Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (3) - Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 6/11/2019
oleh Subagio Sastrowardoyo
Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (3)

Fokus perhatian di dalam kritik aliran Kritik Baru adalah pada karya sastra, yang dianggap otonom, mandiri, dan di dalam menilainya kita harus memutuskan hubungannya dengan baik pengarang maupun pembacanya. Yang pokok dibahas adalah karya sebagai objek kritik, yang di dalam kemandiriannya pun mengandung dunia yang Iain daripada dunia yang nyata di luar karya. Rene Wellek dan Austin Warren, pakar-pakar sastra yang mendukung teori Kritik Baru, menyatakan pula bahwa Ciri utama sastra adalah imajinasi[5], artinya bukan kenyataan sejarah, sosial atau budaya.


Untuk sampai kepada objektivitas kritik sastra, aliran kritik baru jadi melepaskan objek sastra dari keterlibatannya dengan sejarah, masyarakat dan budaya. Perhatiannya tertuju ke dalam karya, dan kritiknya menekankan pada organisasi internal karya: bagian-bagiannya saling melengkapi dalam kesatuan yang disebut "organistis".

Seperti yang dinyatakan oleh Terry Eagleton, keinginan untuk mencapai sifat objektif karya mendorong penelaah Kritik Baru untuk mengadakan analisis yang objektif pula. Pertentangan internal di dalam karya, yang berupa “tension" (ketegangan), "paradox” dan "ambivalence" (penduaan nilai), dianggapnya luluh dan padu di dalam struktur karya yang harmonis dan utuh. Yang penting dilihat adalah kesatuan yang organis itu, yang menyatupadukan berbagai unsur, sekalipun saling bertentangan di dalamnya. Di dalam keselarasan terselesaikan semua konflik. Di dalam kritik Baru yang menjadi kata kunci adalah “coherence" dan "integration".[6]

Itulah secara singkat pembeberan asas Kritik Baru dalam hendak mencapai pendekatan yang objektif terhadap karya sastra sehingga menghasilkan kritik yang ilmiah. Tetapi kini dapat dinyatakan, apakah Kritik Baru itu telah mencapai tujuannya memperoleh kritik yang objektif? Dengan perkataan Iain, apakah Kritik Baru masih diterima sebagai kritik yang ilmiah?

Kritik Baru di Amerika Serikat kini sudah merupakan aliran yang boleh dikatakan sudah ditinggalkan sama sekali oleh para kritisi sastra. Sekalipun di sana-sini masih terdengar pembelaan terhadapnya atau penyesalan bahwa aliran itu sudah dianggap mati dan menjadi barang sejarah. Misalnya William E. Cain dalam bukunya The Crisis in Criticism menyangkal bahwa Kritik Baru mengalami kemunduran atau menghadapi liang kubur, dengan memajukan alasan bahwa sikap, nilai dan penekanan yang ada pada Kritik Baru tetap hidup, karena diwariskan pada metodologi kritik kemudian, khususnya dalam melakukan kritik kemudian, khususnya dalam melakukan kritik praktis dan asas “close reading” (baca cermat) terhadap karya. Menurut Cain, teori sastra tidak punya arti kalau tidak didasarkan pada kritik sastra secara konkret dan baca cermat terhadap teks.[7]

Kenyataannya pakar-pakar sastra di Amerika Serikat, khususnya di Universitas Yale, yang anehnya pernah menjadi tempet bercokol penganjur-penganjur Kritik Baru, seperti Cleanth Brooks, W.K. Wimsatt jr. dan Rene Wellek, kini lebih tertarik pada teori sastra baru yang dikenal dengan nama Decostruction. Pakar-pakar aliran ini di Yale yang tersohor adalah Geoffrey Hartman, Harold Bloom, dan Paul de Man. Objektivitas pemikiran sastra Kritik Baru goyah ditantang oleh asas-asas epistemologi yang sekarang dianggap lebih mendekati kebenaran yang terkandung dalam gejala sastra.

Dari pihak Iain, Hirsch membantah adanya Intentional Fallacy, sebab niat pengarang itu penting ditelaah karena menentukan arti dan maksud karya.[8] Sarjana-sarjana sastra Iain melawan pernyataan Kritik Baru bahwa latarbelakang sejarah dan sumber-sumber sejarah tidak penting dalam kritik sastra. Sebaliknya mereka berpendapat bahwa itu semua justru akan memberikan interpretasi teks yang tepat. Menurut mazhab Chicago datang pula serangan dan mengatakan bahwa ajaran moral yang terkandung di dalam karya sastra perlu diperhatikan karena menjadi dasar penafsiran teks yang membawa daya pengaruh pada pembaca atas nama pengarangnya. Akhirnya kalangan kritisi Marx dan para peneliti sosiologi sastra tidak membenarkan sikap Kritik Baru yang cenderung menghilangkan konteks sastra dengan sejarah dan masyarakat. Menurut pendirian mereka, makna tidak saja terdapat di dalam kata-kata, tetapi juga di dalam nilai-nilai yang dibawa oleh pengaruh sejarah dan masyarakat.[ 9]

Keterlibatan sastra pada kehidupan budaya pun tidak boleh diabaikan. Sebab, seperti yang dikemukakan oleh Robert Scholes, pembuat teks sastra, yaitu pengarang, adalah hasil dari kebudayaan yang telah mencapai subjektivitas manusiawi dengan penggunaan bahasa. Lewat pengarang berbicaralah suara-suara Iain, baik suara-suara budaya maupun suara masyarakat. Terdengar ideologi dan pola-pola budaya di dalam karyanya. Pembaca tidak bisa bebas dari tanggapan pribadi pengarang tentang nilai dan makna.[10]

Bersambung ke: Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (4)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »