Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/11/2019
(Makalah Simposium Kritik Sastra Indonesia Modern Lembaga Kebudayaan Yayasan Wirakarsa dan PP Kebudayaan UGM, 21-23 Juli 1990 di Yogyakarta).

oleh Subagio Sastrowardoyo
Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (1) - sastramedia.com

Epistemologi adalah teori atau ilmu tentang metodologi dan dasar-dasar pengetahuan dengan keterbatasan dan kekuasaannya. Di dalam kaitannya dengan kritik sastra timbul suatu masalah: Dapatkah peranan epistemologi berlaku sepenuhnya?


Di dalam epistemologi, kita berhubungan dengan dasar-dasar atau asas-asas yang sah yang menjamin kebenaran penglihatan kita terhadap objek yang kita kaji. Di dalam kritik sastra objek itu kita berusaha memperoleh batasan pengertian yang jelas dan tegas dengan membandingkannya dengan bahan-bahan bacaan atau tulisan yang tidak dapat di dalam golongan sastra, atau yang tidak dapat disamakan dengan objek sastra itu. Kita tentukan pula metode atau cara mendekati objek itu secara tepat supaya tercapai peristilahan bagi berbagai Ciri, gejala, segi dan pengertian dengan batas-batas yang setajam mungkin. Kita pun tidak dapat mengelakkan diri dari dasar-dasar penilaian yang kita pergunakan untuk sampai kepada pertimbangan dan keputusan tentang berhasil-tidaknya, tinggi-rendahnya mutu sebuah karya atau tentang suatu periode perkembangan sastra.

Proses pengkajian sastra itu dapat dinyatakan terurai secara eksplisit dan sistematis seperti di dalam buku-buku teks, tetapi dapat juga terjalin di dalam pembicaraan menyeluruh tentang sastra atau karya, seperti yang kita jumpai di dalam esai atau kritik sastra. Bagaimanapun bentuk penyajiannya, sebuah uraian tentang sastra yang bersifat informatif, pedagogik atau kritis akan mencapai taraf pemikiran ilmiah lewat asas-asas yang terkandung di dalam epistemologi.

Untuk sampai kepada perumusan pengetahuan secara ilmiah itu kita bisa mempergunakan kriteria yang umum dengan metodologi yang umum, yang berlaku bagi segala macam ilmu. Kriteria umum itu diantaranya telah dirumuskan oleh T.A. van Dijk, yang menyebut bahwa pernyataan ilmiah atau teori harus:

1. Bersifat umum, artinya harus dapat berlaku bagi gejala yang relatif banyak;
2. Bersifat eksplisit, artinya harus dirumuskan secara nyata dalam kata-kata dan tidak menyerahkan penafsirannya pada intuisi belaka, 
3. Mengandung falsifikasi, artinya kebenaran teori tidak bersifat mutlak sehingga dapat dibantah dan ditunjukkan kelemahan atau kekeliruannya;
4. Mempunyai koherensi, artinya pernyataan-pernyataan berkaitan secara logis dan tidak saling bertentangan; 
5. Bersifat sahaja, artinya menguraikan gejala-gejala dan menjelaskan hubungannya dengan sedikit mungkin aturan-aturan, unsur-unsur, lambang-lambang, dan sebagainya;
6. Bersifat empiris, artinya pernyataan dan teori didasarkan pada kenyataan yang sungguh-sungguh dapat disaksikan dengan pengalaman pancaindera, yang dibatasi secara jelas dan diterangkan secara tepat.[1]

Kriteria itu dapat kita pakai sebagai pegangan untuk mencapai pendapat yang ilmiah tentang sastra. Kriteria itu bersifat umum yang dapat menjamin taraf ilmiah pernyataan-pernyataan kita tentang sastra. Tetapi kalau kita ikuti usaha penelitian dan kritik sastra dalam perkembangannya sejak semula, kita sadari bahwa orang terbentur pada masalah-maslah etimologi yang kurang lebih berada di luar kriteria umum itu. Khusus dalam menghadapi gejala sastra, timbul pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari hakikat sastra itu sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah: Diantara sekian banyak segi sastra, manakah sebenarnya objek sastra yang hendak kita kaji? Mungkinkah kita mencapai kebenaran yang objektif tentang sastra? Berhakkah kita tinggal, pada pembahasan yang deskriptif saja tanpa usaha mengadakan penilaian? Mana yang sah, pendekatan yang internal saja terhadap objek sastra, atau pendekatan yang eksternal dari sudut psikologi, sosiologi atau histori? Cukupkah kita menghasilkan analisa sastra secara formal saja dengan mengabaikan wawasan yang humanitis terhadap karya sastra?

Itulah di antaranya pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi peneliti dan kritikus sastra. Bahkan setiap tahap analisa sastra mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan baru setelah orang menyadari aspek-aspek sastra yang belum tersentuh. Setiap langkah hendak menyelesaikan pemikiran tentang sastra seperti membukakan masalah-masalah ilmiah yang baru. Gejala ini kita saksikan pada setiap usaha aliran kritik sastra yang ada.

Karena kritik sastra di negeri kita belum berkembang benar dengan membawakan sistim pemikiran, asas pendekatan dan bentuk peristilahan yang jelas, maka untuk menggambarkan masalah etimologi dalam kritik sastra kita perlu menoleh kepada perkembangan kritik sastra di negeri Barat.

Bersambung ke: Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »