Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (3) - F. Rahardi

ADMIN SASTRAMEDIA 6/30/2019
oleh F. Rahardi
Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (3)

SASTRAMEDIA.COM - Sekarang pindah ke halaman 15 alinea I. Penulis menyebut bahwa karbohidrat yang terkandung dalam singkong kering itu telah banyak rusak hingga anak-anak tak cukup kalori. Karbohidrat dan kalori singkong kering itu justru tinggi. Kalau si singkong rusak atau sengaja dirusak (dibuat leye dan gatot) justru malah lebih mudah dicerna oleh mulut maupun perut. Lain halnya kalau Ahamad Tohari mau bicara soal gizi, yang bukan melulu menyangkut karbohidrat atau kalori tapi juga protein, lemak, vitamin dan mineral. Jangankan singkong kering, singkong segar pun kandungan lemak serta proteinnya sangat rendah yakni 0'45 dan 0,19 %.

Lalu darimana orang-orang dukuh Paruk mendapatkan lemak protein, vitamin dan mineral? Tentunya dari tempe bongkrek yang digoreng dan sayuran. Tapi soal tempe bongkrek pun penulis telah membuat kesalahan yang cukup fatal. Di halaman 30 sampai dengan 39 penulis menceritakan adegan orang-orang yang sekarat karena keracunan tempe bongkrek. Yang dilukiskan oleh penulis, para korban tersebut (termasuk Santayib yang sengaja makan tempe buatannya sendiri), seperti mabuk alkohol. Nafas mereka memburu, mata mereka melotot dan sebagainya. Padahal salah satu akibat racun bongkrek adalah terhambatnya pembentukan Adenosine Triphosphat (ATP) yang setelah diubah menjadi Adenosine Diphosphat (ADP) akan menghasilkan energi untuk gerakan otot dan lain-lain. Dengan terhambatnya pembentukan ADP, si korban cenderung seperti lumpuh, mata sulit dibuka (kelopak mata menggantung) dan juga sesak nafas. 

Kalau sekiranya Ahmad Tohari belum pernah menyaksikan sendiri bagaimana keadaan orang keracunan tempe bongkrek, tentunya dituntut untuk tanya sana-sini atau rajin membukabuka referensi.

Masih tentang tempe bongkrek, di halaman 49 alinea I penulis membayangkan bagaimana orang-orang pandai ingin tahu tentang pengaruh racun bongkrek terhadap jantung, sel-sel otak serta bagaimana si racun membunuh sel-sel darah merah. Teka-teki bongkrek memang baru dapat dipecahkan dengan pasti tahun 1973 oleh Prof. Lijmbach dari negeri Belanda, tapi para ahli, di tahun terjadinya Ronggeng Dukuh Paruk tentu tidak pernah berpikir bahwa racun bongkrek itu kerjanya sama dengan kerja Plasmodium malaria.

Lanjut: Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (4)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »