Kiasan dan Diksi dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, Nietzsche

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri 

1. Bahasa Kiasan Dan Diksi Dalam Puisi Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme

Bahasa kiasan atau sering disebut gaya bahasa merupakan bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-ungkapan individual atau karateristik serta memiliki nilai artistik yang tinggi (Keraf, 1996: 23). Gaya bahasa sendiri sering digunakan oleh penyair untuk memperjelas maksud, serta menjelmakan imajinasi dalam sebuah puisi. Beberapa bahasa kiasan yang terdapat dalam puisi ini adalah, metafora, hiperbola, paradoks, tautologi, dan asidenton.

a. Metafora
Metafora adalah bahasa kiasan yang menggambarkan dua hal secara langsung dan melahirkan makna baru. Bahasa kiasan metafora yang dijumpai dalam puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme antara lain,

(1) An deines Thrones Stufen
Di tangga singgasanaMu

Penggalan puisi di atas dikategorikan dalam bahasa kiasan metafora dan terdapat pada bait ke-1, baris ke-4. Pemilihan kata atau diksi yang dipilih oleh ich (aku) dalam kata Thrones yang berkata dasar Thron, mempunyai makna tempat atau tahta untuk raja, tetapi dalam puisi ini yang dimaksud raja oleh ich (aku) adalah Tuhan. Tuhan yang menjadi sumber dari segala kehidupan, dan tidak akan ada yang lebih tinggi dari kedudukan Tuhan.

Kata Stufen (tangga) termasuk kata benda yang mempunyai arti anak tangga, tahap, atau tingkatan. Stufen (tangga) secara visual dapat digambarkan dengan sebuah benda yang berwujud bertingkat-tingkat, digunakan untuk mencapai tempat yang tinggi. Dari makna visual tersebut, dalam puisi kata Stufen (tangga) dapat diartikan dengan perjuangan untuk pencapaian tingkat keimanan. Keimanan yang berasal dari kata iman dapat diartikan sebuah kepercayaan adanya Tuhan, tetapi keimanan itu sendiri adalah sebuah perbuatan atau perilaku yang sudah diperintahkan oleh Tuhannya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Pembandingan raja dengan Tuhan di sini dapat diartikan bahwa singgasana Tuhan adalah tempat yang paling tinggi dan tidak mudah untuk mencapainya.

(2) Taumeltrunken
Mabuk mimpi

Penggalan di atas terdapat pada bait ke-2, baris ke-10. Pemilihan kata pada baris ini terdapat gabungan dua kata, mabuk dan mimpi. Mabuk, identik dengan keadaan tidak sadar dan diakibatkan terlalu banyak mengkonsumsi minuman yang beralkhohol tinggi. Kata mimpi, juga identik dengan keadaan di bawah sadar yang terjadi pada saat kita tidur. Mimpi yang kita alami tentu sangat beragam. Mulai dari mimpi yang positif, bahkan mengalami mimpi yang negatif. Sebagian masyarakat menganggap bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa mimpi dapat terjadi di kehidupan yang nyata.

Gabungan dua kata mabuk dan mimpi dalam puisi, ada pada bahasa kias metafora karena gabungan dua kata tersebut melahirkan makna baru. Makna yang muncul dari penggabungan dua kata tersebut adalah, hilangnya kesadaran diri karena terlalu banyak berkhayal. Mimpi yang diartikan sebagai khayalan ini, digambarkan dengan keindahan, kenikmatan kehidupan di dunia sehingga membuat ich menjadi merasa nyaman dan terbuai akan kenikmatan dunia.

(3) Ich fühl ein Grauen vor der Sünde Nachtgründe
Aku ngeri akan kedalaman malam sang dosa

Kalimat di atas adalah penggalan puisi pada bait ke-3, baris ke-17 sampai 19. Pemilihan kata ich (aku) dari baris ke-17 sampai -19, dipilih karena ia ingin mengungkapkan bahwa ia takut pada saat malam yang sudah larut. Saat malam yang sudah larut itulah, banyak sekali hal-hal yang identik dengan perbuatan buruk. Perbuatan yang akan berakibat dosa, dosa yang akan membawa mereka ke neraka, tempat yang dibenci Tuhan. maka dari itu, ich (aku) merasa ngeri akan kedalaman malam sang dosa, karena ia sudah tidak mau mengulangi perbuatanperbuatan dosanya.
 Kalimat ini termasuk metafora karena ditunjukan pada dua hal yang dibandingkan secara langsung dan menjadi makna yang baru yaitu  Nachtgründe (kedalaman malam) dan Sünde (sang dosa). 

Kata Nachtgründe (kedalaman malam) mempunyai arti malam yang sudah sangat larut tetapi dalam puisi ini diungkapkan oleh ich (aku)  sebagai suatu hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan dosa.

b. Hiperbola
Hiperbola adalah bahasa kiasan yang melebih-lebihkan sesuatu hal. Dalam puisi yang termasuk hiperbola antara lain,

(1) Du standst von ferne
Dulu Kau menjulang jauh

Penggalan puisi di atas ada pada bait ke-2, baris ke-13. Dalam baris ini pemilihan kata dipilih ich (aku) untuk mengungkapkan bahwa dulu Tuhannya terasa jauh. Kata standst berasal dari kata stehen yang berarti terletak atau berada. Kata standst mengalami perubahan kata yang disebut dengan Präteritum . Kalimat ini mengandung bahasa kias hiperbola karena pada baris ini memiliki makna yang berlebihan. Kata “Du (kau)” disini ditujukan kepada Tuhan, Tuhan yang berkedudukan paling tinggi di antara segalanya, dan yang berlebihan disini ada pada kata “standst von ferne (menjulang jauh)”.

Ich (aku)  mengungkapkan bahwa Tuhan menjulang jauh, Tuhan berada di tempat yang jauh dan seakan-akan Tuhan berada di tempat berwujud dan dapat dilihat. Padahal tidak seorang pun mengetahui bagaimana tempat Tuhan berada. Ich (aku) seolah-olah mengungkapkan bahwa ia sanggup mencapai tempat keberadaan Tuhan. 

(2) dein Blick unsäglich
pandang-Mu tak terpermanai

Penggalan puisi ini terdapat pada bait ke-3, baris ke-14. Kata un yang dalam bahasa Jerman diartikan dengan kata menidakkan, dan pada kata unsäglich diartikan tidak terpermanai. Kata dein Blick unsäglich (pandangMu tak terpermanai) termasuk kata yang berlebihan karena, seperti yang kita ketahui bahwa pandangan secara realita tidak dapat dirasakan, tetapi dalam kalimat ini ich
(aku) mengungkapkan bahwa pandangan Tuhan tidak dapat dirasakan. Pandangan Tuhan hanya dapat dirasakan melalui hati, Tuhan hanya memancarkan pandanganNya melalui nikmat-nikmat yang ia berikan kepada seluruh umatNya.

(3) zu senken in deine Lieb’, an dir zu hangen.
Tenggelam dalam ke kedalaman cintaMu, biar erat terpagut padaMu.

Kalimat di atas terdapat dalam puisi pada bait ke-4, baris ke-31 dan 32. Kata senken dalam bahasa Jerman berarti menurunkan atau merendahkan. Pemilihan kata senken pada puisi ini digunakan ich (aku) untuk mengungkapkan bahwa ia telah tenggelam dalam cinta Tuhan, cinta yang abadi, cinta yang begitu besar diberikan kepada seluruh umatNya. Dengan cinta Tuhan inilah membuat hati semua umatNya menjadi merasa tenang, dan tentram.

Kalimat yang berlebihan telah diungkapkan ich (aku) pada kalimat zu senken, in deine Lieb’, (tenggelam dalam ke kedalaman cintaMu,). Tenggelam secara logika berhubungan dengan kejadian di sungai ataupun laut. Dalam kalimat ini ich telah mengungkapkan secara berlebihan bahwa ia telah tenggelam ke dalam cinta Tuhan.

c. Paradoks
Paradoks adalah bahasa kiasan yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada atau menyatakan sesuatu yang berlawanan. Pada puisi yang termasuk dalam bahasa kias paradoks terdapat pada bait ke-1, baris ke6 dan 7.

(1) Strahlt mir so herzlich, schmerzlich
Alangkah ramah, menyakitkan

Kata Strahlt berasal dari kata strahlen yang berarti pancaran.  ich (aku) memilih kata ini karena, yang dimaksud dengan herzlich,dan schmerzlich adalah pancaran Tuhan yang begitu ramah dan menyakitkan. Pandangan yang ramah ini dipancarkan oleh TuhanNya melalui pahala-pahala bagi umatNya yang beriman dan taat kepadaNya. Begitu juga dengan pandangan Tuhan yang menyakitkan ini dapat diartikan dengan teguran yang senantiasa diberikan Tuhan kepada para umat yang tidak menjalankan perintahnya. Umat yang lupa akan keberadaan Tuhannya.

Pada baris ini bahasa kias paradoks sangat terlihat pada kata herzlich (ramah) dan schmerzlich (menyakitkan) dua kata sifat yang saling berlawanan. Dua kata sifat ini digabungkan oleh ich (aku) karena mempunyai maksud yang ingin ia rasakan.

d. Tautologi
Bahasa kiasan ini mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Hal tersebut bisa disebut dengan perulangan makna dengan menggunakan kata yang berbeda. Pada puisi yang termasuk dalam tautologi terdapat pada bait ke-3, baris ke-22.

(1) In Nächten schaurig,
Di malam seram ngeri

Kata Nächten berasal dari kata Nacht yang berarti malam hari. Kata ini disambungkan dengan kata schaurig yang berasal dari kata schaudern yang memiliki arti merasa ngeri. Pemilihan kata ini dipilih oleh ich (aku) untuk mengungkapkan bahwa ia merasa ngeri atau takut pada saat malam hari. Malam yang begitu mengerikan juga identik dengan hal-hal yang berbau dengan mistis.
Penggalan puisi di atas terdapat bahasa kiasan tautologi karena menggunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Kata-kata yang dimaksud pada baris ini adalah kata “seram dan ngeri”. Dua kata ini sebenarnya memiliki makna yang sama.

e. Asidenton
Asidenton adalah bahasa kiasan yang bersifat padat dan tidak dihubungkan dengan kata sambung. Dalam puisi ini yang termasuk pada bahasa kias asidenton adalah pada bait ke-4, baris ke-26 dan -27.

(1) treu und innig, herzinnig, 
setia, pengasih, maha penyayang

Pemilihan kata pada baris ini digunakan ich (aku) untuk mengungkapkan sifat-sifat Tuhan yang begitu mulia terhadap umatNya. Pemilihan kata yang dipilih oleh ich (aku) ini termasuk kata sifat atau adjektif dalam bahasa Jerman. Kebaikan-kebaikan Tuhanlah yang selalu dirasakan oleh ich (aku) dan ia pun memilih kata tersebut untuk menjadi bagian dari puisi ini. Penggalan puisi di atas mengandung kiasan asidenton karena kata-kata dalam kalimat ini bersifat padat dan tidak dihubungkan dengan kata sambung, hanya dihubungkan dengan tanda koma.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »