Ausdruck dalam Puisi Du Hast Gerufen, Herr, Ich Komme - Nietzsche

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri 

2. Ausdruck dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme Nietzsche

Ausdruck (ungkapan) dalam hermeneutik Dilthey adalah sebagai salah satu langkah untuk menuju ke pemahaman, karena ungkapan itu sendiri adalah semua hal yang yang secara empiris memberi hal pokok humaniora. Hal yang meliputinya antara lain, komunikasi kata-kata yang melahirkan maksud, perasaan, dan perbuatan.

Ungkapan orang lain dapat membantu dalam menyadari keadaan dirinya, tetapi masih sangat perlu dilakukan interpretasi atas ungkapan-ungkapan tersebut. Ausdruck (ungkapan) yang dimaksudkan Dilthey adalah ungkapan tentang hidup atau bisa disebut dengan ekspresi hidup, bukan ungkapan atau ekspresi yang mengacu pada limpahan emosi ataupun perasaan.

Seperti yang sudah dipaparkan dalam kajian teori tentang konsep Ausdruck (ungkapan), Dilthey membedakan Ausdruck menjadi tiga macam yaitu pertama ungkapan yang isinya telah tetap dan identik dalam kaitan manapun, kedua ungkapan tingkah laku manusia yang dituangkan melalui bahasa, dan ketiga adalah ungkapan jiwa secara spontan. Ausdruck (ungkapan) yang tampak dalam puisi ini adalah ungkapan yang pertama dan kedua. Ausdruck (ungkapan) yang ketiga tidak tampak dalam puisi ini karena, dalam puisi ini tidak ada ungkapan yang diungkapkan secara spontan atau langsung oleh ich (aku).

Ausdruck (ungkapan) yang pertama berhubungan dengan konvensi sastra. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Dilthey dalam konsep Ausdrucknya yaitu, Ausdruck yang pertama adalah ungkapan yang isinya telah tetap dan identik dalam kaitan manapun. Konvensi sastra dalam puisi adalah ucapan atau ekspresi tidak langsung yang bisa diungkapkan melalui bahasa kiasan dan pilihan kata atau diksi (Pradopo, 2010: 279).

Dalam Ausdruck yang pertama ini akan membahas menggunakan bahasa kiasan dan pilihan kata atau diksi, karena bahasa kiasan dan pilihan kata atau diksi merupakan salah satu sarana untuk membantu penyair dalam mengungkapkan maksud seperti yang telah dipaparkan di atas. Sehingga dengan menganalisis bahasa kiasan dan pilihan kata atau diksi kita dapat mengetahui dan memahami suasana batin atau ungkapan ich (aku)  dalam puisi tersebut.

Menurut (Fananie, 2002: 62), bahasa kias adalah, mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, hidup, dan dapat dipahami. Fananie (2002: 100) juga memaparkan bahwa, diksi merupakan salah satu unsur puisi yang berarti pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair untuk mengetengahkan perasaan-perasaan yang bergejolak dalam dirinya. Maka dari itu, dalam meneliti puisi ini, peneliti akan menggunakan bahasa kiasan dan diksi dalam Ausdruck yang pertama untuk lebih membantu dalam memahami puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme.

Ausdruck (ungkapan)  yang kedua dalam puisi adalah, ich (aku) yang menjadi subjek dalam puisi mengungkapkan ekspresi perasaan melalui bahasa yang dituangkan dalam puisi ini. Ich mengungkapkan semua yang ia rasakan pada saat itu melalui bahasa yang sudah mewakilkan semua perasaannya.

Dalam penelitian ini konsep Ausdruck hermeneutika Dilthey dikaji dengan cara dibagi menjadi dua bagian yang termasuk dalam konsep Ausdruck Dilthey. Pertama, dilakukan dengan cara mengklasifikasikan puisi yang terkait dengan bahasa kiasan dalam struktur puisi; Kedua akan dilakukan dengan cara mengelompokkan puisi secara per-bait kemudian peneliti menginterpretasikan ungkapan ich (aku) yang dituangkan dalam puisi. Berikut ulasan lengkapnya:


  1. Kiasan dan Diksi dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, Nietzsche 
  2. Ungkapan "Aku" dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, Nietzsche


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »