Mempertanyakan Budi Darma (2)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/23/2019
Tentang Solilokui, Bawah Sadar dan Keterlibatan
oleh Nirwan Dewanto


Mempertanyakan Budi Darma (2)

SASTRAMEDIA.COM - Tetapi One Hundred Years Of Solitude karya Gabriel Garcia-Marguez adalah sebuah novel masterpiece, meskipun di sana-sini novel tersebut memercikkan warna kekerasan Amerika Latin, yakni perebutan kekuasaan dan perang saudara. Ini tidak lain karena Garcia-Marguez berhasil menguasai bentuk dan menghidupkan tokoh-tokohnya. Perang saudara dan perebutan kekuasaan adalah tindakan besar. Secara samar-samar saya dapat juga menangkap kritik Garcia-Marguez terhadap golongan Liberal dan Konservatif, namun kesempurnaan novelnya tetap terjaga. Novel ini tidak bicara atas nama ideologi, melainkan atas nama manusia. Kita tahu Garcia-Marguez berhaluan kiri. Haluan politik ini kiranya telah pula larut di kedalaman bawah-sadarnya, menjadi bagian dari kreativitasnya. Bisa saja kita menganggapnya sebagai juru bicara golongan kiri Amerika Latin.

Tetapi sastrawan memang tidak perlu berniat jadi juru bicara siapa pun kecuali hati nuraninya sendiri. Apabila karya sastra kemudian menjadi (:dianggap) corong yang menyuarakan kepentingan sekelompok orang, hal itu bukanlah persoalan sastra dan sastrawan. T.S. Eliot dapat saja dianggap sastrawan Kristen, Maxim Gorky dapat saja dianggap sastrawan sosialis. Tetapi yang penting, mereka sudah menulis karya sastra yang baik. Tidak peduli apakah yang ditulis itu membawakan sosialisme, agama Kristen, atau apa saja. Tidak peduli apakah yang ditulis itu bakal berhasil atau tidak. Alfred Prufrock menanggung kegersangan zaman modern, Zhivago terlindas oleh revolusi komunis, Kolonel Aureliano Buendia koyak-moyak oleh ideologi dan perang saudara, Olenka korban masa lalunya. Sifat-sifat sang tokoh adalah berbagai nilai yang terekam dalam diri pengarang, yang kemudian dilahirkan kembali lewat mekanisme bawah-sadarnya. Mungkinkah pengarang tidak terlibat? Sudahkah Budi Darma menimbang-nimbang beberapa kata dari riwayat hidupnya pada sampul belakang Olenka ”… selama tinggal di Amerika Budi Darma berhasil hidup bersama penduduk setempat, yang memungkinkannya untuk mengungkapkan nilai-nilai (penekanan dari saya, ND) yang dihayati di sana.”

Hanya takdirlah yang telah memaksa seseorang menjadi pengarang, sebagaimana dia memaksa seseorang menjadi politikus atau tukang becak. Tetapi masyarakat sendiri tak pernah memaksa seorang sastrawan menulis karya sastra, apalagi sastra yang committed. Malah para sastrawanlah -dan juga para seniman yang lain- yang menuntut masyarakat untuk memberinya kesempatan bersolilokui. Seringkali pengarang menyesal kenapa dia hidup di tengah masyarakat yang tak pernah mengerti dirinya. Tetapi adakah masyarakat yang diidam-idamkan pengarang itu? Tidak ada, karena pengarang adalah ”manusia terkutuk” (Solilokui, h. 1). Dia justru tidak bahagia dengan kepengarangannya. Ironisnya, pengarang menyadari bahwa anggota masyarakat adalah "abdi dari kehidupan sayur: tumbuh, makan, menjadi gemuk, tidak pernah berpikir, dan berbahagia karena tidak pernah merasa gelisah” (Solilokui, h. 2). Tentu saja pernyataan itu sah dan penting selama dia menjaga kelangsungan kreativitasnya. Tetapi jika dia mandek, pernyataan itu menjadi sesuatu yang menggelikan. Jonah (tokoh pelukis dalam cerpen Albert Camus yang terkutip dalam Solilokui) dan Wayne Danton (tokoh pengarang dalam Olenka) adalah tokoh-tokoh yang berada pada daerah kritis dan memiliki obsesi yang mirip dengan Budi Darma. Mereka bisa pensiun tiba-tiba dari kreativitas mereka, tetapi mereka tak pernah selesai jadi anggota masyarakat, kecuali mereka mati.

Marilah kita renungkan Jonah dan Wayne. Sebagai tokoh rekaan, kedua orang itu sah adanya. Wayne Danton adalah pengarang dan suami Olenka. Dia hanya minta diakui sebagai pengarang, meskipun hanya pengarang yang gagal. "Dia lebih cocok untuk alam yang tidak mempergunakan komunikasi. Tetapi karena dia harus terlibat dalam komunikasi, kepercayaan terhadap dirinya sendiri menjadi longsor. Menjadi pengarang memberinya kebebasan berkomunikasi dengan dirinya sendiri, tanpa menghiraukan pembacanya yang tidak dia hadapi secara langsung” (Olenka, h. 18). Memang orang-orang di sekitarnya tidak pernah mengerti dia termasuk Olenka istrinya sendiri. Ketika sebuah cerpennya dimuat majalah sastra dan antologi terkemuka, tak seorang pun peduli. Namun bagi Wayne, kepengarangan adalah segala-galanya. Sedangkan Jonah adalah pelukis muda yang tengah mekar, hidup di sebuah desa. Orang-orang desa senantiasa berdatangan kepadanya meminta petuah dan keringanan tangannya untuk membereskan persoalan desa. Jonah menuruti mereka karena dia terjepit oleh nila-nilai desanya. Dia terpaksa berhenti jadi pelukis. Dan dia meninggal dalam usia muda, meninggalkan tulisan yang tidak jelas di kanvasnya yang mungkin berbunyi solitaire atau solider. "Sebagai seseorang yang memerlukan privacy, dia mati karena dia tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan nalurinya sebagai seorang solitaire, dan sebagai seseorang yang tidak sempat mengembangkan bakatnya dia terpaksa mati ber-solider dengan masyarakatnya, yang notabene bodoh dan tidak mau memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjadi lebih pandai” (Solilokui, 14).

Tetapi benarkah itu? Seandainya masyarakat mengerti Wayne dan Jonah (dan orang-orang seperti mereka), serta memberikan kesempatan ber-solitaire, apakah ini merupakan jaminan untuk melahirkan karya yang baik? Tidak! Soalnya adalah bakat dan kemampuan mereka, kerja keras dan disiplin mereka. Banyaklah kiranya calon-calon kreator (berbakat maupun tidak berbakat) berguguran karena mereka gagal membangun kreativitas di tengah berbagai tuntutan. Memang untuk menjadi hebat (:luar biasa), seorang (calon) pengarang tidak dapat (:tidak boleh) bekerja dengan kapasitas orang biasa. Saya teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, di sebuah kota kecil. Seorang kawan yang gemar menulis puisi, berhenti dari pekerjaan resminya. Dia ingin menulis dengan baik tanpa diganggu kerja rutin kantoran. Tetapi dengan begitu makin banyaklah persoalannya. Dia tak dapat menakar hidupnya sendiri. Memang kemudian terbukti, dia tak pernah menjadi penyair yang baik. Dia (hanya) menulis sajak-sajak picisan yang dibacanya sendiri. Kelihatannya dia puas, tetapi sesungguhnya dia gagal. Umurnya makin menua. Dan kini dia hanya punya urusan menghidupi keluarganya. Barangkali Budi Darma akan mengatakan, bahwa takdir tak membuat kawan saya itu menjadi penyair.

Lanjut ke: Mempertanyakan Budi Darma (3)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »