Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (4)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/11/2019
oleh Subagio Sastrowardoyo


Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (3) sastramedia

Kritik Baru telah digoncangkan pada sendinya yang utama, yaitu anggapan bahwa fokus perhatian harus ditujukan kepada karya sebagai suatu struktur estetis yang lengkap dan mandiri, yang dalam pemberian makna dan penilaiannya harus dilepaskan dari pengarang dan pembaca dengan segala yang terlibat pada kedua faktor itu. Sekalipun di antara Kritik Baru dan aliran Strukturalisme yang berkembang sejak tahun 1960-an, terdapat banyak persamaannya -terutama di dalam penglihatan formalistisnya-, tetapi dari pihak Strukturalisme pun datang kecaman-kecaman yang makin melemahkan kedudukan Kritik Baru sebagai teori yang dapat diandalkan.


Seorang pemihak Strukturalisme dan Semiotik, Robert Scholes, membedakan antara "karya" dan teks", dan ia dapat lebih menerima karangan sastra sebagai teks itu tidak kita baca seorang aku yang sempurna, suatu kebulatan individu yang penuh, melainkan suatu campuran dari unsur pribadi dan umum, unsur sadar dan tidak sadar.[11] Sedang di dalam Kritik Baru tanggapan karangan hanya sebagai karya yang ditulis Oleh seorang pengarang saja.

Pandangan Scholes tentang teks itu merupakan kumandang dari suara Roland Barthes, tokoh penting Strukturalisme Perancis, yang menyatakan bahwa "teks adalah suatu ruang yang berdimensi banyak yang mengandung berbagai tulisan, yang tak satu pun asli, yang bercampur dan berbenturan. Teks adalah susunan kutipan yang dipungut dari pusat budaya yang tak terbilang banyaknya.... Kemampuan satu-satunya pada pengarang hanya mencampur tulisan”.[12]

Mengenai peran pembaca yang diabaikan dalam Kritik Baru, Roland Barthes membedakan antara teks yang "lisible" (yang dapat dibaca), dan teks yang “scriptible" (yang dapat ditulis). Dalam hal ini Barthes lebih menyukai teks yang tersebut terakhir itu, yakni yang memungkinkan pembaca berperan serta aktif dalam menghasilkan maksud karya yang tak pernah akan tuntas dan berakhir. Dengan bersikap demikian Barthes berlawanan langsung dengan Kritik Baru yang tidak memberi peranan kepada pembaca dalam menentukan makna dan nilai karya.

Kemudian pandangan terhadap karya di dalam teori Kritik Baru diperlemah lagi ketika pendapat strukturalisme Cekoslovakia Jan Mukarovsky menjadi terkenal dalam hal ini. Kalau Kritik Baru mengenal karya sebagai objek yang lengkap, selesai dan mandiri dalam bentuk kata-kata yang terbaca di atas halaman kertas, maka Mukarovsky menyebut karya kritik sastra adalah "artefact" hasil buatan. Sedang yang penting dalam kritik sastra adalah karya sebagai “objek estetik", yakni ekspresi dan hubungan bayangan yang ada di dalam kesadaran penanggap atau pembaca. "Artefact" hanya barang yang menjadi dasar interpretasi “objek estetik", dan ini sifatnya subjektif dan individual. “Objek estetik" itu tafsiran, konkretisasi atau realisasi dari buatan sastra yang kita baca.[13] "Objek estetik" itu yang harus menjadi pusat perhatian di dalam kritik, bukan “artefact" yang menjadi objek penelitian Kritik Baru. Dengan mengutamakan "objek estetik" teIah menyusup unsur subjektivitas ke dalam kritik, sedang pandangan ini makin kuat pengaruhnya di dalam perkembangan pemikiran sastra.

Menghadapi perkembangan-perkembangan teori baru yang berlawanan dengan asas otonomi karya, Kritik Baru makin lama makin tersingkir dari arus pemikiran sastra dewasa ini. Objektivitas yang disangka telah dicapainya dengan memusatkan perhatian kepada karya semata ternyata sebuah angan kosong. Asas otonomi karya yang diharapkan menjadikan teori Kritik Baru bersifat ilmiah tidak berlaku lagi di dalam dunia kritik sastra.

Kritik sastra adalah usaha pemikiran yang masih muda; belum berumur seabad kalau kita melihatnya di dalam periode Perang Dunia Pertama (1914-1919). Epistemologi umum belum bisa berlaku sepenuhnya bagi sastra, yang banyak memperlihatkan unsur subjektif, intuisi, imajinasi, bahkan misteri sebagai hasil seni dan ciptaan manusia. Unsur-unsur itu tidak dapat ditangkap dengan mudah dan konsekuen dalam tanggapan dan rumusan yang sistematis, logis dan rasional.

Kritik atau teori sastra sebagai bagian dari ilmu kemanusiaan atau humanitas merupakan ilmu pinggiran, yang di dalam penelitiannya kerapkali masih harus meminjam asas-asas dari disiplin Iain. Contoh yang jelas adalah Strukturalisme yang harus mempergunakan dasar-dasar dan kesimpulan pemikiran dari linguistik, antropologi, psikologi, filsafat dan sosiologi. Bahkan objek khusus saastra pun seperti yang kita lihat di atas belum juga menemukan pembatasan dan pengertian yang umum diterima. Jangan lagi kita harapkan asas-asas umum epistemologi sudah atau akan dapat berlaku sepenuhnya di dalam kritik sastra.

Catatan:

[1]. T.A. van Dijk, Taal Text Teken, bijdragen tot de literatuurtheorie, Atheneum - Pola & Van Gennep, Amsterdam, 1971, hh. 194, 195.

[2]. John Crowe Ransom, "Criticism, Inc." dalam
The World's Body (New York, 1938), juga dalam David Lodge, ed., 20th Century Leterary Criticsm, Longman, London, 1972, hh. 228-239.

[3]. W K. Wimsatt jr. dan M.C. Beardsley, The Verbal Icon : Studies in the Meaning of Poetry, with two preliminary essays written in collaboration with Monroe C. Beardsley, University of Kentacky Press, Lexington, 1954/Methuen, London, 1970, h. 178.

[4]. Roger Fowler, "The Stucture of Criticism and the Languages of Poetry: An Approach through Language" dalam Contemporrary Criticism, Edward Arnold (publ.) Ltd., London, 1970, h. 178.

[5]. Rene Wellek & Austin Warren, Theory ofLeterature, Harcourt, Brace & World, Inc., New Yor, 1956, h. 26.

[6]. Terry Eagleton, Literary Theory, an introduction, University of Minnesota Press, Minneapolis, 1983, hh. 47-49.

[7]. William E. Cain, The Crisi8 in Criticism, theory, literature and reform in English Studies, The John Hopkins University Press, Baltimore/ London 1987, hh. 104-105.

[8]. ED. Hirsch, Validity in Interpretation, Yale University Press, New Haven/London, 1967.

[9]. Robert Scholes, Semiotics and Interpretation, Yale University Press, New Haven]London, 1982, hh. 10,11.

[10]. Idem, hh. 14, 15.

[11]. Idem, h. 14.

[12]. Roland Barhes, "The Death of the Author", dalam David Lodge, ed., Modern Criticism and Theory, a reader, Longman, London/New York, 1988, h. 170.

[13]. Douwe Fokkema dan Elrud Ibsch, Theories of Leterature in the Twentieth Century, C. Hurst & Company, London, 1979, hh. 31-37.

____
Sumber: Majalah Sastra Horison, Nomor 12, tahun XXV Desember 1990.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »