Hamsad Rangkuti dan Rupa-Rupa Rekaan yang Menjadi

ADMIN SASTRAMEDIA 6/02/2019
oleh Ni Made Purnama Sari

Imajinasi adalah kebohongan untuk diri sendiri, katanya mengucapkan makna yang tidak kumengerti. Begitu imajinasi dituturkan ataupun didengar ataupun dituliskan dan didengar atau dibaca orang lain, kita telah menciptakan kebohongan-kebohongan kepada orang lain. Cerita pendek, novel, puisi dan karangan fiksi lainnya adalah kebohongan...kebohongan yang nikmat... Tidak ada wanita muda yang menanggalkan satu per satu pakaiannya dan berkata, maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu? Bohong semua itu. (Cuplikan cerpen Antena, 2000)


Apakah itu realita? Bagi Hamsad Rangkuti, sang maestro prosais, kenyataan barangkali tidak melulu berupa sesuatu yang kita temukan dan saksikan—lebih jauh, realita dapat saja disilangkan, dipadu-baurkan, atau bahkan ditiadakan dengan bentuk realitas baru yang dia bayangkan.


Karya-karya cerpennya menyajikan bentangan peristiwa yang penuh kejutan, semuanya berangkat dari peristiwa sehari-hari yang akrab dijumpai dan seluruhnya dituturkan dalam deskripsi latar dan kejadian sedemikian rinci. Sangat realis; seakan-akan Hamsad ingin menuangkan suatu Ianskap pemandangan begitu utuh pada karya-karyanya. Tapi, realitas dalam cerita, bagaimanapun juga, sebenarnya tetap dianggap sebagai rekaan. Kenyataan yang dihadirkan Hamsad bukanlah sebentuk realisme konkrit yang apa adanya, melainkan penuh perenungan, dan bahkan acap mentertawakan kenyataan itu sendiri.


Namun, oleh Hamsad, kerja kepengarangan seperti ini agaknya menggelisahkan batinnya. Dalam beberapa kesempatan, Hamsad menyatakan bahwa karya-karya sastra tidak lain merupakan untaian kebohongan sebagaimana yang dikutipkan pada awal tulisan ini. Kendati betapapun realisnya kisah yang dia tuturkan, Hamsad tetap meyakini hasil sastrawi ialah buah murni imajinasi, suatu yang membedakan karangan dari sekadar karya jurnalisme ataupun potret deskripsi permukaan—pandangan ini sempat pula disikapi kritis oleh Taufik Ismail, bahwa salah satu tugas pengarang ialah justru meluruskan kebohongan-kebohongan, entah dengan laku maupun karyanya.


Mencipta cerita yang berdasar pada peristiwa nyata di sekitar kita sebenarnya bukan perkara mudah. Rujukan sejarah, pemberitaan media massa ataupun aneka kabar sehari-hari sesungguhnya telah membuat pembaca memiliki persepsi serta imaji tersendiri, baik atas kejadian ataupun tokoh-tokohnya. Untuk menjadikan karya lebih bermakna, si penulis mesti piawi 'bet-main-main', menduga bahkan mereka-reka peristiwa imajiner baru guna memperkaya ruang tafsir pembaca yang sebagian telah terbentuk itu. Sebuah kerja kreatif yang tak akan pernah tuntas terselesaikan: antara mempertanyakan realitas, memperdalam pemaknaan, hingga membangun lapis imaji, yang satu sama lain saling menyusun hingga terbukalah ruang kenyataan baru—dalam tekstual karya, tentunya—dan sekali lagi, siap untuk dipertanyakan kembali. Sebuah kerja kreatif yang seperti kata Pablo Neruda ibarat, "melahirkan karya yang berfungsi serupa sebongkah batu atau kayu di mana seseorang, siapa saja, yang mengikutinya akan dapat mengukir tanda-tanda baru."


Bakat Alam

Hamsad Rangkuti berulang menegaskan dirinya sebagai seorang pengarang berbakat alam. Tiada apapun kecakapan teknik yang dipunya, kecuali kehendak untuk sedalam-dalamnya menghayati hidup. Bila dia menulis novel Ketika Lampu Berwarna Merah yang kemudian memenangkan Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta 1 981, inspirasinya bermula tatkala Hamsad berkeliaran bagai 'kuda lepas' menyusuri rel di antara gubuk-gubuk bar sepanjang Kali Ciliwung. Atau betapa pikiran Hamsad melompat membayangkan ide-ide cerita selepas kejadian penjambretan di sebuah ruas jalanan Jakarta; imajinasinya ini terus mengalir dengan membayangkan setting, reka peristiwa, hingga kemungkinan akhir yang mengejutkan, dan lahirlah cerpen berjudul Perbuatan Sadis dan Pispot.

Secara bentuk, cerpen-cerpen Hamsad terasa konvensional: bahasanya biasa seakan tidak peduli pada kecakapan teknik, plot mengalun runut, dan tidak banyak pendalaman karakter para tokohnya. Namun untuk saya, membaca sebagian besar cerpen Hamsad Rangkuti bolehlah diibaratkan seperti tengah berjalan di sebuah lorong pemukiman Jakarta ketika petang tengah menjelang. Dari muka jalan, lintasan itu tidak kelihatan kemana akhirnya—dia tampak sempit dan tak menarik perhatian, tapi saat telah masuk utuh ke dalamnya, kita ibarat meluruh bersama suasana masyarakat kelas bawah ibukota. Supaya sampai ke Sisi lain lorong, kita butuh kesabaran sekaligus kehati-hatian untuk mencermati setiap rinci dalam lintasan, sebut saja jalan berlubang, genangan lumpur atau bahkan seseorang yang mengintai dari sembarang celah dinding.


Seperti itu pula pengalaman saya saat membaca karya-karya Hamsad. Seluruh deskripsinya yang rinci kadangkala membuat kita begitu jenuh dan menginginkan sedikit lompatan dari Sisi bertutur. Namun, juga dicermati secara seksama, saya kira kesetiaan Hamsad untuk menguraikan peristiwa dalam deskripsi yang rigid dari realistik adalah sebentuk kecintaan Hamsad dalam berbahasa dan bagi berwarnanya kehidupan itu sendiri—ya, setiap narasinya bagai mendorong saya untuk berhati-hati dan jeli mencermati dunia kisahan Hamsad. Dan pada saat inilah, saya menyadari, betapa dengan caranya sendiri Hamsad berhasil juga meraih kedalaman muatan sastrawi dari penuturannya nan subtil dan apa adanya: kedalaman sastrawi yang tercermin dari adeganadegan wong cilik yang menyentuh, tema-tema yang dekat namun sekaligus terasa absurd, serta penggambaran para tokohnya yang seakan-akan merupakan refleksi dari diri kita senyatanya.


Menarik juga untuk mencermati deskripsi realis yang dikemukakan oleh Hamsad. Misalnya dalam Ketika Lampu Berwarna Merah, halaman 121:


Bustami menyelinap dan masuk ke dalam gelap bayangan tembok. Lelaki yang seorang lagi naik ke atas batu dan dia duduk mencangkung. Dia keluarkan satu batang rokok dan menyelitkannya ke bibir. Dia menyentikkan satu batang geretan. Api menyala di ujung kepala geretan di tangan kanannya. Dia dekatkan nyata api itu ke mukanya. Wajahnya tampak dengan jelas. Matanya tinggal sebelah. Dagunya tajam seperti jantung pisang. la memelihara kumis yang tumbuh liar. Waktu dia membuka mulutnya hendak mengeluarkan asap, giginya tampak hitam karena kerak nikotin. Dia tidak meniup nyata geretan di tangannya. Dia biarkan nyala api itu menjalar membakar batang geretan di ujung jari-jari tangannya. Dia pandangi nyala api itu. dia mengisap banyak asap sekaligus dari bayang sigaret itu, dan dia kemudian tampak hendak menelan habis semua asap yang diisapnya. Nyala api geretan dia pandang dengan sebelah matanya, lalu kemudian ketika api yang menjalar pada batang anak geretan itu hendak membakar jari-jari tangannya, semua asap dari mulutnya dia tiupkan ke nyala api itu. Sesudah itu, semuanya menjadi hitam.


Paragraf yang disusun panjang, detail dan mencekam ini melatari peristiwa kematian seorang gelandangan di suatu perkampungan kumuh kota Jakarta. Alih-alih mengutarakan deskripsi kematian secara subtil, Hamsad memilih menuliskan suasana kelam yang terjadi pada sosok laki-laki miskin yang ada di dekat sosok yang tiada itu. Buruknya wajah si lelaki seketika tergambar di tengah kelamnya malam, juga lukisan kejadian saat nyala korek api benderang sebentar kemudian padam, justru menimbulkan nuansa getir ngeri yang kuat.


Pun selalu ada kejutan di setiap akhir cerita-cerita Hamsad. Bolehlah ditengok kembali cerpen Sukri Membawa Pisau Belati (1981) yang mengungkap prasangka sang tokoh dan membuat pembaca larut dalam alurnya. Si tokoh Sukri, yang dikisahkan tengah berhati panas lantaran cemburu, datang ke rumah Sumarni kekasihnya dengan membawa sebilah belati. Sepanjang cerita, pembaca digiring ke aneka rupa prasangka dan menduga kemungkinan akhir cerita yang tragik. Dengan berlatar peristiwa perselingkuhan (yang acap juga kita dapati dalam clunia sehari-hari), Hamsad berhasil menyajikan permenungan dan pertanyaan mengenai makna kasih dan hubungan emosional yang melingkupinya.


Bagaimana Hamsad mencipta cerpen dituangkan dalam esainya berjudul "Imajinasi Liar dan Kebohongan" (Proses Lahirnya Sebuah Cerpen) yang ditulis tahun 2003. Cerpen pertamanya "Sebuah Nyanyian di Rambung Tua" (1959) ditulisnya ketika menyendiri di hutan Rambung dekat kampungnya. Dia menyaksikan seorang buruh menyadap getah dari pohon ke pohon. Hamsad menyatakan bahwa dirinya seorang pengelamun yang parah, dan pada detik itulah terbayang olehnya latar keluarga si buruh berikut hidup yang mereka lalui. Tragedi dan peliknya hidup orang miskin itulah yang kemudian menjiwai karya-karya Hamsad, yang pada sisi lain menunjukan keberpihakannya atas nasib orang-orang kecil.


Dalam esai tersebut, dituturkan pula masa kanak Hamsad yang tumbuh dalam ekonomi jauh dari berkecukupan. Lahir 7 Mei 1943 di Titikuning, Sumatera Utara, Hamsad pernah dititipkan orangtuanya di rumah sang Paman di Medan. Ayahnya seorang penjaga malam di perkebunan karet sekaligus guru mengaji. Pengalamannya pindah dari kampungnya di Kisaran (200 kilometer dari Medan) ke kota ini mengubah cara pandang Hamsad. Dia mulai bersentuhan dengan para seniman, terutama setelah cerpen keduanya Masjid (1960) dimuat di Harian Waspada Medan. Dimuatnya karya ini membuat Hamsad dikenal oleh pengarang-pengarang Lain, sebut saja Herman KS, Zakaria M. Passe, Djohan A. Nasution, A.A. Bunga, Arsul Rubaiyan dan Zainuddin Tamir Koto. Bacaannya juga bertambah oleh pinjaman buku dari penulis-penulis itu.


Tahun 1964 Hamsad datang ke Jakarta mengikuti Konferensi Karyawan Pengarang seluruh Indonesia (KKPI) sebagai delegasi pengarang Sumatera Utara. Rupanya, selepas konferensi itu dia memilih tinggal di Ibukota walau mesti dengan tidur beralaskan koran di emperan Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat. Cukup lama dia tinggal di sana dan dalam kurun waktu itu pun dia suka mencuri dengar obrolan para seniman senior yang sedang menggelar acara seni maupun sekadar kumpul silaturahmi.


Dalam periode menulis Hamsad sejak 1979 - 2003, dia menerbitkan beberapa buku kumpulan cerpen, antara lain "Lukisan Perkawinan" (1982), "Cemara" (1982), "Sampah Bulan Desember" (2000), Bibir dalam Pispot" (2003), dan sebagainya. Hamsad berulang menyatakan bahwa dirinya bukanlah pengarang yang produktif dan acap bergantung pada mood untuk menulis. Walaupun sebenarnya jika dirunut, kiranya memang sebagian besar pengarang era 19601970an memang bermula dari bakat alam (lihat Bakat Alam dan Intelektualisme dari Subagio Sastrowardoyo).


Tokoh Kecil

lde-ide mengenai masyarakat kelas bawah tetap lekat dengan Hamsad Rangkuti. Dia hadirkan orang-orang kecil itu dalam deskripsi yang sederhana, rinci dan menyentuh. Jika diperhatikan, walaupun Hamsad amat berpihak kepada yang miskin dan terpinggirkan, rupanya karakter dan sifat mereka tidaklah tunggal nilai. Walau intens menggarap tema-tema kemiskinan, Hamsad sama sekali tidak tergiring untuk mengungkapkan sosok rakyat kecil dalam perspektif sebagai yang melulu teraniaya. Novel Ketika Lampu Berwarna Merah dengan jelas menunjukan bahwa dalam diri manusia sejatinya bersemayam nilai baik dan buruk sekaligus.

Bila diperhatikan, sekurangnya ada tiga karakter warga terpinggirkan yang ingin dihadirkan oleh Hamsad. Pertama, mereka yang masih berusaha jujur dan empati terhadap kesusahan orang lain (simak di antaranya penggalan akhir cerpen 1000! 500! 1000! tentang perselisihan uang kembalian dalam bus kota, Ketupat Gulai Paku perihal ketidaksesuaian menu penjual keliling, maupun tokoh Pipin dalam novel Ketika Lampu Berwarna Merah). Kedua: mereka yang terdorong untuk menyambung hidup dengan cara apapun, bahkan yang di luar akal sehat kita, misalnya dalam cerpen Nyak Bedah perihal bujukan seorang anak muda kepada penjual nasi uduk demi menjual tanahnya juga adegan ketika beberapa kere memindahkan mayat ke muka-muka pertokoan supaya mendapat uang dari para pemiliknya yang tidak mau berurusan dengan polisi lantaran ditemukan jenazah di muka kedainya (Ketika Lampu Berwarna Merah). Dan yang Ketiga: mereka yang tidak berdaya dalam arus perubahan sosial sebagai yang kuat dicerminkan dalam cerpen "Petani itu Sahabat Saya" (1982) tentang kunjungan seorang kawan ke tanah rantauan sebuah keluarga yang bertransmigrasi.


Jadi, Hamsad tidak ingin berpretensi untuk membela yang terpinggirkan secara berlebihan, apalagi berlaku bias nilai dalam memandang kemiskinan dan ketidakadilan. Kecenderungan realisme Hamsad malahan mendorongnya hadir sebagai pengarang yang merekam berbagai ragam karakter manusia yang ada. Realisme bagi Hamsad bukanlah sebagai alat untuk menyampaikan gugatan semata, melainkan mengemuka sebagai sarana dalam mengenali 'wajah' manusia yang seutuhnya. Tokoh-tokoh dalam cerita Hamsad bukan sekadar melakoni kisahan rekaannya, namun juga hadir menjadi refleksi atas kenyataan sebenarnya yang dialami manusia: kemiskinan, sosok-sosok terpinggirkan, hingga renungan-renungan akan absurditas dunia kita.


Jika ditautkan dengan konteks pembaca sastra kini, kiranya Hamsad ingin mengungkapkan pandangannya kepada kita bahwa menulis untuk eksistensi tidak sama dengan menulis demi menyelami persoalan-persoalan esensial manusia. Saya pun teringat dengan ucapan Gerson Poyk pada suatu pertemuan: selama ini kita telah lupa akan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kehidupan, serta terlalu banyak mengejar keinginan. Nurani dikalahkan naluri. Akal sehat dikesampingkan demi tujuan sesaat. Kiranya tujuan inilah yang mau disampaikan Hamsad melalui karyanya.


Hamsad, lewat prosanya, bolehlah dianggap telah melakukan "pernyataan antarmanusia" yang ingin menuturkan kenyataan dengan penuh empati: paduan antara kecermatan memotret peristiwa dan meresapi suasana sehari-hari yang disampaikan secara apa adanya. Dengan segala kesederhanaannya itu, Hamsad sebenarnya juga ingin memuliakan bahasa dan kemanusiaan tanpa maksud untuk bermegah diri. Pada kenyataannya, Hamsad masih pula tampil sebagai sosok sastrawan yang "biasa" saja, bahkan nyaris berkekurangan. Masih segar dalam ingatan kita, betapa Hamsad yang dirawat di sebuah rumah sakit amatlah membutuhkan bantuan biaya kesehatan.


Kita sama memahami, bahwa upaya memuliakan bahasa melalui susastra sejalan pula dengan niatan kita dalam merawat nilai-nilai besar dan esensial, sebutlah kemanusiaan, kebangsaan, kebudayaan atau bahkan keberpihakan kepada yang terpinggirkan—suatu hal yang senantiasa hidup penuh harap dalam diri setiap manusia, sebuah impian yang dipersembahkan menjadi karya, entah apapun wujudnya. Sastra, dengan ekspresinya yang bebas, mencerminkan tradisi panjang nusantara yang telah teruji, dan menyiratkan amanat hati nurani rakyat, adalah salah satunya. ***


____


Sumber: Makalah untuk Diskusi Kamis: Warisan Sastra Indonesia di Serambi Salihara, Kamis, 12 Oktober 2017.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »