Kritik Sastra Feminis - Dr. Wiyatmi, M.Hum

ADMIN SASTRAMEDIA 6/24/2019
Kritik Sastra Feminis


oleh Dr. Wiyatmi, M.Hum

SASTRAMEDIA.COM - Kritik sastra feminis merupakan salah satu ragam kritik sastra yang memanfaatkan kerangka teori feminisme dalam menginterpretasi dan memberikan evaluasi terhadap karya sastra. Dalam perkembangannya ada beberapa ragam kritik sastra feminis. Showalter (1986) membedakan adanya dua jenis kritik sastra feminis, yaitu: 1) kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai pembaca (the woman as reader/feminist critigue), dan 2) kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai penulis (the woman as writer/gynocritics).

Kritik sastra feminis aliran perempuan sebagai pembaca (woman as reader) memfokuskan kajian pada adalah citra dan stereotip perempuan dalam sastra, pengabaian dan kesalahpahaman tentang perempuan dalam kritik sebelumnya, dan celah-celah dalam sejarah sastra yang dibentuk oleh laki-laki (Showalter, 1986: 130). Kritik sastra feminis ginokritik meneliti sejarah karya sastra perempuan (perempuan sebagai penulis), gaya penulisan, tema, genre, struktur tulisan perempuan, kreativitas penulis perempuan, profesi penulis perempuan sebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis perempuan (Showalter, 1986: 131).

Selain kedua jenis kritik sastra feminis tersebut Humm (1986) membedakan adanya tiga jenis kritik sastra feminis, yaitu: 1) kritik feminis psikoanalisis, dengan tokoh antara lain Julia Kristeva, Monigue Wittig, Helene Cixous, Luce Irigaray, Mary Daly:, 2) kritik feminis marxis, dengan tokoh antara lain Michele Barret dan Patricia Stubbs: dan 3) kritik feminis hitam dan lesbian, dengan tokoh antara lain Barbara Smith, Elly Bulkin, dan Barbara Greir.

Kritik sastra feminis psikoanalisis memfokuskan kajian pada tulisan-tulisan perempuan karena para feminis percaya bahwa pembaca perempuan biasanya mengidentifikasikan dirinya dengan atau menempatkan dirinya pada si tokoh perempuan, sedangkan tokoh perempuan tersebut pada umumnya merupakan cermin penciptanya. Munculnya kritik sastra feminis psikoanalisis berawal dari penolakan para feminis terhadap teori kompleks kastrasi Sigmund Freud (Tong, 2006: 196-197). Kompleks kastrasi menurut Freud (2006: 106) adalah kecemasan (guncangan emosional) yang dialami oleh anak laki-laki yang memiliki pandangan yang salah ketika melihat perbedaan alat kelaminnya dengan saudara perempuannya. Menurutnya, perempuan sebenarnya juga memiliki penis, tetapi telah dipotong. Anggapan tersebut diperkuat oleh ancaman yang sering disampaikan oleh orang tua akan mengebirinya atau menghukumnya karena tingkah laku seksualnya. Itulah sebabnya, dia mengalami kecemasan kastrasi.

Perbedaan alat kelamin perempuan dengan laki-laki, terlebih karena perempuan tidak memiliki penis, menurut Freud menimbulkan inferioritas perempuan, yang diistilahkan sebagai kecemburuan anak perempuan akan penis (penis envy) (Tong, 2006: 196). Para feminis, seperti Betty Freidan menolak teori Freud tersebut dan berargumen bahwa posisi serta ketidakberdayaan sosial perempuan terhadap laki-laki kecil hubungannya dengan biologi perempuan, tetapi sangat berhubungan dengan konstruksi sosial atas feminisme (Tong, 2006: 196).

Menurut Freidan (via Tong, 2006:196) gagasan Freud dibentuk oleh kebudayaannya yang digambarkan sebagai “Victorian” (pengaruh budaya Inggris yang hidup pada era Ratu Victoria, 1837-1910). Kritik Freidan terhadap teori Freud juga didukung oleh Firestone dan Millet (Tong, 2006: 198). Menurut Firestone, bahwa pasivitas seksual perempuan bukanlah suatu hal yang alamiah, melainkan semata-mata karena hasil sosial dari kebergantungan fisik, ekonomi, emosional perempuan pada laki-laki. Oleh karena itu, untuk mengakhiri opresi terhadap perempuan dan anak-anak, Firestone (via Tong, 2006: 198) menganjurkan agar manusia seharusnya menghapuskan keluarga inti, dan bersamaan dengan itu juga menghapuskan tabu inses yang merupakan akar penyebab kompleks Oedipus.  Sementara itu, Millet (via Tong, 2006: 198) menganggap bahwa konsep kecemburuan terhadap penis merupakan contoh transparan dari egoisme laki-laki.

Kritik Freidan, Firestone, dan Millet terhadap teori Freud tersebut juga didukung oleh para feminis psikoanalisis berikutnya, seperti Alfred Adler, Karen Horney, dan Clara Thompson, yang meyakini bahwa identitas gender, perilaku gender, serta orientasi seksual perempuan (dan laki-laki) bukanlah hasil dari fakta biologis, tetapi merupakan hasil dari nilai-nilai sosial dalam struktur patriarki. Oleh karena itu, perempuan seharusnya melawan hal tersebut (Tong, 2006: 197/—200). Melalui kritik sastra feminis psikoanalisis diselidiki hasrat, identitas gender, dan konstruksi linguistik feminis untuk mendekonstruksi hierarki gender dalam sastra dan masyarakat (Humm, 1986: 71).

Kritik sastra feminis Marxis meneliti tokoh-tokoh perempuan dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengritik mencoba mengungkapkan bahwa kaum perempuan yang menjadi tokoh dalam karya sastra merupakan kelas masyarakat yang tertindas (Humm, 1986: 72). Dengan menggunakan dasar teori marxis dan ideologi kelas Karl Marx, kritik sastra feminis Marxis akan mengidentifikasi kelasisme sebagai penyebab opresi (penindasan) terhadap perempuan. Dalam hal ini penindasan terhadap perempuan tersebut bukanlah hasil tindakan sengaja dari satu individu, melainkan produk dari struktur politik, sosial, dan ekonomi tempat individu itu hidup.

Pembagian kerja berdasarkan gender yang menempatkan perempuan dalam ranah domestik, sementara laki-laki dalam ranah publik jelas menimbulkan kesenjangan kelas karena sebagai pekerja di ranah publik, laki-laki akan menguasai wilayah produksi. Secara ekonomi, laki-lakilah yang menghasilkan materi, sementara perempuan, walaupun mengeluarkan tenaga dan menggunakan hampir seluruh waktunya untuk bekerja di rumah dia tidak mendapatkan penghasilan. Bahkan, secara ekonomi perempuan sebagai ibu rumah tangga tergantung kepada laki-laki. Perempuan tidak menguasai materi (kepemilikan benda maupun uang) karena sebagai ibu rumah tangga dia tidak mendapatkan penghasilan. Oleh karena itu, dia harus tunduk dan patuh kepada suaminya. Hal inilah yang memungkinkan perempuan tertindas.

Kritik feminis hitam (black feminis criticsm) dan lesbian, dengan tokoh antara lain Barbara Smith, Elly Bulkin, dan Barbara Greir. Kritik feminis hitam dan lesbian mencoba memberikan perhatian kepada perempuan kulit hitam dan kaum lesbian yang selama ini dimarginalkan, terutama dalam hubungannya dengan perempuan dan laki-laki kulit putih dan kaum heteroseksual. Kritik feminis ini memberikan perhatian kepada keberadaan para perempuan kulit hitam dan kaum lesbian yang menjadi tokoh-tokoh dalam karya sastra yang selama ini menjadi korban penindasan kaum laki-laki maupun perempuan, khususnya kulit putih (Humm, 1986: 73).

___
>Sumber: Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia, Wiyatmi, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2012

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »