Mempertanyakan Budi Darma (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/23/2019
Tentang Solilokui, Bawah Sadar dan Keterlibatan
oleh Nirwan Dewanto


Mempertanyakan Budi Darma (1)

SASTRAMEDIA.COM - Tahun 1945, seorang warga negara biasa Uni Sovyet -seorang guru matematika dan veteran perang- ditangkap dan dibuang ke penjara Kazakhstan selama 8 tahun. Dia dituduh menghina Stalin sang pemimpin besar. Keluar dari penjara, dia tak dapat begitu saja mengubur pengalamannya yang mengerikan di penjara busuk itu. Kesaksian harus diberikan. Koyak-moyaknya seorang manusia dalam masa hukuman dan kerja paksa mesti diketahui oleh setiap orang. Tahun 1962, terbitlah sebuah novel karyanya berjudul Sehari dalam Kehidupan Ivan Denisovich. Kita tahu kemudian bahwa orang ini bernama Alexander Solzhenitsyn, novelis besar hingga saat ini. Terbitnya novel itu segera saja dikait-kaitkan dengan masa pengganyangan Stalin. Tetapi sesungguhnya novel itu bukan novel politis, melainkan novel yang baik. Masa hukuman yang dialami oleh Solzhenitsyn telah mengendap menjadi pengalaman personal, yang kemudian dilahirkannya kembali menjadi sebuah novel: sebuah solilokui.


Suatu hari tahun 1979, di kota Bloomington, Amerika Serikat, seseorang bernama Budi Darma -menurut pengakuannya sendiri- bertemu dengan seorang wanita yang membawa tiga anak lelaki dalam lift yang mereka naiki bersama. Begitu berpisah dengan mereka, Budi Darma menyerbu kamarnya, membuka mesin ketik, dan kemudian menulis. Terciptalah sebuah novel berjudul Olenka (diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, 1983). Peristiwa pertemuan dalam lift itu telah menjadi pengalaman personal Budi Darma, dan terus berkembang di kedalaman bawah-sadarnya tatkala dia menulis. Wanita dalam lift telah mengalami metamorfosa, menjadi tokoh Olenka yang berkelebat senantiasa dalam suatu proses solilokui. Perlu juga saya kutip pengantar Budi Darma untuk kumpulan esainya Solilokui (Gramedia, Jakarta, 1983), bahwa ''menulis merupakan uji coba setiap penulis terhadap kepribadiannya sendiri. Uji coba demikian pada hakikatnya merupakan solilokui.” (h. viii).


Kreativitas adalah mempersoalkan sesuatu di balik yang dialami. Karya seni menjadi karya seni karena seniman (:pencipta) membawakan subjektivitas dalam karyanya. Tentu saja, pengalaman apapun sah untuk diangkat ke dalam karya sastra, tetapi pengarang memiliki jarak terhadap peristiwa yang dialaminya. Olenka dalam novel bukanlah wanita yang dijumpai Budi Darma dalam lift, tetapi wanita itulah yang secara kebetulan mendorong lahirnya Olenka. "Dan sebuah kebetulan tidak banyak berarti jika tidak terkait dengan kebetulan yang lain” (Olenka, h. 217). Dan hemat saya, kebetulan yang paling penting adalah bahwa Budi Darma seorang pengarang. Boleh jadi ia pun akan melahirkan sebuah novel andai saja ia berada di suatu kota Amerika Latin dan menyaksikan seorang bocah tergeletak terkena peluru nyasar. Masa hukuman Solzhenitsyn -sebuah kebetulan- ternyata dikait-kaitkan dengan peristiwa sosial politik, sehingga Sehari dalam Kehidupan Ivan Denisovich mempunyai dampak politis, meskipun Solzhenitsyn tidak berpretensi melahirkan novel politik. Jelaslah bahwa pengalaman sang sastrawan menentukan arah karya sastra. Demikian pula dalam karya seni yang lain.


Tetapi pengalaman sang sastrawan -dan orang-orang yang terlibat bersamanya- tidak pernah menuntutnya untuk menulis. Persoalan selanjutnya adalah proses bawah-sadar. Sastrawan bermain dengan imajinasinya, dengan insting estetiknya, bukan dengan kesadaran otaknya. Semacam proses metamorfosa dan regenerasi diberlakukan pada realitas yang dialami oleh sastrawan: pengalaman telah dihancur-leburkan di kedalaman batin, disaring, dan diangkat kembali ke dalam bahasa. Ini semua berlaku secara otomatis, sehingga proses ini kita sebut proses bawah-sadar. Sastrawan yang baik pastilah mempunyai mekanisme bawah-sadar ini. Seorang penyair tidak menentukan jumlah kata untuk sebuah sajak yang (akan) ditulisnya. Seorang novelis tidak menentukan berapa jumlah halaman novel yang (akan) ditulisnya. Begitu membuka mesin ketik, Budi Darma mengira akan menyelesaikan sebuah cerpen, tetapi dia tidak dapat berhenti menulis, sehingga jadilah novel Olenka (h. 217). Seorang pengarang dapat saja menyiapkan ide, kerangka karangan, dan sebagainya, tetapi ini sungguh bukan merupakan jaminan bagi lahirnya karya yang bermutu. Begitulah mekanisme bawah-sadar ini dipunyai dan disempurnakan terus oleh sastrawan. Saya sendiri menganggap bahwa kebetulan-kebetulan yang dimaksud oleh Budi Darma -pengalaman-pengalamannya- merupakan suatu kripto-kreativitas, suatu kreativitas tersembunyi. Sebab dorongan kreatif sudah berpijaran pada saat pengalaman itu terjadi. Pengalaman itu sudah mulai menyentakkan kelebatan ide dalam diri pengarang, menggulirkan solilokui.


Karena itu saya heran, benarkah "karya sastra yang baik bukanlah tulisan yang kaya dengan tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, akan tetapi kaya dengan berkelebatnya sekian banyak pikiran” (Olenka, h, 222). Sebab karya sastra yang baik adalah karya sastra yang baik, tidak peduli apakah dia kaya atau miskin dengan tindakan-tindakan atau pikiran-pikiran. Beberapa tahun yang lampau, Budi Darma telah menyatakan bahwa bentuk lebih penting tinimbang isi. Memang, bentuk dalam karya sastra lebih mewakili sastrawannya. Jika bentuk tak dapat menampung ide, yang terjadi bukan karya sastra, melainkan khotbah. Para sastrawan Lekra tidak menghasilkan karya sastra yang baik karena ide-ide sudah menundukkan subjektivisme. Mereka tidak mengambil jarak terhadap ide(ideologi), peristiwa, maupun tokoh. Demikian pula sebagian besar sajak-sajak perlawanan Angkatan 66.

Lanjut ke: Mempertanyakan Budi Darma (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »