Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (2)

oleh F. Rahardi
Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (2)

SASTRAMEDIA.COM - Masih soal satwa, kali ini menyangkut katak dan kodok. Di halaman 25 alinea V dan halaman 88 alinea I, penulis menceritakan bahwa kodok adalah bangsa reptil, yang setelah malamnya kawin paginya akan nampak telurnya. Juga disebutkan bahwa suara katak pohon lebih jarang, atau tak sesering katak dan kodok hijau. Semua itu tidak betul. Kodok itu termasuk golongan amfibi. Yang masuk reptil adalah buaya, penyu, biawak, ular dan lain-lain. Cara kawin kodok juga seperti ikan. Artinya begitu mereka kawin, si betina mengeluarkan telur sementara si jantan memuncratkan sperma. Telur dan sperma ketemu di air di luar tubuh mereka. Jadi alat kelamin mereka tak saling masuk seperti pada reptil atau mamalia. 

Artinya pada saat mereka kawin itu telur sudah ada. Juga tidak benar bahwa katak pohon (Rana rhacopharos) bersuara lebih jarang daripada kodok atau katak hijau. Soalnya semua jenis rana (katak pohon, katak hijau, katak sawah, katak rawa dan katak batu serta rana-rana lain dari luar negeri), suaranya memang keluar dengan tenggang waktu terutama yang jantan. Yang bersuara ribut tak berkeputusan adalah bufo alias bangkong.

Masih tetap soal satwa, sekarang yang mendapat giliran adalah kelelawar. Di hal 14 alinea II penulis menyebut adanya kelelawar dan kalong serta kampret yang makan daun waru lantaran tak ada buah dan serangga. Sebenarnya, "'kelelawar” adalah nama umum untuk ordo Chiroptera yang di tanah air kita ada tiga:

Pertama kalong (Pteporus vampirus) yang paling besar dan makan buah-buahan, kedua codot (Pteporusedulis) yang lebih kecil dan juga makan buah-buahan yang ketiga kampret (Microchiroptera) yang hanya makan serangga. Jadi kalau kampret ada di daun waru, Itu untuk makan serangga entah semut entah apa dan bukan untuk mengganyang daun tersebut.

Untuk lebih menegaskan pada para pembaca bahwa penulis betul-betul akrab dengan lingkungan pedesaan, di hal 6 alinea II dan III diceritakan bagaimana caranya tanaman kapuk dan dadap menyebarkan jenisnya ke tempat yang jauh dengan bantuan angin. Tapi yang nampak justru kesan bahwa penulis kurang akrab dengan lingkungannya. Tentang pohon randu penulis menyebut bahwa setelah buah menghitam, lalu pecah dan isinya (kapuknya) berhamburan kena angin. Yang betul adalah, kalau baru berwarna hitam, kapuk atau randu itu belum pecah karena ini baru fase masak. Setelah kering dan berwarna coklat, baru kulit tersebut pecah lalu jatuh.

Nah, pada saat itu si kapuk telanjang demikian, matahari mengembangkannya lalu menghamburkannya ke mana-mana, ada atau tidak ada angin. Itu tentang randu, sekarang tentang dadap. Ahmad Tohari hanya menyebut bahwa dadap memilih cara yang sama untuk penyebaran jenisnya, yakni dengan menggunakan kulit polongnya yang dapat terbang seperti baling-baling. Padahal yang bisa demikian ini hanyalah dadap serep yang tidak berduri (Erythrina sumbummrans), dadap ayam atau dadap duri (Erythrina orientalis) lain lagi sebab polongnya mirip buncis.

Sekarang ganti tentang singkong. Di halaman 1 alinea IV, penulis berusaha mendramatisir suasana. Tiga orang anak kecil tidak kuat mencabut singkong di tanah kapur yang kering membatu. Baru setelah dikencingi beramai-ramai maka singkong tersebut dapat dicabut. Sungguh fantastis. Orang Gunung Kidul serta Wonogiri pasti akan ketawa membaca kisah demikian. Tanah kapur itu senantiasa remah dan mudah hancur baik di musim penghujan maupun kemarau. Dan ingat, lapisan tanah subur di tanah kapur itu hanya terpendam dangkal sekali. Logikanya, mencabut singkong di tanah kapur sangat mudah. Lain halnya di tanah liat. Tanah jenis ini di musim kemarau memang keras dan membatu.

Lanjut: Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (3)

Baca juga tanggapan Ahmad Tohari: Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »