Cerita-Cerita Bertanding Menyusun Dunia: Fiksi Peter Carey (II) - Hasif Amini

ADMIN SASTRAMEDIA 6/03/2019
oleh Hasif Amini

II
Peter Philip Carey (lahir di Bacchus Marsh, Victoria, Australia, 1943) muncul dari Iatar literer yang tengah gelisah dan bergairah mencari orientasi baru seperti Iti. Tahun-tahun 1970-an bagi kesusastraan Australia memang sebuah kurun yang banyak memetik dan menikmati hasil persemaian daya cipta yang marak sejak akhir Perang Denia Il. Hadirnya para penulis baru, dengan karya-karya yang mulai melepaskan diri dari kuasa realisme yang lama mencengkam, sudah tentu bukanlah sebuah berkah tiban. Mereka, para penulis itu, telah menggauli beragam tradisi dari sekian penjuru dunia, mengendapkan dan mengolahnya, dan akhirnya menawarkan suatu kemeriahan estetik yang tak pernah ditemui dalam khazanah kesusastraan mereka sebelumnya. Pada Carey, tilas kosmopolitan tersebut terlihat agak jelas sebagai rangkaian pengaruh yang membangun teksnya: realisme magis Garcia Márquez, paradoks dan interpolasi tekstual Borges, parodi anakronistik John Fowles, satire futuristik Vonnegut semua itu diserap dan dimainkan kembali dengan suara baru yang tersendiri. Selain Carey tampil pula sejumlah pengarang yang mulai menegaskan nama mereka dengan karya-karya yang mengajukan kebaruan dan kelainan, antara Iain: Murray Bail, David Ireland, Elizabeth Jolley, Thomas Keneally, Frank Moorhouse. Mereka, dengan cara masing-masing, memandang kembali lanskap kehidupan Australia (kadangkala juga negeri Iain) sambil menyimak suara-suara yang terbit bersahutan, menjumpai hamparan kemungkinan yang berbeda dari tiap sudutnya, dan terus bekerja membangun perkisahan dari sana. Dislokasi dan pergesekan kultural kaum migran, persinggungan mitos dan sejarah, problematik penulisan fiksi dan fakta: inilah beberapa di antara banyak soal yang mereka angkat dalam berkarya.

Karya pertama Carey berupa sebuah kumpulan cerita pendek, The Fat Man in History (1974) — debut yang ternyata mendapat sambutan bagus dari khalayak pembaca Australia bahkan juga Inggris dan Amerika. Antologi itu terkupasnya pakaian, kulit, dan akhirnya seluruh mulai memperlihatkan benih-benih tema/teknik identitas seorang perempuan yang ternyata ada yang kelak terkembang lebih jauh dalam novel-novelnya yang bersusulan kemudian; dunia yang berlapis-lapis, watak bunglon unsur-unsur dunia itu, rivalitas pelbagai versi cerita, dan bagaimana masing-masing versi itu bekerja meneguhkan keabsahannya. Pada pandangan pertama, kisah-kisah di dalam bunga rampai tersebut mmemang seperti bertolak dari tradisi realisme, dalam arti menyuguhkan pemerian detail yang mengikuti gambaran kenyataan yang familiar. Namun betapa mengecohnya permukaan itu, şebab Carey tidaklah menghadirkan sebangun kenyataan yang lazim, melainkan sebuah dunia yang mengandung hukum-hukum alamiah tersendiri yang berbeda dan bahkan berlawanan dari dunia kita. Seraya menjelajahi pelbagai kemungkinan alam fantasi, dengan segenap pesona watak sureal, absurd maupun fabulis yang dikandungnya. Carey pun menyingkapkan sebuah pandangan yang agak muram tentang jejak kolonialisme, gurita kapitalisme dan wabah sintisme dalam tata masyarakat kontemporer.

Kenyataan yang berlapis-lapis digambarkan di sana cerpen "Peeling" dengan sabar namun ganjil, ketika sang narator membayangkan mulai terkupasnya pakaian, kulit dan akhirnya seluruh identitas perempuan yang ternyata adalah sebuah boneka mainan yang tak bernyawa. "Conversations with Unicorns” menjajarkan kehadiran sekawanan kuda bercula di sebuah gua dengan pembangunan fisik di luarnya yang mengancam akan menggusur kedamaian hidup para hewan dongeng itu; tokoh pencerita bahkan berusaha membujuk hewan-hewan itu untuk mencari tempat mukim baru yang jauh dari gangguan manusia, dan karena mereka tidak mengacuhkannya maka dia pun membunuh salah satu dari mereka untuk memberi contoh tentang apa yang akan dilakukan manusia terhadap mereka. Sedangkan "Report on the Shadow Industry” mengisahkan teror dan kegilaan yang berjangkit dalam suatu masyarakat tatkala mereka menjadi kecanduan membeli bayang-bayang dalam kemasan yang diproduksi secara industrial. Dan ”American Dreams" memerikan sebuah kota yang menyaksikan replikanya sendiri dibangun, sepotong demi sepotong, mendetail, bahkan hingga semua rahasia dan dosa yang dipendam para penduduknya termuat di sana.

"Do You Love Me?” (yang dimuat di Kalam edisi ini) adalah sebuah cerita yang ganjil juga, dilihat dari segi bentuk maupun isi. Dibuka dengan penjelasan tentang peran para pembuat peta, yang mendaftar seluruh benda dan wilayah di sebuah negeri (yang tak pernah disebutkan namanya), cerita berkembang sebagai paparan tentang sebuah dunia berikut pandángan dan kepercayaan yang berlaku di dalamnya. Pelbagai versi kosmogoni pun bertimbulan saling menegaskan diri sebagai alur paling sahih dalam menyingkap asal-muasal, Sebuah dunia yang sepintas sama dengan dunia kita, namun ternyata berbeda: di sana, segala yang tak terdaftar, tak terperhatikan, akan perlahan sirna. Bahkan wilayah-wilayah yang tak tergunakan dalam kehidupan masyarakat pun berangsur sirna. Dan akhirnya kita melihat betapa orang-orang yang tak dicintai pun akan menyirna. Kisah fantasi ini, dengan gaya naratif yang dingin dan bersemu realis, diam-diam menyusupkan sepucuk kritik tajam terhadap kehidupan kontemporer yang tandus di bawah kuasa rezim teknokrasi (dan) kapitalisme, Narasi yang tersusun dalam bagian-bagian bertajuk dan bernomor itu juga membaurkan diri dengan genre esai dan fabel, membuat permainannya dengan paradoks ruang dan perubahan berlangsung halus, serius, namun membius. Dengan cara itu pula Carey tanpa canggung, meski bukan tanpa ironi, menyusupkan pesan (laiknya fabel) tentang arti cinta dalam kehidupan orang ramai.

Namun Carey tak hanya menghasilkan cerita pendek, tentu. Dalam novel-novelnya yang bersusulan kemudian, eksplorasi bentuk maupun tema mengalami pendalaman dan pengembangannya. Pengantar kecil ini mencoba menengok tiga novel Carey yang kerap clisebut paling menonjol: Bliss (1982), Illyubacker (1985), dan Oscar and Lucinda (1988). Dari ketiga karya tersebut bisa dikilaskan sejumlah perkembangan (atau lebih cocok: pergeseran dan lompatan) dalam perjalanan literer Carey,

Novelnya yang pertama, Bliss, merupakan titik tolak penggarapan karakter•karakter yang lebih membumi, namun sekaligus penuh keajaiban: Harry Joy, seorang eksekutif periklanan, dinyatakan mati secara klinis pada permulaan cerita. Dalam perjalanan lepas dari tubuh itu dia mengenali kembali "dunia nikmat dan lara, sukacita dan siksa, Surga dan Neraka" — polaritas yang membayang di sepanjang cerita dan terus-menerus saling bertukar letak, saling menyaru hingga identitas keduanya kabur sama sekali. Ternyatalah kemudian dia bisa kembali dari alam maut dan berkesempatan merasakan kali kedua hidup di dunia, dengan satu kekecualian: persepsinya tentang segala sesuatu telah sepenuhnya berubah. Maka inilah yang disaksikannya: istrinya berselingkuh, anaknya terlibat hubungan incest, segala hal saling menyamar hingga selalu luput dari pemahaman yang stabil, dan dunia kian muram dan terperosok ke dalam kegelapan. Namun akhirnya Harry Joy menemukan kebahagiaan di sebuah komunitas yang hidup di tengah hutan. Novel yang diawali dengan sederet mitos dan legenda tentang keluguan dan kemurnian hati ini merupakan karya panjang Carey yang pertama mengeksplorasi watak dunia kontemporer — dalam hal ini dunia yang bekerja di sekitar lingkungan periklanan yang digeluti si tokoh — dengan pelbagai anasirnya yang senantiasa berada dalam metamorfosis.

Illyubacker mengetengahkan soal yang pelik dan pokok dalam pekerjaan/permainan bercerita: dusta sebagai daya yang bekeria dalam lingkup naratif paling intim hingga dalam kancah sejarah, Naratornya bernama Herbert Badgery, lahir pada 1886, dan berusia 139 tahun saat memulai kisah itu: berarti novel dibuka pada tahun 2025. Sejak permulaan novel itu sudah menyajikan persoalan dan permainan dengan pembaca: dusta menjadi tema dan sekaligus sebagai cara bercerita. Bila si pencerita adalah pembohong dan menyatakan bahwa ceritanya adalah bohong, maka kita tak tahu Iagi apakah cerita itu memang bohong atau dia justru sedang berbohong tentang kebohongannya karena cerita itu sesungguhnya benar. Paradoks pembohong ini di sisi lain adalah paradoks pihak yang percaya, pihak penipu-diri-sendiri: pihak pembaca. Nah. Di sini pembaca terlibat dalam suatu trik literer yang rumit dan bisa mengasyikkan. Herbert Badgery adalah seorang pembual yang hendak menjual sebuah versi lain sejarah Australia. Di akhir cerita, Australia seakan menjelma sebuah pasar raya hewan piaraan, sebuah Pet Emporium yang berisi makhluk-makhluk aneh dan indah yang menghuni sangkar-sangkar mewah. Dengan sengaja novel tersebut hendak mengeksplorasi asal-muasal kultural cerita-cerita, dan "tersebarnya dusta dalam persepsi orang banyak serta peran dusta dalam tata kehidupan politik masa sekarang." Sepanjang jalan cerita, narator kerap menginterupsi dirinya dan menghadirkan percabangan baru yang berkembang ke pelbagai arah hingga setiap perhentian menjadi titik tumbuh alur yang (secara hipotetis) tak ada habisnya. Cerita bergerak ke depan, ke samping, balik ke belakang, menyerong, meloncat dan seterusnya. Dengan demikian kisah ini menganeka genre (otobiografi, sejarah, fantasi, satire) seraya melemparkan pembaca ke medan permainan naratif dengan rute-rute penuh tipuan dan jalan buntu: semacam labirin yang menantang imajinasi kreatif pembaca untuk membuat peta jalan keluarnya sendiri.

Pada novelnya yang ketiga, Oscar and Lucinda — yang dianugerahi Hadiah Booker di Inggris tahun itu juga — Carey melangkah lebih jauh menjelajahi pokok perlintasan waktu dan cerita, perbentaran serta pergesekan antara mitologi Kristiani dan Aborigin. Berlatar abad ke-19, novel ini menjalin kisah cinta Pendeta Oscar Hopkins dan Lucinda Leplastrier, sepasang penjudi sejati yang tak sekadar mempertaruhkan uang di atas meja berserak kartu dan dadu, melainkan seluruh hidup berikut iman dan impian-impian mereka. Sebab kehidupan di mata mereka tak lebih daripada permainan acak dari proses-proses kebetulan, lemparan dadu Tuhan. Oscar bahkan mengundi nasibnya sendiri, sejak "pilihan" menjadi pendeta hingga negeri mana yang akan didatanginya untuk menyebarluaskan firman Tuhan. Australia: sebuah negeri ganjil di mana segala musim berlangsung "terbalik" (berlawanan waktunya dengan musim di Eropa dan Amerika), di mana flora dan fauna seakan tak pernah terseret Banjir Besar zaman Nuh, sebentang tanah belukar yang dihuni oleh bangsa dan para dewa pribumi yang demikian tua. Di negeri inilah Oscar Hopkins mendapati dan menguji kedahsyatan rahasia Tuhan yang nyaris tak terpahami oleh wawasan keagamaan yang membesarkannya: "Engkau pun bisa merasakannya dalam bayang-bayang diam di sepanjang arus sungai. Dia merasakan kehadiran para arwah di sini, namun bukan arwah Kristiani, bukan John sang Baptis atau Yesus dari Galilea. Yang ada adalah roh-roh lain, kisah-kisah lain, yang licin bagaikan bayang-bayang." Lucinda Leplastrier, perempuan muda pemilik tanah peternakan warisan orangtuanya, semenjak kecil telah terpesona ekan misteri kebeningan kaca ("kaca adalah sesuatu yang terselubung, semacam pemain sandiwara") — dan mengimpikan dirinya membangun struktur-struktur yang terbuat dari kaca: sebuah menara, piramida, koridor-koridor yang bersimpangan bagai sarang laba-laba, dan akhirnya bertekad mendirikan sebuah gereja kaca. Perjalanan Gereja Gleniffer yang terbuat dari kaca bening menempuh kegelapan sungai purba di akhir cerita memperlihatkan keganjilan dan kegilaan proyek impian "asing" di sebuah lanskap yang memiliki jiwa dan yang tak selalu bisa dengan mudah dilintasi kehendak-kehendak dari tempat dan waktu lain.

Demikianlah, dalam mengangkat persinggungan kesadaran, yang diwakili oleh mitos dan sejarah, dengan dunia(-dunia lain) yang kompleksitas watak dan geraknya tak pernah bisa terengkuh penuh, fiksi Carey menampilkan sebuah visi literer (kultural?) yang mafhum — dan berusaha mengingat terus — hidupnya pelbagai perbedaan, kelainan, serta terhamparnya kemungkinan-kemungkinan, keajaiban-keajaiban. Dengan membangkitkan pelbagai sisi cerita sebagai aneka versi yang berlomba menegakkan dunia makna, rangkaian teks tersebut tampak berminat menyingkapkan akar-akar mitologis dunia manusia yang disokong oleh pelbagai anasir, termasuk dusta dan kekeliruan dan kebetulan, yang beroperasi diam-diam namun terus pasti di balik panggung kehidupan ramai hari ini.

Atau tidaklah demikian? Sebab mungkin saja sebuah cerita tak menginginkan apa-apa selain asyik sendiri: mengalir, meluncur, mengendap-endap, menari ke sana kemari, sebelum akhirnya pamit undur diri, atau sekonyong-konyong melarikan diri...***

____
Sumber: Jurnal Kalam, Edisi 13, 1999.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »