Verstehen dalam Puisi Du Hast Gerufen, Herr, Ich Komme - Nietzsche

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri

3. Verstehen dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, Nietzsche

Pada dasarnya pengertian Verstehen adalah proses untuk mengenal jiwa melalui pengalaman hidupnya dan maksud yang telah diungkapkannya. Hal ini yang diterapkan dalam tiga konsep inti hermeneutik Dilthey yaitu, Erlebnis (pengalaman yang hidup), Ausdruck (ungkapan), Verstehen (pemahaman). Melalui pengalaman yang dikombinasikan dengan interpretasi terhadap ekspresi atau ungkapan, seseorang dapat menemukan suatu sistem pola berantai. Sistem pola berantai disebut dengan eksplorasi masa lalu manusia dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan, moral, seni, puisi, agama, dan filsafat.

Eksplorasi masa lalu membawa Dilthey untuk membahas filsafat sejarah yang diarahkan untuk memahami manusia dan memancing munculnya kesadaran manusia sendiri. Dalam sejarah cara memahami dengan lebih mendalam menunjukkan pola-pola atau hubungan-hubungan yang memberi makna pada pengalaman dan hidup kita (Sumaryono, 1999:48).

Rekonstruksi peristiwa atau dapat disebut dengan proses menghidupkan kembali dilakukan dengan proses hubungan sebab-akibat. Rekonstruksi peristiwa dapat berarti mengaktifkan kembali segala peristiwa yang ada dengan bantuan data yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Pembuktian kebenaran suatu peristiwa, biasanya dilakukan para sejarawan dengan cara harus meneliti banyak bahan atau data yang sesuai dengan sebuah peristiwa.

Pemahaman erat kaitannya dengan Erlebnis, sebab tidak ada pemahaman lahir tanpa bentuk-bentuk pengalaman hidup dan tidak ada pengalaman hidup yang tidak diperuntukkan bagi pemahaman. Ausdruck (ungkapan) dan Erlebnis (pengalaman yang hidup) adalah landasan bagi pemahaman. Cara kerja dari pemahaman itu sendiri adalah dengan cara menyingkap makna atu dapat disebut dengan rekonstruksi peristiwa dari ungkapan dan Erlebnis. Konsep verstehen (pemahaman) didapat dari rekonstruksi peristiwa, dengan cara menggabungkan  konsep Erlebnis dan konsep ausdruck, karena basis dari teori ini adalah konsep verstehen (understanding, mengerti, memahami).

Berikut ini adalah kesimpulan yang didapat dari penggabungan konsep Ausdruck dan konsep Erlebnis dalam puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme Karya Friedrich Wilhelm Nietzsche:

Bait ke-1

Dalam konsep ausdruck telah dijelaskan bahwa ich (aku) mengungkapkan jika ia telah mendapat hidayah dan ia juga merindukan kembali ke aturan Tuhan. Ich (aku)  juga mengungkapkan tentang bagaimana kasih sayang Tuhan dan perhatian Tuhan yang diberikan kepada umatNya. Dari pemaparan kesimpulan konsep ausdruck bait pertama ini, dapat digabungkan dengan kesimpulan konsep Erlebnis yaitu, Nietzsche pada saat tinggal di asrama sekolah yakni Schulpforta, dimana asrama sekolah tersebut berlingkungan dan bernuansa religius, dimana ia harus mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian.

Lingkungan yang dapat mempengaruhi kehidupan Nietzsche pada saat itu. Konsep verstehen yang dapat dipahami dari penggabungan kesimpulan konsep ausdruck dan Erlebnis pada bait pertama adalah, ich (aku) yang menggambarkan Nietzsche, telah mengungkapkan tentang hal-hal yang diberikan Tuhan kepada umatNya. Ich (aku) sangat mengetahui bagaimana keagungan Tuhan dan apa saja yang telah Tuhan perintahkan kepada umatNya. Hal itu dikarenakan Nietzsche yang digambarkan oleh ich (aku) berada di lingkungan religius, lingkungan yang sangat mempengaruhi bagi kehidupannya. Lingkungan yang mengajarkan tentang apa saja yang berkaitan dengan Tuhan dan apa saja yang telah diperintahkan Tuhan kepada umatNya.

Bait ke-2
Konsep ausdruck pada bait kedua dapat disimpulkan, ich (aku)  telah mengungkapkan bahwa ia pernah merasa jauh dari ajaran-ajaran Tuhan. Ia merasa tersesat, tersesat ke jalan yang tidak sesuai dengan jalan Tuhan. Ich (aku) juga mengungkapkan akibat-akibat yang akan diberikan Tuhan kepada umatNya, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh umatNya. Selanjutnya adalah kesimpulan dari konsep Erlebnis yaitu, pada saat di Pforta Nietzsche mulai kagum dengan karya klasik dan kejeniusan pengarang Yunani. Ia juga sangat gemar membaca buku sejarah, karya sastra, dan filsafat.

Pada saat itu pemikiran-pemikiran Nietzsche juga sangat dipengaruhi oleh tokoh literatur kuno seperti Plato, Shakespeare, Jean Paul. Kehausan Nietzsche terhadap pengetahuanlah yang membuatnya menjadi ragu akan keimanannya dan membuatnya jauh dari Tuhan. Akan tetapi kembali lagi dengan lingkungan tempat tinggal Nietzsche pada saat itu yakni, Schulpforta. Lingkungan yang mempengaruhi kepribadian Nietzsche menjadi pribadi yang religius.

Dari kesimpulan konsep ausdruck dan Erlebnis pada bait kedua tersebut dapat dipahami untuk konsep verstehen. Bahwa ich (aku)  yang menggambarkan Nietzsche mengungkapkan tentang ketersesatan yang pernah ia alami pada saat itu. Ketersesatan yang melenceng dari ajaran Tuhan. Ketersesatan yang akan membawanya ke dalam kesengsaraan hidup. Ich (aku) juga mengungkapkan bahwa Tuhan tidak akan pernah merasa lelah untuk mengingatkan para umatNya walau bagaimanapun keadaan umat tersebut.

Hal tersebut juga dialami Nietzsche yang digambarkan oleh ich (aku)  pada saat ia merasa sangat haus akan pengetahuan. Pada saat pemikiran Nietzsche dipengaruhi oleh tokoh-tokoh literatur kuno. Faktor inilah yang membuat Nietzsche menjadi salah satu orang yang melupakan akan Tuhannya. Tetapi di sisi lain Nietzsche juga mempunyai kepribadian yang religius, kepribadian yang terbangun saat di Schulpforta. Hal ini membuat Nietzsche lebih berfikir untuk berpaling dengan Tuhan dan memutuskan untuk kembali mengingat Tuhan, karena pada dasarnya Nietzsche di didik dan dibiasakan hidup dengan latar yang religius.

Bait ke-3
Kesimpulan ungkapan ich (aku) dalam konsep ausdruck pada bait ketiga adalah, ich (aku) mengungkapkan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat selama ini. Penyesalan yang membawa ich (aku) pada pertaubatan, pertaubatan yang ditujukan kepada Tuhan agar dapat merasakan kembali kasih sayang Tuhan. Kesimpulan konsep Erlebnis pada bait ketiga memaparkan bahwa di masa muda Nietzsche, sudah mengalami sakit-sakitan. Sakit yang sering kambuh dan belum dimengerti penyebabnya.

Konsep verstehen yang dapat dipahami dari konsep ausdruck dan Erlebnis pada bait ketiga adalah, ich (aku) yang menggambarkan Nietzsche telah mengungkapkan tentang penyesalan. Penyesalan akan dosa-dosa yang pernah ia perbuat. Penyesalan-penyesalan tersebut dapat dikaitkan dengan  konsep Erlebnis yakni, pada saat itu Nietzsche yang digambarkan oleh ich (aku) sudah mempunyai penyakit yang belum diketahui penyebabnya dan penyakitnya itu sering kambuh sewaktu-waktu.

Karena penyakit yang diderita oleh Nietzsche, membuatnya ingin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Penyakit yang dimilikinya itu membuatnya takut dan sadar akan kematian. Hal tersebut yang juga menjadi faktor Nietzsche untuk bertaubat, kembali ke jalan yang telah diatur oleh Tuhan. Jalan yang akan membawanya ke dalam dekapan Tuhan, jalan yang penuh dengan kebaikan dan pahala.

Bait ke-4
Ungkapan ich (aku) dalam konsep ausdruck pada bait keempat dapat disimpulkan bahwa, ich (aku)  menyampaikan segala permohonannya kepada Tuhan. Melalui do’a ia memanjatkan semua keinginannya dan berharap untuk dikabulkan oleh Tuhan. Ia juga mengungkapkan kembali keinginannya untuk dapat lebih mendekati Tuhan, agar dapat lebih merasakan cinta Tuhan.
 Pada kesimpulan konsep Erlebnis bait keempat, lebih kepada pengetahuan Nietzsche tentang Tuhan. Tentang kebaikan-kebaikan yang dimiliki Tuhan. pengetahuan Nietzsche tersebut tentu saja dilatarbelakangi dengan kehidupannya. Pertama, kehidupan masa kecil Nietzsche yang dikelilingi dan dilatarbelakangi oleh keluarga yang sangat religius. Begitu juga pada saat Nietzsche hidup di Schulpforta, di tempat ini juga ia dibiasakan dengan kebiasaan yang bertujuan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Konsep verstehen yang dapat dipahami dari hasil kesimpulan konsep ausdruck dan Erlebnis pada bait keempat adalah, ich (aku)  yang menggambarkan Nietzsche telah mengungkapkan tentang semua kebaikan-kebaikan yang Tuhan miliki. Selain itu ia juga mengungkapkan tentang do’a yang telah ia panjatkan, do’a yang sangat ia harapkan untuk dapat dikabulkan. Do’a yang menginginkan kedekatannya dengan Tuhan menjadi lebih erat. Ungkapan-ungkapan ini berkaitan dengan latar belakang kehidupan Nietzsche yang digambarkan oleh ich (aku).

Latar belakang kehidupan Nietzsche yang sangat erat hubungannya dengan Tuhan. Mengerti semua yang ada pada Tuhan, salah satunya kebaikan-kebaikan Tuhan yang senantiasa ia limpahkan untuk para umatNya. Latar belakang yang membuatnya percaya bahwa hanya Tuhanlah yang dapat mengabulkan semua permohonan umatNya. Hanya Tuhanlah yang menjadi maha dari segala maha.

Setelah memahami konsep Erlebnis dan ausdruck dalam puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme, peneliti dapat merekonstruksi kembali peristiwa di saat Nietzsche menciptakan puisi tersebut. Dengan merekonstruksi peristiwa, peneliti akan dapat memahami puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme secara hermeneutik. Dalam penelitian ini, hasil dari penggabungan-penggabungan kesimpulan konsep ausdruck dan konsep Erlebnis pada puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan menjadi dua tema besar, yakni: Keraguan dan Pertobatannya pada Tuhan sebagai berikut:

Keraguan dan Pertobatan Nietzsche pada Tuhan

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »