mengguncangkan sendi-sendi bahasa dan persepsi sehari-hari, malahan melucuti keduanya sekaligus: peleburan identitas dalam suatu penyatuan mistis dengan semesta atau kekuatan mahadahsyat yang tak terpahami, tak terjelaskan.

Di sini realisme bersenyawa dengan visi mitologis tentang kesatuan antara yang kasatmata dan yang gaib, yang profan dan yang sakral, yang nista dan yang sublim. Dengan ini sekaligus White tampil sebagai sebentuk anomali dalam konteks kesusastraan Australia yang didominasi realisme maupun dalam kancah kesusastraan dunia abad ke-20 yang cenderung kehilangan kepercayaan terhadap spiritualitas. Pada karya yang lebih belakangan, seperti Memoirs of Many in One by Alex Xenopbon Demirjian Gray (1986), White tampak bermain-main dengan bentuk naratif — dengan posisi kepenulisan, dalam hal ini — di mana dia menempatkan diri sebagai "editor" buku harian seorang teman yang baru saja meninggal dunia. Dalam karya metafiksi itu White juga menghadirkan persoalan peiiknya identitas, yang akhirnya cenderung ambigu dan senantiasa beralih rupa.

Dobrakan White terhadap realisme rupanya menimbulkan pengaruh cukup dalam ke generasi penulis sesudahnya. Pada dasawarsa 1960•an, berkembang suatu corak penulisan baru: semacam otobiografi yang tak lagi berpusat pada diri, melainkan pada persentuhan antara kehidupan intim lingkungan/keluarga dan gelombång besar sejarah. Memasuki dasawarsa berikutnya, tampillah sejumlah penulis yang mulai menangani pelbagai persoalan yang sebelumnya terabaikan dalam khazanah kesusastraan Australia. Paradoks ruang-waktu, ambiguitas bahasa dan hubungannya dengan "kenyataan," metamorfosis identitas, kegilaan (juga kekejian) terselubung dalam keseharian orang-orang (yang biasa disebut) normal, mitos dalam sejarah; pokok-pokok semacam itu mulai dijamah dan dikerjakan dalam aneka corak/gaya bercerita -seolah mengerahkan pelbagai warisan tradisi naratif- dan lahirlah karya-karya baru yang bertenaga, berani, dan berwarna-warni. Realisme dan romantisisme, dua arus yang kuat menguasai pergerakan literer di sana, disoal kembali melalui beragam eksperimentasi. Demikianlah kesusastraan Australia menemukan suara lain dalam sejarahnya sendiri.

Berlanjut ke: Cerita-Cerita Bertanding Menyusun Dunia: Fiksi Peter Carey (II)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »