Keraguan dan Pertobatan Nietzsche pada Tuhan

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri 


1. Keraguan Nietzsche pada Tuhan dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme


Puisi ini mengungkapkan kesesatan ich (aku) yang jauh dari ajaran Tuhan. hal ini ditunjukkan pada baris ke-9, -10, dan -11 kalimat ich war verloren (dulu aku tersesat), taumeltrunken (mabuk mimpi), versunken (terbenam). Hal ini juga ditekankan lagi pada baris ke- 13 dan -14 du standst von ferne (dulu kau menjulang jauh) dein Blick unsäglich (pandangMu tak terpermanai).

Ungkapan kesesatan ich (aku) pada puisi ini juga dialami oleh Friedrich Wilhelm Nietzche sebagai penciptanya. Puisi ini tercipta karena pengaruh pengalaman hidup Nietzsche. Dalam konsep Erlebnis telah dipaparkan bahwa Nietzsche pernah merasa ragu terhadap keimanannya. Hal itu dialami Nietzsche tepat pada saat ia berumur 18 tahun dan masih bersekolah di Schulpforta. Di
Schulpforta Nietzsche mempunyai dua sahabat  yakni, Gersdorff dan Paul Deussen mereka berdua adalah tokoh  orientalis dan ahli filsafat. Selain itu, pada saat di Pforta, Nietzsche sangat gemar membaca buku-buku sejarah, sastra, filsafat.

Salah satu tokoh yang mempengaruhi pemikirannya adalah Jean Paul Sartre (1763-1825), seorang filosof dan juga sekaligus seorang dramawan. Ungkapan Sartre tentang pemikirannya adalah “manusia bukanlah sesuatu yang lain kecuali bahwa ia menciptakan dirinya sendiri”. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh Nietzsche di Pforta, ia merasa membuka lembaran baru bagi kehidupannya. Ia mulai merasa ragu dengan keimanannya, goyah dalam hal keagamaan, dan saat itu menjadi awal Nietzsche menjauh dari agamanya.

Nietzsche memang hidup di lingkungan yang kental dengan ajaran Tuhan,  meskipun demikian, di sisi lain ia hidup pada masa Realismus, dimana orangorang jauh dari ajaran agama. Sebagai bukti tersebut ada pada salah satu dari ciri realismus yaitu paham materialisme, yaitu paham yang menganggap bahwa tidak ada tempat bagi agama, hanyalah materi yang utama dari segalanya. Tokoh-tokoh yang hidup pada masa realismus yang pemikirannya sangat mempengaruhi
Nietzsche antara lain seperti yang telah disebutkan dalam konsep Erlebnis yaitu, Darwin (1809-1892), Ludwig Feuerbach (1804-1872), Karl Marx (1818-1883).

Hal-hal tersebut yang menjadi faktor utama mulainya keraguan Nietzsche dengan keimanannya. Salah satu bukti yang digambarkan Nietzsche adalah, ketika Nietzsche berulang tahun yang ke-15, ia menulis sebuah pernyataan: Saya terserap oleh nafsu besar akan pengetahuan, akan pendidikan universal.

Kesimpulannya adalah, kejadian yang dialami oleh ich (aku) dalam puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme adalah gambaran kehidupan Nietzsche pada saat ia menciptakan puisi tersebut. Nietzsche yang mulai ragu dengan keimanannya, dan mulai merasa jauh dengan agamanya dipengaruhi dengan berbagai faktor. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhinya antara lain adalah disebabkan oleh pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan yang ia peroleh saat berada di Pforta.

2. Pertobatan Nietzsche pada Tuhan dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme

Puisi ini mengungkapkan pertaubatan ich (aku) kepada Tuhan. hal ini ditunjukkan pada baris ke-8 dein Blick ins Herz ein: Herr, ich komme (berkilau menembus kalbu: Tuhan, kuhampiri) dan baris -16 traf mich so oft: nun komm’ ich gerne (menyentuhku kerap sekali: kini gemar kuhampiri), selanjutnya pertaubatan ditunjukkan juga pada bait ketiga dan keempat.

Bait ke-3


Ich fühl’ ein Grauen.
Vor der Sünde
Nachtgründe
Und mag nicht rückwӓrts schauen
Kann dich nicht lassen,
In Nӓchten schaurig,
Traurig
Seh’ ich auf dich und muss dich fassen.

aku ngeri
akan kedalaman malam
sang dosa
dan enggan kuberpaling
tak sanggup abaikanMu
di malam seram ngeri
dengan pilu
aku menatapMu, harus merengkuhmu

Bait ke-4 merengkuhmu)

Du bist so milde,
Treu und innig.
Herzinnig,
Lieb Sünderheilendsbilde!
Still mein Verlangen,
Mein Sinnen und Denken
Zu Senken
In deine Lieb’
an dir zu hangen.

begitu lembut engkau
setia, pengasih
maha penyayang
wahai, citra juru selamat!
kabulkan hasratku
sanggupkan cita pikirku
tenggelam dalam
ke kedalaman cintaMu,

biar erat terpagut padaMu

Ungkapan pertaubatan ich (aku) pada puisi ini juga dialami oleh Friedrich Wilhelm Nietzche sebagai penciptanya. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa puisi ini tercipta pada saat Nietzsche berada di Schulpforta. Schulpforta yang merupakan salah satu sekolah asrama tinggi di Jerman, dan di sekolah inilah pertama kalinya Nietzsche belajar pendidikan yang berbasis ilmu pengetahuan dan humanistik. Selain kepentingan dalam bidang sastra dan musik, pendidikan di Schulpforta juga sangat mempengaruhi kerohanian para siswa.

Jadwal kegiatan sehari-hari di sekolah asrama Schulpforta diatur dengan sangat ketat. Sebagai contoh untuk jadwal makan yang dilakukan secara tepat waktu dan teratur. Untuk waktu beribadah juga sangat disiplin dilakukan para siswa menurut jadwal tersebut, contohnya untuk setiap pagi hari selalu diadakan do’a pagi, begitu juga pada setiap malam hari, selalu dilaksanakan do’a malam bersama-sama. Dengan dibiasakan beribadah untuk para siswa, tentu saja hal itu sangat berpengaruh untuk membentuk kepribadian siswa menjadi lebih religius dan selalu mengingat akan Tuhannya. Kedisiplinan dalam beribadah ini juga yang menjadi salah satu faktor pertaubatan Nietzsche.

Schulpforta juga mencantumkan kegiatan rekreasi dan olahraga yang tetap memaksimalkan kedisiplinan dan konsentrasi. Dalam bidang olahraga, Nietzsche pun mempunyai keahlian pada olahraga berenang. Selain sudah diatur jadwal kegiatan yang sangat ketat, setiap siswa di Schulpforta juga mempunyai mentor yang telah ditentukan. Mentor-mentor tersebut tentu saja adalah para guru yang mengajar di Schulpforta. Semua mentor selalu merawat para muridnya dengan cara bijaksana dan sudah sudah menganggap para siswa seperti anak-anak mereka sendiri.

Nietzsche mempunyai dua mentor yang sudah sangat dekat dengannya, mentor yang pertama adalah Profesor Buddensieg. Kedekatan Nietzsche dengan Profesor Buddensieg berakhir pada tahun 1861, dikarenakan mentor pertama dari Nietzsche tersebut telah meninggal dunia. Hal itu tentu saja sangat membuat Nietzsche menjadi menderita. Mentor kedua dari Nietzsche adalah Dr Max Heinze. Mentor tersebut sangat berperan penting untuk Nietzsche, karena perkembangan emosi Nietzschelah yang ia perhatikan.

Pada saat di Schulpforta, memang awal mula Nietzcshe mulai meragukan imannya, tetapi pada saat di Schulpforta juga ia merasakan penyesalan dan ia ingin bertaubat menuju jalan yang ditentukan Tuhan. Semua hal itu dikarenakan faktor umur Nietzsche yang masih remaja, dan tentu sangat mudah terpengaruh dengan apa yang dia lakukan dan apa yang terjadi di lingkungannya.

Nietzsche telah menciptakan sebuah awal karya tulis yang tercipta pada bulan April tahun 1862. Ada dua judul karya tulisnya pada bulan April tahun 1862 yaitu, yang pertama berjudul Nasib dan Sejarah dan yang kedua berjudul gratis kehendak dan takdir. Inti dari isi karya tulis Nietzsche yang berjudul Nasib dan Sejarah adalah berisi tentang pemikiran di kalangan masyarakat yang menghadapi perubahan yang sangat signifikan. Pemikiran yang yang dipengaruhi oleh kemajuan alam duniawi. Pemikiran yang hanya dilandasi dengan kehendak yang tingi, dan kembali pada sifat dasar manusia yang selalu menginginkan sesutau yang lebih tanpa melihat proses yang ditempuhnya. Semua orang pasti mempunyai rasa, hati nurani yang bertugas sebagai mesin produksi kekal untuk menciptakan bahan yang baru.

Dalam kehidupan, merekalah yang harus mengatur cerita hidup mereka, dengan memperjuangkan gelombang arus hidup yang berbeda dan akan mengalami pasang surut. Nietzsche mengungkapkan bahwa kita adalah tayangan masa kecil kita, orang tua yang sangat berpengaruh bagi kita, dan mereka yang menetapkan kebiasaan yang terbaik bagi kita. Manusia tersesat pada arogansi dan kenekatan mereka sendiri, sampai pada akhirnya mereka merasakan pengalaman yang menyakitkan dan hatinya akan mengarah kembali ke iman pada masa kecil mereka.

Karya tulis Nietzsche yang kedua, yang diciptakan pada tanggal 27 April 1862 dengan judul Kebebasan Kehendak dan Takdir berisi tentang kebebasan kehendak. Kebebasan kehendak yang ada dalam dirinya sendiri sangat terbatas, tidak lebih dari kebebasan berpikir. Nasib sesorang dicerminkan atau tampak pada kepribadiannya. Kehendak bebas individu dan takdir individu tumbuh saling berkesinambungan. Orang yang percaya dengan takdir ditandai dengan kekuatan dan kemauana, karena “Tuhan telah melakukan segalanya dengan baik”. Dua karya tulis inilah yang juga menjadi salah satu bukti pertaubatan Nietzsche. Karya Nietzsche yang membahas tentang keadaan lingkungan masyarakat yang terjadi pada masa itu.

Pertaubatan Nietzsche juga tampak pada karya puisi Nietzsche pada tahun berikutnya yang ia ciptakan pada bulan April tahun 1863, yakni puisi yang berjudul Jetzt und ehedem (sekarang dan dulu). Dari judul puisi tersebut terlihat bahwa Nietzsche dalam puisinya ingin mengangkat tema kehidupan masa lalunya semasa kecil yang sangat kental akan religiusitasnya, dan kehidupan sekarang dimana dia telah jauh dari jalan Tuhan. pada saat dia mengingat masa kecilnya yang sangat dekat dengan Tuhan, membuat hatinya tergugah dan membuatnya kembali ke jalan Tuhan. “Saya telah melanggar warisan kuno”, inilah sedikit cuplikan puisi tersebut yang menggambarkan penyesalan Nietzsche.

Kesimpulan dari dua tema konsep Verstehen pada puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme adalah gambaran peristiwa yang dialami oleh Friedrich Wilhelm Nietzsche. Gambaran peristiwa tersebut adalah ketika ia mulai ragu akan keimanannya, dikarenakan ilmu pengetahuan yang telah mempengaruhi pemikirannya sampai pada saat ia mengingat kembali adanya Tuhan dan menyesali semua kesalahan yang telah ia perbuat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »