Sajak-Sajak Imajis Sapardi Djoko Damono - Damiri Mahmud

ADMIN SASTRAMEDIA 6/12/2019
oleh Damiri Mahmud


Sajak Sajak Imajis Sapardi Djoko Damono - sastramedia.com

WWW.SASTRAMEDIA.COM - Sajak imajis dekat dengan sajak simbolik karena hakikatnya sajak imajis di samping suasana juga dapat menghantar kita dari dunia rekaan kepada alam nyata secara simbolik.

Bedanya barangkali, kalau sajak simbolik lebih menekankan perlambang dan irama untuk mendukung makna dan karena itu mengharamkan bahasa yang ornamental, sajak-sajak imajis kata-katanya lebih berperan sebagai pendukung imaji untuk menghantar kita kepada dunianya sendiri secara totalitas. Ia tidak menolak kata-kata yang bersifat sehari-hari asal saja ia dapat menghubungkan pembaca kepada dunia intuisi penyair.

Kalau dalam sajak simbolik, penyair lebih leluasa memasok kata-kata perlambang terutama metafora, personifikasi, dan simile, dengan tidak usah memperhitungkan kaitannya satu sama lain asal saja tidak merusak irama dalam mendukung simbolisme yang dibangunnya, sajak-sajak imajis sangat memperhatikan keutuhan sajak. Imajiimaji yang dibangunnya terutama sekali dengan citra lihatan dan juga citra dengaran haruslah saling berhubungan untuk membangun suasana secara totalitas.

Barulah setelah sajak memperoleh totalitas dunianya tadi, kita boleh menariknya kepada simbolisme. Di sini ia berperan sebagai perantara kepada dunia nyata. Gambaran di atas dapat kita lihat dalam sajak “Perahu Kertas” ini,

Waktu masih kanakkanak kau membuat perahu kertas dan kau
layarkan di tepi kali: alirnya sangat tenang, dan perahu 
bergoyang menuju lautan.
“Ia singgah di bandarbandar besar,” kata seorang lelaki
tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar
warna-warni di kepala. Sejak itu kaupun menunggu kalau-
kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu
mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, 
“Telahkupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar 
dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Kata-kata yang dihadirkan dengan menggugah citra lihatan dan dengaran, adalah pendukung imaji untuk sampai ke dunia yang dibangun penyair, dunia intuisi. Tergambar kepada kita kanak-kanak dengan dunia permainannya: perahu kertas, dengan imaji yang saling hubung dan runtun: kali, lautan, bandar besar, banjir, dan bukit. Dengan alur yang diakhiri klimaks, sajak telah membangun dunianya sendiri secara totalitas.

Dunia intuisi penyair di atas dapat kita angkat ke dunia nyata dengan perantaraan simbolisme: perahu kertas adalah simbol dari kreativitas. Penyair mengisyaratkan bahwa kreativitas yang murni berada di tangan kanak-kanak karena ia mempunyai waktu senggang untuk bermain-main. Setelah manusia dewasa, dunia menukarnya dengan kerutinan dan kewajiban dan memberikan manfaat. Serba pragmatis dan utilitis. Manusia yang ingin kreatif kembali, ia harus berani kembali menjadi kanak-kanak. Berarti meninggalkan kerutinan dan kewajiban, dan merebut kembali waktu senggangnya untuk bermain-main. Hal seperti ini sejalan dengan pendapat Eric Hoffer, seorang intelektual Amerika yang kenamaan.

Gatra akhir sajak di atas juga melambangkan bagaimana hebatnya daya kreativitas itu. Perahu kertas dapat mengatasi banjir besar, meskipun setelah itu ia terdampar. Sekali berbuat tetapi tetap dikenang orang. Kreativitas adalah tindakan penyelamatan dari kesesatan umat manusia. di sini ia dianalogikan dengan kisah sakral Nuh yang klasik.

Gambaran kreativitas yang dilambangkan dengan dunia kanak dengan permainannya itu, terlukis lagi dalam sajak “Di Tangan Anak-Anak” ini:

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad 
yang tak takluk kepada gelombang, menjelma burung
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak
bunga di hutan,
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.

“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”

Di sini dilukiskan, kreativitas itu dapat menjelma segala-galanya, bahkan menjadi kata yang menjelmalkan) kitab suci. Dengan demikian dapat dimengerti kalau oleh kaum awam kreativitas dapat dianggap sebagai berbahaya, sukar dipahamkan, tidak bermanfaat (pada saat itu), dan harus disingkirkan. Kreativitas adalah sesuatu yang baru dan masih asing.

Sebagaimana halnya orang dewasa menganggap dunia kanak dengan permainannya tidak bermanfaat dan tidak menguntungkan sehingga selalu diganggu, dirusak, atau dibuang, demikian juga halnya dengan pandangan kaum mayoritas (masyarakat banyak) terhadap para kreator. Penyair dalam sajak ini menyadari pandangan semacam itu. Terasa sekali sentakannya ketika sajak ditutup dengan larik: “Tuan, jangan kau ganggu permainanku ini.”

Kata-kata itu terasa memelas. Tetapi di situ tersimpul semangat pemberontakan atau perlawanan kreatif para kreator. Dalam hal ini kita dapat menelusuri sejarah, bagaimana kaum mayoritas (masyarakat dan penguasa) memperlakukan para kreator, dan bagaimana pula sikap dan perlawanan mereka: Socrates, Isa Al-Masih, Muhammad, Isaac Newton, Omar Kayam, Galileo Galilei, Iduddin AbdurRahman, dan lain-lain.

Kreativitas akan terus datang dan mengalir meskipun ia dibendung, dihambat, atau ditahan. Sang kreator dapat dikucilkan atau dibunuh tetapi kreativitasnya tidak.


“Mari! Larilah Tuan! Tuan akan ditangkap dan dibunuh!” kata murid-murid dan pencintanya kepada Socrates. “Socrates ada di dalam kendi!” ujar orang yang arif itu. “Kendi dapat pecah! Tetapi airnya akan tumpah dan mengalir terus ke laut!”

Atau dalam kata-kata penyair, “Tuan, jangan kauganggu permainanku ini”. Karena akan sia-sia saja membendung “permainan” yang telah digelarkan. Bagaimana pun ia telah “membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan”, dan malah telah “menjelma Kitab Suci”.

Sang kreator dapat dibunuh, ditembak, tetapi kreativitasnya akan terus mengalir, hidup terus mengatasi waktu dan ruang. 

Kau tembak tekukur itu. Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas: mula-mula terpancar di sela-sela jari angin, satu dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar pada daun daun rumput.

“Kena!” serumu. Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa jauh ke hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai. “Tapi ke mana terbang burung luka itu?” gerutumu.

Tetes-tetes darahnya melayang, ada yang sempat melewati berkas-berkas sinar matahari, membiasakan warna merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.

"Merdu benar suara tekukur itu.” kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana: ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.

("Tekukur")

Ya, begitulah! Meskipun sudah ditembak dari hutan tapi lembar-lembar bulunya, tetesan darahnya, dan yang terpenting suaranya, telah dibawa air mengalir ke hilir, diterbangkan angin ke mana-mana. Bahkan, “Merdu benar suara tekukur itu” sekarang dan sudah didengar oleh seorang gadis kecil sehingga ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga. Imaji “Gadis kecil” dan “taman bunga” yang dimaksud penyair di sini tentulah suasana bahagia atau harmoni disebabkan “suara tekukur”.

Daya kreativitas tak dapat dibendung. Dan juga tak dapat ditampik. Daya itu datang kepada seseorang tanpa dapat diminta atau ditolak. Ia mungkin merupakan usaha, anugerah, atau rahmat. Atau mungkin sekali juga merupakan suatu beban. Karena ia “tahu benar membeda-bedakan” tempatnya jatuh dan hinggap. Daya kreativitas tak ubahnya seperti “sihir hujan”. 

Hujan mengenal baik pohon, jalan,
dan selokan — suaranya bisa dibeda-bedakan:
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup
pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan yang tahu benar membeda-bedakan, telah
jatuh di pohon, jalan, dan selokan —menyihirmu
agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu 
menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan

("Sihir Hujan")

Dan ibarat hujan yang suaranya bisa dibeda-bedakan karena dia mengenal dengan baik pohon, jalan, atau selokan tempat dia jatuh: begitu juga halnya dengan kreativitas bisa dibeda-bedakan dari orang yang dihinggapinya: filsuf, agamawan, ilmuwan, seniman, negarawan, dan sebagainya.

Sebagaimana halnya hujan, yang apabila sudah turun tidak akan dapat ditahan-tahan, kreativitas pun tetap memperlihatkan dirinya meskipun tidak kita sukai atau kita usahakan mengelakkannya. “Kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu.”

Pada sisi lain, dengan imaji simbolik hujan itu, dilukiskan lagi bahwa kreativitas itu (pada mulanya) selalu dianggap berbahaya oleh kaum mayoritas (masyarakat umum dan penguasa). Walaupun pada hakikatnya kreasi itu justru untuk mereka. Sehingga karena sukar diterima, para kreator selalu terpencil dan dianggap berbahaya. Ia mungkin pula merahasiakan kreasinya. Atau bisa-bisa karena tekanan yang tak tertahankan, sang kreator seperti putus asa dan berusaha mengusir atau membuang kreativitasnya.

Meski untuk itu pun ia tidak pula bisa melakukannya. Karena sang kreator telah semacam “di paksa” untuk menerimanya. Sebab: “Hujan yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan. Menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh. Waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan”. 

Di situ dia menghadapi dilema, seperti juga dilukiskan oleh Slauerhoff:
“Akan jatuh kuli, yang diam menyambut beban.Akan gila penyair, yang diam memendam perkataan.” 
Tentu, ia akan memenangkan hati nuraninya.***

____
Sumber: Majalah Sastra Horison, Nomor 12, tahun XXV Desember 1990.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »