Lima Ragam: Manusia Indonesia Berbicara

ADMIN SASTRAMEDIA 6/21/2019
oleh Budi Darma
Lima Ragam: Manusia Indonesia Berbicara

Pendahuluan

Kalau kita ingin menjajagi manusia Indonesia yang sesungguhnya, janganlah kita hanya memperhatikan percakapan mereka dalam pertemuan-pertemuan resmi, seperti misalnya seminar dan rapat kerja. Dalam pertemuan-pertemuan semacam ini, ada kemungkinan kepribadian mereka yang sesungguhnya mengambang di bawah nurani mereka, tertekan oleh tuntutan-tuntutan lain yang mau tidak mau menjadikan mereka manusia susila. Apalagi, Kalau mereka harus lebih banyak mendengarkan pengarahan dan bukannya mengeluarkan pendapat. Dan memang dalam kancah seperti ini mereka lebih banyak dituntut untuk melaksanakan, kendati pun pelaksanaan itu dapat berupa perencanaan. Memang perencana bisa saja seorang objek, dan bukan subjek.

Lalu ke manakah kita mesti pergi agar kita bisa melihat manusia Indonesia yang sesungguhnya? Datanglah ke pertemuan-pertemuan tidak resmi. Mungkin saja pertemuan semacam ini diselenggarakan oleh lembaga resmi dan bahkan disponsori oleh Pemerintah, tapi tidak harus selamanya berorientasi kepada Pemerintah. Mereka melibatkan diri dalam kancah pembicaraan sebagai mereka sendiri, bukan sebagai pegawai negeri, pedagang, atau bahkan anggota parpol. Dan mereka lebih santai, karena mereka tahu bahwa mereka tidak perlu menggunakan topeng.

Pembicaraan mereka bisa saja seru, ngawur, dan tidak punya juntrung. Mereka juga tidak perduli apakah omongan mereka di simak atau tidak. Kalau perlu keadaan mereka mirip dengan mimpi, pada saat insting dan impuls mereka yang sesungguhnya meletup-letup.

Lagak Ragam Manusia

Marilah kita simak kata-kata dan wajah mereka. Jumlah mereka bisa banyak, tapi pada hakikatnya mereka hanyalah beberapa orang saja. Dan inilah mereka :

1. Orang-orang yang terlibat dalam pembangunan dengan nyata sesuai dengan keahlian mereka masing-masing, tanpa mempropagandakan keterlibatan mereka. Berbicara seperlunya dan menolak untuk digelandang ke arah pembicaraan yang bukan-bukan itulah sikap mereka. Mungkin mereka tampak tidak mempunyai program, tapi kerja bagi mereka adalah ibadah. Dan mungkin juga mereka suka mengeluarkan kritik, kalau perlu tajam dan juga tidak operasional. Tapi ingat, mereka warga negara yang baik.

2. Orang-orang yang sinis dan tidak terlibat dalam pembangunan. Tidak jarang mereka menganggap semua menteri goblok, semua jenderal penipu, dan pegawai negeri hanyalah manusia malas tanpa tara. Mulut mereka berkoar-koar, dan tangan kanan mereka menuding-nuding dengan gagah-berani untuk menggarisbawahi kritik-kritik mereka. Tapi lihat, tangan kiri mereka menjulur ke belakang dalam keadaan terbuka, siap menerima sedekah. Tangan inilah yang dipergunakannya baik-baik untuk melaksanakan fungsinya sebagai pengemis terselubung.

Dalam sebuah pertemuan, ada seseorang yang dapat berbicara bagaikan guntur. Tidak lain dia adalah satu di antara sekian banyak orang ini. Bagi dia, Indonesia sudah benar-benar runtuh, karena semua aparatnya tolol dan korup. Tapi ketahuilah, istri orang ini adalah pegawai negeri sementara dia sendiri tinggal di rumah dinas istrinya. Tentu saja dia sendiri tidak punya rumah, dan benar-benar tidak becus bekerja. Dan ketahuilah, banyak bekas teman sekolahnya dahulu di SMA yang sekarang sudah menjadi jenderal, pegawai tinggi, atau pemegang saham perusahaan-perusahaan besar. Tapi ingat, dia hanyalah sebuah ilustrasi.

3. Orang-orang yang prihatin terhadap keadaan, sanggup menyumbangkan pikiran yang cemerlang, tapi tidak terlibat dalam pembangunan. Sumbangan pikiran orang-orang semacam ini belum tentu operasional, meskipun kita tahu bahwa pembangunan juga memerlukan pemikiran abstrak yang tidak selamanya operasional. Dan mungkin juga orang-orang semacam ini akan gagal baik untuk
menjadi birokrat maupun untuk teknokrat, seandainya mereka diberi kesempatan.

4. Orang-orang yang suka menonton. Jumlah mereka biasanya banyak, dan karena itu mereka biasa dinamakan "the silent majority”. Memang banyak keragaman di antara mereka, tapi pada umumnya mereka adalah barisan semut dalam pembangunan. Diam-diam dan secara teratur mereka bekerja sesuai dengan tuntutan keadaan. Mereka tidak suka merusak, dan tidak pula suka dirusak. Orang-orang semacam inilah yang biasanya benci terhadap formalitas berlebihan, dan dalam hati menggerutu apabila ditarik-tarik untuk dijerumuskan ke dalam politik praktis.

5. Orang-orang yang suka mengotak-atik teori, dan karena itu sering terperosok ke dalam pemikiran teknis teoritis. Mungkin orang-orang semacam ini hanya baik sebagai tukang dalam pembangunan, atau mungkin juga tidak bermanfaat sama-sekali. Mereka menganggap, bahwa segala sesuatu harus dilihat dari teori tertentu terlebih dahulu, dan harus pula diselesaikan dengan teori tertentu. Dengan sikap demikian, mereka sama-sekali tidak mempunyai wawasan. Atau mungkin karena mereka tidak mempunyai wawasan apa-apa, mereka menjadi budak teori tanpa menyadari bahwa teori baru ada setelah melalui proses pemikiran, dan bahwa seharusnya teori adalah untuk diperbudak. Tentu saja orang-orang semacam ini tidak dapat dianggap sampah, meskipun mungkin derajat mereka hanya lebih mulia sedikit dibanding dengan harkat sampah. Kita tidak boleh mengabaikan mereka, sebab mereka toh sudah terlanjur ada. Dan terhadap polusi pun kita tidak boleh bersikap abai.

Bagaikan Manusia dalam Drama Klasik

Dalam pertemuan-pertemuan bebas seperti yang kita saksikan di atas, orang boleh saja bertepuk tangan, diam, atau gedruk-gedruk kaki serta kertak gigi untuk menunjukkan kegeraman entah kepada siapa. Tapi begitu pulang, mereka akan kembali ke hati nurani masing-masing. Mungkin saja mereka berubah, mungkin juga tidak. Dan mungkin juga mereka akan sama dengan watak-watak dalam drama-drama klasik: ketika drama mulai mereka sudah mempunyai watak tertentu, dan dalam penutupan drama watak mereka yang asli lebih menajam. Seseorang yang tolol menjadi makin tolol, seseorang yang bijak menjadi lebih bijak, dan seseorang yang konyol akan menjadi konyol luar-biasa.

Surabaya, 19 Desember 1986
__
Sumber: Horison, Nomor 1, Tahun XXI, Januari 1987

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »