Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (2) - Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 6/11/2019
oleh Subagio Sastrowardoyo
Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (2) sastramedia.com

Seperti kita maklum, New Criticism atau Kritik Baru merupakan aliran kritik yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat antara tahun-tahun 1930 dan 1950-an, bahkan masih berkuasa selama 1960-an di universitas-universitas di sana. Kritik Baru ini ingin mencapai pendekatan yang ilmiah terhadap sastra dengan metode kerja yang ketat, seperti yang dicita-citakan seorang penganjurnya John Crowe Ransom dalam karangannya yang berjudul "Criticism Inc yang dapat diterjemahkan dengan "PI'. Kritik".


Ransom menghendaki supaya orang tidak hanya mempelajari sesuatu tentang kesusastraan, melainkan mempelajari kesusastraan itu sendiri. Untuk sampai pada tujuan itu tidak penting lagi hasil penelitian yang bersifat sejarah, seperti latarbelakang karya sastra, riwayat hidup pengarang, daftar kepustakaan atau sumber bacaan sastra. Pendeknya karya sastra jangan diperlakukan sebagai objek ilmu sejarah.

Di samping itu, jangan kita menilai suatu karya menurut dampaknya kepada pembaca. Kita tidak dapat menyatakan hasil sastra bernilai karena pembaca terpikat sehingga harus membacanya berulang kali, melelehkan air mata atau menjadi kesat tenggorokannya, sampai terlupa kepada dunia luar, melambungnya ke alam spiritual atau pun merasa menjadi jernih emosinya. Kesan-kesan subjektif dengan ungkapan perasaan seperti mengharukan, menakjubkan, menghibur, sayang, hebat, memikat, bahkan seruan "indah", menurut Ransom, tidak boleh mempengaruhi penilaian kita terhadap karya sastra.

Hal-hal lain yang menurut Ransom perlu dihindarkan dari fokus perhatian kritikus sastra adalah ajaran moral, segi-segi linguistik pada kata dan logat atau singkatan cerita di dalam alur-alur yang cenderung dibicarakan terpisah dari kesatuan isi karya.

Dengan memusatkan pembahasan pada karya itu saja dapat dicapai kritik sastra yang ilmiah, yang diuraikan secara sistematis, objektif dan bersuasana dingin seperti di dalam cara kerja perusahaan, suatu P.T. Kritik.[2]

Karangan John Crowe Ransom yang ditulis tahun 1939 itu menjadi landasan bagi perkembangan Kritik Baru di Amerika Serikat yang perumusannya kemudian dikembangkan Oleh pengajur-pengajur aliran itu, seperti Cleanth Brooks, Allan Tate, Robert Penn Warren, W. K. Wimsatt Jr, M.C. Beardsley, R.P. Blackmur. Rancagan metode pendekatan yang disarankan oleh Ransom itu terutama mendapat perumusan teori yang lebih tegas dalam buku Wimsatt dan Beardsley The Verbal Icon.

Di dalam dua esai kedua pengarang itu, yang termuat dalam buku tersebut, dinyatakan kalau kita mau mengadakan kritik yang secara epistemologis tepat, yaitu Intentional Fallacy (kekeliruan bertalian dengan niat pengarang) dan Affective Fallacy (kekeliruan bertalian dengan dampak karya kepada pembaca). Kekeliruan yang pertama itu timbul dari mencari ukuran bagi kritik pada sebab-sebab sajak terjadi. (Di dalam Kritik Baru lebih banyak dipakai contoh sajak daripada bentuk karya Iain). Kritik demikian bersandar pada bahan-bahan biografi atau niat si pengarang. Kritik yang keliru demikian itu akan menghasilkan biografi dan relativisme, dan bukan kritik sastra yang sebenarnya. Sedang kekeliruan "affective" mencari ukuran dari dampak psikologis sajak pada pembacanya, sehingga hasilnya adalah kritik yang impresionistis dan relativistis. Relativisme di dalam kedua macam kritik itu terdapat pada ketergantungan penilaian karya dari faktor-faktor di luar sajak itu sendiri, yang satu dari tujuan dan maksud pengarang, sedang yang kedua dari dampak karya pada pembacanya.[3]

Hal itu sesuai yang dikatakan pula Fowler, bahwa "kita tidak dapat mencari sajaknya di dalam keadaan jiwa pengarang waktu diciptakan, karena jiwanya tidak dapat kita masuki, yang mungkin juga sudah berubah waktu sajak ditulis kita pun tidak dapat membiarkan sajaknya berada pada tanggapan pembaca waktu membacanya sebab ini bisa berarti bahwa ada sekian sajak sebanyak kesempatan sajak dibaca, sedang kita tahu bahwa yang ada hanya satu buah sajak: sajak adalah suatu objek dengan ciri-ciri tertentu yang tidak tergantung dari penyair atau pembacanya".[4] Hanya sajaknya yang tetap stabil, sedang niat pengarang dan tanggapan pembacanya berubah-ubah dan tidak dapat diandalkan.

Bersambung ke: Epistemologi: Suatu Masalah dalam Kritik Sastra (3)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »