Masalah Penyusunan Sejarah Puisi Indonesia (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/10/2019
oleh Sapardi Djoko Damono


Masalah Penyusunan Sejarah Puisi Indonesia - Saparadi Djoko Damono - sastramedia.com

/1/
Jika kita menyusun sejarah puisi Indonesia, apakah kita akan mulai dari mantra Melayu atau dari syair mengenai Kampung Gelam yang terbakar? Mantra adalah salah satu bentuk tertua dalam sastra lisan, dan jika kita memasukkannya sebagai awal perkembangan puisi Indonesia berarti pembicaraan tentang jenis-jenis puisi lisan lain se­perti pantun dan gurindam menjadi penting. Dalam buku-buku pelajaran kesusastraan, yang umumnya mengambil saja data dan landasan gagasan sarjana Barat, puisi lisan tersebut biasanya dianggap mengawali perkem­bangan puisi kita. Ini berarti bahwa orientasi kita adalah bahasa: bahasa Indonesia dianggap berasal dari bahasa Melayu, dan oleh kare­nanya sastra Indonesia modern berawal juga dari bahasa Melayu. Ini pada gilirannya mengajak kita untuk beranggapan bahwa telah terjadi perkembangan dari mantra Melayu ke puisi mutakhir kita; "memaksa" kita pula untuk berpandangan bahwa penyair-penyair kita kini seperti Linus Suryadi AG, Subagio Sastrowardoyo, Abdul Hadi WM, Rendra, dan Sutardji Calzoum Bachri memiliki tradisi sastra yang sama, yakni sastra Melayu. Dengan Sutardji mungkin tidak ada persoalan; bolehlah kita katakan ia merupakan bagian yang sah dari tradisi perpuisian Melayu. Tetapi jika kita mengikutkan Linus dan Rendra juga dalam tradisi yang sama, persoalan tentu akan timbul. Penyair Indonesia yang berasal dari Jawa pasti tidak pernah menjadi bagian dari tradisi perpui­sian Melayu, meskipun mereka mungkin pernah mengetahuinya serba sedikit dari buku-buku pelajaran sastra di sekolah. Jumlah penyair Indonesia modern yang tidak berasal dari tradisi kebudayaan Melayu tampaknya dominan; jadi, apakah sejarah puisi Indonesia harus dimu­lai dari mantra Melayu?


Karena kita berorientasi pada bahasa, aspek lain seperti mitologi­ yang merupakan landasan utama perkembangan sastra – cenderung dilupakan. Sastrawan Indonesia masa kini. Adalah mereka yang menulis dalam bahasa Indonesia, yang bersumber pada bahasa Melayu; namun jelas mereka
mendukung mitologi yang berbeda-beda. Dan karena mitologi mau tidak mau harus dikaitkan dengan ideologi, tentu tidak bisa begitu saja dianggap bahwa puisi Indonesia merupakan perkembangan dari puisi Melayu. Hang Tuah mungkin masih hidup dalam jiwa orang Melayu, Cindur Mato mungkin masih mendasari cara berpikir orang Minang, dan Gatotkaca barangkali masih menjadi tokoh idaman banyak orang Jawa; tokoh-tokoh itu merupakan gantungan ideo­logi yang berkembang dalam puisi kita kini. Mereka itu sekarang tentunya sudah pandai berbahasa Indonesia, namun jelas bahwa tidak semuanya berasal dari tradisi Melayu. Jika demikian halnya, apakah sejarah puisi Indonesia harus dimulai dari berbagai puisi non-Melayu, sebab bukankah pembicaraan mengenai perkembangannya tidak hanya berkisar pada masalah stilistik tetapi juga tematik?

Orientasi pada bahasa telah melahirkan ber­bagai konsep seperti jawanisasi dan penolakan ter­hadap Pengakuan Pariyem sebagai karya sastra Indonesia. Konsep tersebut pada dasarnya ber­anggapan bahwa sastra Indonesia tentunya harus berlandaskan mitologi Melayu; masuknya mitologi Jawa ke dalamnya dianggap sebagai semacam "penyimpangan" yang - meskipun tidak harus dianggap sebagai cacat - pantas dikhawatirkan. Jika ternyata sekarang ini perkembangan puisi Indonesia banyak ditentukan oleh penyair yang berasal dari Jawa, tentu tidak terelakkan lagi adanya banyak "penyimpangan" dari mitologi Melayu, yang pada gilirannya tentu juga mengubah bahasa yang diper­gunakan untuk mengungkapkannya.

/2/
"Syair Kampung Gelam Terbakar" adalah se­buah syair karya Abdullah Munsyi, sastrawan Melayu yang hidup pada abad yang lalu. Ia, bersama-sama dengan Raja Ali Haji dan lain-lain, menjadi bagian penting dalam sejarah puisi Indonesia. Pemasukan karya kedua sastrawan itu berarti bahwa kita tidak memasalahkan aksara yang dipergunakan para sas­trawan; tidak kita bedakan antara aksara latin dan jawi. Sikap ini menguntungkan sebab sejarah puisi kita menjadi panjang dan kaya. Satu-satunya masalah barangkali adalah kebutuhan akan usaha transli­terasi; untunglah bahwa sekarang ini semakin ba­nyak kegiatan di perguruan tinggi ke arah itu. Menyandarkan perkembangan puisi Indonesia pada sastra lisan seperti mantra dan pantun tentu penting, tetapi belum cukup. Puisi dalam bahasa melayu yang ditulis dalam aksara jawi ternyata men­cakup berbagai mitologi; ini tentu akan memperkaya pandangan kita-penyair dan pembaca- mengenai perkembangan puisi kita secara menyeluruh. Dalam naskah-naskah berbahasa Melayu itu, yang tersebar tidak hanya di Sumatra tetapi juga di pulau-pulau lain di Indonesia, tercermin beragam ideologi. Kon­sekuensi dari beragamnya ideologi yang melandasi mitologi itu adalah cara pengungkapan yang kaya ragamnya. Dalam naskah-naskah itu tidak jarang kita menemukan perlambangan dan penyusunan majas yang"baru" clan "modern", yang sangat mungkin bisa membuat tersipu penyair Indonesia masa kini.

Sering dikatakan bahwa naskah-naskah semacam itu penuh dengan klise, namun tradisi kesusastraan suatu bangsa memerlukan klise-klise semacam itu untuk dijadikan landasan perkembangannya. Klise­-klise itu tampak baru bagi sebagian besar kita ka­rena memang tidak pernah mengenalnya; ini bisa mengakibatkan penyair masa kini kita berada di dalam jangkauan para penyair (yang umumnya anonim) terdahulu itu dalam soal cara pengungkapan. Namun, pemasukan sastra tulis huruf jawi ber­bahasa Melayu itu tentunya harus dilengkapi juga dengan yang berhuruf latin dalam bahasa yang sama. 

Abdullah Munsyi dan Raja AH Haji sebaiknya di­dampingi oleh Tan Teng Kie, penyair peranakan Cina yang pada akhir abad yang lalu menulis beberapa syair. Cara pengungkapan dalam ideologi yang ada dalam syair-syairnya - dan syair-syair yang ditulis oleh penyair-penyair peranakan Cina lain sebelum dan sesudahnya- telah memperkaya tradisi penuli­san puisi kita. Mungkin kita masih berpegang erat­-erat pada pandangan bahwa bahasa Indonesia kita ini bersumber pada bahasa Melayu Riau, namun setidaknya harus diakui kenyataan bahwa bahasa melayu sudah sejak lama berkembang di banyak tempat di nusantara. Orientasi kita pada bahasa sudah seharusnya menuntun kita pada penerimaan akan kenyataan itu. Dalam perkembangan sastra kita, wajarlah jika Tan Teng Kie yang keturunan Cina dan tinggal di Betawi mempunyai hak yang sama dengan Abdullah Munsyi, yang juga bukan keturunan pribumi dan tinggal di Singapura.

/3/
Sejarah pada hakikatnya adalah urutan peris­tiwa yang berkait-kaitan dalam sebab-akibat; seja­rah puisi Indonesia pun seharusnya demikian. Ku­rangnya perhatian pada perkembangan puisi "lama" - yang sebenarnya belum begitu lama - menyebabkan puisi kita seolah-olah muncul begitu saja entah dari mana. Ditunjang oleh antara lain gagasan Sutan Takdir Alisjahbana mengenai sastra lama, penyair-penyair seperti Roestam Effendi dan Mu­hammad Yamin muncul sebagai awal perkembangan puisi Indonesia. Kita buang dan lupakan saja sastra lama, begitu kira-kira kata Sutan Takdir Alisjahba­na, dan kita bangun sastra baru. Dan para penyair yang kemudian kita kelompokkan dalam Poedjang­ga Baroe pun membangun sastra baru; landasan­nya terutama sastra Barat. Pantun, yang masih hi­dup dalam masyarakat, ditolak; sebagai "ganti­nya" diambil soneta yang mirip pantun dalam hal pembagian menjadi sampiran dan isi. Soneta, barang baru dalam puisi Indonesia tahun 20-an dan 30-an itu sebenamya sama sekali tidak baru di negeri asalnya. Sutan Takdir Alisjahbana, pemikir yang ber­sikap negatif terhadap sastra lama, jelas menaruh minat terhadapnya; ia telah menyusun bunga rampai puisi lama dan menulis pengantar yang menunjuk­kan pengetahuan yang baik tentang itu. la memang tidak pernah menghasilkan puisi yang benar-benar baik, tetapi sastrawan-sastrawan seangkatannya seperti Amir Hamzah dan Sanusi Pane berhasil mengembangkan puisi "baru" - yang merupakan olahan pengetahuan mengenai sastra lama dan usaha pemanfaatan pengaruh asing. Kedua penyair yang disebut terakhir itu tidak membatasi diri pada pe­ngaruh Barat; mereka juga menengok ke Asia. Pe­ngaruh asing yang dilandasi pengetahuan mengenai sastra lama itu ternyata telah menghasilkan kualitas baru dalam perkembangan puisi kita. 

Sekarang, jika kita lihat Sanoesi Pane, Roestam Effendi, dan Amir Hamzah sebagai tokoh-tokoh yang terpisah dari sastra lama dan yang memulai zaman puisi baru, kita mungkin lupa bahwa mereka itu memiliki pengetahuan yang baik tentang sastra lama. Kita mungkin tidak memiliki pengetahuan itu, dan jangan-jangan juga terbawa oleh semangat ta­hun 20-an yang beranggapan bahwa soneta itu baru. Jika memang demikian halnya, tentulah telah terja­di pemutusan tradisi; kita mungkin menganggap wajar bahwa perkembangan puisi kita terpatah-pa­tah, dan penyair menghasilkan sastra tanpa tradisi. Sulit dibayahgkan karya sastra yang baik tanpa tradisi sastra. Jika kebanyakan kita sekarang ini menganggap Sutardji Calzoum Bachri sebagai seo­rang pembaharu dalam perpuisian kita, pada dasarnya hal itu dilandasi oleh kekaguman kita ter­hadap salah satu jenis sastra lama yakni mantra; dan si penyair dengan sadar berusaha memanfaatkan pengetahuannya mengenai jenis puisi itu. Untuk bisa mengapresiasi puisi Sutardji Calzoum Bachri – dan juga Amir Hamzah dan Chairil Anwar - kita me­merlukan pengetahuan yang baik mengenai sastra lama. Hanya dalam kaitannya dengan tradisilah ki­ta bisa menghargai dan menghasilkan karya yang baru.

Bersambung ke: Masalah Penyusunan Sejarah Puisi Indonesia (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »