Penulis dalam Masyarakat tidak Membaca - Seno Gumira Ajidarma

ADMIN SASTRAMEDIA 6/25/2019
Penulis dalam Masyarakat tidak Membaca

oleh Seno Gumira Ajidarma
(Pidatonya saat meraih Sea Write Award 1987)

SASTRAMEDIA.COM - Padaku yang Mulia Putra Mahkota Thai Maha Vajiralongkorn. 
Yang Terhormat para Menteri, para Duta Besar. 
Panitia Anugerah SEA Write Award. Bapak-bapak dan Ibu-ibu. 

Berdiri di tempat ini, menerima penghargaan sebagai salah seorang penulis dari sebuah negeri di Asia Tenggara, membuat saya berpikir kembali tentang apa yang telah saya kerjakan selama ini. Benarkah saya telah melakukan sesuatu yang pantas mendapat penghargaan? Saya hanyalah seorang penulis kecil, yang terlalu sibuk dengan gagasan-gagasan kecil di kepala saya sendiri. Untuk seseorang yang ternyata telah menulis terus menerus selama lebih dari 20 tahun, tidakkah semua itu hanya membuang waktu?

Saya tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya, bahwa tulisan saya dibaca orang. Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar — yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya. Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub: file opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan. Sementara itu, bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerita pendek atau novel, barangkali hanya dianggap mainan remaja saja.

Dalam masyarakat semacam itu, apakah seorang penulis masih ada gunanya? Apalagi seorang penulis dengan gagasan-gagasan kecil seperti saya. Selama ini saya hanya menulis perkara yang sepele-sepele saja. Apakah cerita tentang seekor ulat yang menggeliat dalam buah jambu ketika ada manusia akan memakannya adalah sesuatu yang penting? Apakah kisah tentang seseorang yang melihat bayangannya sendiri di cermin, dan merasa itulah orang yang selama ini mengganggunya dengan bisik-bisik adalah sesuatu yang bisa dianggap berguna bagi orang banyak? Apakah cara bercerita yang kurang terus terang, untuk tidak mengatakannya takut-takut, seputar pembantaian orang-orang tidak bersenjata adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh bangsa dan negeri saya? Saya tidak pernah tahu itu, seperti juga saya tidak pernah tahu persis seberapa jauh apa yang disebut kesusastraan mampu menjelmakan kembali dunia yang kita hidupi bersama ini, dan seberapa jauh mampu membangun saling pengertian antarmanusia.

Saya hanya tahu bahwa saya hanya bisa mencoba menuliskannya. Apabila saya mendapat penghargaan untuk pekerjaan saya itu, saya menganggapnya sebagai tanda bahwa apa yang saya kerjakan bukanlah sesuatu yang terlalu keliru. Saya terima penghargaan ini. Terima kasih. Saya akan terus menulis.

Pondok Aren, 1997

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »