Menguak Peristiwa Idulfitri dalam Sastra

ADMIN SASTRAMEDIA 6/05/2019
oleh Tirto Suwondo



...Di saat seperti ini kita tentu amat gembira. Sebab ini hari kemenangan setelah kita berhasil menekan segala bentuk nafsu selama sebulan penuh (Ramadhan). Ini berarti kita kembali pada fitrah kita yang suci. Jadi, jelaslah Idulfitri merupakan peristiwa sangat penting. Yang jadi pertanyaan, apakah peristiwa ini juga jadi perhatian sastrawan kita? Bagaimana mereka mengabadikan peristiwa itu dalam karya-karyanya?

Banyak sudah sastrawan Indonesia mengabadikan idul-fitri ke dalam karyanya. Coba amati puisi, cerpen, juga novel, sejak tahun 20-an hingga sekarang, peristiwa Idulfitri tetap mewarnai khazanah sastra kita. Penyair Ali Hasjmy, M. Yamin, Hamka, Rifai Ali, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Taufiq Ismail, Abdul Hadi, Ahmadun Y. H., dll, juga cerpenis/novelis M. Diponegoro, Danarto, Kuntowijoyo, Umar Kayam, Zawawi Imron, Teguh Winarsho, dll pernah mengabadikan peristiwa ini ke dalam karyakaryanya.

Sitor Situmorang, misalnya, pernah menulis puisi “Malam Lebaran” (1954). Puisi ini amat pendek. Kata-katanya hanya “Bulan, di atas kuburan.” Puisi ini dibukukan dalam antologi Dalam Sajak (1955). Ketika itu, kira-kira pada 1957, puisi itu sempat menghebohkan karena kata-katanya sangat pendek. Tetapi, walaupun pendek, toh puisi itu merupakan kesaksian penyair yang sangat penting tentang sebuah peristiwa penting (lebaran).

Mungkinkah bisa jadi sebuah kesaksian lengkap kalau kata-kata puisi itu amat pendek? Baiklah. Meski hanya pendek, bagaimana pun puisi itu jadi catatan lengkap dari sebuah peristiwa yang lengkap pula. Begini. Kalau tak salah, puisi itu lahir dari peristiwa unik yang dialami penyairnya. Pada 1954, di suatu sore, beberapa hari setelah Idulfitri, Sitor hendak ber-halalbil-halal ke rumah Pramoedya di Kober, Jakarta. Tetapi, karena tempatnya agak jauh, sampai di rumah Pram sudah malam, sepi, dan tidak ada orang.

Karena itu, Sitor kecewa berat. Lalu pulang dia lewat jalan berselokan yang sepi, bau, gelap. Karena gelap, Sitor kesasar ke tempat yang penuh pohon tua, rimbun, dikelilingi tembok. Ketika itulah ia melihat bulan. Karena ingin tahu ada apa di balik tembok itu, Sitor lalu berdiri berjingkat di atas batu. Ternyata, yang dilihat hanya kuburan. Dan nisan-nisan di kuburan itu berwarna putih akibat tertimpa sinar bulan. Saat itulah dia terpesona, dan seolah tersihir. Akhirnya, kata-kata bulan dan kuburan itu terus-menerus teringat, dan jadilah sajak “Malam Lebaran”.

Lalu apa tujuan sastrawan membuat catatan kesaksian atas peristiwa Idulfitri? Soal tujuan, saya kira bisa beragam. Sebab setiap sastrawan punya persepsi berbeda-beda walau objek yang direkam sama. Tetapi, yang dapat dipastikan adalah umumnya mereka mengangkat peristiwa Idulfitri sebagai upaya mendekatkan diri pada Tuhan. Sebab, Idulfitri adalah peristiwa religius, peristiwa yang terkait masalah hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan begitu, manusia akan lebih menyadari keterbatasannya sebagai makhluk, yang tak berarti apa-apa di hadapan Tuhan. Begitulah. Ini berkaitan erat dengan kata fitri yang artinya suci. Di hari raya Idulfitri ini manusia kembali ke fitrahnya untuk mengawali dan menjalani hari-harinya di kemudian hari. Karena itu tak aneh jika penyair dan sastrawan mencoba mencatat dan mengabadikannya.

Lalu bagaimana dalam dunia cerpen kita? Apakah cerpenis kita juga berbuat hal sama? Saya kira, ya. Dan contoh-nya pun banyak. Umar Kayam, misalnya, mencatat peristiwa Idulfitri dengan cara unik. Dalam antologi Parta Krama, Umar Kayam mengabadikan momen Idulfitri ke dalam 4 cerpen. Hanya, karena Umar Kayam seorang sosiolog, ia merekam peristiwa lebaran itu secara lebih sosiologis. Dalam “Ke Solo, Ke Njati”, misalnya, Pak Kayam menggambarkan ketakberdayaan seorang pembantu rumah tangga menghadapi kesemrawutan transportasi dari Jakarta ke Solo saat lebaran. Sungguh, membaca cerpen itu kita benar-benar terharu.

Pasalnya, begini. Kita terharu karena seolah kita ikut merasakan kepedihan tokoh si ibu (pembantu). Jauh-jauh hari mereka sudah siap, sudah pamit majikan, berjanji dengan anakanak, kalau lebaran nanti akan mudik ke Njati (Solo). Tetapi, di hari pertama, di terminal mereka tak bisa masuk bis karena penuh sesak. Lalu pulanglah mereka ke pondokan kumuhnya. Di hari kedua, mereka mencoba lagi, tetapi gagal lagi. Demikian juga di hari ketiga. Akhirnya gagallah harapan untuk mudik, sementara tabungannya habis untuk ongkos bajaj bolak-balik dan untuk beli oleh-oleh yang akhirnya membusuk. Di situlah hati kita terenyuh, seolah ingin menangis saja.

Hal sama tampak pada cerpen “Mbok Jah”. Mbok Ijah hidup sendiri, semakin tua, rapuh, dan satu-satunya anaknya sudah tak berbakti lagi. Untuk menghibur diri, di setiap lebaran ia berkunjung ke rumah bekas majikannya. Sementara dalam “Ziarah Lebaran” dan “Marti”, Pak Kayam bercerita tentang wong cilik, tetapi punya nasib lebih baik. Cerpen pertama bicara soal seorang duda yang tak berani kawin lagi. Cerpen kedua bicara soal wong cilik yang mengalami mobilitas sosial jadi elite. Marti, seorang gadis desa, kawin dengan pejabat, tapi tak punya anak.

Maka, ketika lebaran, mereka lebih suka menyendiri tidur di hotel daripada kumpul sanak-saudara. Di saat seperti itulah Marti dirundung rindu pada asalnya, pada kesederhanaannya.
Selain itu, Pak Kayam masih punya 3 cerpen lagi yang bicara soal lebaran (“Menjelang Lebaran”, “Lebaran Ini, Saya Harus Pulang”, “Lebaran di Karet, di Karet…”). Melalui cerpen-cerpen ini Pak Kayam mengabadikan peristiwa Idulfitri yang kalau dicermati intinya mengajak kita untuk lebih mempererat tali hubungan silaturahmi. Begitulah cara Pak Kayam memotret orang-orang kecil, orang-orang yang tak berdaya menghadapi kekerasan hidup.

Apakah cerpen-cerpen seperti karya Pak Kayam itu bisa disebut cerpen religius? Dilihat dari berbagai sisi, agaknya cerpen Pak Kayam itu cenderung sebagai cerpen sosial ketimbang religius. Sebab, peristiwa Idulfitri hanya digunakan sebagai latar cerita, bukan sebagai pokok persoalan yang digarap. Peristiwa Idulfitri di situ tidak difungsikan sebagai aspek penting. Sebab yang diutamakan adalah sense of life-nya, rasa hidup-nya, bukan rasa religiusnya. Dan kita ingat, Pak Kayam adalah seorang sosiolog sehingga persoalan-persoalan sosial itu yang lebih dikedepankan. Ini bedanya jika dibandingkan dengan Kuntowijoyo, Abdul Hadi, atau Danarto.

Kita tahu peristiwa Idulfitri banyak menjadi perhatian para sastrawan kita. Apakah ini akan berlangsung terus di waktu-waktu mendatang? Saya kira benar. Selama peristiwa Idulfitri masih terus ada, kita yakin peristiwa ini akan terus dicatat dan ditanggapi oleh para sastrawan. Hanya saja, pandangan setiap sastrawan itu berbeda-beda dan berubah-ubah, sehingga akan lahir pula persepsi yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. ***

Kedaulatan Rakyat, 23 November 2003

___

Sumber: Membaca Sastra, Membaca Kehidupan, Tirto Suwondo, Editor:  Iman Budhi Santosa, HIKAYAT Publishing, Yogyakarta, 2011

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »