Membedah Kaki Kelima Nirwan

ADMIN SASTRAMEDIA 6/06/2019
(Membongkar Ideologi Nirwan Dewanto dalam Buli-Buli Lima Kaki)
oleh Endiq Anang P.


-Pemenang Kedua Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013

“Bukanlah kondisi manusia yang menentukan kesadaran sosial masyarakat, tetapi sebaliknya, kondisi sosial masyarakatlah yang menentukan kesadaran.”

(Karl Marx—A Contribution to the Critique of  Political Economy)

Sarang Sang Penyair

MANUSIA urban hidup dalam lanskap yang tidak hitam-putih, melainkan abu-abu. Ia berada di dataran antara modernisme dan irasionalitas. Oleh karena itu, golongan ini tidak dapat didekati dengan dogma, melainkan metafora. Camus dalam La Peste (2004), memberikan penanda untuk bisa memahami gejolak zaman manusia urban. Menurut Camus, tanda tersebut bisa dikenali dengan melihat bagaimana mereka makan (mengonsumsi), bercinta, dan mati. Ketiga tanda itu bergerak bersama dan sekaligus, membentuk aliran rutinitas yang terus-menerus sampai ajal menjemput, serupa Sisifus yang dihukum mendorong batu.

Selera penting bagi manusia urban. Mereka membedakan dirinya dengan yang lain berdasarkan selera yang dipilih. Namun, menurut Bourdieu (1979), selera itu bukan pilihan bebas yang terjadi secara alamiah, melainkan hasil konstruksi dari masyarakat di mana manusia urban menghirup napasnya. Sebagai pembukti, dalam penelitiannya yang banyak menggunakan foto, Bourdieu memperlihatkan tangan seorang perempuan tua yang bagian kepalanya telah dihilangkan. Ia bertanya kepada para responden dari kelas buruh, kelas menengah, dan kelas borjuis. Dan, jawaban yang diperoleh Bourdieu berbeda-beda, sesuai selera masing-masing kelas sosial.

Dari penelitian tersebut, Bourdieu memberikan semacam garis bawah bahwa di balik pilihan jenis makanan, gaya berbusana, selera musik, bacaan, tempat-tempat wisata yang dikunjungi, selera seni dan budaya, hobi hingga pilihan politik, ada makna yang merujuk pada selera yang dipilih, yang kemudian dihubungkan dengan posisi seseorang dalam masyarakat. Bourdieu berpendapat bahwa tingkat pendidikan dan pengasuhan akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam menentukan selera seseorang. Lebih tegasnya lagi, dalam pandangan Bourdieu, selera yang dipilih berada di bawah kendali kesadaran dan bahasa melalui relasi antara habitus, kapital, dan field.

Habitus dalam kajian Bourdieu merupakan seperangkat deposisi yang akan melahirkan praktik dan persepsi. Adapun kapital yang dimaksud bukan sebatas kapital dalam perspektif Marx yang membatasi diri pada corak produksi ekonomi masyarakat; bagi Bourdieu kapital lebih luas daripada itu, yakni mencakup kapital budaya (pendidikan, gaya berpakaian), kapital sosial (ruang lingkup pergaulan) dan kapital simbolik (gelar, penghargaan). Sementara itu, yang dimaksud field oleh Bourdieu merupkan lingkungan sosial di mana posisi seseorang tumbuh dan berkembang. Dialektika antara habitus, kapital, dan field inilah yang kemudian menentukan selera manusia urban.

Merujuk pada nubuat Barthes yang sudah populer, pengarang mati setelah karya tercipta. Namun, hal sebaliknya justru terjadi pada habitus, kapital, dan field ala Bourdieu; ketiganya tidak akan mati, akan terus bergulir membentuk kesadaran penulis yang kemudian dimuntahkan dalam karya. Maka, berdasarkan pemikiran Bourdieu tersebut, akan dapat diuraikan apakah puisi Nirwan Dewanto yang terkumpul dalam Buli-Buli Lima Kaki hanya sebatas permainan kata-kata belaka— yang menempatkan bahasa dalam posisi netral—atau adakah seperangkat selera yang ingin diwabahkan di sana.

Nirwan yang hidup di sarang masyarakat urban (Jakarta) sering melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan Eropa, dan bergerak dalam sebuah komunitas kebudayaan urban yang disebut Komunitas Utan Kayu (KUK), yang tentu saja mempunyai selera sesuai lingkungan sosialnya. Dari situlah kode-kode dalam puisi Nirwan akan dibedah guna mengetahui habitus, kapital, dan field apa yang memengaruhi selera Nirwan, yang kemudian ingin disemburkan kepada pembaca.

Perempuan yang Dijebak Nirwan dalam Labirin

YUNANI sangat kaya dengan mitologi. Salah satunya sosok Minotaur—banteng bertanduk dengan badan manusia. Konon, makhluk itu lahir karena kutukan Dewa Poseidon. Kisahnya berawal ketika Poseidon meminta persembahan seekor banteng jantan kepada Minos, Raja Kreta. Namun, sang raja justru menyembuyikan banteng itu. Poseidon marah dan mengutuk
Pasifae, istri Minos, sehingga dibuat jatuh cinta pada banteng itu. Atas pertolongan Daidalos, Pasifae berhasil mendapatkan banteng betina tiruan. Ia pun masuk ke dalamnya dan bercinta dengan si banteng jantan. Dari persetubuhan inilah lahir Minotaur.

Minotaur ditempatkan di tengah labirin yang rumit; sebuah ruangan yang membingungkan buatan Daidalos. Setiap tahun, penduduk Athena memberikan persembahan kepada Minotaur berupa tujuh orang perawan dan tujuh orang perjaka sebagai korban agar Kreta aman dari serangannya. Minotaur begitu mengerikan. Tak ada yang sanggup mengalahkannya sampai akhirnya muncul Theseus. Dengan dibantu Ariadne, putri Raja Kreta, Theseus masuk ke dalam labirin berbekal gulungan benang dan pedang pemberian sang putri. Benang itu kelak digunakan oleh Theseus untuk menyusuri jejaknya kembali setelah berhasil mengalahkan Minotaur demi keluar dari labirin. Dengan pedang pemberian Ariadne, akhirnya Minotaur berhasil dibunuh. Theseus muncul sebagai pahlawan.

Minotaur kemudian dioper oleh manusia modern. Dunia modern yang terantuk perang, pembantaian, kemajuan mesin, keinginan untuk damai, dan masalah kemanusian lain menjelma tak ubahnya labirin ciptaan Daidalos yang seakan tanpa ujungpangkal. Manusia mencari pusat labirin itu. Berputar-putar. Bertabrakan. Bersisihan. Saling menjegal. Di dalam labirin tersebut, segala upaya seakan berakhir pada kesia-siaan. Seperti yang dituliskan Jorge Luis Borges dalam Ibn Hakkan al Bokhari, Dead in His Labyrinth: manusia pada pangkalnya mati dalam labirinnya sendiri.

Sementara itu, Camus (2010) menggambarkan manusiamanusia modern yang kesepian serupa mereka yang hidup di tengah labirin padang pasir. Mereka membutuhkan lautan— sebentuk fatamorgana asa—demi membangun imaji akan sebuah dunia lain yang lebih luas. Kota-kota di Eropa seperti Paris, Florence, Wina hingga Amsterdam telah menjadi begitu gemerlap, tapi justru kegemerlapan itulah yang membuat manusia terasing. Dengan petunjuk benang Ariadne, manusia-manusia modern yang kesepian tersebut pergi menuju dermaga yang diyakini sebagai gerbang menuju dunia baru. Namun, pada kenyataanya orang-orang itu hanya berputar-berputar di dalam labirin mereka sampai benang tersebut menjerat diri masing-masing. Pada akhirnya, menurut Camus, di ujung kelelahannya manusia berhenti berkeliaran dan membiarkan Minotaur memangsanya. Dengan kata lain, Minotaur, walaupun jahat dan jelek wujudnya, selalu dirindukan karena mampu membawa manusia ke dalam suasana yang ambigu.

Begitu pun, perempuan dalam puisi “Sapi Lada Hitam” yang hidup di dunia urban. Ia takut pada Minotaur, tapi selalu merindukan buli-bulinya[1] (kelaminnya) yang perkasa. Mungkin perempuan itu adalah Ariadne yang meminta kepada Theseus agar membunuh Minotaur; seorang perempuan yang tanpa sadar telah jatuh cinta pada buli-buli Minotaur yang digambarkannya “dengan lukisan warna emas dalam mimpimu, agar ia lekas memasukimu dari celahmu yang mana saja”, walau ia jijik dengan “wujudnya yang biasa menggiriskanmu.” Maka, diajukannya permintaan kepada si lelaki untuk membinasakan Minotaur dengan satu syarat: jangan sampai merusak buli-bulinya. Dan lelaki itu berhasil:

“Tenanglah. Ia sudah kulumpuhkan dan kubawa hanya untukmu”
[…]

“Buli-buli yang menegang selalu di antara 
kedua pahanya akan kutanam untuk diriku sendiri, untuk terus 
mendatangkan serbuk jantan bagiku.”

(Sajak “Sapi Lada Hitam”)

Kini laki-laki itu sah menggantikan Minotaur. Ia memiliki keperkasaan serupa Minotaur, tapi tanpa tanduk sebab “telah kulepas tanduknya” sehingga si perempuan tidak perlu merasa takut lagi. Sekarang, sambil menyiapkan menu sapi lada hitam, mereka bisa bercinta dengan leluasa karena si perempuan sudah menanggalkan perasaan ngerinya:

“Jangan memandang ke arahku, aku hanya 
akan memelukmu dari belakang. Dan mendesakkan buli-buli 
emas yang selalu kauimpikan itu ke celahmu yang terbaik tanpa 
kau tahu.”

(Sajak “Sapi Lada Hitam”)

Lantas, apa hubungan puisi “Sapi Lada Hitam” dengan manusia urban?

Ketika perputaran dunia telah tiba pada era posmodern, perempuan dalam puisi Nirwan masih belum beranjak jauh dari era yang oleh Engels (2004) disebut sebagai zaman barbarisme tahap tertinggi; suatu tahapan ketika busur dan anak panah ditemukan. Dengan alat-alat tersebut, binatang liar telah menjadi makanan harian dan para lelaki menjadi pemburu. Nirwan mengawetkan pandangan tentang domestifikasi perempuan dalam puisinya, di mana tempat perempuan semestinya berada di dalam rumah seraya menunggu sang lelaki pulang berburu. Dengan begitu, perempuan diharuskan setia di dalam labirin, sementara laki-laki bebas mengembara sesuka hati dengan senjata yang ia miliki. Pandangan Nirwan segaris dengan pandangan kaum laki-laki zaman batu yang diwariskan, bahkan dikekalkan, hingga sekarang. Menurut Bhasin (1996), pandangan kuno itu melegalkan dominasi laki-laki atas perempuan berdasarkan pengandaian bahwa aktivitas berburu membuat laki-laki mempunyai fisik yang lebih kuat daripada lawan jenisnya. Menjadi pemburu berarti laki-laki mencari nafkah—ini pula yang mengukuhkannya sebagai kstaria— sementara karena perempuan lemah maka ia butuh dilindungi dari ancaman (Minotaur) oleh kaum laki-laki. Dengan demikian, meski berada di dalam rumah, perempuan juga perlu “[meng]enakan gaunmu yang paling putih. Sembunyikan rambut mayangmu di bawah kerudung putih” agar ia tidak dikenali sebagai perempuan sebab jika sampai hal tersebut terjadi maka ia bisa saja diincar oleh kaum pemangsa lain ketika pasangannya sedang berburu (di luar rumah). Artinya, perempuan wajib selalu menjaga diri “agar aku lupa kau seorang betina”. Dan, setelah hewan buruan (Minotaur) ditangkap, barulah giliran perempuan yang berperan untuk mengolahnya:

“Pilihlah bagian tubuhnya yang terbaik dengan pisaumu, 
pisau paling tajam di dunia ini. Mungkin sedikit di atas 
paha dan di bawah pusarnya, bagian yang mengandung 
gegurat putih-perak yang menyilaukan mata. Sayat pelan-
pelan, agak dalam di bawah kulit, agar arus darah tak meledak 
lepas ke udara.”

[…]

“Lalu letakkan sayatan terbaik itu 
pada nampan logam panas yang telah kusiapkan. Jangan beri 
terlalu banyak garam, bawang dan paprika. Abaikan semua 
resep, nasihat maupun doa. Tapi siapkan bubuk lada hitam agak 
berlimpah. Taburkan pelan-pelan, sesuai isyarat api tungku.”

(Sajak “Sapi Lada Hitam”)

Tidak ada pergeseran. Perempuan dengan pisaunya tetap diberi tugas memasak. Dalam hal ini, adakah bedanya antara Minotaur dan si lelaki pembunuh? Jawabannya adalah tidak ada. Keduanya sama-sama menempatkan perempuan dalam sekapan domestifikasi. Mereka hanya beda wajah, tapi berkarakter sama. Kemasanlah yang membedakan keduanya. Budaya urban sangat mahir membunuh yang tradisonal—mitologi Minotaur bertanduk— sebelum kemudian menggantinya dengan wajah lain yang lebih ramah dan menarik (walaupun sama jahatnya) sehingga mampu memikat hati Ariadne-Ariadne lain; para perempuan yang sudi diperam dalam labirin patriarki demi menunggu kepulangan seorang laki-laki, pemangsanya. Pada zaman yang berbeda, perempuan dalam “Sapi Lada Hitam” hanya berputar-putar dalam labirin yang telah menjebaknya.

Entah laki-laki itu bernama Minotaur, Theseus, atau Nirwan, misalnya, ia akan sama saja: mengandalkan buli-buli demi memikat perempuan. Begitu pentingnya buli-buli maka benda ini perlu dirawat agar selalu perkasa sehingga patukannya mematikan. Ramuan perlu dikonsumsi. Obat-obatan wajib diminum. Maka, menjamurlah toko-toko yang menjual kebutuhan semacam itu. Salah satu yang terkenal adalah toko yang menjual “Kobra”:[2] “Tokomu menjual aneka taring yang tampaknya lebih manjur daripada taringku.” Harapan para konsumen setelah menelan obat-obatan itu adalah si buli-buli bisa “menari tanpa henti, untuk memikat bakal kekasih, yang tak mampu lagi melihat lukisan gaya baru pada kulitku.” Tapi, adakah taring yang paling manjur dijual di sana? Si penjual—sebagaimana penjual obat kebayakan—tidak bisa memberikan kepastian: “Namun kau tak mampu menjawab ketika seorang pelanggan bertanya, ‘Mana yang paling baik untuk mematikan seekor kuda hitam?”’ Ironisnya, si penjual sendiri ternyata tidak mampu memberikan “kepuasan” sehingga istrinya dibawa oleh sewujud cerpelai[3] yang menunggang kuda hitam:[4]

“Siang tadi kulihat sang cerpelai berbelanja ke tokomu, ia 
bersepatu dan berpakaian rapi, dan ia memborong banyak 
sekali taring, bisa dan kulit berwarna hijau lumut, dan di ujung 
jalan ia mengambil seekor kuda hitam dari tambatan, yang di 
pelananya sudah duduklah istrimu, sungguh, aku tak berdusta.

(Sajak “Kobra”)

Masyarakat urban dan mitos memang tidak bisa disapih. Walaupun revolusi industri telah memumbulkan peradaban hingga menyentuh langit-langit pencapaian yang belum pernah dikenal sebelumnya (memukul lebur struktur agraris dan feodal, membuka jalan tol bagi industrialisasi, membuat rasionalisme berjingkrakan), manusia-manusianya ternyata tidak sanggup melepaskan diri dari budaya nenek moyang mereka, yaitu mitos. Mitos, yang selalu berayun dalam kesamaran, misteri, dan tak terpediksi oleh rumus-rumus ilmiah, masih terasa memikat bagi manusia modern yang hidup dalam dunia yang nyaris monoton dan serba pasti, di mana rasionalitas adalah segalanya. Mitos memang ambivalen, dianggap benar dan tidak. Sifat ambivalen inilah yang menempatkan mitos bertautan dengan metafora dan alegori. Boleh saja manusia-manusia urban itu mengaku telah menanggalkan budaya kampung seraya sangat rajin menenteng smart phone ke mana-mana, tapi pada kenyataannya mereka ternyata masih dihantui mitos seputar daya tahan seksual sehingga rela berburu serbuk kadal Mesir, Mak Erot, sampai kobra hanya karena semua itu dianggap ampuh membuat kejantanan kaum laki-laki tak kenal lunglai dalam pertarungan “menaklukkan” perempuan. Karena kedigdayaan “buli-buli” merupakan sarana untuk mengekalkan dominasi terhadap perempuan, maka benda spesial yang satu ini pun perlu dijaga dan dipertahankan kebugarannya agar mampu bertarung kapan saja dan di mana saja. Tak pelak lagi, darah dan empedu kobra yang kabarnya bisa “memaksaku berdiri tegak” itu mesti dicari.

Tak dapat dielakkan, perempuan dalam puisi Nirwan tetap menjadi objek—lagi-lagi terjebak dalam labirin. Maka, buli-buli pun berubah menjadi taji—“tapi lebih sering lagi kauasah mulutmu dengan tajiku”[5]—atau berubah menjadi gading—“yakni gading yang suka menggalimu di balik gaun”[6]—atau menjelma serupa belalai—“belalai yang mahir membidikmu”[7]—atau mewujud lebih ganas lagi: linggis—“linggis beliung kaku kelu”[8]. Hingga semakin benderanglah gagasan yang ada di balik ragam pilihan kata Nirwan atas nama buli-buli, yaitu alat untuk menaklukkan sang objek [perempuan]: taji, gading, belalai, linggis, hingga pisau. Sila dibayangkan bagaimana lingga perempuan di-taji, di-linggis, atau ditikam dengan pisau oleh si pemangsa, seraya ia menyanyikan kidung pujian demi menutupi maksud hati sebenarnya; “benar aku suka menggerakkanmu seperti boneka bunraku.”[9] Dan, memang benar! Perempuan dalam sajak Nirwan tak ubahnya boneka yang pasrah diapakan saja, tanpa mampu melawan atau memberontak. Dan sebagaimana kita tahu, boneka bunraku merupakan sejenis boneka yang dipakai dalam pertunjukan sandiwara untuk bangsawan-bangsawan (kelas atas) Jepang. Begitulah perempuan dalam perspektif Nirwan yang mesti berlaku serba sempurna, anggun, dan indah karena ia akan tampil di depan bangsawan (sang tuan; laki-laki).

Lantas, bagaimana nasib perempuan yang dijebak dalam labirin itu? Yang telah di-taji, di-linggis? Sebagai manusia, tentu saja sang Puan[10] tidak bahagia karena menjadi objek semata. Ia hidup dalam dukacita, tapi tak mau menampakkannya. Maka dipakainya “gaun kembang biru muda”[11] ketika “pergi berkeliling kota”[12] demi menyamarkan kedukaan itu. Sembari mengusir dukanya, si Puan:

“Duduk-duduk di taman
Menikmati matahari Memandang bocah-bocah kecil 
Dan siswa-siswa pembolos sekolah
Dan ibu-ibu pembosan rumah.” 

(Sajak “Puan”)

Ia ingat semasa bocah ketika masih bebas ke sana-kemari dan berbuat apa saja. Ia teringat pula masa sekolah ketika impian masih seluas bentangan langit dengan cinta platonis yang dianggap abadi. Semua itu tentu tidak pernah dirasakan lagi oleh si Puan karena ia diperangkap dalam labirin. Namun, kenangkenangan itu rupanya belum dirasa cukup sehingga si Puan:

“…singgah di toko buku
Menyigi betapa berlimpah
Kitab pengobatan hati
Kitab penyelamat
Kitab sup ayam bagi jiwa.”

(Sajak “Puan”)

Rupanya, si Puan ingin mencari obat bagi kedukaannya dari kitab-kitab itu. Bacaan serupa ini memang tengah menjamur di rak-rak toko buku. Tukang-tukang motivator sudah sejajar dengan para kiai. Televisi menayangkan khotbah-khotbahnya dan penerbit menghimpun kata-kata sucinya dalam wujud buku bersampul tebal. Si Puan memang sedang hidup di zaman New Age (zaman pencerahan jilid II), sebagaimana yang dimaklumatkan John Naisbitt dan Patricia Aburdane dalam Megatrend 2000: Spiritualiy Yes!; Organized Religion, No! Seperti yang diuraikan Camus (2010) bahwa, ketika kesepian marak menyeruak di tengah modernisme dan agama “resmi” tidak mampu memberikan jawaban, maka manusia mencari obat baru. Kegersangan gurun pasir dunia Utara telah memacu orang untuk mempelajari lagi ajaran-ajaran arkaik dari Hinduisme, Budhisme, sampai ajaran China hingga petuah Tao sebagai pelepas dahaga. Ini terjadi ketika, menurut Nietzsche, Tuhan telah mati dan gereja sebagai tempat menyimpan jasadnya, pun dogma agama, tidak lebih daripada sekadar kata-kata yang membosankan. Kencenderungan humanisme modern yang menempatkan manusia sebagai sosok utama—sementara pada sisi lain memperkosa alam habishabisan—justru membuat manusia itu sendiri terkurung dalam labirin gersang gurun pasir. Maka, agama pun dioplos dengan ajaran-ajaran lain hingga menjadi sebentuk spiritual baru yang memarakkan era New Age ini. Dan rupanya, si Puan mencoba mencari jawaban atas kedukaannya dari kitab-kitab hasil oplosan tersebut. Apakah ia menemukannya di sana?

“Sang dukacita tercengang-cengang
Begitu keliru para pengarang itu
Memahami dirinya.” 

(Sajak “Puan”)

Mungkin benar sarkasme yang beredar akhir-akhir ini: “Hidup tak semudah cocot Mario Teguh.”  Tidak heran, si Puan gagal menemukan apa yang dicarinya. Luka yang disandangnya akibat lama disekap dalam labirin itu bukan luka luar:

“Kau yang pernah mengira
Tubuh sang dukacita penuh
Bilur lebam dan bekas luka
Akan kecewa bila tahu
Di spa, ketika ia telanjang sepenuhnya
Betapa si pemijat terpana-pana
Akan tubuh selicin itu.”

(Sajak “Puan”)

Luka itu memang tidak tampak di atas kulit licinnya yang rutin diolesi reramuan seperti yang diiklankan lewat televisi dan ditawarkan di mal-mal papan atas, serta selalu dirawat di sanggar kecantikan. Luka perempuan urban bukan luka perempuan golongan “bawah” yang timbul akibat pukulan atau sundutan rokok suami yang pemabuk. Luka itu tiada lain adalah keterasingan yang tidak akan bisa dilihat oleh mata. Apa yang dialami si Puan serupa yang dikatakan Driyarkara (2006), yakni sebentuk “Sayap yang Berluka”. Manusia modern memiliki kebebasan, tidak dikekang lagi oleh agama dan tetek-bengek adat serta norma seperti pada Zaman Kegelapan, tapi di satu titik justru membuat paradoks pada dirinya sendiri. Mesin-mesin buatan zaman industri telah mampu menciptakan apa saja yang dibutuhkan manusia, tubuh bisa dirias-rias sebagus-bagusnya, tapi seperti kata Driyarkara, manusia tak berkutik. Inilah yang membuat si Puan terasing. Ia tampil sempurna untuk menutupi sayapnya yang terluka.

Mungkin Karl Marx lebih tajam dalam mengurai mengapa manusia bisa merasa terasing (alienasi). Menurut Marx sebagaimana disitir Fromm (2004), alienasi bukan hanya terjadi ketika manusia tidak bisa memahami dirinya saat menguasai dunia, tapi lebih daripada itu, yakni ketika manusia juga terasing dari dunianya—alam, benda-benda, dan sesamanya. Pemikiran Marx sejajar dengan apa yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu ketika manusia berubah menjadi syirik. Makna syirik bukan sekadar manusia menyembah banyak Tuhan, melainkan lebih gawat daripada itu; ketika manusia justru menyembah dan memuja berhala ciptaannya sendiri. Akibatnya, manusia tergantung pada berhala dan tidak mampu menjadi dirinya sendiri. Tepat sindirian Democritus, filsuf Yunani: ia berjalan-jalan di pasar membawa obor di siang bolong. Ketika ditanya apa yang dicarinya, ia menjawab, “Manusia!” Itulah yang tengah dialami si Puan. Oleh karena itu, untuk menyembuhkan dukacitanya, semestinya si Puan menemui Marx, bukan berpaling pada “kitab sup ayam” atau “kitab pengobat hati”. Dengan begitu, diharapkan ia akan memberontak dan kabur dari labirinnya. Sayangnya, si Puan mesti tunduk pada Nirwan yang jelas bukan Kiri. Bagi Nirwan, Kiri sudah dimangsa “Hiu” (kapitalisme) ketika orang-orang Kiri dibantai dan di penjara setelah peristiwa Oktober 1965.[13] Nirwan memberi kesaksian:

“di masa kanakku
Pernah kulihat di perut hiu yang dibelah 
Sepotong kain merah alangkah merah

Pakaian siapakah melanglang sejauh itu
Pakaian orang kiri yang diburu serdadu?” 

(Sajak “Hiu”)

Nirwan memang tidak percaya pada ideologi Kiri ciptaan Marx. Dalam puisinya “Palu”, ia berhujah: ”[…] kami pernah membantingmu ke arah Revolusi; si sabit menyandingimu tapi kami tak percaya akan warna merah darah yang mengalasi kau berdua.” Palu-Arit[14] (simbol komunisme) dengan warna merah sebagai latar benderanya tidak dipercayai Nirwan. Revolusi komunis setelah peristiwa di Soviet dan China, bagi Nirwan, tidak ada lagi karena telah dimangsa oleh kapitalisme (hiu). Dengan begitu, tidak ada pilihan bagi si Puan untuk memilih Kiri, hingga terpaksalah ia:

“…menjelma menjadi siapa saja
Sambil berkliling-kliling kota
Menghangatkan aneka pasar dan plaza.”

(Sajak “Puan”)

Lantas, ia pun menghilang: “sang puan dukacita tak terlihat lagi”. Mungkin saja, ia kembali diperangkap dalam labirin agar “taji”, “gading”, “belalai” dan “linggis” Nirwan tak kehilangan taklukan. Sesekali, si Puan memang muncul sebagi istri orang yang berselingkuh dengan si aku di sebuah hotel di Bali. Mereka sedang ber-“Bulan Madu”[15] sambil “membuat film pendek yang tanpa alur”[16]. Kita tentu tahu “film pendek tanpa alur” adalah film porno. Dengan kata lain, si aku tengah men-taji, me-linggis si perempuan tanpa melibatkan perasaan. Bukankah dalam film porno tidak dibutuhkan perasaan, selain bagaimana caranya agar birahi bisa dituntaskan dalam berbagai varian jurus yang menghebohkan? Jangan harap ada drama dan melankoli di sana. Namun, sebagaimana paradoks manusia urban, sebelum berpisah keduanya tetap “larut dalam haru”[17]. Untungnya, mereka segera diingatkan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah sebatas membuat film pendek tanpa alur; setelah permainan cinta usai maka selesailah hubungan. Selepas ini, si perempuan memulai lagi rutinitasnya “mengiris daun bawang untuk telur dadar sarapannya sendiri”[18] di dapur dan waktu melakukan itu ia “terluka telunjuk kirinya oleh pisau”[19]. Si perempuan telah kembali dalam kesendirian dan keterlukaannya. Sementara itu, suami si perempuan dengan “kasar membanting pintu kamar”[20], tidak mempedulikannya lagi. Oke, film pendek sudah usai. Tapi, tunggu dulu, si perempuan ternyata muncul lagi dalam “Virgo”:

“Kau mengembang ketika
Ujungku menggorokkan luka
Penuh jarum benang sari
Lebih terang dari surya.”

(Sajak “Virgo”)

Apa sebenarnya Virgo ini?:
“Segi tiga sama sisi
Bercelah dan bergigi—
Permisi-permisi—
Izinkan aku masuk.”

(Sajak “Virgo”)

Virgo tiada lain adalah arsitektur vagina, dengan celah dan giginya, tempat dimana ujungku akan dimasukkan. Virgo kembali menjadi objek dari “linggis beliung kaku kelu” yang digunakan untuk “menggorokkan luka” sembari menyemprotkan “jarum benang sari”[sperma]. Sebenarnya, siapakah pemilik Virgo? Ketika berada di “Hotel Felix Culpa”,[21] setelah si lelaki “mencelupkan telunjukku ke mulutmu/Lalu berusaha memasukimu dua kali, mungkin tiga kali”[22], pemilik Virgo meminta kepastian kepada lelaki itu untuk memilih: “antara jantung hati dan puting susu”[23]. Dan, si lelaki akhirnya memilih jantung hati: takluk.

Nosferatu: Coca Cola, Kentang Prancis, dan Sepatu Manolo Blahnik

TERNYATA, pemilik Virgo itu tiada lain adalah “Nosferatu”. Si dia ini mungkin akan membuat kita terkaget-kaget karena habitus Nirwan akan tampak semakin bugil. Seperti apa identitas Nosferatu yang bisa membuat Nirwan bertekuk lutut?:

“Sungguh kau semacam dewi, meski
Tanganmu berbulu dan tungkaimu
Terlalu panjang dan mulutmu 
Selalu menghembuskan bau keju.

” (Sajak “Nosferatu”)

Rupanya, Nosferatu bukan perempuan Indonesia karena mulutnya selalu “menghembuskan bau keju”. Dan, bila menengok tempat tinggalnya: “Di luar salju turun, dan aku/Tak tahu bagaimana pulang”. Keju dan salju sudah pasti bukan ciri khas Indonesia. Mungkin tempat itu berada nun di benua Eropa atau Amerika. Yang jelas, Nirwan merasa dirinya berasal dari negeri budak ketika berada di tempat Nosferatu:

“Ia mestinya belajar ilmu jiwa
Kepada aku, budak sebuah negeri
Di mana setiap pejantan bahagia
Tak serong di bawah matahari.”

(Sajak “Nosferatu”)

Ciri negeri budak (Indonesia) adalah pejantannya (lakilakinya) tidak serong pada siang hari—di bawah matahari; tidak perlu sembunyi-sembunyi. Untuk apa seorang lelaki dari negeri budak bersetubuh dengan perempuan berbau keju?:

“Lalu lidahku mencari lidahmu
Agar esok aku berani mengunyah 
Brokoli mentah dan keping salami 
Dan tak akan berdosa lagi aku.
Jika dalam badai salju menantang
Sang iblis Oaxaca. Sebab lidahku
Sudah serupa miliknya. Lidah api
Mahir mencuri jantung hatimu.”

(Sajak “Nosferatu”)

Ternyata tujuan si lelaki adalah agar ia bisa sekasta dengan si perempuan yang tangannya berbulu itu; naik kelas dari lelaki negeri budak menjadi lelaki dari negeri tuan. Setelah persetubuhan tersebut, si lelaki sudah merasa sama dengan lelaki yang berasal dari negara “dunia pertama”, si iblis Oaxaca: “Sebab lidahku/ Sudah serupa miliknya”. Dengan demikian, sah-lah ia menikahi Nosferatu (budaya keju beriklim salju/Utara) dan tidak perlu cemburu lagi. Pandangan Nirwan dalam “Nosferatu” rupanya masih digandoli pandangan kolonialis. Orang-orang yang berasal dari bekas negeri jajahan umumnya selalu berusaha menyejajarkan diri dengan penduduk negeri penjajah dengan cara mengikuti pola hidup sang penjajah demi dianggap beradab dan modern. “Lidah” tentu saja bukan sekadar sarana mengecap makanan, tapi lebih daripada itu, yakni alat untuk berbicara, menggetarkan kata-kata. Maka, si lelaki perlu “mencari lidahmu” agar bisa berbahasa dalam bahasa sang Nosferatu.

Dalam menganalisis penjajahan Inggris di India, Spivak (2001) memberikan penjabaran tentang bagaimana akar kolonialisme itu bisa tetap menjangkar, yakni salah satunya lewat “kekerasan epestemik”. Orang-orang India “dipaksa” mempelajari bahasa Inggris, selain sebagai alat komunikasi, juga untuk memahami kesusastraan Inggris. Lewat karya sastra kolonial itulah dicangkokkan pola pikir si penjajah ke dalam kepala rakyat jajahannya. Cara ini dilakukan dengan sedemikian halus hingga tidak disadari oleh masyarakat terjajah, sebaliknya malah menimbulkan anggapan bahwa apa yang mereka baca adalah milik mereka sendiri. Namun, apa yang dialami Nirwan jelaslah bukan sejenis “kekerasan epistimik” ala Spivak karena ia melakukannya dengan sadar dan penuh kepasrahan. Dengan terang-terangan, ia ingin menjadi “londo hitam” agar “lidahku/ Sudah serupa miliknya”.

Betul! Nosferatu merupakan film klasik tentang vampir yang terinspirasi novel Bram Stoker, Dracula. Agar bisa sebangsa dengan vampir, seseorang manusia harus rela digigit lehernya dan diisap darahnya. Setelah itu, ia pun sah diakui sebagai bagian dari bangsa vampir (pengisap; negara “dunia pertama” sering digambarkan sebagai pengisap negara Selatan sejak era kolonial sampai sekarang). Tidak heran, Nirwan pasrah saja ketika lehernya hendak diisap oleh Nosferatu: Maka lekaslah tutupkan mataku/ Dan ulurkan taringmu ke leherku.” Harapannya, usai itu ia akan merasa satu dengan Nosferatu:

“Lalu coklat sawo dan putih roti
Atau gelap manggis dan pucat lili
Berkelindan di depan perapian
Mana sanggup berpisah lagi.”

(Sajak “Nosferatu”)

Cokelat dan putih tak sanggup berpisah; Nirwan merasa tak sanggup diceraikan dari negeri vampir. Setelah diisap darahnya, ia ingin abadi di sana sebagaimana abadinya bangsa vampir. Namun, rupanya masih ada hal lain yang mengganggu transformasi Nirwan. Apakah itu? Kulit. Nirwan membenci kulit cokelatnya:

“Dengan dua sloki wiski Kentucky
Jadilah aku batang terendam
Bangkitkanlah sampai kau sabar
Meniti kulit coklat jahanamku.”

(Sajak “Nosferatu”)

Saking inginnya berkulit putih serupa Nosferatu, sang vampir, Nirwan menjahanamkan kulit coklatnya. Mungkin baginya hal tersebut adalah sebuah kutukan bagi manusia yang dilahirkan oleh matahari khatulistiwa. Tak pelak lagi, walaupun lidahnya sudah disamakan dengan Nosfaratu, dan lehernya telah diisap darahnya, warna kulit cokelatnya tidak bisa diubah; kecuali ia melakukan operasi plastik meniru Michael Jackson, misalnya. Pada akhirnya, putih tetap dianggap lebih tinggi dibandingkan cokelat. Gegar kulit yang dialami Nirwan sebetulnya diderita pula oleh manusia urban lain, yang rajin memutihkan kulitnya; sebab yang putih adalah yang paling unggul dan memesona. Obat pemutih dan operasi pencerah kulit pun rela dikejar bahkan sampai ke luar negeri—tentu saja makna luar negeri di sini bukan Suriah, Afghanistan, Maroko atau Kenya, tapi minimal Singapura, dan tentu saja Eropa atau Amerika. Lagi-lagi, keinginan agar dianggap setara dengan negara “dunia pertama” menjadi penting. Tidak hanya soal kulit, nama ternyata juga dipandang sebagai sumber keminderan. Nirwan rupanya agak kikuk jika berada di “Pelabuhan Udara” di negeri Utara karena namanya tidak sepelafalan dengan nama orang-orang dari negeri Nosferatu:

Ketika petugas keamanan bertanya siapa nama 
keluargaku, kusorongkan beberapa, misalnya saja Kiarostami, 
Natalegawa, Ologoundou, Rabearivelo, atau Guayasamin.”

(Sajak “Pelabuhan Udara”)
  
Nama tentu saja menunjukkan identitas si pemilik pada KTP atau paspor. Sebagai lelaki kelahiran Surabaya, Nirwan tidak punya nama keluarga sebagaimana Nosferatu. Karena merasa minder dikenali sebagai seseorang yang berasal dari negeri yang “belum tertera dalam peta”[24] oleh petugas bandara, ia lekas-lekas berkata: “Pilih mana saja, Tuan, yang membuat pencatat sidik jarimu lekas menganggukkan kepala,”[25] sambil melafalkan namanama yang seolah-olah tak berbau Indonesia. Rupanya, ia takut kombinasi nama dan warna kulitnya bisa menimbulkan kecurigaan sehingga si petugas tak lekas meloloskannya dari pintu imigrasi. Ia takut ditampik.
Sebetulnya, dengan terbang Nirwan ingin mencabutkan diri dari akarnya yang berasal dari ayah kelahiran Tiwanaku dan ibu kelahiran Bayuwangi. Namun, akar itu ternyata sulit dihilangkan walaupun tubuhnya sudah dibawa terbang melintasi samudera dan benua. Maka, digugatlah ayah-bundanya:

“Ayah, kenapa 
kau hendak tertanam lagi di kampung halaman kami? Bunda, 
kenapa akar-akar kami membelit lehermu?” 

(Sajak “Pelabuhan Udara”)

Nirwan ternyata mengalami krisis identitas itu; terombangambing antara akar ayah dan bunda yang hendak dicerabutnya demi menancap di negeri Nosferatu. Dalam kajian Spivak sebagaimana disitir Marton (2008) ketika menelaah novel Jane Eyre, posisi termarjinalkan Jane terselamatkan ketika ia diadopsi keluarga River (sang tuan/negara penjajah). Pun, Nirwan yang merasa minder karena kulit cokelatnya dan namanya yang tanpa nama keluarga merasa terselamatkan ketika diposisikan sejajar oleh negara Nosferatu dengan mendapat fasilitas penumpang (warga) kelas satu (walaupun hanya) di pesawat. Ketika ia tertegun memikirkan akar lamanya yang sulit dikibaskan, muncullah suara penyelamat: “Lekaslah, hai penumpang kelas satu.”;[26] ia sudah mengalami transformasi kelas.

Kini, (ia merasa) kelasnya sudah menjadi kelas satu. Dan sebagai warga kelas satu, tak bisa tidak minuman dan makanan yang masuk ke dalam mulut pun perlu disesuaikan. Jangan heran, untuk menghilangkan “Dahaga”, ia tidak bisa asal minum:

“Kau mencuri dari lidahku
Merah muda belia
Atau putih semenjana
Untuk melunakkan coklatmu”

(Sajak “Dahaga”)

Minuman yang berhasil mencuri lidah “merah muda belia atau putih semenjana” Nirwan adalah Coca Cola—salah satu jenis minuman yang berlabel minuman ringan (soft drink).  Minuman yang terbuat dari campuran sirup karamel ini pertama kali diperkenalkan oleh John Styth Pemberton, seorang ahli farmasi dari Altanta, pada 8 Mei 1886. Sang teman, Frank M. Robinson, menyarankan agar hasil minuman itu diberi nama Coca Cola dengan alasan bahwa huruf “C” lebih mudah dikenali. Dan, benar saja! Logo Coca Cola sekarang sudah tenar di seluruh dunia, bahkan sangat rutin menghiasi papan iklan dan layar kaca. Bagi masyarakat urban, Coca Cola bermakna lebih daripada sekadar minuman.

Menurut Baudrillard (1996), dalam kultur urban, mengonsumsi bukan semata-mata memasukkan makanan ke dalam perut, melainkan sebuah proses manipulasi tanda. Apa yang dikosumsi bukan lagi objek-objek melainkan sistem objekobjek. Dengan kata lain, meminum Coca Cola merupakan proses pencarian idetintas; ia bukan semata sarana untuk menghilangkan dahaga, melainkan yang lebih penting adalah tanda dari kultur modern. Maka Nirwan pun menyandingkan Coca Cola dengan tanda yang sepadan: “[…]Untuk menyelamatkan aku/ Dari kentang goreng Prancis/Pencengkeram urat leherku.”[27] Coca Cola disandingkan dengan kentang goreng Prancis bukan dengan ketela goreng, misalnya. Dan, yang penting, meminum Coca Cola berarti mencabuti akar/identitas lama yang masih tersisa:

“Kau rajin mencabuti akarku
Supaya aku membubung tinggi.” 

(Sajak “Dahaga”)

Sebagaimana telaah Baudrillard, mengonsumsi juga dipandang sarana untuk menunjukkan gengsi, kemakmuran, erotisme, modernisme dan tanda-tanda keurbanan lain. Tidak heran, ketika meminum Coca Cola, si peneguk merasa mem bubung gengsi dan citranya sebagai manusia modern. Tapi, apakah proses “imitasi” demikian berjalan mulus? Ternyata masih ada kekagokan di sana:

“Kau hidup berkalang es
Untuk menyelamatkan aku
Dari kentang goreng Prancis
Pencengkeram urat leherku”

(Sajak “Dahaga”)

Ketika menggabungkan Coca Cola dengan kentang goreng Prancis, Nirwan merasa belum terbiasa sehingga lehernya tercengkeram. Pun, ketika menyandingkan Coca Cola dengan bistik Argentina:

“Betapa daging bakar Argentina
Gagal (lagi) berjodoh denganmu.”

(Sajak “Dahaga”)

Pencarian identitas itu terus-menerus dilakukan agar sesuai dengan budaya Nosferatu. Semuanya dicoba demi mencari yang pas. Sampai akhirnya:

“Tapi bakmi keriting Shanghai
Bisa masuk dalam perangkapmu.”

(Sajak “Dahaga”)

Dengan begitu, Nirwan sudah merayakan dekolonialisasi modern (kalangan aktivis Kiri menyebutnya neoliberalisme) sambil menenggak Cola Cola. Tidak ada perlawanan di sana. Nirwan bersedia mengorbankan apa saja demi menjadi sekasta dengan Nosferatu. Sehingga apa yang diharapkan Spivak (2001) untuk melawan alienasi kultural guna menjadi dirinya sendiri dengan “menunda persetujuan” (a willing suspension of disbelief) tidak akan kita temukan dalam puisi Nirwan. Artinya, keurbanan dirayakan dengan suka cita mulai dari sepatu Manolo Blahnik, gaun rancangan Tuan Lawata, majalah Femina, kentang goreng Prancis, daging bakar Argentina, wiski Kentucky, sampai Coca Cola. 

Nirwan pelan-pelan sudah semakin jauh dari akarnya. Ia sudah mulai bosan dengan cakrawala tempat ia dulu dilahirkan. Pun, ia bosan dengan hujan—sebuah berkah dari daerah tropis. Mengapa ia bosan?

Penyair yang Bosan dengan Hujan

TIDAK seperti nenek moyangnya yang bertungkus lumus membalik-balik tanah di sawah yang selalu merindu hujan dan berduka ketika hujan datang terlambat, Nirwan justru tidak bisa mencintai hujan:

“Aku tidak mencintaimu sebab dalam puisimu jarum
jarum hujan sekadar jatuh tegak lurus dengan muka bumi.” 

(Sajak “Belaka”)

Puisi “Belaka” diperuntukkan Nirwan kepada Sapardi Djoko Darmono. Nirwan menampakkan kebosanannya dengan hujan: “Kau hanya mencintai hujan yang jatuh dari langit, terutama langit bulan Juni… Kau tak mendengarkanku, dan terus saja kau mengumpulkan hujan yang itu-itu juga dalam puisimu.”[28] Bahkan hujan itu sedemikan memuakkan bagi Nirwan sehingga diumpakan: “seperti pegawai di kantor walikota.”[29] Dengan kata lain, Nirwan menggugat Sapardi, yang kenapa hanya menulis puisi tentang hujan yang membuatnya bosan.

Dibosankan oleh hujan, Nirwan enggan menulis tentang hujan. Hujan sudah menjadi masa lalu baginya. Ia pun lebih suka menulis tentang keju dan salju, Coca Cola, dan kentang goreng Prancis. Sebagaimana yang ia akui sendiri bahwa setelah meminum Coca Cola maka akarnya tercabuti, lidahnya sudah mulai terbiasa dengan brokoli mentah, dan hatinya lebih mencintai
Nosferatu dibandingkan si Puan. Ia tidak rindu lagi pada hujan (yang hanya mengingatkannya pada tanah becek kampung halaman) karena yang dirindukannya adalah tempat-tempat nun di Utara—di mana hujan tidak turun seperti di tanah khatulistiwa. Maka, tidak salah jika ia memanjatkan “Doa Musim Gugur” bukan Doa Musim Hujan karena tempat yang diimpikannya adalah:

“Hutan mapel yang menutup semenanjung dan mengekalkan 
diri ke arah observatorium, atau titik di mana kau biasa mencekat 
lautan kembang api Empat Juli.” 

(Sajak “Doa Musim Gugur”)

Jika Indonesia memiliki “Tujuhbelas Agustus” maka Amerika memiliki “Empat Juli”. Amerika adalah negara tempat di mana Nirwan sering melabuhkan mimpi-mimpinya. Ia memang berbeda dari Sapardi yang telah berurat-akar di negara tropis ini sehingga tidak heran jika puisi Sapardi berkisah tentang hujan melulu—“Percakapan Malam Hujan” dan “Hujan Bulan Juli”. Sebaliknya, Nirwan lebih suka menulis tentang salju sebagaimana yang terpanjat dalam doanya:

“Ketika aku menggunakan bebuliran untuk menyebut salju yang 
terlalu tergesa menghampiri puluhan tomat yang belum selesai 
dipetik di Eagle Heights—“ 

(Sajak “Doa Musim Gugur”)

Bahkan, tomat yang diinginkan Nirwan pun mesti dipetik jauh-jauh di Eagle Heights—salah satu perkebunan tomat di Amerika Serikat—bukan di Batu atau daerah Puncak, misalnya; karena tomat di tempat itu tidak dibasuh oleh hujan, melainkan salju. Mungkin saja banjir besar di Jakarta akibat hujan adalah salah satu alasan mengapa Nirwan hendak menjauh dari hujan. Yang pasti, Nirwan lagi-lagi memilih ber-“Doa Musim Semi” daripada ber-Doa Musim Hujan karena ia selalu teringat waktu:

“…sarapan pagiku, aku menyantap roti putih Italia yang keras 
kepala meskipun lelidah salju tak lagi mampu menyaingi putih 
piringku, dan pisauku enggan berkilat di permukaan margarina 
yang cepat melunak di bawah tatapanku.” 

(Sajak “Doa Musim Semi”)

Tentu saja, Nirwan tidak merindukan hujan seperti nenek moyangnya dulu, yang  menonton hujan di serambi sembari menyantap ubi bakar bersanding kopi pahit dan rokok klobot. Rindu Nirwan hanya mau menjangkar pada roti Italia yang disantapnya ketika musim semi. Ia tak merindu pula pada burung emprit kaji yang bersembunyi di antara dedaunan ketika hujan menderas, sebaliknya yang dirindukannya:

“…pasukan belibis berleher hijau, pemecah selimut es di 
danau dekat rumahku, ketika pepohonan birch mulai menekuk 
lutut dan membanggakan lagi putih kulit mereka yang tua.”  

(Sajak “Doa Musim Semi”)

Kalaupun terpaksa menulis hujan, maka Nirwan memilih menulis “Hujan di Monona”—salah satu kota di Amerika Serikat. Sebab, hujan di sana sudah jelas berbeda:

“Tertinggal di ranting mapel, rambut hujan. 
Mengulum tampuk poeni, mulut hujan.
Terlipat di pinggir danau, jubah hujan.” 

(Sajak “Hujan di Monona”)

Ia tentu lebih akrab dengan hujan di Monona ketimbang hujan di Lereng Merapi, misalnya, lebih akrab dengan mapel dibandingkan waru, karena akarnya sudah tercerabut dari tanah tempat tali pusarnya di kuburkan. Dengan begitu, tidak heran jika Nirwan menjadi penyair yang konsisten menyuarakan kosakata negara-negara Utara. Ia memang menulis dengan bahasa Indonesia, tapi lebih suka bercerita tentang mapel, poeni, roti atau salju daripada hujan. Guna menarik garis pembeda bahwa dirinya adalah penyair yang lain daripada yang lain, Nirwan menggunakan bahasa Indonesia yang berbeda pula. Bukan bahasa yang digunakan Pak Tani, Mbok Bakul, Mbak Buruh, atau Kang Tukang Becak. Ia sengaja menulis dengan bahasa Indonesia yang hanya terdapat di dalam Tesaurus karena puisinya memang bukan diperuntukkan bagi bangsanya yang mayoritas buruh-tani dan baru melek berbahasa Indonesia beberapa puluh tahun lalu. Maka, jangan harapkan puisi Nirwan akan dikutip dalam demonstrasi layaknya “Hanya satu kata: Lawan!”—milik Wiji Thukul. Puisi Nirwan diperuntukkan bagi bangsa di Utara dan dibacakan sambil minum wisky Kentucky dengan cemilan kentang goreng Prancis, tentu saja oleh orang-orang selingkarannya. Ia memang sengaja menempatkan diri di puncak bukit sepi bersama orang-orang yang sekemampuan dengan dirinya, yang jumlahnya bisa dihitung jari, agar keelitannya sebagai penyair dan warga negara “dunia ketiga” yang sudah naik “kelas satu” terus terjaga dalam suasana yang penuh hikmat kebijaksanaan dan jauh dari banjir, pun becek, akibat hujan.

Ah, Nirwan. Demi tulisan ini, maaf jika terpaksa kubedah kaki kelimamu: si buli-buli itu.

Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. 1996. Dalam Douglas Kellner, Jean Baudrillard: From Marxism to Postmodernisme and Beyond. Stanford: Stanford University Press.

Bhasin, Kamla. 1996. Menggugat Patriarki. Yogyakarta: Bentang Budaya:

Bourdieu, Pierre. 1979. Distinctions : A Social Critique of the Judgement of Taste,
Routledge: London-New York 

Camus, Albert. 2004. Sampar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

-----------------. 2010. Summer:Musim Panas. Surabaya: Liris.

Engels, Frederick, 2004, Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara, Jakarta: Kalyanamitra.

Dewanto, Nirwan. 2010. Buli-Buli Kaki Lima. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Driyarkara. 2006. Karya Lengkap Driyarkara. Jakarta-Yogyakarta: GPU, Kompas, dan Kanisius.

Fromm, Erich. 2004. Konsep Manusia Menurut Marx. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Marton, Stephen. 2008. Gayatri Spivak: Etika, Subaltrem dan Kritik Penalaran Poskolonial. Yogyakarta: Pararaton.

Spivak, Gayatri C. 2001. The Burden of English, dalam Gregory Castle, Postcolonial Discourse: An Anthology. Massachusetts: Blackwell


Endnote: 
[1] Buli-buli = botol/guci kecil. Dalam puisi Nirwan dipakai untuk menggambarkan penis.
[2] Sajak “Kobra”.
[3] Cerpelai = garangan; binatang yang suka mencuri ayam peliharaan. Dalam konteks ini, cerpelai merupakan laki-laki yang mencuri istri orang.
[4] Dalam dongeng-dongeng dikisahkan bahwa penyelamat sang putri adalah tokoh pangeran yang datang dengan naik kuda putih. Namun, dalam puisi “Kobra”, laki-laki yang menunggang kuda hitam merupakan personifikasi dari laki-laki pencuri dan kudanya. Dengan berkuda hitam (gelap) maka diharapkan ia tak akan terlihat saat sedang beraksi (apalagi ketika hari tidak lagi terang).
[5] Sajak “Museum Birahi Suci”.
[6] ibid
[7] ibid
[8] Sajak “Virgo”.
[9] op.cit.
[10] Sajak “Puan”.
[11] ibid
[12] ibid
[13] Nirwan lahir tahun 1961 sehingga ketika pecah tragedi 1965 umurnya sekitar empat tahun.
[14] “Arit” dalam puisi Nirwan disebut “sabit” 15)  Sajak “Bulan Madu”.
[16] ibid
[17] ibid
[18] ibid 
[19] ibid
[20] ibid
[21]  Sajak “Hotel Felix Culpa”.
[22]  ibid 
[23]  ibid
[24]  Sajak “Pelabuhan Udara” 
[25]  ibid.
[26]  ibid.
[27]  Sajak “Dahaga”.
[28] Sajak “Belaka”.
[29] ibid

Sumber: Memasak Nasi Goreng tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra, Bandung Mawardi, dkk, DKJ 2013.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »