Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (1) - F. Rahardi

ADMIN SASTRAMEDIA 6/30/2019
oleh F. Rahardi
Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (1)

SASTRAMEDIA.COM - Kesan utama yang segera timbul sehabis baca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Gramedia, Jakarta 1982) adalah adanya sebuah latar (setting) yang sangat bagus. Latar tersebut berbentuk suasana alam pedesaan dengan lingkungan flora serta faunanya dan Ahmad Tohari berhasil melukiskannya dengan bahasa yang bagus dan menarik. Kesan yang begitu mendalam terhadap latar tersebut juga lebih diperkuat lagi oleh tidak terlalu luar biasanya unsur-unsur lain seperti kerangka cerita, tema, alur, karakter, tokoh, dan lain-lain. 

Komentar terhadap latar yang cukup bagus tersebut ternyata sangat dominan pada setiap pembicaraan terhadap Ronggeng Dukuh Paruk, baik dalam pembicaraan lisan maupun tulisan. Sayang sekali, bahwa ternyata dalam latar yang kuat dan bagus tersebut tersembunyi cacat yang sangat fatal, berupa kesalahan, penamatan yang kurang cermat maupun keteledoran.

Tak pelak lagi, Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel realis. Artinya, karya fiksi tersebut berangkat dari peristiwa-peristiwa yang dapat, bahkan lazim terjadi di masyarakat dan penulis berusaha untuk melukiskannya dengan gaya sepersis mungkin meskipun di sana-sini ada yang agak didramatisir. Dalam situasi seperti ini, kesalahan, kejanggalan dan kekurang-cermatan tentu akan mengganggu. 

Lain halnya dalam karya fiksi yang sifatnya satiris, surealis atau absurd. Dalam keadaan seperti ini, penjungkir-balikan fakta atau unsur-unsur yang terdapat dalam fiksi merupakan sesuatu yang sah. Kesepakatan seperti ini tidak hanya melulu monopoli sastra atau dunia perfiksian. Dalam seni lukis, drama dan lainnya. Ini juga ada kesepakatan serupa.

Berikut ini kami akan memaparkan kesalahan, kejanggalan, serta kekurangan-cermatan Ahmad Tohari dalam karyanya tersebut. Dengan pertimbangan bahwa apabila saya melakukan kutipan karya asli maka tulisan ini akan menjadi sangat panjang, maka dalam kesempatan ini saya hanya menyebut halaman serta alinea lalu langsung ke permasalahan yang akan dibahas. 

Saya mulai dari bagian pertama novel, hal 5 alinea II. Di sini penulis menyebut bahwa "kerokot” adalah tumbuhan jenis kaktus yang hanya muncul di sawah pada saat kemarau berjaya. Itu tidak betul. Kerokot yang tumbuh di sawah dukuh paruk itu nama latinnya Alternanthera sesilis atau disebut "keremek" atau ”keramak”. Tumbuhan ini termasuk famili bayam-bayaman (Amaranthaceae) yang jauh sekali berbeda dengan kaktus yang merupakan sub-famili dari sekulen (Succulentus) yang kesemuanya berasal dari benua Amerika (Pereskieae, Opuntieae dan Cereeae atau Cacteae). Ini merupakan suatu kesalahan yang cukup fatal untuk ukuran seorang novelis yang pernah memenangkan hadiah Sayembara Penulisan Roman DKJ dan untuk penerbit Gramedia.

Kesalahan kedua masih ada di halaman 5 alinea selanjutnya. Penulis melukiskan bagaimana ganasnya burung alap-alap memangsa pipit dengan cara mengejar lalu menggigit menggunakan paruh. Padahal semua jenis burung ordo Falcoiformes selalu menangkap mangsanya dengan menggunakan cakar dan dengan cara menyambar. Jelas dalam hal ini penulis malas untuk membuka-buka referensi. Alasan bahwa perubahan peringai alap-alap tersebut adalah untuk tujuan mendramatisir suasana tentunya kurang kena.

Lanjut: Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »