Menulis adalah Melihat ke Luar Jendela

ADMIN SASTRAMEDIA 6/11/2019
oleh Seno Gumira Ajidarma


Menulis adalah Melihat ke Luar Jendela - sastramedia.com

WWW.SASTRAMEDIA.COM - Menulis adalah proses memindahkan apa pun yang menarik bagi penulisnya ke sebuah tulisan. Apa yang disebut "yang menarik" bisa saja "sangat tidak menarik", pembunuhan misalnya, atau sensus penduduk. Tapi jika seseorang menulis sesuatu, justru apalagi dengan terpaksa, pastilah karena ada sesuatu yang apa boleh buat, akhirnya dipertimbangkan dan sebagai sesuatu yang dianggap penting.


Menarik, penting, dan adalah sesuatu yang dilihat, dirasa, dan dipikirkan, tak perlu dipilah lagi, bagaimana yang dirasa, bagaimana yang dipikir, segalanya dialami sebagai totalitas -- seperti hidup, kita tidak berpikir lagi, "wah, saya sedang bernapas nih," atau "wah, jantung saya sedang berdetak nih,": kita hanya hidup saja.

Kita hanya bisa menulis karena kita ini hidup. Kehidupan adalah jendela penulisan. Tubuh kita adalah sebuah ruang yang jendelanya tertutup dan gelap bila kita tidak-hidup (atau hidup tapi cuma bengong). Jendela itu akan terbuka, dan kita akan melihat memikirkan dan merenungkan apa saja.

Bila hidup itu sadari — penulisan adalah suatu bentuk kesadaran. Bahwa kesadaran itu tidak bisa penuh, dan bawah-sadar berperan, itu soal nanti, yang penting menulis itu sebetulnya sesederhana melihat lewat jendela.

Jarak antara hidup dan tidak-hidup, ternyata hanya seperti mata. Menutup mata, gelap. Membuka mata, terang. Tapi perbedaan hidup dan tidak-hidup itu begitu besar, daun yang melayang menjadi sangat besar artinya jika disadari pemandangan itu tidak akan pernah kita saksikan jika kita belum pernah hidup.

Kesadaran semacam ini membuat daun yang melayang ditiup angin dan berguling-guling dan terseret-seret di jalanan dan akhirnya terpojok menguning dan mengering di sudut yang sepi itu tanpa satu makhluk pun memedulikannya menjadi sesuatu yang menarik. Ternyata pengalaman sehelai daun pun merupakan sejarah yang dramatis. Manusia yang sadar, menyadarinya. Seorang penulis, menuliskannya.

Orang yang matanya tertutup dan telinganya buntet, melihat daun tapi seperti tidak melihat daun, suara jeritan tapi seperti tidak mendengar suara jeritan, dan tak akan pernah bisa menjadi penulis dari hati yang terdalam, Otak terjernih dan jiwa yang lapang. Mereka yang ingin menulis, selama ia bukan tidak-hidup, tinggal melihat apa yang dilihatnya, mendengar apa yang didengarkannya, lantas menuliskannya.

Tidak terlalu keliru jika dikatakan bahwa menulis itu gampang. Yang tidak terlalu gampang adalah mempunyai sikap seorang penulis yang selalu melihat, selalu mendengar, selalu merasakan, selalu memikirkan — untuk dituliskan: sampai semua iłu lebur menjadi jalan hidupnya. Sama seperti kita hidup, tidak berpikir, "wah, saya sedang hidup nih."

Seseorang yang ingin menjadi penulis yang baik, tinggal melihat lewat jendela kehidupannya dengan baik-baik, lantas menuliskan apapun yang dianggapnya menarik atau tidak menarik dengan cara yang menarik atau tidak menarik. Keduanya menyumbang, keduanya mendapat tempat.

(Sumber: Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, Seno Gumira Ajidarma, Bentang, Yogyakarta, 2005)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »