Polarisasi Barat dan Timur dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori, Sebuah Perspektif Poskolonialisme

ADMIN SASTRAMEDIA 6/06/2019
Pemenang Ketiga Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013
oleh M. Irfan Zamzami



“Paris dan Jakarta seperti perbandingan antara air kelapa muda 
dan air selokan yang hitam.” 
(Leila S. Chudori)


A. Latar Belakang


DAMPAK dari ekspansi kekuatan Eropa pada abad ke-19 atas sembilan per sepuluh wilayah dunia adalah menguatnya polarisasi antara Barat dan belahan dunia lain (Young, 2003: 2). Polarisasi tersebut mengandung ketimpangan yang menempatkan Barat sebagai pihak yang superior, karena relasi antara dunia Barat dan Timur dipengaruhi oleh kepentingan ekspansi Eropa yang tak terbendung untuk mencari pasar, sumber daya, dan wilayah koloni (Said dalam Lodge, 1988: 297). Begitupun dalam makalah ini, istilah Barat dan Timur merujuk pada relasi kolonial. Barat adalah pusat imperium di Eropa, sedangkan Timur adalah wilayah di luar Eropa yang menjadi daerah koloni. Oposisi biner dalam polarisasi Barat dan Timur juga dibicarakan dalam kerangka kolonialisme.


Setelah periode kolonial secara formal berangsur-angsur berakhir pada abad ke-20, pola relasi kolonial dan pengaruh Eropa tidak dengan sendirinya berakhir. Leela Gandhi (1998) menunjukkan bahwa relasi tersebut masih memiliki kompleksitas yang terlihat dari gerakan poskolonial:

(...) the colonial aftermath does not yield the end of colonialism. Despite its discouraging tone, this verdict is really framed by the quite benign desire to mitigate the disappointments and failures which accrue from the postcolonial myth of radical separation from Europe. The prefix ‘post’, as Lyotard has written, elaborates the conviction ‘that it is both possible and necessary to break with tradition and institute absolutely new ways of living and thinking’ (hal. 7).

Gerakan poskolonial meyakini bahwa kolonialisme tidak benar-benar berakhir sebagai buah kekecewaan mereka atas kegagalan untuk memisahkan diri sepenuhnya dari pengaruh Eropa. Barat telah menjalankan kekuasaan kolonial selama berabad-abad terhadap belahan dunia lain sehingga pengaruhnya masih sangat kuat dan jejaknya masih bisa dilihat melalui produkproduk budaya baik yang lahir di Barat maupun di luar Barat.

Jejak tersebut, dalam kaitannya dengan makalah ini, bisa terlihat melalui kesusastraan. Novel Pulang (Chudori, 2013) lahir di Indonesia lebih daripada setengah abad setelah masa kolonialisme Belanda berakhir. Akan tetapi, jika dibaca dalam kerangka poskolonialisme, akan terlihat jejak pengaruh kolonial di dalamnya. Salah satu pengaruh yang menonjol adalah keberpihakannya terhadap superioritas Barat dalam oposisi biner Barat-Timur.

Pulang terutama bercerita tentang tokoh utama Dimas Suryo, seorang pelarian politik Indonesia yang menyelamatkan diri ke Paris ketika di Indonesia meletus peristiwa 30 September 1965. Di Paris, Dimas Suryo menjalani kehidupan pengasingan tanpa ada kepastian kapan akan kembali ke Indonesia karena rezim Orde Baru menjalankan politik represif bagi orang-orang yang terlibat, atau dicurigai terlibat, dengan peristiwa 30 September seperti dirinya. Ia tidak pernah kembali ke Indonesia hingga menemui ajal.
Dalam plot utama tersebut premis dibangun: Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan kekerasan, konflik, represi, kebrutalan, dan penindasan; di sisi lain ada Prancis, tempat Dimas berlindung, yang manusiawi, beradab, dan maju. Oposisi biner serupa terus dipelihara dalam sub-plot yang menggambarkan beberapa dekade kemudian ketika anak Dimas, Lintang Utara, perlu mengunjungi Indonesia untuk penelitian. Lintang Utara secara sangat kebetulan berkunjung ke Jakarta saat meletusnya peristiwa 1998. Dia menjadi menjadi saksi kebrutalan politik di Indonesia. Lintang Utara adalah generasi yang lahir pada masa yang sangat berbeda dari ayahnya, akan tetapi kondisi politik di Indonesia tidak jauh berbeda dengan ketika ayahnya terusir sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, seolah-olah instabilitas adalah esensi politik di Indonesia.

Keberpihakan terhadap superioritas Barat sedikit banyak juga dipengaruhi oleh teknik penulisan novel ini. Meskipun menggunakan tiga peristiwa bersejarah sebagai latar, sebagaimana dijelaskan dalam sampul, yaitu Indonesia 30 September 1965, Perancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998, namun sebenarnya novel ini adalah novel yang ditulis dengan bahasa dan tema populer. Sebagai novel populer, Pulang berbicara dengan bahasa dan persepsi karya populer yang tipikal, misalnya penggambaran Paris sebagai kota yang romantis (yang sering direproduksi oleh produk-produk populer), pusat fashion, dan keindahan. Penggambaran stereotip yang kuat ini tentu secara signifikan turut berkontribusi pada oposisi biner antara dunia Barat dan dunia Timur.

Polarisasi yang menempatkan Barat dalam posisi superior adalah narasi yang telah lama dibangun di Barat. Narasi besar tersebut menjadi tradisi dalam berbagai diskursus, entah dalam politik, sosial, ekonomi, sastra, catatan perjalanan, dan praktisnya segala teks yang mengkonstruksi relasi Barat dan Timur sedemikian rupa. Edward Said (1979) merumuskan bahwa teks yang mencakup banyak bidang tersebut membentuk diskursus yang menjadikan Timur sebagai objek pengetahuan untuk menopang misi imperialisme Eropa. Diskursus yang oleh Said disebut orientalisme ini adalah strategi kekuasaan non-represif yang hegemonik, menempatkan Barat dalam posisi dominan atas dunia Timur.

B. Oposisi Biner Kolonial

RELASI antara Barat dengan Timur dalam diskursus orientalisme, menurut Edward Said (1979), dikonstruksi di Eropa dalam sejarah yang panjang bahkan sebelum periode imperialisme bermula. Orientalisme, terutama, memberikan gagasan tentang pembedaan Barat dan Timur yang mempengaruhi berbagai macam teks. Kesadaran atas perbedaan dunia Barat dan Timur ini mempengaruhi para penulis dalam memproduksi teks dalam banyak bidang. Dalam makalah ini selanjutnya akan ditunjukkan bahwa novel Pulang adalah juga teks yang terpengaruh oleh kesadaran akan perbedaan dalam polarisasi dunia Barat dan dunia Timur. 

(...) a very large mass of writers, among whom are poets, novelists, philosophers, political theorists, economists, and imperial administrators, have accepted the basic distinction between East and West as the starting point for elaborate theories, epics, novels, social descriptions, and political accounts concerning the Orient, its people, customs, “mind”, destiny, and so on. (Said, 1979: 2-3)

Orientalisme sebagai diskursus tidak bebas nilai, sehingga pembedaan antara Barat dan Timur mengandung keberpihakan politik. Barat, sebagai subjek yang menciptakan diskursus, menciptakan konsep tentang “Timur” sesuai dengan kepentingan mereka. Oposisi biner antara konsep “Barat” dan “Timur” kemudian menempatkan Barat dalam posisi superior atas Timur.

Colonial and imperial rule was legitimized by anthropological theories which increasingly portrayed the peoples of the colonized world as inferior, childlike, or feminine, incapable of looking after themselves (despite having done so perfectly well for millennia) and requiring the paternal rule of the west for their own best interests (today they are deemed to require ‘development’) (Young, 2003: 2).

Said secara tajam mengkritik bahwa citra Timur yang diciptakan Barat tidak memiliki korelasi dengan realitas. Timur, menurut Said, praktis ciptaan Barat: “The Orient was almost a European invention...” (hal. 1). Orientalisme tidak lain adalah “a way of coming to terms with the Orient that is based on the Orient’s special place in European Western experience.” (hal. 1). Timur yang diciptakan oleh Barat tentu terbangun dengan persepsi subjektif Barat.

Orientalisme memiliki pijakan historis ketika pada abad ke-18 menjelma menjadi alat kekuasaan Barat terhadap dunia Timur. Dalam pengertian ini, orientalisme dipahami sebagai kerangka untuk mendominasi, atau dengan bahasa Said sebagai “...style for dominating, restructuring, and having authority over the Orient,” (hal. 3). Orientalisme mempengaruhi banyak disiplin keilmuan, yang bersepakat tentang inferioritas Timur, sehingga kekuasaan Barat atas Timur berterima. Kekuasaan dengan menggunakan legitimasi keilmuan ini berlangsung secara hegemonik dan bukan menggunakan aparat represif seperti agresi militer atau pengambilalihan pemerintahan daerah koloni.

Such a discourse, then, produces claim to knowledge and it is these claims – wich we accpet – that give it its power (...) Knowledge is a way to define and categorize others. Instead of emancipating us from ignorance, it leads to surveilance and discipline. (Bertens, 2001: 154).

Alih-alih mencerahkan, diskursus tersebut, yang mengklaim memiliki otoritas atas pengetahuan menciptakan standar yang memihak kepada Barat. Orientalisme dalam ekonomi, misalnya, menciptakan sekat antara negara maju dan negara berkembang. Negara maju, yang berisi negara-negara Barat, adalah negara yang “benar”. Negara berkembang, yang kebanyakan berada di belahan dunia Timur, adalah negara-negara yang ekonominya “belum benar”. Sekat yang menciptakan standardisasi inilah yang kemudian berimplikasi pada adanya “surveillance” dan “discipline”. Dunia Timur diawasi dan didisplinkan agar mengelola ekonominya sesuai dengan standar barat.

Ketimpangan di bidang lain yang mencolok adalah dalam politik. Barat menempatkan diri sebagai pihak yang lebih baik dalam berpolitik, sehingga merasa perlu mendidik Timur bagaimana menjalankan politik yang baik, good governance, dan demokrasi. Gagasan ini juga terlihat dalam novel Pulang. Barat digambarkan lebih dewasa dalam berpolitik dibandingkan dengan Timur. Politik di Barat adalah dialektika yang dijalankan dengan beradab; demonstrasi yang tertib, pemerintahan yang toleran, dan kota yang manusiawi. Di lain pihak, politik di dunia Timur digambarkan sangat belum dewasa, rentan konflik, kekerasan, dan diskriminasi.

Relasi antara Barat dengan Timur yang timpang semacam ini terus direproduksi untuk mempertahankan dominasi Barat. Oposisi biner yang terbentuk secara diskursif pun bertahan dari waktu ke waktu dan terus direproduksi untuk kepentingan politik Barat:

As a consequence, the East is characteristically produced in Orientalist discourse as-variously--voiceless, sensual, female, despotic, irrational and backward. By contrast, the West is represented as masculine, democratic, rational, moral, dynamic and progressive (Moore-Gilbert, 2000: 39).

Timur secara diskursif dianggap tidak mampu bersuara, sensual, feminin, bengis, irasional, dan terbelakang. Sebaliknya, Barat yang superior secara diskursif direpresentasikan sebagai yang maskulin, demokratis, rasional, bermoral, dan maju. 

Timur, di lain pihak, submisif terhadap dominasi Barat karena telah menginternalisasi diskursus tersebut melalui medium seperti pendidikan dan produk budaya. “...the way the consent of the subordinate (or ‘subaltern’) sectors of society is ‘solicited’ in the domain of ‘civil society’ through such channels as education and cultural practices” (Moore-Gilbert, 2000: 37). Novel Pulang adalah kasus ketika “subordinate” memberikan “consent”, atau persetujuan, terhadap paradigma diskursif kolonial.

C. Polarisasi Barat dan Timur dalam novel Pulang

NOVEL Pulang secara mencolok menunjukkan kesadaran polarisasi antara dunia Barat dengan dunia Timur. Lebih jauh, kesadaran tersebut menempatkan polarisasi Barat-Timur dalam oposisi biner. Dalam oposisi biner tersebut, Barat berada dalam posisi superior atas Timur. Sebuah kutipan dalam novel ini mewakili kesadaran tersebut dengan baik: “Paris dan Jakarta seperti perbandingan antara air kelapa muda dan air selokan yang hitam” (hal. 44). Barat digambarkan sebagai peradaban yang maju dan politik yang dewasa. Timur, di lain pihak, adalah keterbelakangan yang suram, rawan konflik, dan politik yang sewenang-wenang.

Superioritas Barat yang paling terlihat dalam novel ini, sebagaimana terlihat dari alur utama cerita, adalah stabilitas politik. Premisnya sederhana. Dimas Suryo, tokoh utama dalam novel ini, adalah seorang pekerja media yang dicurigai terlibat gerakan komunis oleh pemerintah Orde Baru yang represif. Ketika terjadi gejolak politik yang melibatkan kekerasan di Indonesia pada 30 September 1965, Dimas harus melarikan diri ke Prancis. Ia bersama kawan-kawannya yang bernasib sama, Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjai Sin Soe, memilih Prancis karena, “Prancis memang dikenal sebagai negara yang memeluk para pengelana politik seperti kami dengan hangat” (hal. 78). Akan tetapi, melihat bagaimana narasi dalam novel ini berulang-ulang menunjukkan kekaguman pada Prancis, alasan sebenarnya pemilihan Prancis barangkali adalah karena “Prancis adalah negeri tempat lahirnya para sastrawan dan intelektual besar yang bukubukunya menjadi panutan kami” (hal. 79). Di Prancis, Dimas Suryo menghabiskan sisa waktu hidupnya tanpa pernah memiliki kesempatan untuk kembali ke Indonesia.

Alur tersebut secara gamblang memaparkan dua sisi biner yang sangat kontras. Indonesia, sebagai representasi dunia Timur, adalah sisi biner yang inferior karena kualitas politiknya yang penuh kekerasan dan represi. Prancis, di lain pihak, sebagai representasi Barat, adalah sisi biner yang superior karena memberikan keamanan dan ketenteraman bagi pelarian politik dari Indonesia. Stereotip yang terkonstruksi lama dalam diskursus orientalisme dimunculkan di sini: Timur yang brutal dan tidak manusiawi (oriental despotism), Barat yang beradab dan manusiawi.

Dua peristiwa yang menjadi latar belakang sejarah adalah September 1965 dan Mei 1998. Dua-duanya adalah peristiwa yang melibatkan kekerasan dan instabilitas politik yang terjadi secara masif. Dalam peristiwa 1965, novel Pulang menggambarkan peristiwa tersebut sebagai sebuah peristiwa yang telah inheren dengan kekejian; tidak ada ruang interpretasi lain, bahkan bagi seseorang yang mengalami peristiwa tersebut sebelum dikonstruksi oleh sejarah, dan ketika berada di tengah misinformasi.

Di Santiago, di tengah konferensi itu, kami mendengar dari ketua panitia Jose Ximenez tentang meletusnya peristiwa 30 September. Kami terpana. Sama sekali tidak menduga ada peristiwa sekeji itu. Berkali-kali aku meminta Mas Nug mengulang apa yang dia dengar dari Ximenez. Jenderal-jenderal diculik? Dibunuh? (hal. 69).

Rasa “jijik” Dimas terhadap peristiwa 1965 menyerupai rasa jijik tokoh dalam novel Daniel Defoe, Robinson Crusoe, orang Inggris yang terdampar di pulau tidak berpenghuni, terhadap Friday, orang suku terpencil di Karibia yang seorang kanibal. Crusoe menghakimi Friday dengan jarak moral yang lebar. Dia menilai Friday dengan nilai-nilai yang tumbuh di geografi dan sejarah lain. Robinson Crusoe dan Pulang adalah narasi yang sama-sama menunjukkan kejijikan terhadap masyarakat di dunia Timur; entah terhadap kanibalisme, entah terhadap tindakan saling bunuh yang keji. Timur dinilai dan dikonstruksi dengan standar moral yang berjarak, dan kemudian dirumuskan sebagai realitas yang utuh.

Realitas utuh yang memukul rata bahwa Timur memiliki satu karakteristik yang sama. Lintang Utara, anak Dimas yang besar dan dididik di Perancis, menunjukkan kecenderungan tersebut secara begitu tepat: “Bukankah semua negara berkembang selalu saja bergolak karena situasi sosial dan politik yang tak stabil?” (hal. 134). Begitu banyak stigma yang terkandung hanya dalam satu frase: “negara berkembang”, sebagai kontras terhadap negara-negara maju di Barat, “bergolak”, dan “tak stabil”. Karakteristik tersebut tidak perlu dilihat secara adil terhadap masing-masing negara, tetapi “semua” negara di dunia Timur.

Begitupun yang terjadi di Indonesia. Pergolakan politik adalah sumber ketegangan, antagonisme, yang mencegah tokoh utama untuk untuk pulang ke negara asalnya. Pulang sendiri adalah konsep yang signifikansinya dipilih sebagai judul novel ini. Misi tokoh utama dirumuskan dalam keinginannya untuk pulang, tapi kemudian gagal: 

Aku harus pulang. Aku harus pulang! Aku mencoba mencari tiket. Tiket apa saja. Pesawat, kapal laut. Apa saja. Yang penting aku pulang.

...

Malam itu, Mas Nug menyampaikan selembar telegram. “Jangan pulang koma situasi belum cukup aman titik doakan ibu tenang koma kami tahlil terus titik”

(hal. 83).

Ketegangan yang timbul dari rasa frustrasi Dimas karena gagal pulang adalah batas yang jelas antara dunia Barat dengan dunia Timur. Di antara dua dunia ini ada batas yang tegas. Batas itu, tentu saja, bukanlah batas geografis atau fisik, karena ia sebenarnya dengan mudah menjangkaunya (“Pesawat, kapal laut. Apa saja”). Tetapi batas itu adalah perpaduan yang sangat kompleks antara ketimpangan politik, budaya, peradaban, moral, dan segala jenis batas yang realitasnya dikonstruksi sedemikian rupa. Represi pemerintah dan risiko yang dihadapi oleh Dimas mungkin nyata, akan tetapi cara mengkonstruksi realitas tersebut tentu tidak bebas nilai.

Citra tentang Timur yang tidak bebas nilai akan terlihat berpihak terhadap kepentingan Barat ketika, seperti yang dilakukan oleh novel ini, ditempatkan dalam sebuah oposisi biner. Sebagai kontras atas Timur yang brutal dan penuh kekerasan, Barat digambarkan oleh Dimas dengan:

Aku iri. Aku cemburu. Pertarungan di Paris saat ini sungguh jelas keinginannya. Jelas siapa yang dituntut dan siapa yang menggugat. Perseteruan ini antara mahasiswa dan buruh melawan pemerintah De Gaulle. Di Indonesia, kami akrab dengan kekisruhan dan kekacauan tetapi tak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Kita bahkan tak tahu apa sesungguhnya yang dicitacitakan oleh setiap pihak yang bertikai, kecuali kekuasaan. Betapa porak-poranda. Betapa gelap (hal. 10).

Oposisi biner yang digunakan bahkan sangat terlihat melalui pilihan katanya, Barat sebagai “jelas” dengan Timur sebagai “gelap”, “kekacauan”, “kekisruhan”, “porak-poranda”. Untuk semakin menguatkan citra Barat yang cerah, novel ini bahkan menambahkan unsur “cinta”, sebab saat demonstrasi itulah Dimas mendapatkan cinta pada pandangan pertama dengan Vivienne, gadis Prancis yang kelak ia nikahi. Di belahan bumi Barat adalah keteraturan dan cinta yang bersemi. Di belahan bumi Timur ada kegelapan dan chaos.

Kekejian kemudian digambarkan dalam konteks yang lebih personal ketika Lintang Utara, anak perempuan Dimas, menemukan surat-surat yang dikirimkan dari Indonesia untuk Dimas dalam bab yang diberi judul dramatis “Surat-surat Berdarah”. Surat-surat tersebut menceritakan tentang pengalaman anak perempuan sahabat Dimas ketika disekap oleh militer Orde Baru:

(...) mereka meminta Kenanga membersihkan salah satu ruangan di gedung itu... tugas Kenanga adalah mengepel bekas bercak darah kering yang melekat di lantai ruangan penyiksaan. Dia bahkan menemukan cambuk ekor pari yang berlumur darah kering. Kenanga baru bercerita sebulan kemudian sambil menangis tersedu-sedu (hal. 245).

Gambaran ini cenderung lebih komikal, seperti imajinasi Barat tentang sebuah Timur yang liar dan mengerikan. Serupa dengan Robinson Crusoe yang perutnya mual dan begitu jijik ketika Friday, orang Timur yang terbelakang itu, mengajaknya untuk menggali mayat yang telah dikubur untuk dimakan. Timur adalah tempat peradaban begitu tertinggal dan begitu purba.
Timur adalah horor bagi dunia Barat.

Selain itu, represi pemerintah Orde Baru yang digambarkan dalam novel ini juga akan berkesesuaian dengan stereotip yang selalu menjadi sumber apriori Barat tentang dunia Timur. Barat selalu menganggap, hampir seperti hukum alam, bahwa masyarakat Timur tidak akan pernah mengenal egaliterianisme sebagaimana dunia Barat. Sejarah Timur adalah sejarah tentang perpindahan kekuasaan yang lalim antara satu penguasa ke penguasa berikutnya. Edward Said (1979) menyebutkan bahwa pandangan semacam ini pernah disampaikan oleh Arthur James Balfour, seorang pejabat pemerintah kolonial Inggris di Mesir pada 1910, dalam pidatonya di hadapan parlemen tentang alasan mengapa Inggris perlu menduduki Mesir:

Conqueror has succeeded conqueror; one domination has followed another; but never in all the revolutions of fate and fortune have you seen one of those nations of its own motion establish what we, from a Western point of view, call selfgovernment. That is the fact. (hal. 34).

Balfour dengan bahasa yang tajam menyebutkan bahwa pada faktanya Timur adalah dunia yang diwarnai oleh dominasi penguasa satu dan penguasa berikutnya. Selain itu, Balfour juga memukul rata bahwa semua kelompok masyarakat atau negara di Timur sama. Pandangan ini serupa dengan yang dikatakan oleh Lintang Utara yang belajar di Universitas Sorbonne. Berbeda dengan Dimas, Lintang Utara adalah produk Barat sepenuhnya. Ia dibesarkan di lingkungan kelas menengah Barat, di lembaga pendidikan Barat yang mapan, dan secara tipikal melihat Timur juga dengan cara Barat memukul rata dunia Timur.

“Negara kelahiran ayahmu sedang bergolak. Ekonomi menjadi pemicu. Tetapi situasi politik semakin memanas karena Indonesia sudah lama dipimpin oleh presiden yang sama.”

Lalu, kenapa? Bukankah semua negara berkembang selalu saja bergolak karena situasi sosial dan politik yang tak stabil? Negaranegara Amerika Latin, Afrika, dan sebagian Asia ada saja yang memiliki pemimpin diktator yang korup dan militeristik. (hal. 134).

Perpindahan antara penguasa lalim yang satu dengan yang lain tersebut dikarakterisasi oleh Barat dengan istilah oriental despotism. Dalam novel ini, Oriental despotism bahkan digambarkan memakan dua generasi yang terpisah jauh, seolaholah berkesinambungan dan adalah fakta. Setelah September 1965, latar sejarah kedua yang digunakan adalah Mei 1998. Di seputar waktu itu putri Dimas secara sangat kebetulan harus pergi ke Indonesia untuk menyelesaikan penelitiannya. 

Dalam kunjungan Lintang Utara ke Indonesia itu realitas Timur kembali ditunjukkan serupa dengan realitas yang pernah dihadapi oleh Dimas; meskipun keduanya berasal dari dua generasi yang berbeda. Lintang mendapati bahwa realitas yang terbangun di Barat ternyata terbukti. Setelah masa yang dihadapi ayahnya berlalu, ternyata Indonesia adalah tempat yang sama yang masih mengidap oriental despotism, dengan karakter politik yang masih brutal, tidak beradab, dan tidak sematang Barat.

Menurut Mita, Gilang menelepon dan menyampaikan informasi terjadi penembakan mahasiswa di Universitas Trisakti... Kampus Trisakti yang begitu besar dan begitu gelap, tegang, mencekam, dan penuh tangis serta jeritan amarah. Saat itu kami belum tahu ada berapa mahasiswa yang tertembak.
...
Ayah, meski saya sering menjadi bagian unjuk rasa di kampus Sorbonne, saya kira Alam memang benar: pengalaman saya berdemonstrasi sangat santun. Saya tak mengira akan menyaksikan peristiwa sebiadab ini (hal. 412-413).

Kutipan di atas sekali lagi menunjukkan penggunaan oposisi biner yang kental. Barat adalah “santun” sementara Timur “biadab”. Konstruksi ini adalah pengulangan yang terus dipakai dalam novel ini untuk menggambarkan superioritas Barat dalam politik, kedewasaan moral, dan kemajuan. Representasi Timur, yang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri sepanjang dua generasi, ternyata gagal mencapai perubahan tersebut. Seolaholeh citra yang dibangun di Barat tentang dunia Timur yang terbelakang selalu berkorelasi dengan realitasnya.

Meskipun demikian, perlu menjadi catatan bahwa realitas yang digambarkan oleh Barat tidak selalu memojokkan Timur. Barat juga terkadang menunjukkan anggapan terhadap Timur secara simpatik. Akan tetapi, persoalannya bukanlah pada apakah Barat melihat Timur secara simpatik atau tidak, melainkan lebih pada:

(...) all Western discourse about the East is determined in the last instance by the will to domination over Oriental territories and peoples. For Said, the pursuit of knowledge in the colonial domain cannot be ‘disinterested’, firstly because the relationship between cultures on which it depends is an unequal one, and secondly because such knowledge, whether of the language, customs or religions of the colonized, is consistently put at the service of the colonial administration (Moore-Gilbert, 2000: 38).

Pengetahuan Barat atas Timur selalu didasarkan pada kepentingan untuk menguasai. Barat mungkin saja memilih untuk menggambarkan Timur secara simpatik. Sudut pandangan yang biasanya tipikal digunakan oleh Barat secara simpatik tentang Timur adalah dengan mengeksploitasi sisi eksotis Timur. Dalam novel ini, hal tersebut bisa terlihat dari penggambaran tentang restoran Tanah Air. 

Tanganku, Bahrum, dan Yazir tak henti-hentinya bergerak di meja racikan. Dari jendela dapur kami melihat ekspresi mereka. Ayam bakar, sate kambing, gulai anam, nasi padang, soto ayam menjadi hit malam ini. Beberapa memo tertulis dikirim ke dapur yang berisi puja-puji terhadap masakan kami (hal. 118).

Timur dirumuskan secara sangat apolitis. Timur adalah makanan enak, wayang-wayang yang dipajang di ruang tamu Restoran Tanah Air, dan suara gending yang mungkin terdengar misterius bagi orang-orang Paris. Di lain pihak, orang-orang Timur begitu bangga jika Barat mengagumi eksotisme ini. Seperti Dimas yang begitu bersemangat memperkenalkan makanan Indonesia yang serbaenak di Paris; atau memperkenalkan rokok kretek kepada Vivian. Serupa dengan orang-orang Indonesia yang bersorak ketika Barrack Obama berpidato menyebutkan namanama makanan seperti sate dan nasi goreng.
Di bagian lain, eksotisme Indonesia adalah gambaran yang rumit antara keindahan dengan keterbelakangan:

Tetapi menurut Ayah darahku berasal dari seberang benua Eropa, sebuah tanah yang mengirim aroma cengkih dan kesedihan yang sia-sia. Sebuah tanah yang subur oleh begitu banyak tumbuhtumbuhan, yang melahirkan aneka warna, bentuk, dan keimanan, tetapi malah menghantam warganya hanya karena perbedaan pemikiran (hal. 137).

Sebagai perbandingan atas penggambaran Timur yang eksotis, Barat digambarkan dengan penuh romantisme. Barat sebagai dunia yang sarat romantisme timbul dari sudut pandang dunia Timur yang menganggap Barat sebagai pusat kemajuan. Novel-novel yang lahir di Barat, tentu saja, menggambarkan kehidupan di Barat sebagai keseharian. Dalam novel ini, dunia Barat adalah sekumpulan gagasan tentang sebuah tempat yang penuh ikon peradaban, tempat bersejarah, tokoh terkemuka, dan seterusnya.

Oleh novel ini, Paris digambarkan semacam sebagai monumen atas kemajuan-kemajuan dan kemegahan Barat yang memukau orang-orang Timur. Hal ini tergambar baik dengan reaksi Risjaf ketika diberitahu bahwa mereka perlu melarikan diri ke Paris: “Bagaimana mau tenang!” Risjaf menggerutu, “Kau sebut Paris, langsung saja segala yang bagus dan bercahaya dari kota itu tergambar di otakku” (hal. 77).

Paris, Barat, adalah apa yang oleh orang-orang Timur dianggap sebagai sesuatu yang “bagus” dan “bercahaya”. Risjaf telah lama akrab dengan citra tentang Barat yang bercahaya. Risjaf adalah gambaran masyarakat dunia Timur yang terpukau dengan kemajuan Barat, dan dengan kata lain mengakui superioritas peradaban Barat. Narasi dalam novel ini penuh dengan gagasan semacam ini.

Di satu bagian, novel Pulang mereproduksi apa yang telah amat sering direproduksi oleh produk budaya populer yang mengagungkan Paris sebagai kota cinta: “Cinta pada pandangan pertama adalah sebuah kalimat romantis yang ditanamkan pada mereka yang menganggap Paris kota cahaya yang tak pernah kehabisan persediaan amour” (hal. 199).

Serupa dengan Paris sebagai kota cinta, Paris sebagai kota gaya, tentu, tidak luput dari kekaguman novel ini:

Bagi warga Paris, musim semi berarti perubahan gaya... Paris pada musim apa saja adalah panggung mode terbesar dunia... Mereka memang terdiri dari warga perancang sekaligus model... semua warga Parisian terlihat begitu modis dan luar biasa teliti dalam penampilan (hal. 49).

Di bagian lain, Paris dihubungkan dengan penanda terhadap ikon budaya. Maka disebutlah nama sastrawan terkemuka Ernest Hemingway: “Tapi bukankah sastrawan seperti Ernest Hemingway bisa menyusun huruf dan menata cinta (meski belakangan, seperti biasa, berantakan) tentang Paris, A Moveable Feast” (hal. 17).

Apa yang megah dan beradab di Barat bahkan harus dihubungkan dengan kehidupan keseharian. Tokoh-tokoh dalam novel ini selalu memiliki kesadaran akan kemegahan Barat, dan melekatkan kehidupan mereka dalam magnet peradaban yang besar tersebut. Tokoh-tokoh selalu seperti anak dari dunia Timur yang udik dan tidak sabar untuk memamerkan kunjungannya ke Paris.

Dia tahu, ketika dalam keadaan gundah, aku pasti menenangkan diri di pemakaman Père Lachaise yang begitu luas. Satu hari aku bisa duduk membaca di hadapan makam Oscar Wilde yang flamboyan, persis seperti gambaran sosok sastrawan Irlandia itu, atau terkadang aku duduk di samping makam Honoré de Balzac. Tetapi aku paling sering duduk berlama-lama di hadapan makam Jim Morrison di Pière Lachaise Division Six, sembari menggumamkan lirik “Light My Fire” (hal. 149-150).

Barat telah menanamkan pengaruh yang kuat terhadap Timur, baik melalui saluran politik, ekonomi, maupun budaya. Pengaruh tersebut menciptakan dominasi Barat atas Timur yang telah berlangsung berabad-abad. Dengan latar belakang itulah novel ini menunjukkan kekaguman pada superioritas Barat. Novel Pulang adalah obsesi Timur terhadap Barat.

D. Simpulan

NOVEL Pulang menganut oposisi biner yang memecah dunia menjadi polarisasi antara Barat dengan Timur. Barat direpresentasikan oleh Paris-Perancis. Timur direpresentasikan oleh Jakarta-Indonesia. Dalam oposisi biner tersebut Barat ditempatkan sebagai poros yang superior baik secara politik, ekonomi, maupun budaya. Inferioritas Timur ditunjukkan dengan instabilitas politik yang melanda Indonesia, konflik, dan diskriminasi yang menyebabkan Dimas Suryo, tokoh utama, menyelamatkan diri dan menghabiskan sisa hidupnya di Paris.

Barat, di sisi lain, digambarkan sebagai dunia yang sarat dengan romantisme. Narasi novel ini berulang kali mengaitkan Paris dengan kemegahan, ikon-ikon budaya, dan kemajuan peradaban. Dalam hal ini, novel Pulang bisa dipahami sebagai bentuk obsesi Timur terhadap Barat.

Daftar Pustaka

Bertens, Hans. 2001. Literary Theory. London: Routledge.
Chudori, Leila S. 2013. Pulang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Gandhi, Leela. 1998. Postcolonial Theory: A Critical Introduction. Crows Nest: Allen & Unwin.
Lodge, David. 1988. Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman.
Moore-Gilbert, Bart. 2000. Postcolonial Theory: Contexts, Practices, Politics. London: Verso.
Said, Edward. 1979. Orientalism. New York: Vintage Books.
Young, Robert J. 2003. Postcolonialism. Oxford: Oxford University Press.


Sumber: Memasak Nasi Goreng tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra, Bandung Mawardi, dkk, DKJ 2013.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »