Analisis Hermeneutik Puisi Du Hast Gerufen, Herr, Ich Komme - Nietzsche

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri 


Pendahuluan


Manusia menggunakan karya sastra sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan, pengalaman, pemikiran, dan sebagainya. Semua itu dapat disimpulkan bahwa karya sastra sangat bermanfaat bagi manusia dan pembacanya. Endraswara (2008: 87) mengemukakan bahwa manusia sebagai tumpuan sastra selalu terkait dengan gejolak jiwanya. Manusia yang memiliki derajat istimewa, memiliki budi bahasa, watak, dan daya juang kejiwaan berekspresi. Gejala-gejala kejiwaan yang dapat ditangkap oleh sang pengarang dari manusia-manusia lain tersebut, kemudian diolah dalam batinnya dipadukan dengan kejiwaannya sendiri, lalu disusunlah menjadi suatu pengetahuan baru dan diendapkan dalam batin. Jika endapan pengalaman ini telah cukup kuat memberikan dorongan pada batin sang pengarang untuk melakukan proses kreatif, maka dilahirkannya endapan pengalaman tersebut dalam wahana bahasa simbol yang dipilihnya dan diekspresikan, menjadi sebuah karya sastra.


Karya sastra merupakan gambaran hasil rekaan seseorang dan menghasilkan kehidupan yang diwarnai oleh sikap, latar belakang, dan keyakinan pengarang. Pengarang adalah anggota masyarakat. Ia hidup dan berelasi dengan orang-orang lain di sekitarnya. Maka selalu dapat ditarik sifat relasi antara karya sastra dan masyarakat tempat pengarang hidup (Sumarjo, 1994: 15).


Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Pembaca dapat dengan bebas melarutkan diri bersama karya itu, dan mendapatkan kepuasan oleh karenanya, sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu karya bisa dijadikan media dakwah. Sebagai media dakwah, karya sastra merupakan elemen penting untuk membangun kepribadian yang baik bagi manusia. Karya sastra dengan medium bahasa dapat mendorong manusia untuk menjiwai nilai-nilai kerohanian, kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebudayaan.  


Berdasarkan genrenya, karya sastra dibagi menjadi tiga, yaitu Epik, Lyrik, dan Dramen. Salah satu karya sastra yang termasuk ke dalam Lyrik adalah puisi (Gedicht). Puisi berbeda dari novel, drama, dan cerita pendek. Perbedaannya terletak pada pemadatan komposisi kata yang multimakna. Kepadatan komposisi tersebut ditandai dengan pemakaian sedikit kata, namun mengungkap lebih banyak hal.


Puisi merupakan bentuk karya sastra dengan bahasa yang terpilih dan tersusun dengan perhatian penuh dan keterampilan khusus. Dalam beberapa hal, puisi merupakan bahasa yang padat dan penuh arti (Rahmanto,1988: 47). Dalam sastra tulis terdapat keindahan bahasa, yakni pemakaian bahasa yang tepat dan sempurna. Di samping itu dalam sastra tulis sering memberi banyak kemungkinan untuk menciptakan keambiguan, makna ganda, yang sering dianggap sebagai ciri khas bahasa sastra (Teeuw, 1984: 30-38). 


Secara implisit puisi sebagai bentuk sastra yang menggunakan bahasa sebagai media pengungkapnya. Teks puisi dikemas dengan kata-kata yang padat serta mengungkapkan sesuatu yang luas cakupannya. Hal ini sejalan dengan Perinne (via Siswantoro, 2010: 23), “the most condensed and concentrated form of literature” yang berarti puisi merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi.


Dapat dikatakan bahwa bahasa puisi tertata secara artistik, sehingga komposisinya terasa lebih menawan. Wujud yang artistik tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa puisi merupakan bentuk seni. Puisi yang indah atau bisa dikatakan menawan, tergantung kepada sang pengarang yang ingin mengungkapkan suatu hal dan diluapkan ke dalam puisi dari hasil karyanya. Dalam menggambarkan atau melukiskan maksud ungkapan mengenai tema puisi yang hendak disampaikan pengarang, maka perlu pemahaman terhadap puisi tersebut.


Dalam penelitian ini dikaji puisi yang berjudul Du hast gerufen – Herr, ich komme (engkau memanggil, Tuhan, kuhampiri) karya Friedrich Wilhelm Nietzsche. Nietzsche adalah tokoh pelopor Neuromantik Jerman. Tokoh-tokoh Neuromantik Jerman yang sezaman dengan Nietzsche adalah Stefan George, Hugo von Hofmannsthal, Rainer Maria Rilke, Ricarda Huch, Christian  Morgenstern, Jacob Wassermann, Hans Larossa, Börris von Münchhaussen, Inna  Seidel. Peneliti akan mengkaji puisi Friedrich Wilhelm Nietzsche karena Nietzsche paling intens membahas tema ketuhanan. Mencintai Tuhan dan memerangi Tuhan dilakukan Nietzsche dalam melahirkan sebuah karya yang puitis. Selain itu, Nietzsche adalah salah satu penyair yang semua tema-tema karya sastranya sangat memukau. Semua tema yang ia sampaikan memiliki makna yang berbeda-beda, dan karya-karya Nietzsche dapat menumbuhkan imajinasi para penikmat karya sastra Nietzsche termasuk peneliti.


Puisi ini tercipta pada saat Nietzsche berumur 18 tahun, dan dia masih bersekolah di Schulpforta dan tentu saja masih tinggal di asrama terbaik di Jerman yaitu asrama sekolah di Pforta. Pada saat awal Nietzsche tinggal di asrama tersebut pada umur 13 tahun, Nietzsche dikenal sebagai pendeta kecil karena Nietzsche terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya yang sangat religius. Tetapi pada saat Nietzsche berumur 18 tahun dia mulai meragukan imannya. Sifat remaja Nietzsche yang mudah terpengaruh mulai terlihat. Dia selalu merenungi dirinya sendiri karena dunia di sekitarnya banyak terjadi penyelewengan atau yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Keraguan Nietzsche tersebut juga dipengaruhi oleh kebiasaan ia pada saat itu. Maka dari itu dalam puisi ini Nietzsche menggambarkan kehidupan sesuai dengan kenyataannya pada saat itu.


Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme karya Friedrich Wilhelm Nietzsche diciptakan pada masa Realismus yaitu sekitar tahun 1858-1877. Karakteristik karya sastra pada masa itu adalah terdapat hubungan karya sastra dengan kehidupan yang sebenarnya. Karya sastra pada saat itu melukiskan kehidupan masyarakat pada saat itu dan memandang segala sesuatunya secara objektif tanpa melibatkan perasaan. Karya sastra tercipta sesuai dengan kenyataan pada saat masa itu.


Para sastrawan dan pengarang pada saat itu dapat diibaratkan seperti juru potret. Hasil potret tersebut umumnya persis seperti adanya. Dan para sastrawan atau pun pengarang berusaha untuk menggambarkan setiap detail objek tanpa melibatkan perasaan, pikiran, atau keinginannya ke dalam diri tokoh atau objeknya (Fananie, 2002: 53). Puisi-puisi yang ditulis pada masa itu selain Du hast gerufen – Herr, ich komme adalah Ein Spiegel ist das Leben; Dem unbekannten Gott; Am Gletscher; Der Herbst.


Ada beberapa alasan mengapa puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme yang diteliti. Pertama, dalam puisi Nietzsche tersirat bahwa Nietzsche sudah banyak mengalami tahapan pengenalan dengan Tuhannya. Dari kecintaannya yang sangat besar kepada Tuhan hingga kekecewaannya kepada Tuhan sampai memunculkan rasa perlawanan dan kebencian. Mencintai Tuhan dan memerangi Tuhan menjadi inspirasi Nietzsche untuk melahirkan sebuah karya sastra. Kedua, Nietzsche juga menyatakan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang sangat penting baginya, hingga ia dikenal atas spiritualitasnya terhadap Tuhan. Ketiga, Nietzsche adalah tokoh besar yang dikenal atas perseteruannya dengan Tuhan dan agama, bahkan dia disebut sebagai seorang atheis. Oleh karena itu, peneliti ingin lebih memahami makna puisi tersebut.


Untuk memahami makna puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme dalam penelitian ini digunakan metode hermeneutik. Ada dua langkah agar penikmat puisi mampu memahami isi teks puisi, yaitu dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik saja belum bisa memahami makna kata-kata dalam puisi, oleh karena itu untuk memfokuskan dan memperjelas makna dari puisi itu, maka pembacaan heuristik harus diulang kembali dan dilanjutkan dengan bacaan retroaktif dan ditafsirkan secara hermeneutik dan untuk memahami sebuah karya puisi, dapat digunakan salah satu pendekatan yaitu interpretasi puisi dengan penafsiran hermeneutik.


Hermeneutik dapat didefinisikan sebagai studi pemahaman karya-karya manusia (Palmer, 2005:11). Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari bahasa. Bahasa sebagaimana terwujud dalam kata-kata, kalimat, dan kesatuan gagasan merupakan objektivikasi dari kesadaran manusia tentang realitas. Dalam percakapan manusia senantiasa melakukan penafsiran secara terus-menerus. Hal ini sesuai dengan arti dari hermeneutik itu sendiri. Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan, dan yang berasal dari kata hermeneia yang berarti tafsir. Dalam tradisi Yunani kuno kata hermeneuin dan hermeneia dipakai dalam tiga makna yaitu, mengatakan, menjelaskan, dan menterjemahkan.


Beberapa tokoh pencetus hermeneutik adalah Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher; Wilhelm Dilthey; Hans-Georg Gadamer; Jürgen Habermas. Dalam diskusi-diskusi tentang filsafat dan teologi, digunakan oleh Schleiermacher di bidang hermeneutik ini. Gadamer dalam bidang hermeneutik adalah sebagai penulis kontemporer. Pengetahuan dan minat manusia digunakan Habermas dalam bidang hermeneutik ini. Dilthey sangat dikenal di bidang hermeneutik dengan riset historisnya yang meliputi Erlebnis ( pengalaman yang hidup), Ausdruck (ungkapan), Verstehen (pemahaman).


Martin Heidegger mengindikasikan bahwa “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan model fondasional keberadaan manusia. Schleiermacher dan Dilthey juga melihat bahwa hermeneutik sebagai prinsip-prinsip umum yang mendasari interpretasi. Gadamer juga mengorientasikan pikirannya pada pertanyaan yang lebih filosofis tentang apa pemahaman itu sendiri. Dia menyatakan dengan pendirian yang sama bahwa pemahaman adalah tindakan historis dan selalu terkait dengan masa sekarang.


Dilthey menegaskan prinsip-prinsip hermeneutika dapat menyinari cara untuk memberikan landasan teori umum pemahaman, karena yang sangat penting perenggutan struktur hidup tersebut didasarkan pada interpretasi karya, karya di mana tekstur hidup dapat terekspresikan sepenuhnya. Dengan demikian, bagi Dilthey, hermeneutika menempati signifikansi baru dan lebih besar. Hermeneutik menjadi teori yang tidak semata-mata interpretasi teks namun bagaimana hidup mengangkat dan mengekspresikan dirinya dalam karya (Palmer, 2005: 129).


Konsep-konsep yang digunakan Dilthey di bidang hermeneutik adalah interpretasi data dan riset historis. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teori dari Wilhelm Dilthey. Seperti yang diketahui bahwa Dilthey sangat terkenal dengan riset historisnya. Dilthey membagi riset historis menjadi tiga bagian yaitu, Erlebnis (pengalaman yang hidup), Ausdruck (ungkapan), Verstehen (pemahaman).


Tinjauan Teori

  1. Hakikat dan Struktur Puisi 
  2. Hermeneutik menurut Para Tokoh 
  3. Hermeneutik Wilhelm Dilthey 

Pembahasan
  1. Erlebnis dalam Puisi Du Hast Gerufen, Herr, Ich Komme - Nietzsche 
  2. Ausdruck dalam Puisi Du Hast Gerufen, Herr, Ich Komme - Nietzsche 
  3. Verstehen dalam Puisi Du Hast Gerufen, Herr, Ich Komme - Nietzsche
Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian analisis hermeneutika Wilhelm Dilthey dalam puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme karya Friedrich Wilhelm Nietzsche dapat disimpulkan sebagai berikut:


a. Pembacaan Heuristik Dalam Puisi Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme.

b. Konsep Erlebnis Menurut Hermeneutik Dilthey pada Puisi Du Hast Gerufen– Herr, Ich Komme terdiri dari:

1.  Pengalaman Hidup Friedrich Wilhelm Nietzsche

Pengalaman hidup Friedrich Wilhelm Nietzsche yang sejak kecil berada di lingkungan yang sangat kental dengan agama, sehingga membuatnya tumbuh menjadi anak yang tat pada agama. sampai saat ketika ia tumbuh menjadi remaja dan bersekolah di asrama sekolah Schulpforta. Pada saat di Schulpforta Nietzschepun mendapatkan pengalaman-pengalaman yang baru dan berpengaruh bagi kehidupannya. Pengalaman hidup Friedrich Wilhelm Nietzsche ini juga berpengaruh dalam latar belakang terciptanya puisi Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, karena Friedrich Wilhelm Nietzsche adalah sebagai pengarang puisi tersebut, dan untuk membantu konsep hermeneutik Dilthey yang selanjutnya.

2.  Sejarah Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme Ditinjau dari Pengalaman

Hidup Friedrich wilhelm Nietzsche Terciptanya puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme tentu saja tidak luput dari pengalaman hidup penciptanya yaitu Friedrich Wilhelm Nietzsche.
Puisi tersebut tercipta pada saat Nietzsche bersekolah di Schulpforta. Sekolah yang disiplin, berwawasan, dan juga mengutamakan Tuhan. salah satu faktor faktor yang mempengaruhi terciptanya puisi ini yaitu, Nietzsche yang sempat merasa ragu dengan imannya mulai sadar karena kegiatankegiatan di Schulpforta yang membuatnya kembali mengingat Tuhan. Sejarah Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme ini juga sangat berpengaruh untuk proses pemahaman konsep hermeneutik Dilthey selanjutnya.

c. Konsep Ausdruck Menurut Hermeneutik Dilthey Pada Puisi Du hast gerufen– Herr, ich komme dibagi menjadi dua bagian yaitu:


1. Bahasa Kiasan dan Diksi Dalam Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme.

Bahasa kiasan dan pilihan kata atau diksi digunakan untuk membantu memahami puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme.

2. Ungkapan Ich (aku)  Dalam Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme

Ungkapan Nietzsche yang dalam puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme digambarkan oleh ich (aku). Ich (aku) yang mengungkapkan tentang semua kesalahan-kesalahan yang telah ia kerjakan. Kesalahan yang membuatnya jauh dengan Tuhan. Ich (aku) juga mengungkapkan kesadaran dan pertaubatannya kepada Tuhan, dan ia menginginkan untuk kembali ke jalan Tuhan.

d. Konsep Verstehen Menurut Hermeneutik Dilthey Pada Puisi Du hast gerufen– Herr, ich komme terdiri dari:


1. Keraguan Friedrich Wilhelm Nietzsche Terhadap Tuhan Yang Digambarkan Oleh Ich (aku) dalam Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme. Kejadian yang dialami oleh ich (aku) dalam puisi menggambarkan kehidupan Nietzsche pada saat ia berada di Schulpforta dan saat ia menciptakan puisi tersebut. Nietzsche yang mulai ragu dengan keimanannya, dan mulai merasa jauh dengan agamanya dipengaruhi dengan berbagai faktor. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhinya antara lain adalah disebabkan oleh pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan yang ia peroleh saat berada di Pforta.


2. Pertaubatan Friedrich Wilhelm Nietzsche Terhadap Tuhan Yang Digambarkan Oleh Ich (aku) dalam Puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme. Kejadian yang dialami oleh ich (aku) dalam puisi menggambarkan penyesalan dan pertaubatan Nietzsche kepada Tuhannya. Penyesalan dan pertaubatan Nietzsche tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktorfaktor yang mempengaruhinya antara lain, kegiatan-kegiatan beribadah di Schulpforta yang diatur sangat ketat, membuatnya sadar dan kembali mengingat Tuhannya, kondisi kesehatan Nietzsche yang mulai memburuk membuatnya pasrah dan ingin kembali ke jalan Tuhan. Pertaubatan Nietzsche juga ditunjukan dalam karyanya yang ia ciptakan pada tahun berikutnya dan ia beri judul Jetzt und ehedem (sekarang dan dulu). Inti dari puisi Jetzt und ehedem (sekarang dan dulu) adalah, Nietzsche merasa menyesal karena perbuatannya yang membuat ia jauh dari Tuhan, karena ia mengingat bagaimana kehidupannya pada masa kecil. Kehidupan yang kental dengan ajaran agama, dan lingkungan  yang sangat dekat dengan Tuhan.



Daftar Pustaka

Buku dan Skripsi
Altenbernd, Lynn dan Lislie L. Lewis. 1970. A Handbook for The Study of Poetry. London: Collier-Macmillan Ltd.

Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Apriliani, Cici. 2010. Menelusuri Makna Puisi Prometheus Karya Johann Wolfgang von Goethe melalui analisis semiotika Riffaterre – skripsi. Yogyakarta. UNY.

Badrun, Ahmad. 1989. Teori Puisi. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi PPLPTK.

Damshäuser, Berthold; Sarjono, Agus R. 2010. Nietzsche Syahwat Keabadian. Depok: Komodo Books.

Diyas, Pras Dwi. 2011. Konsep Bildung Dan Sensus Communis Dalam Puisi von Der Armut Des Reichsten Karya Friedrich Wilhelm Nietzsche : Kajian
Hermeneutika Gadamer – skripsi. Yogyakarta. UNY.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta:
MedPress (Anggota IKAPI).

__________________. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Faruk. 1996. “Aku” dalam Semiotik Riffaterre, Semiotik Riffaterre dalam “Aku”. (Hand Out Bahan Perkuliahan Ilmu Humaniora UGM).

Gadamer, Hans Georg. 2010. Truth and Method. (Terjemahan dalam Bahasa  Indonesia oleh Ahmad Sahidah) Kebenaran dan Metode. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Hadi, Abdul. 2008. Hermeneutika Sastra Barat dan Timur . Jakarta: Depdiknas.

Härkotter, Heinrich. 1971. Deutsche Literaturgeschichte. Darmstad: Winklers Verlag.

Keraf, Gorys. 1984. Diksi Dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

___________.1996. Diksi Dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Marquaβ, Reinhard. 2000. Gedichte Analysieren. Berlin: Dudenverlag.

Muhammad Muslih. 2004. Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar Yogyakarta.

Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. (Terjemahan dalam bahasa Indonesia olehMusnur Hery dan Damanhuri Muhammed) Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyarta: Gadjah Mada  University Press.

____________________. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada  University Press.

____________________. 2001. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada  University Press.

Priyanto, Supriyo. 2001. Wilhelm Dilthey: Peletak Dasar Ilmu-Ilmu Humaniora.
Semarang: Bendera.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius. 

Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Teori, Metode, Dan Tekhnik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rizali, Ahmad. 2009. Dari Guru Konvensional Menjadi Guru Profesional. Balikpapan: Grasindo.

Strathern, Paul. 2001. Nietzsche in 90 minutes. (Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Franz Kowa) 90 Menit Bersama Nietzsche. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sitompul, H, F. 1954, Bentuk dan Isi Sastra dalam Bahasa Indonesia, Jakarta: Soeroengan.

Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Umum Grafiti.

Sumarjo, Yakob. 1994. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV. Nur Cahaya.

Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik. Yogyakarta: Kanisius.

____________. 2000. Hermeneutik. Yogyakarta: Kanisius.

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.

Teeuw, A.  1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Web
http://www.gedichte.com/gedichte/Friedrich_Nietzsche/Du_hast_gerufen_%C2%
96_Herr,_ich_komme diakses pada tanggal 18 November 2011, pukul 11.50.

http://arbeitsblaetter.stangltaller.at/ERZIEHUNGSWISSENSCHAFTGEIST/Herm eneutikDilthey.shtml diakses pada tanggal 17 Maret 2012, pukul 13.25.

http://www.pohlw.de/literatur/epochen/realisme.html diakses pada tanggal 15 Maret 2012, pukul 12.35.

____
Sumber: Analisis Hermeneutik Wilhelm Dilthey Dalam Puisi Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme karya Friedrich Wilhelm Nietzsche, Skripsi: Kistiriana Agustin Erry Saputri, Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, 2012

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »