Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (4) - F. Rahardi

ADMIN SASTRAMEDIA 6/30/2019
oleh F. Rahardi
Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (4)

SASTRAMEDIA.COMTema sentral novel ini ada di sekitar ronggeng atau tayub atau tledek. Tapi nampaknya penulis agak malas untuk sedikit bersusah-payah mencari informasi soal ronggeng. Saya tahu, pada saat Ahmad Tohari menulis novel ini (di atas tahun 80) Ronggeng memang sudah teramat jarang. Tapi di perpustakaan tentunya ada segudang informasi. Penulis tahu soal ”bukak klambu” dan sebagainya tapi masalah calung dan lampu bisa salah. 


Di halaman 19 alinea II dan III penulis menyebut bahwa tali ijuk calung putus dimakan tikus dan ngengat tapi bubuk dan anai-anai (rayap) justru tidak makan bambunya. Setahu saya, di mana-mana tikus, ngengat dan rayap jauh lebih suka bambu daripada tali ijuk. Jadi logikanya, gamelan bambu tadi hancur karena tikus, ngengat, bubuk dan anai-anai, sementara tali ijuk masih utuh. Tapi entahlah. Barangkali tikus, ngengat dan rayap di dukuh Paruk punya gigi palsu dari baja, hingga kuat mengerat ijuk.

Kejanggalan tentang lampu saya dapatkan di halaman 20 alinea III. Untuk acara ronggeng, sebuah lampu tersebut dipasang cincin penerang. Begini ya, dulu, di abad-abad yang banyak ditulis, acara ronggeng selalu menggunakan penerangan obor. Setelah diketemukan lampu pompa (“petromak” dan “stromking”), acara-acara serupa tentu menggunakan jasa lampu tekan tersebut. Dukuh Paruk di tahun 50/60-an tersebut memang miskin. Tapi toh lampu-lampu semacam itu ada yang menyewakan dengan harga murah? Saya ingat, acara wayang, ketoprak, dan lain-lain di dukuh yang paling udik sekalipun di tahun 1950-an selalu menggunakan lampu pompa sewaan. Lain halnya kalau kisah ini terjadi di Irian Jaya sana.

Lupa apa akibatnya kalau yang digunakan lampu minyak besar seperti yang dikemukakan oleh penulis? Pertama kurang terang, dan kedua akan mati-mati melulu. Dalam acara wayang di desa-desa, para bandar dadu atau penjual rokok memang lazim juga menggunakan lampu minyak tersebut, tapi hanya untuk menerangi dagangannya dan bukan areal ronggeng. Lagi pula, semprong lampu tersebut terlebih dahulu disambung dengan kertas sampai panjang agar si lampu tidak mati-mati melulu kena angin.


Tentang perangkat wayang orang serta ronggeng, penulis juga bingung. Meskipun ini terjadi di dunia anak-anak, tapi anak-anak desa di Jawa tentunya hafal betul mana itu badong (badongan) dan mana pula kuluk serta sumping. Badong itu memakainya di punggung seperti pada tokoh Gatotkaca, sementara kuluk itu memakainya di kepala karena kuluk itu memang topi. Yang lazim, daun bacang alias pakel alias Magnifera foetida itu hanya dibuat kuluk oleh anak-anak di Jawa, karena ukurannya yang kecil. Yang lazim dipakai untuk badongan adalah daun ke luwih atau sukun (Artocarpus communis). Ini terdapat di halaman 10.


Bukan hanya soal ronggeng yang ada cacatnya. Bercerita soal perangkat desa atau pamong desa pun penulis kurang sempurna. Dalam novel ini penulis menyebut-nyebut adanya seorang kamitua. Padahal di Jawa, kamitua itu adalah kepala dukuh alias bekel yang mengepalai dukuh tempat kepala desa berdomisili. Kamitua yang statusnya selain sebagai kepala dukuh juga sebagai wakil kepala desa, yang lazim disebut ”lurah” tapi sebenarnya salah. (Silahkan baca Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa). 


Jadi logikanya, di mana ada kamitua, di situ pasti ada kepala desa. Kalau tidak ada kepala desa, cukup ada kepala dukuh alias bekel. Tentu saja terbuka kemungkinan bahwa di suatu pedukuhan, ada kesalah-kaprahan. Tapi seperti halnya kesalahan pada sebutan kepala desa yang di beberapa tempat dipanggil ”lurah” maka bagi seorang penulis perlu dituntut untuk memberikan penjelasan pada pembaca atau menggunakan istilah yang betul saja.

Kejanggalan dan kesalahan ini masih terus berlanjut. Penulis berulangkali menekankan bahwa dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan miskin. Sampai-sampai, anak-anak makan dengan menggunakan daun pisang tiap hari. Ini terlalu ekstrim. Orang desa itu bisanya praktis. Tahun 50-an memang belum ada plastik termasuk piring plastik. Tapi toh sudah ada piring seng atau alumunium? Bagaimana kalau mereka tak kuat beli piring seng atau aluminium? Biasanya pakai layah atau cobek tanah atau tempurung kelapa. Daun pisang itu mahal dan bagi warga dukuh Paruk terlalu berharga untuk disobeki tiap hari. Mending dibawa ke pasar ditukar garam dan sabun.

Begitu miskinnya dan udiknya dukuh Paruk itu, kita maklumlah sudah. Tapi kenapa kalau di halaman 30 penulis menceritakan tentang anak-anak yang makan pakai daun pisang, justru di halaman 43 penulis berkisah tentang bau bunga sedap malam. Padahal bunga sedap malam itu merupakan tanaman hias yang mahal asal dari Meksiko (Polianthes tuberosa). Masuk ke Jawa tentunya dibawa para orang bule pada zaman kolonial dulu dan hanya terbatas ditanam di rumah-rumah orang kaya di kota atau di kebun-kebun bunga di Bandungan, Kopeng atau Tawangmangu, paling tidak di Baturaden. Kenapa bisa nyelonong masuk ke dukuh Paruk? Masih sempatkah orang-orang dukuh Paruk keluyuran ke Baturaden atau Purwokerto untuk mencari bibit bunga sedap malam?)


Lanjut: Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal (5)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »