Mempertanyakan Budi Darma (3) - Nirwan Dewanto

ADMIN SASTRAMEDIA 6/23/2019
Tentang Solilokui, Bawah Sadar dan Keterlibatan
oleh Nirwan Dewanto


 Mempertanyakan Budi Darma (3)

SASTRAMEDIA.COM - Memang patutlah kita ”menertawakan seniman yang kerjanya hanya menjadi parasit, luntang-lantung, dan omong besar, dengan karya yang notabene nol besar” (Solilokui, h. 20). Saya kira seniman yang gembar-gembor menuntut kesempatan solitaire, berpeluang banyak menghasilkan karya yang nol besar, karena energinya sudah habis untuk omong besar dan luntang-lantung. Sementara itu pula keterlibatan (engagement, commitment) dapat dinyatakan dengan rendah hati dan tanpa sadar, tanpa teriakan atau slogan yang ramai. Niat untuk menempatkan diri sebagai juru bicara atau juru selamat hanya merupakan sikap arogan yang tidak perlu, malahan dapat berbalik menjadi antiestetik. Karena itu Takdir Alisyahbana menjadi tidak wajar ketika mengatakan bahwa sastra kita menghadapi krisis dan jalan buntu seraya menolak serangan Teeuw atas novelnya. Diskusi filsafat maupun politik juga sah diangkat ke dalam karya sastra. Masalahnya, apakah sastrawan menguasai bentuk sastranya. Jika tidak, percuma saja seluruh petuah-petuahnya. Kekhawatiran Takdir adalah kekhawatiran seseorang yang (sudah) uzur kreativitasnya, yang sudah dilampaui oleh mereka yang lebih muda berkali-kali. Juga, saya heran dengan pernyataan Goenawan Mohamad bahwa perubahan hanya datang dari politik, bukan dari sastra. Memang, orang tidak melawan senjata dengan kata. Peribahasa “pena lebih tajam daripada pedang” tidak punya arti harfiah apa-apa. Ya, sastra memang tidak mengubah keadaan (masyarakat) secara langsung. Perdebatan politik di gedung parlemen juga tidak dapat mengubah masyarakat secara langsung. Tetapi kenapa Sartre menjadi pahlawan mahasiswa Kiri-Baru, dan Revolusi Kebudayaan Cina mengganyang karya-karya "borjuis dan individualis”? Jawabnya, karena sastra masih merupakan tenaga sejarah jika dia berinteraksi dengan kekuatan yang lain. Persis seperti yang pernah ditulis oleh Budi Darma sendiri, "Dengan kesadaran akan pentingnya sastra, orang-orang Romawi Kuno membekali warga negaranya dengan sastra sebelum warga negara tersebut dipercaya untuk menjadi pimpinan militer atau pemerintahan di luar negeri. Nixon mengundang Andre Malraux sebelum mengadakan pertemuan muka dengan Mao Tse-tung” (Solilokui,h.56).

Lalu kita bertanya-tanya siapakah publik sastra Indonesia itu? Kita semua tahu bahwa jumlah buku dan majalah sastra yang diterbitkan selama ini tidak menggembirakan. Publik yang berlimpah dan bermutu (bukan sastrawan dan kritikus sastra) memang belum ada: atau publik ideal itu tidak pernah ada? Jika sajak-sajak slogan Rendra dan Emha Ainun Najib berhasil mengumpulkan penggemar yang luas, kita tak perlu curiga pada kedua penyair itu, sebab paling tidak mereka telah berjasa menarik perhatian khalayak ke dalam puisi (:sastra). Meskipun Olenka adalah novel Indonesia yang ulung dan memenangkan hadiah sastra 1983, saya ragu apakah "publik sastra berhasil melihat sastra dari segi yang benar” (Pidato Budi Darma, Kemampuan Mengebor Sukma, Teater Tertutup TIM, 31 Maret 1984). Saya yakin bahwa dewan juri hanya mewakili kepentingan dewan juri. Terlalu jauh jika kita mengatakan bahwa dewan juri mewakili publik sastra. Seharusnyalah keputusan dewan juri dapat
meyakinkan publik sastra untuk melihat sastra dari segi yang benar, tapi kenyataannya belumlah kita lihat. (Sekali lagi kita bertanya siapakah publik sastra Indonesia itu?).

Sastra yang baik memang menggarap pribadi-pribadi yang orisinal, mempersoalkan yang tidak kasat-mata, serta mampu mengebor sukma. Sastrawan yang baik pastilah mengharap pembaca yang bermutu, tetapi ini sudah di luar proses kreativitas sastra sendiri. Sementara itu pembaca yang bermutu akan menerima sepenuhnya tokoh-tokoh rekaan, yang memantulkan hakikat kemanusiaan dan menelanjangi pembaca. Pada tahap selanjutnya, pembaca akan melihat diri mereka sendiri. Tokoh-tokoh dalam novel Dickens, Dostoevsky, Balzac, Steinbeck, Hemingway, Garcia-Marguez, Mishima, Budi Darma, Putu Wijaya, bukan tokoh-tokoh yang jatuh dari langit, bukan pula tokoh yang terpisah dari lingkungan dan zaman mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh yang orisinal, sekaligus produk zaman dan lingkungan. Pembaca yang baik akan diyakinkan oleh tokoh-tokoh itu. Jika kita mempunyai pembaca yang baik, kita akan pula mempunyai publik sastra yang baik. Kita belum dapat menyangkal pernyataan bahwa "kita masih dipacu untuk mengejar kekurangan-kekurangan kebendaan, pada waktu kita menyadari peranan sastra yang non-kebendaan” (Solilokui, h. 56). Kita memang belum dapat menyaksikan dosen universitas, pemimpin militer, atau menteri anu membaca Olenka

Akhirnya, sastrawan tidak perlu memusingkan apakah dia tengah melakukan solider atau solitaire. Pengalaman apapun niscaya memberikan 'sumbangan” bagi kreativitas. Tugas sastrawan adalah menjadi kreativitas dan melahirkan karya yang baik. Mungkin benar, bahwa tokoh kita bukanlah sastrawan, tetapi karya sastra. Sastrawan yang sudah (merasa) uzur sebaiknya mundur atau beristirahat daripada ngotot berkarya, tapi cuma menghasilkan karya yang nol besar. Tetapi memang ada sastrawan yang tangguh dan menjaga mutu karya selama hidup mereka. Leopold Sedar-Senghor pernah menjadi presiden, Andre Malraux menteri kebudayaan, Octavio Paz duta besar, tetapi mereka adalah juga sastrawan yang baik selama hidup. Begitu pula Budi Darma, Ia seorang rektor, tanpa harus meninggalkan "Jabatan" novelisnya.***

>Sumber: Horison, Nomor 2, Tahun XXIV, Februari, 1990

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »