Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (5) - F. Rahardi

ADMIN SASTRAMEDIA 6/30/2019
oleh F. Rahardi
Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (5)

SASTRAMEDIA.COM - Selanjutnya di halaman 87, penulis juga menunjukkan ketidak-akrabannya terhadap musim dan serangga. Dia menyebut: ”Langit pekat meski hujan belum lagi turun. Selagi tanah basah, jengkerik dan gangsir malas berbunyi. Orong-orong menggantikannya.” Ini memang musim hujan, tetapi kalau ada kalimat: Hujan belum lagi turun lalu disambung selagi tanah basah tentunya kalimat jadi rancu. Lagipula, jengkerik dan gangsir itu bertelurnya memang di musim kemarau dan menetasnya di musim hujan. Jadi, di awal musim hujan tersebut memang belum ada jengkerik serta gangsir yang dapat berbunyi karena sayapnya memang belum tumbuh. Yang tua-tua tentunya sudah habis. Juga jengkerik dan gangsir itu berbunyinya memang jauh lebih malam daripada orong-orong yang mulai ”ngentir” di saat maghrib. Soalnya rangsangan untuk berbunyi itu datangnya dari perubahan suhu udara. Orong-orong sudah mau berbunyi dengan sedikit saja penurunan suhu udara, sementara untuk gangsir dan cengkerik harus cukup banyak penurunan suhu udara.

Di halaman 102 penulis menyebut ada kadal (bengkarung) yang nyelonong begitu saja lalu melahap capung yang lagi hinggap di tanah. Ada dua kejanggalan. Kadal tidak pernah mengejar mangsanya dengan tergesa-gesa dan capung hidupnya dekat air serta tidak pernah hinggap langsung di tanah. Minimal hinggapnya di rumput. Jadi adegan kadal ini nampak sekadar tempelan. Logikanya, kalau Rasus, dan Srintil ada di kuburan yang banyak pohon-pohon besarnya, mereka itu kejatuhan tahi burung atau pantatnya digigit semut.

Barangkali puncak dari kecerobohan penulis adalah di halaman 51 dan 106. Di halaman 51 dia menyebut adanya semut "burangrang”. Semut burangrang itu tidak ada. Yang ada semut ngangrang (Jawa) rangrang (Sunda) atau kerengga (Indonesia) yang nama ilmiahnya Oecophylla smaragdina. Lalu apa pula itu, burangrang? Itu nama gunung di kawasan Priangan (tinggi 2.064 m). Ini barangkali masih kalah dengan di halaman 106. Penulis menyebut di sore hari (menjelang maghrib) ada bianglala di langit Barat. Mestinya kan di Timur? Ini menurut Pak Guru SD.

Masih banyak memang kejanggalan-kejanggalan yang saya temukan tapi tentunya tak dapat semuanya dibahas di sini. Sebab kalau semuanya dibahas, bahasan tersebut salah-salah akan jadi sebuah novel tersendiri. Tentu saja penulis punya hak untuk berdalih, bahwa ini karya sastra atau fiksi yang merupakan hasil imajinasi belaka. Jadi boleh tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalih tersebut tentunya sah apabila penulis, seperti telah saya sebut di atas, memang sengaja membuat kejanggalan dan kesalahan demi efek humor, satir, surealis atau absurd. 

Pada karya yang realis, ketelitian dan ketepatan data mutlak perlu. Hemingway adalah contoh yang paling mudah. The Old Man and The Sea sungguh merupakan pameran latar yang bagus, menyatu, utuh dan juga tepat. Dia tentu tak hanya sekadar berimajinasi atau sesekali ikut mancing tapi pasti mengadakan riset lama. Ini terbukti dari pelukisannya yang sungguh sangat natural tentang seluk-beluk kehidupan pemancing di laut.

Tapi tentu saja Ahmad Tohari tak harus berkecil hati meskipun di masa mendatang lebih dituntut untuk berhati-hati. Anda tidak sendirian. Y.B. Mangunwijaya dengan Burung-Burung Manyar-nya yang banyak dipuji-puji bahkan memenangkan hadiah Asia Tenggara itu pun ternyata tak luput dari cacat fatal meski tidak banyak. Antara lain dia menyebut amben sebagai panggung. Padahal amben itu balai-balai (ranjang) yang terbuat dari bambu. Burung ketilang dia sebut makan wijen. Padahal burung ini bukan pemakan biji-bijian. Ketilang hanya makan buah-buahan dan serangga. Ada juga adegan membidikkan pelanting atau ketapel sambil memanjat pohon. Padahal itu sangat sulit untuk dilakukan. Yang paling fatal, Romo Mangun menyebut wijen sebagai butiran kecil semacam buah rumput. Yang betul wijen itu tumbuhan yang masuk famili biji-bijian dan bukan rumput-rumputan. Nampaknya Romo Mangun dalam hal ini telah bersusah-payah membuka Ensiklopedia Umum terbitan Yayasan Kanisius (1977). Tapi apa lacur, diskripsi tentang wijen dalam Ensiklopedia tersebut ternyata salah. Di situ wijen juga disebut sebagai rumput-rumputan. Memang, untuk menghasilkan karya yang prima, kita tidak hanya dituntut agar bersemangat menggebu-gebu tapi juga bersikap teliti dan mau bekerja keras. Sayang, sastrawan kita umumnya mau cepat melejit lalu hantam kromo begitu saja.***

>Sumber: Horison, Nomor 1 tahun 1984


Baca juga tanggapan Ahmad Tohari: Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »