Masalah Penyusunan Sejarah Puisi Indonesia (2)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/10/2019
Masalah Penyusunan Sejarah Puisi Indonesia (2) SDD Sastramedia.com
/4/
Masalah terakhir yang ingin saya tampilkan menyangkut cara penyebarluasan puisi. Dalam sejarah dan perkembangan sastra di mana pun, puisi menempati kedudukan penting. Orang bisa menges­ampingkan cerita pendek, misalnya, tetapi puisi tak bisa ditinggalkan. Namun, dalam kenyataannya, penyebarluasan puisi menempuh jalan yang khas; ia memerlukan pembicaraan yang khusus dalam sis­tem reproduksi sastra. Buku puisi tidak pernah menjadi perhatian penerbit besar, tentu dengan beberapa perkecualian. Balai Pustaka sebelum pe­rang, mislanya, yang oleh beberapa kalangan di­anggap sebagai pendorong kemajuan sastra modern kita, boleh dikatakan sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap penerbitan buku puisi modern. namun ini tidak berarti bahwa puisi tidak ditulis pada masa itu. Pembaharuan nyata dari kelompok Poedjangga Baroe sebenarnya justru terletak pada puisi; hal yang sama mungkin juga bisa dikenakan pada Angkatan '45. 


Puisi diterbitkan di majalah-majalah terbatas (little magazine) seperti Poedjangga Baroe dan penerbitannya sebagai buku lebih sering merupakan hasil usaha pribadi atau penerbit kecil. Keadaan semacam itu berlangsung terus sepanjang sejarah kesusastraan kita. Terbitan-terbitan kecil dan bersifat sementara itu jarang yang menjanjikan cetak ulang, dan puisi yang pernah dihasilkan itu pun segera lenyap dari perhatian kita sekarang. Para peneliti sekarang pun mengalami banyak kesulitan dalam mengumpulkan­nya, apalagi pembacanya. Akibat dari keadaan ini adalah bahwa pengetahuan kita tentang puisi sebenarnya sangat terbatas oleh tempat dan waktu. 

Pertama, kita mungkin bisa mengikuti perkemba­ngan puisi di majalah dan koran yang menyediakan ruang untuknya, tetapi pasti tidak bisa mengikuti semua majalah yang terbit di semua pelosok tanah air. Tidak mungkin kita mengikuti semua penerbitan di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Medan. Kedua, kita umumnya hanya mengenal puisi yang ditulis masa kini saja, sebab buku-buku lama tidak dicetak ulang dan belum ada perpustakaan — umum maupun universitas — yang memadai.

Yang lebih menyulitkan lagi adalah bahwa kebanyakan buku puisi dicetak secara terbatas dengan cara yang sederhana. Buku-buku itu tidak disebarluaskan oleh penerbit besar sehingga jangkauannya terbatas sekali. Sebagian besar buku semacam itu memang bisa dipandang dengan sebelah mata saja — jika kita melihat perkembangan puisi kita secara keseluruhan. Namun, kita harus selalu ingat bahwa pembaruan dalam puisi justru lebih sering terjadi dalam penerbitan serupa itu. Saya yakin, tidak banyak di antara kita yang beruntung memiliki buku puisi Goenawan Mohamad yang berjudul Pariksit dan Interlude, yang pernah dicetak secara terbatas di tahun 70-an, padahal puisi Goenawan Mohamad merupakan bagian yang sangat penting dalam perkembangan puisi Indonesia. Yang lebih merisaukan lagi adalah bahwa ada karya penyair yang penting, misalnya Isma Sawitri, yang tidak pernah terbit dalam bentuk buku. Kedudukan Isma Sawitri sangat penting dalam perkembangan puisi Indonesia modern: ia merupakan tokoh wanita penyair terpenting yang kita miliki, namun sarjana yang sangat teliti seperti Teeuw pun sama sekali tidak menyebut namanya dalam perkembangan puisi Indonesia.

Akhirnya, dalam rangka penyusunan sejarah puisi Indonesia saya menyarankan suatu penelitian yang menyeluruh dan teliti, yang tidak hanya menyandarkan pada penerbitan berupa buku. Penelitian itu setidaknya harus menghasilkan sebuah bunga rampai yang lengkap mengenai puisi Indonesia, yang mampu memberikan gambaran mengenai perkembangan stilistik dan tematiknya. Karena sastra adalah hasil masyarakat, penelitian itu pun harus menghasilkan deskripsi dan analisis yang teliti mengenai konteks sosialnya. Apresiasi kita terhadap puisi tentu akan menjadi lebih manusiawi jika kita mengetahui lebih banyak mengenai berbagai segi yang berkaitan dengan penyair, proses penerbitan, dan pembaca —itu semua dalam hubungannya dengan situasi sosial pada masanya. Hanya dengan penelitian semacam itulah kita bisa menyusun sejarah puisi Indonesia, yakni yang mendasarkan peristiwa-peristiwanya pada sebab-akibat yang jelas.

____
Sumber: Majalah Sastra Horison, Nomor 12, tahun XXV Desember 1990.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »